Ke Arah Mana?

Aku menebang setiap dalih yang menopang segala ucapan dan perbuatanku di hadapan nasihatmu yang terdengar seperti celaan terhadap akalku. Katamu, agama itu nasihat … dan tidaklah mungkin kau sampaikan jika bukan karena perhatian dan kecemburuanmu terhadap kemungkaran yang kau lihat …

Kau berkata, “Katakan kepada saudara-saudaramu, bagaimana bisa mereka menyeru manusia untuk berkumpul merayakan ‘Id yang bukan ‘Id kaum Muslimin? Memakaikan pakaian muhasabah dan jubah ukhuwah untuk menghiasi bid’ah putaran tahun yang terlewati?”

Maka bacakanlah kepada saudara-saudaramu firman Rabb-ku Yang Maha Tinggi:

 

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا ٧٢

dan –hamba-hamba Yang Maha Penyayang- itu adalah orang-orang yang tidak menghadiri az-zur; dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka pun berlalu seraya menjaga kehormatan diri. (QS al-Furqan : 72)

 

Tidakkah kau membaca apa itu az-Zur? Itulah perayaan-perayaan yang diserukan oleh kaum musyrikin. Lantas patutkah kalian menyeru manusia untuk berkumpul dalam keburukan seperti itu dan menggantikan apa yang diucapan oleh Rabb-ku yang Maha Penyayang:

 

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٠٨

Katakanlah, “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha suci Allah, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

 

Maka biar kukatakan kepadamu sebuah ungkapan yang bisa kau sampaikan kepada saudara-saudaramu:

 

إِن كُنتَ لاَ تَدرِي فَتِلكَ مُصِيبَةٌ وَإِن كُنتَ تَدرِي فَالمُصِيبَةُ أَعظَمُ

Jika kamu tak tahu maka itu merupakan musibah … dan jika kamu mengetahui maka itu musibah yang lebih besar lagi

 

Hai, kamu! Cukuplah Sunnah bagimu dan gigitlah dengan gigi gerahammu! Karena sesungguhnya bid’ah tidaklah mungkin menopang kemuliaan dan kejayaan meskipun berkumpul padanya ribuan manusia …

 

Bandung, 26 April 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

121 comments on “Ke Arah Mana?

  1. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: dlm hadits lain diriwayatkan:“Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).Sebetulnya saya juga tidak selalu setuju bid’ah ,mas Hendra.. ini hanya share saja. Mohon maaf jika ini terlalu panjang, atau tidak berkenan di hati mas Hendra. Ini hanya apresiasi saja kok, bukan bantahan. Semoga kita tetap jadi saudara/sahabt muslim yang di ridhoai…

    Hadits ini pun tidak dapat dijadikan dalil tentang adanya bid’ah hasanah. Sebab, bisa saja peristiwa tersebut terjadi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang bid’ah. Atau bisa juga hal itu terjadi sebelum syari’at ini sempurna. Dalam keadaan syari’at belum sempurna, Rasulullah mungkin saja menyetujui suatu perbuatan jika ternyata sesuai dengan wahyu atau mungkin juga beliau mengoreksinya jika ternyata tidak sesuai dengan wahyu. Atau bisa juga shahabat itu pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membaca dzikir tersebut sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkannya kepada para shahabat. Setelah mendengar zikir itu, maka shahabat itu membaca bacaan itu pada waktu shalat berjamaah sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mendengar dan menyebutkan keutamaan bacaan itu. Dalam banyak hadits, seringkali para shahabat membaca suatu bacaan yang didengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sedang mengerjakan shalat atau ketika sedang berdoa. Misalnya:عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ، فَالْتَمَسْتُهُ، فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ، وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ، وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ، وَهُوَ يَقُولُ: “اللّهُمّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ. وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ. وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ. لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ. أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَDari ‘Aisyah, dia berkata, “Pada suatu malam, aku pernah kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dari tempat tidurku. Maka aku pun meraba-raba mencari beliau hingga kedua tanganku menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki beliau yang ketika itu sedang dalam keadaan sujud dan sedang membaca: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Tidaklah dapat aku menghitung pujian atas-Mu sebagaimana yang Engkau puji terhadap diri-Mu.” (HR.Muslim)Juga hadits berikut:عَبْدُ الرّحْمَنِ بنُ أَبِي بَكْرَةَ أَنّهُ قالَ لأبِيهِ: “يا أَبتِ إِنّي أَسْمَعُكَ تَدْعُو كُلّ غَدَاةٍ: اللّهُمّ عَافِنِي في بَدَنِي، اللّهُمّ عَافِنِي في سَمْعِي، اللّهُمّ عَافِنِي في بَصَرِي، لا إِلَهَ إِلاّ أَنْتَ، تُعِيدُهَا ثَلاَثاً حِينَ تُصْبِحُ وَثَلاَثاً حِينَ تُمْسى فقَال: إِنِي سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَدْعُو بِهِنّ، فأَنَا أُحِبّ أَنْ أَسْتَنّ بِسُنّتِهِAbdurrahman bin Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu berkata kepada ayahnya,” Wahai ayah, setiap hari aku mendengarmu membaca doa: Ya Allah, selamatkanlah aku dalam agamaku, lindungilah aku dalam pendengaran dan penglihatanku, tiada Ilah yan berhak diibadahi kecuali Engkau. Dan ayah mengulangi bacaan itu tiga kali setiap pagi dan petang.” Abu Bakrah menjawab, “Ya benar wahai anakku. Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam membacanya, maka aku pun sangat suka untuk mengikuti sunnah beliau.” (HR. Abu Dawud; Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 356-357)Dengan demikian, bisa saja shahabat yang membaca bacaan I’tidal di atas pun pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacanya dalam suatu kesempatan, lalu dia pun membacanya dalam shalat berjamaah itu karena dia merasa mengikuti apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam …wallahu a’lamu …

  2. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: Sebetulnya saya juga tidak selalu setuju bid’ah ,mas Hendra.. ini hanya share saja. Mohon maaf jika ini terlalu panjang, atau tidak berkenan di hati mas Hendra. Ini hanya apresiasi saja kok, bukan bantahan. Semoga kita tetap jadi saudara/sahabt muslim yang di ridhoai…salam takdzim..

    terima kasih atas perhatianmu, ya …semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua …

  3. wahhh… andai oarang-orang Mp seperti mas Hendra, betapa bermanfaatnya multiply ini. saya bisa semangat belajar lagi deh! saya berterimakasih atas kesediaan mas Hendra untuk ngobrol-ngobrol ringan dengan saya. ada banyak ilmu yang saya dapat dari mas Hendra. ohya, boleh kan saya berpendapat sekali lagiiiii saja!! boleh ya boleh…? hehehe“Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu. Kemudian Umar radhiyallahu anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:“Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]). Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat, sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’, tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah, tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya. Selanjutnya, beragam inovasi dalam amaliah keagamaan juga dipraktekkan oleh para sahabat secara individu. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan, beberapa sahabat seperti Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, al-Hasan bin Ali dan lain-lain menyusun doa talbiyah-nya ketika menunaikan ibadah haji berbeda dengan redaksi talbiyah yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Para ulama ahli hadits seperti al-Hafizh al-Haitsami meriwayatkan dalam Majma’ al-Zawaid, bahwa Anas bin Malik dan al-Hasan al-Bashri melakukan shalat Qabliyah dan Ba’diyah shalat idul fitri dan idul adhha. Berangkat dari sekian banyak hadits-hadits shahih di atas, serta perilaku para sahabat, para ulama akhirnya berkesimpulan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i berkata:“Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).Pernyataan al-Imam al-Syafi’i ini juga disetujui oleh Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (juz. 20, hal. 163).”trimaksih… jika salah mohon dimaafkan ya mas…

  4. nb: maaf mas hendra, kalau saya tidak melengkapi dalil di atas dengan versi arabnya… soalnya kyboard laptop saya belum lengkap dengan arabnya. ntar saya instal programnya dulu *sambil berharap di instalin* hehetapi sudahlah, kita ngobrol yang lain aja yukkk… nanti yg lain mengira kita berdebat lho! hehehe

  5. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: “Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]).Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu. Kemudian Umar radhiyallahu anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.

