Waktu dan Rembulan …

Aku menghidu aroma tanah yang diembus angin selepas Isya, sementara kau tengadah di atas batu hitam tanpa melepaskan matamu dari bulatan bulan yang mengalahkan cahaya bintang-bintang …

Satu rembulan sepanjang masa, ujarmu … rembulan yang sama dengan rembulan yang dilihat oleh bapak para nabi ketika terbit dan tenggelamnya, rembulan yang tergambar dalam mimpi putra Israil yang mulia, juga rembulan yang pernah terbelah menjadi dua bagian pada kurun pertama manusia-manusia terbaik pengikut ash-shaadiqul mashduuq di awal embusan angin kiamat yang teramat lembut …

Aku lantas tersadar bahwa cahaya purnama …

Ayyaamul biydl? Gumamku … seakan baru kemarin aku melihatnya dalam bentuk tandan nyiur kering yang melengkung. Ah, waktu yang berkelebat tak menyisakan apa pun selain usiaku yang semakin pendek, sedang aku selalu terengah-engah di belakang keinginanku yang memanjang …

 

Bandung, 9 Januari 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—