Analogi Pertama dan Ayah Kita yang Pertama …

Aku terpaku pada pelajaran yang kau bacakan selepas asar hingga hilanglah segala keengganan yang menyerangku di awal malam. Nushush al-Wahyi, katamu … teks-teks kenabian yang tak membutuhkan tahrif dari akal-akal kami; lafazh dan makna yang benar, kalamullah dan bukan makhluk …

Iblislah yang pertama kali mengagungkan akal di hadapan nash yang benderang -jauh lebih benderang dari siang hari … dia enggan menerima keutamaan tanah atas api lalu menyombongkan diri terhadap perintah Rabb al-A’la seraya menyuarakan analoginya yang batil …

 

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ :١٢

 “Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakan aku dari api sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah. ” (QS. al-A’raf : 12)

 

Demikianlah ucapan Iblis yang kau bacakan dari kitabullah yang mulia … dan kami menyimak lagi kata-katamu saat membacakan perkataan ahli ilmu tentangnya:

 

قَاسَ إِبْلِيْسُ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ قَاسَ

 “Iblis beranalogi, dan dialah yang pertama kali beranalogi.” 1

 

أَوَّلُ مَنْ قَاسَ إبْلِيسُ وَمَا عُبِدَتْ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ إلَّا بِالْمَقَايِيسِ

 “Iblislah yang pertama kali beranalogi, dan tidaklah matahari dan bulan disembah melainkan dengan cara analogi.” 2

 

Tahkim al-‘aql, katamu … mengutamakan akal daripada naql, menentang nash sambil berpijak kaki di atas keputusan akal. Seperti itulah tarekat Iblis, juga tarekat para penempuhnya dari kafilah al-‘Aqlaniyyah … kafilah yang gonggongannya lebih keras daripada gonggongan anjing-anjing yang dilaluinya …

Maka, terimalah apa yang datang dari kitab dan sunnah tanpa menentangnya dengan akal. Terimalah sebagaimana para pendahulu kita –ridhwanullah ‘alaihim ajma’in– menerimanya dengan pasrah dan berserah diri …

 

وَلا يَثْبُتُ قَدَمُ الإِسْلامِ إِلاَّ عَلَى ظَهْرِ التَّسْليمِ وَالاسْتِسْلامِ

 “Dan tidaklah kaki Islam itu berdiri dengan kukuh kecuali di atas dasar taslim dan istislam.” (al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah)

 

Lalu kau bertutur tentang ayah kita yang pertama, Adam -‘alaihish shalatu was salam. Katamu, dia diciptakan dengan kedua tangan Allah ‘Azza wa Jalla dari tanah yang digenggam dengan genggaman-Nya dari seluruh penjuru bumi … tanah yang diberi bentuk lalu ditiupkan ruh kepadanya …

 

وكِلْتَا يَدَيْ ربّي يَمِينٌ مبَارَكَةٌ

 “Dan kedua tangan Rabb-ku adalah tangan kanan yang penuh berkah.” (HR. at-Tirmidzi)

 

Dan itulah ucapan ayah kita –‘alaihish shalatu was salam– kepada Rabb al-A’la … kemudian seluruh keturunannya ditampakkan kepadanya di telapak tangan Rabb-nya yang terbuka, sementara umur-umur mereka termaktub dalam kilau cahaya di antara kedua mata mereka …

Ah, aku tersentak memikirkan batas umurku sendiri yang tak  kuketahui, sementara akhir kehidupan itu teramat samar. Aku terdiam dan menunduk … dan aku berlindung kepada Allah dari akhir kehidupan yang buruk …

1 & 2: (2/212) رواهما ابن جرير في جامع البيان (7/98) وصححهما الحافظ ابن كثير في تفسير القرآن العظيم

Bandung, 26 Mei 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements