Melukai Itu Mewarnai …

Mentari di atas kepala saat kesumat mencipta bara. Pijarnya memancarkan titik-titik api yang membakar sabar. Satu tikaman membunuhmu di jalan setapak, lalu menaruhmu di alam terbuka, di bawah langit yang panas …

 

Wajah tawar itu tak tertawa tak menangis, tidak juga di antara keduanya. Tangan dinginnya teramat keji menorehkan luka di dada kirimu, melukiskan wajah kelam angkara yang murka …

 

Dan … sebilah pisau terpaku di dada lengasmu. Karat-karatnya mencipta nanah dalam luka, meracuni jantung dan melemahkan degup-degupnya. Segala pahitnya menyertai gumpalan darah. Merahnya tak terpahami sebagaimana baunya yang teramat asing. Kau pun begitu pangling pada bunyi nafasmu …

 

Kau terkulai, terduduk ngilu di sudut perih. Tulang belakangmu bersandar pada tunggul yang mati. Tapi kau tak mau bisu. “Perang belum usai,” katamu. Padahal tangan bekumu tak lagi mampu menggenggam gaman, sementara mulutmu meluik warna setetes demi setetes. Warnanya merah tua, bahkan teramat tua, sebagaimana warna kematian …

 

“Rebahkan dirimu, biar mentari mengeringkan lukamu,” kataku. Tapi kau tak mau terlelap sebelum kujanjikan mimpi tentang pijar buana merdeka. Aku bersila menyusun kata, memantapkan hati dari segala gamangnya, tersebab janji adalah ucapan yang nirmala …

 

“Melukai itu mewarnai,” katamu, “tiada beda seperti jeritan elang dan rajawali.” Aku berpaling mengorak sila, tersebab senyummu diliputi selubung warna yang menyedihkan aku. “Kafani aku dengan rumput-rumput izkir,” katamu lagi. Lirih teramat lirih, padahal tak pernah sekali pun kau berbisik. Aku terdiam, berharap angin melelapkanmu …

 

Berembus, angin pun mengelus. Satu daun menamparku bersama suaramu yang sayup sampai di telingaku. “Kuburkan aku bersama dendamku di satu lahad,” katamu. Lalu maut pun menggamitkan jari-jarinya ke jiwamu. Pupuslah hayatmu sementara khayalku mengejarmu ke angkasa, tiada batas kecuali lelah …

 

Dan satu nyala meranggas daun, saat duka cita menginap di dada. Jantung berdetak ngilu di rumah duka …

 

Bandung, 6 Juni 2010

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

38 comments on “Melukai Itu Mewarnai …

  1. jaraway says:

    hwwibntato said: wah, harus belajar dulu berarti … he he he …

    iyaaaa..=D*waiting

  2. hwwibntato says:

    jaraway said: iyaaaa..=D*waiting

    kabuuurrr … he he he …

  3. jaraway says:

    hwwibntato said: kabuuurrr … he he he …

    *ngakak guling2

  4. hwwibntato says:

    jaraway said: *ngakak guling2

    tetap kabur sambil mendengar suara tawa … he he he …

  5. Melukai itu mewarnai..

    hhhmm… mewarnai kisah hidup ya mang? jadi ada gurat merah darahnya? 🙂

  6. mamaaaaaaaaaaaaaaaaanng, gimana caranya biar bisa jadi begini??

  7. tipongtuktuk says:

    oh, yang itu …
    kalau diekport ke wordpress sih memang begitu, Amirah … he he he …

  8. Nah..terubat rindu ku di sini akhirnya…………..goodbye MP welcome blog…….

  9. salman says:

    ini komen pindahan dari mp semua, ya?

  10. cawah says:

    hiks dalem bgt..dan kata2nya indaaaahhh hhuhuhu….

  11. nengwie says:

    Du…du..duuuuh, mengapa aku tetap menikmati perih yg kau hujam?
    Kejam pisan pokokna mah 😀
    Eta ilustrasi diatas kaya lagi kamerkaan ;))

  12. uchi says:

    gaman itu apa? #hallagh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s