Belajar …

Aku memastikan pensil-pensilku telah sempurna kuraut sebelum memasuki majelismu, berangin-angin sejenak di luar pintumu untuk mengeringkan peluh dari penat perjalananku. Tak ada yang memaksaku untuk berpayah-payah menempuh jalan dan menapaki undak-undakan batu yang berlumut itu, kecuali karena hak ilmu dan keutamaannya …

Ilmu itu didatangi, demikianlah menurut ucapan dan perbuatan para pendahulu kami … dan aku telah menuliskannya pada selembar kertas selain mengikatnya dalam ingatan …

Kau menandai lembar-lembar halaman yang kau perlukan dengan penanda kertas, lalu menyampaikan setiap bab dengan suara dan sikap tawadhu’. Seperti biasa, kau pun menyertakan senyum meski tak pernah menggubah tawa di majelismu … sementara kami hampir selalu tertunduk walau tak ada burung di atas kepala kami …

Katamu, kearifan itu tergantung pada kedekatan akal dengan ilmu … yakni kedekatan dengan dua perkara yang agung, kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka belajarlah! Karena satu generasi yang terlahir tidaklah membawa pengetahuan ketika keluar dari rahim ibu-ibu mereka …

 

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ :٧٨

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl:78)

Lalu kau pun membacakan sabda yang agung dari manusia yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَالْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطه وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَ يُوقه

Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar, dan kesabaran diperoleh dengan berlatih sabar. Barang siapa menapaki jalan kebaikan, dia akan diberi. Barang siapa yang menjaga diri dari kejahatan, dia akan dijauhkan dari kejahatan itu. (Silsilah Ash-Shahihah no. 342)

 

Di akhir pelajaran hari itu, kau memberi nasihat atas permintaanku. Bentangkanlah dadamu untuk ilmu dan hormatilah ahli ilmu, katamu … lalu rendahkan hatimu terhadap saudara-saudaramu dan jalinlah persahabatan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda …

 

اَلمُؤْمِنُ مَأْلَفَةٌ وَلاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لاَ يَأْلَفُ وَلاَ يُؤْلَفُ

Orang mukmin itu tempat persahabatan. Tiada kebaikan sedikit pun pada diri orang yang tidak bersahabat dan tidak bisa dijadikan sahabat.” (Silsilah Ash-Shahihah no. 426)

 

Bandung, 27 Maret 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements