Kebodohan seringkali mendorongku untuk mencela seseorang secara zalim –tentu saja lantaran pemahamanku yang buruk, sementara hawa nafsu membuatku lalai dari ilmu dan malah bersibuk-sibuk mengumpulkan kabar-kabar yang katanya adalah katanya; seorang guru mengatakan, celaan orang berilmu adalah nasihat kepada Sunnah dan kaum muslimin, celaan orang bodoh dan pengikut hawa nafsu adalah fitnah dan kezaliman terhadap Sunnah dan kaum muslimin …
***
*
Asy-Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abd al-Hamid al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah-
Dari sini: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=21942
قال الشيخ علي بن حسن–حفظه الله:
Asy-Syaikh ‘Ali bin Hasan –hafizhahullah- berkata:
روَى أبو نُعَيم في «حِلية الأولياء»، وابنُ عساكِر في «تبيين كذب المُفتري»، والبيهقيُّ في «الزُّهدِ الكَبير»، عن الرّبيعِ بنِ صَبِيحٍ، قال: قُلتُ للحسنِ: إنَّ -ها هُنا- قوماً يتتَبَّعُونَ السَّقَطَ مِن كلامِك؛ لِيجِدُوا إلى الوَقيعةِ فيكَ سَبيلاً! قال: لا يَكبُرُ ذلك عليك! فقد أطْمَعْتُ نَفسي في خُلودِ الجِنان، فطمِعَت وأَطْمَعْتُها في جِوارِ الرَّحمنِ، فطَمِعَت.. وأطمَعْتُها في السَّلامةِ مِن النَّاسِ، فلَم أجِد إلى ذلك سبيلاً؛ لأنِّي رأيتُ النَّاسَ لا يرضُونَ عن خالِقِهِم، فعلِمْتُ أنَّهُم لا يَرضُونَ عن مَخلوقٍ مِثلِهم
هؤلاء هُم سلفُنا الصّالحُون؛ فأين سَلَفُكُم -أيُّها المُتسقِّطُون-؟!
فبِرَبِّكُم: … هذا واقِعُهُم؛ فكيفَ واقعُنا؟! … هكذا مُخالِفُوهُم؛ فكيفَ مُخالِفُونَا؟! … هكذا (ناسُهُم)؛ فكيف (ناسُنا)؟!
ولكنْ: هكذا أخلاقُ (صالحِيهِم)؛ فهَل تكونُ مِثلَهُم أخلاقُنا؟!
Abu Nu’aim meriwayatkan di kitab Hilyah al-Auliya’, juga Ibn ‘Asakir di kitab Tabyin Kadzib al-Muftari, dan al-Baihaqi di kitab az-Zuhd al-Kabir, dari ar-Rabi’ bin Shabih, dia berkata:
Aku berkata kepada al-Hasan, “Sesungguhnya di sini ada orang-orang yang mencari-cari kekeliruan dari ucapanmu agar mereka mendapatkan jalan untuk menjatuhkanmu.” Al-Hasan al-Bashri pun berkata, “Jangan sampai hal itu membuatmu susah. Sungguh aku menyemangati jiwaku akan keabadian surga, maka jiwaku pun menginginkannya (tersemangati untuk menapaki jalan ketaatan). Aku menyemangati jiwaku akan perlindungan ar-Rahman, maka jiwaku pun menginginkannya (tersemangati untuk manjauhi jalan keburukan). Aku menginginkan agar jiwaku selamat dari manusia, namun tak kutemukan jalan untuk mendapatkannya karena kulihat manusia itu tidak rela kepada khaliq, maka aku pun tahu mereka tidak mungkin rela terhadap makhluk semisal mereka.”
Mereka itulah para pendahulu kami yang shalih, maka di manakah para pendahulu kalian, wahai orang-orang yang suka mengumpulkan kabar dan mencari-cari kesalahan?
Maka, demi Rabb kalian … inilah realitas mereka (para pendahulu yang shalih), lantas bagaimana dengan realitas kita?
… demikian itulah orang-orang yang memusuhi mereka, lantas bagaimana dengan orang-orang yang memusuhi kita?
… seperti itulah perihal mereka, lantas bagaimana dengan perihal kita?
Hanya saja … seperti itulah perangai orang-orang saleh mereka (dalam sikap dan perbuatan), lantas apakah perangai kita seperti mereka?
وما أجملَ -بَعْدُ- ما رواهُ البيهقيُّ في «الزُّهدِ» عن مالِكِ بنِ دِينار، أنَّهُ قال:
«مُنذُ عَرَفْتُ النّاسَ ما أُبالِي مَن حَمِدَنِي، ولا مَن ذَمَّنِي؛ لأنِّي لا أرَى إلاّ حامِداً مُفرِطاً؛ أو ذامًّا مُفَرِّطاً».
Betapa indah apa yang diriwayatakan oleh al-Baihaqi di kitab az-Zuhd, dari Malik bin Dinar, bahwasanya dia berkata, “Sejak aku memahami manusia, aku tak lagi peduli akan orang yang memujiku, tidak pula terhadap orang yang mencelaku, karena aku tidak melihat manusia kecuali orang yang memuji dengan berlebih-lebihan atau orang yang mencela dengan berlebih-lebihan.”
قلتُ: وهذا هو (الواقِع)، ما لهُ مِن دافِع … والوسطُ قليلٌ …
(وقليلٌ مِن عبادِيَ الشَّكُور …)
وقد كانُوا إذا عُدُّوا قليلاً *** وقد صارُوا أعزَّ مِن القَليلِ
… جَعَلَنِي اللهُ -وإيَّاكُم- مِنهُم.
Aku berkata, “Dan ini memang realitas yang tak terelakkan, sementara orang yang bersikap pertengahan itu sangat sedikit.”
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur.” (QS. Saba’ : 13)
Sungguh mereka itu sedikit jika dihitung *** dan sungguh mereka menjadi yang paling mulia dari yang sedikit
Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk golongan mereka (yang sedikit) …
Bandung, 29 Januari 2013
-HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

kuman di seberang lautan pun tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata, tak terlihat….
betul sekali, sibuk dengan kuman di seberang lautan sampai lupa gajah di pelupuk mata … he he he …
katanya…. orang bodoh itu selalu mengatakan apa saja yang didengarnya
iya, sepertinya memang begitu … kebodohan tak jarang membuat kita menjadi pendusta dengan senantiasa mengatakan apa pun yang kita dengar …
hiii… itu gambar tikus?
bukan … ha ha ha …
ikan mas?
bukan, itu sebetulnya kopi dalam cangkir tapi saya ubah-ubah pakai sotosop … he he he …
artinya jangan memuji orang dan jangan mencela orang, ya?
tentu saja boleh, dengan pujian yang benar dan dengan celaan yang benar … he he he …
pujian yang salah dan celaan yg salah itu contohnya?
banyak sekali contohnya: pujian yang salah adalah misalnya pujian karena fanatisme, tanpa tahu benar atau salah dari perbuatan/orang yang dipuji; pujian karena menjilat … dan lain-lain …
celaan yang salah misalnya, mencela sesuatu/seseorang karena ketidaktahuan kita, karena pemahaman kita yang buruk sehingga kita menganggap salah sesuatu yang sebenarnya benar … -ini hanya contoh saja … wallahu a’lamu …
Reblogged this on _matahari terbit_ and commented:
adheeeem mbaca ini.. *berasa kumat mau meweknya.. *halah..
“Sejak aku memahami manusia, aku tak lagi peduli akan orang yang memujiku, tidak pula terhadap orang yang mencelaku, karena aku tidak melihat manusia kecuali orang yang memuji dengan berlebih-lebihan atau orang yang mencela dengan berlebih-lebihan.” [Malik bin Dinar]
“celaan orang berilmu adalah nasihat kepada Sunnah dan kaum muslimin, celaan orang bodoh dan pengikut hawa nafsu adalah fitnah dan kezaliman terhadap Sunnah dan kaum muslimin …” [bang Hendra] *jleeebb
Kebodohan seringkali mendorongku untuk mencela seseorang secara zalim –tentu saja lantaran pemahamanku yang buruk, sementara hawa nafsu membuatku lalai dari ilmu dan malah bersibuk-sibuk mengumpulkan kabar-kabar yang katanya adalah katanya;
*plaaaak banget ini maaah..
aduh … he he he …
adheeeeeeeeemm banget nangkring di postingan ini.. =’)
hehehe
alhamdulillaah..
memang kereeen yaaa..
para ‘ulama.. bukan bang hendranya.. *teteeep
wikikiki
ha ha ha …
setuju, para ulama memang menakjubkan karena ilmu yang Allah karuniakan kepada mereka …
*ingin sekali masuk golongan yang sedikit itu
sama, saya juga ingin …
*plak plak plak …
Walaupun mereka para ulama itu telah mendahului kita, namun pesan dan keteladanan mereka masih bisa kita ikuti melalui karya-karyanya yang tak lekang dimakan jaman.
betul sekali, Mas Umar …
karya-karya para ulama masih tersebar dan penuh dengan faidah …
Assalamualikum warahmatullahi wa barakatuh mas Hendra…..apa khabar nya…maaf agak lama Semut tidak kemari…….agak sibuk dengan urusan harian……..lagi pula musim hujan ,,,hee hee heee..lagi cari kopi …..
wa ‘alaikumus salam …
alhamdulillah kabar saya baik, teman semut … he he he …
senang sekali semut berkunjung kemari …
di sini juga sedang musim hujan sekarang …
Request tulisan boleh, Bang Hendra? Tentang bagaimana agar dapat bersikap adil… Pengen sekali belajar adil… Tahu adil itu tidak mudah, tapi materi tentang itu jarang ditemukan T_T
wah, saya belum menemukan tulisan tentang itu …
dan memang, sikap adil itu sangat berat, ya …
tapi sebagian dari cara untuk bersikap adil adalah dengan mengambil ucapan ahli ilmu, mengambil nasihat mereka, dan mengambil faidah-faidah dari mereka … wallahu a’lamu …