    Apa yang diucapkan oleh ‘Umar itu bukanlah bid’ah dalam pengertian syariat, namun bid’ah dalam pengertian bahasa. Sebab, Umar tidaklah melakukan perkara baru dalam urusan ibadah. ‘Umar hanyalah menghidupkan lagi apa yang dulu pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebelumnya telah melakukan shalat tarawih berjamaah seperti itu selama tiga hari. Akan tetapi, kemudian Rasulullah menghentikannya (tidak melakukannya lagi) dengan suatu alasan yang beliau ucapkan berikut:قَدْ رَأَيْتُ الّذِي صَنَعْتُمْ. فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاّ أَنّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُم“Sungguh aku melihat apa yang kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (mengerjakan shalat bersama kalian) kecuali karena kekhawatiranku kalau-kalau nantinya shalat ini diwajibkan atas kalian.” (HR. Muslim)Dengan demikian, ucapan ‘Umar:نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. al-Bukhari)maksudnya adalah bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan bid’ah dalam pengertian syari’at. Umar mengatakan ucapan itu karena seakan-akan dia melakukan sesuatu yang baru (saking telah lamanya shalat tarawih berjamaah itu tidak dikerjakan, yakni dari semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menghentikannya karena takut diwajibkan) … wallahu a’lamu …

  6. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:“Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]).Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat, sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’, tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah, tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya.

    Utsman tidaklah melakukan bid’ah. Bisa jadi itu merupakan ijtihad beliau terhadap kondisi yang dihadapi. Namun, Utsman melakukan ijtihadnya itu berdasarkan pemahamannya terhadap sunnah dalam perkara tersebut dan dalam kondisi yang memiliki alasan yang tepat. Beliau tidak mungkin melakukan ijtihad jika tak memiliki dasar ilmu yang cukup. Dan Utsman, tentulah bisa dikatakan layak untuk melakukan ijtihad (karena beliau adalah orang yang ‘alim). Meskipun demikian, sebuah iijtihad bisa saja benar dan bisa saja keliru. Dan dalam riwayat itu dijelaskan tentang alasan-alasan yang membuat Utsman melakukan adzan di Zaura, yaitu:وَكَثُرَ النَّاسُ وَتَبَاعَدَتِ الْمَنَازِلُ“Semakin banyaknya manusia dan semakin jauhnya jarak antar rumah.” (HR. al-Bukhari, Ibnu Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Mardawiyah) Itulah alasan Utsman atas pelaksanaan adzan di Zaura itu. Syaikh al-Albani berkata:لا نرى الاقتداء بما فعله عثمان رضي الله عنه على الإطلاق ودون قيد فقد علمنا مما تقدم أنه إنما زاد الأذان الأول لعلة معقولة وهي كثرة الناس وتباعد منازلهم عن المسجد النبوي فمن صرف النظر عن هذه العلة وتمسك بأذان عثمان مطلقا لا يكون مقتديا به رضي الله عنه بل هو مخالف لعثمان أن يزيد على سنته عليه الصلاة والسلام وسنة الخليفتين من بعده“Kita tidak mengikut perbuatan Utsman secara mutlak tanpa memperhatikan alasan-alasan beliau, dan telah kita ketahui bahwa Utsman menambah adzan karena beberapa sebab yang rasional, yaitu jumlah penduduk Madinah yang bertambah ramai dan jarak antara kawasan perumahan yang semakin jauh dari Masjid Nabi, maka siapa saja yang mengikut pendapat Utsman secara taqlid buta tanpa memerhatikan sebab-sebab ini maka dia telah berbeda dengan Utsman, dengan menambah-nambah sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sunah para Khulafa’ur Rasyidin setelahnya .” (Al Ajwibah An Nafi’ah)

  7. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i berkata:“Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).Pernyataan al-Imam al-Syafi’i ini juga disetujui oleh Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (juz. 20, hal. 163).”

    Ucapan Imam asy-Syafi’i:الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” Ucapan Imam asy-Syafi’i rahimahullah ini tidaklah dimaksudkan bahwa beliau menganggap adanya bid’ah yang baik dalam perkara agama yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Bukan pula dimaksudkan bahwa melakukan suatu amalan baru dalam agama atau ibadah itu diperbolehkan. Akan tetapi, yang beliau maksud dengan bid’ah mahmudah (bid’ah yang terpuji) adalah bid’ah dalam pengertian bahasa sebagaimana ucapan ‘Umar mengenai shalat tarawih berjamaah. Jadi, bid’ah mahmudah yang dimaksud oleh imam asy-Syafi’i adalah suatu perkara yang memang sebelumnya telah ada petunjuknya dari sunnah. Namun, jika tidak seperti itu pengertian dari ucapan Imam asy-Syafi’i itu, maka perkaranya kembali sebagaimana ucapan beliau yang lain: مَا قُلْتُ وَكَانَ النَّبِيُّ ص قَدْ قَالَ بِخِلاَفِ قَوْلِى فَمَا صَحَّ مِنْ حَدِيْثِ النَّبِيّ ص اَوْلَى وَ لاَ تُقَلِّدُوْنِى (آداب الشافعي ومناقبه، ابن أبي حاتم الرازي: ص 9)“Setiap apa yang aku katakan, apabila menyelisihi hadits dari Rasulullah, maka hadits Rasulullah itulah yang lebih utama (untuk diikuti). Janganlah kalian bertaqlid kepadaku.” (Adabusy Syafi’i wa manaqibahu; Abu Hatim ar-Razi)اِذَا وَجَدْتُمْ قَوْلِى يُخَالِفُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَاضْرِبُوْا بِقَوْلِى عُرْضَ اْلحَائِطِ“Apabila kalian mendapati pendapatku menyalahi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, maka lemparkanlah pendapatku ketepi dinding.”wallahu a’lamu …

  8. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: nb: maaf mas hendra, kalau saya tidak melengkapi dalil di atas dengan versi arabnya… soalnya kyboard laptop saya belum lengkap dengan arabnya. ntar saya instal programnya dulu*sambil berharap di instalin* hehetapi sudahlah, kita ngobrol yang lain aja yukkk… nanti yg lain mengira kita berdebat lho! hehehe

    betul, kita mengobrol yang lain saja, Rangga …agar kita tidak terjatuh ke dalam perdebatan yang tidak bijak … he he he …

  9. hwwibntato said: Syaikh al-Albani berkata:لا نرى الاقتداء بما فعله عثمان رضي الله عنه على الإطلاق ودون قيد فقد علمنا مما تقدم أنه إنما زاد الأذان الأول لعلة معقولة وهي كثرة الناس وتباعد منازلهم عن المسجد النبوي فمن صرف النظر عن هذه العلة وتمسك بأذان عثمان مطلقا لا يكون مقتديا به رضي الله عنه بل هو مخالف لعثمان أن يزيد على سنته عليه الصلاة والسلام وسنة الخليفتين من بعده“Kita tidak mengikut perbuatan Utsman secara mutlak tanpa memperhatikan alasan-alasan beliau, dan telah kita ketahui bahwa Utsman menambah adzan karena beberapa sebab yang rasional, yaitu jumlah penduduk Madinah yang bertambah ramai dan jarak antara kawasan perumahan yang semakin jauh dari Masjid Nabi, maka siapa saja yang mengikut pendapat Utsman secara taqlid buta tanpa memerhatikan sebab-sebab ini maka dia telah berbeda dengan Utsman, dengan menambah-nambah sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sunah para Khulafa’ur Rasyidin setelahnya .” (Al Ajwibah An Nafi’ah)

    betul,mas. saya setuju dengan syaihk al-albani: jadi taqlid buta dalam fiqih tidak diperbolehkan, juga bahwa BID”AH yang dilakukan utsman itu punya alasan dan landasan.jadi sebetulnya mas hendra pasti faham betul apa yang disebut bid’ah. baik secara harfiah atau ma’nawiyah.*sambil ngloyor masuk ke dapur mas hen, ngambil makanan sendiri* hihihi

  10. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: *sambil ngloyor masuk ke dapur mas hen, ngambil makanan sendiri* hihihi

    please sisakan makan siang untuk saya, ya … he he he …jangan kau habiskan semuanya … ha ha ha …

  11. hwwibntato said: please sisakan makan siang untuk saya, ya … he he he …jangan kau habiskan semuanya … ha ha ha …

    yeee cuma tinggal tempe dan ubi doang,mas. itu juga tinggal sepotong2 wkwkwk

  12. hwwibntato says:

    ranggaumara85 said: yeee cuma tinggal tempe dan ubi doang,mas. itu juga tinggal sepotong2 wkwkwk

    ha ha ha …

  13. nurfirman40 says:

    wah wah membaca masukan ini juga ternyata nasihat yg baik banget….terimakasih yaaa mas hendra….

  14. hwwibntato says:

    nurfirman40 said: wah wah membaca masukan ini juga ternyata nasihat yg baik banget….terimakasih yaaa mas hendra….

    terima kasih sudah mampir ke sini, teman … he he he …

  15. nurfirman40 says:

    hwwibntato said: terima kasih sudah mampir ke sini, teman … he he he …

    sama sama yeee mas hendra…………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s