Kegelapan bukanlah warna meskipun tampak hitam … –atau mungkin dia satu-satunya warna yang membenci cahaya-

Kegelapan bukanlah warna meskipun tampak hitam … –atau mungkin dia satu-satunya warna yang membenci cahaya-

Bandung, 30 Januari 2011

–Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja–

Advertisements

Waktu dan Matahari …

Semenjak jarak menghambat suaramu sampai ke telingaku, aku membuka lagi semua catatan yang dulu kutulis di depan nasihat-nasihatmu. Masih kuingat saat tanganku menorehkan pena mengejar kata-katamu, seakan tanganku begitu berhasrat terhadap setiap huruf yang kau ucapkan di majelismu … huruf-huruf yang jika hilang akan mengaburkan pengertian-pengertian …

 

Dan terkadang, aku tak peduli dengan renjis ludahmu yang mengenai wajah dan kertasku …

 

Yusya’ bin Nun … demikianlah nama yang kau sebutkan saat membaca riwayat tentang lelaki itu … lelaki mulia yang mengiringi Musa menemui Khidir di tempat bertemunya dua lautan, lelaki mulia yang menjadi nabi setelah Musa dan membawa kaumnya keluar dari padang pasir hingga memasuki Bait al-Maqdis

 

Kau pun membacakan lagi beberapa riwayat tentang kisah mereka … tentang bekal perjalanan mereka, tentang ikan mati yang mendapati jalannya ke laut, juga tentang duduknya Khidir di atas farwah putih yang bergerak-gerak hijau di belakangnya. Adapun Musa, dia terhalang oleh takdirnya sejauh jarak lemparan batu dari tanah al-Muqaddasah, lalu jasadnya dikubur di samping bukit pasir yang merah, di luar tanah suci itu …

 

Ah, matahari hari ini hampir terbenam … dan itu menyadarkanku akan sisa usiaku yang semakin pendek. Namun masih kuingat kisah itu … kisah yang kau bacakan tentang terhentinya matahari dalam perjalanan menuju terbenamnya atas permintaan Yusya’ bin Nun kepada Rabb al-A’la …

 

Kini, aku mengarahkan langkahku menuju masjid mengiringi senja yang berjalan … sedang matahari di kaki langit itu sedang tenggelam di antara dua tanduk setan yang diagungkan oleh kaum yang kafir …

 

Bandung, 22 Januari 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Musuh dan Permusuhan …

Aku bertanya kepadamu tentang para musuh dan permusuhan mereka. Katamu, ucapan para musuh itu sama pada setiap generasi, dulu maupun sekarang. Bahkan hati mereka serupa …

Kau pun membacakan sebuah ayat:

كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

 … demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.
(QS. Al-Baqarah: 118)

Katamu, yang dilaknat pertama kali, Iblis … dialah yang memulai peperangan dengan menjadikan akalnya sebagai hakim bagi ucapan-ucapan Rabb-nya. Iblislah yang pertama kali menjadi musuh, dialah yang membuat jalan-jalan bagi para pengikutnya pada setiap generasi. Maka ketahuilah … sungguh jalan-jalan para musuh itu selalu sama di sepanjang sejarahnya. Seakan mereka saling berwasiat kepada generasi setelahnya …

Kau membacakan lagi sebuah ayat:

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

 Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.
(QS. Adz-Dzariyat: 53)

Pahamilah keserupaan mereka karena setiap musuh selalu melontarkan kebatilan dengan busur yang sama pada setiap zaman … yang sekarang tak berbeda dengan yang dulu …

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya.
(QS. Al-Anfal : 52)

مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ

 (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Mu’min : 31)

Kini aku menasihati diriku sendiri dan juga kamu … jika kita telah yakin dengan permusuhan mereka, maka sungguh tidak pantas bagi kita untuk meninggikan ucapan-ucapan, pemikiran-pemikiran, dan syi’ar-syi’ar mereka. Sesungguhnya kemenangan kaum muslimin itu berasal dari pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla … dan tidak akan ada pertolongan jika kaum muslimin seperti musuh-musuh mereka sebagaimana ucapan Rabbku ‘Azza wa Jalla …

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
(QS. Al-Baqarah : 120)

*Nasihat untukku di surau kecil …

Bandung, 11 Januari 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—