Geligis …

Ini bukanlah tentangmu yang dulu membelitku dengan alis matamu

Kupastikan itu berlalu meski lentikmu pernah acap ke batang jiwaku

Sila kau tanya tentang lukaku,

meski merahnya seperti paluh yang mengacapi dusun …

***

Ini bukanlah tentang malam berkabut yang tak berunggun api

Kupastikan itu kulewati meski dinginnya pernah menggeser huruf dari makhrajnya

Sila kau tanya tentang sepiku,

meski kau tahu bayang-bayang pun tiada tanpa cahaya …

***

Lantas, geletar apa yang membisukan kelakar?

Ini tentang maut yang menjadikan rembas segala hidup yang kutempuh

Sila kau renungi fananya setiap penempuhan,

semoga pada ‘illiyyun-lah coretan-coretan tentangku tertulis …

Bandung, 20 Juni 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Peran, Babak Demi Babaknya …

Al-Muhakah, bermain peran … mereka berpura-pura menjadi seseorang di atas panggung atau di layar-layar cahaya. Drama-drama pun dipentaskan babak demi babaknya, fragmen-fragmen yang dinukil dari kehidupan nyata atau pun karya-karya khayalan …

Di belakang panggung di belakang kamera, lelaki tak berjanggut menempelkan hiasan janggut pada dagunya … dia melingkarkan ‘imamah di kepalanya, sedang wajahnya dibedaki oleh lelaki-lelaki yang gemulai …

Babatun ba’da babatin … orang-orang pun tampil silih berganti, berjalan dengan gaya berjalan orang lain dan berbicara dengan gaya bicara orang lain …

Aku termenung membaca sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا أُحِبّ أَنّي حَكَيْتُ إِنْسَاناً وَإِنّ لِي كَذَا وكَذَا – صحيح الترمذي ( ۲ / ٣٠٦ ) الألباني

 “Sungguh aku tak suka berbuat muhakah (menirukan), bahwa bagiku menirukan seperti ini dan seperti itu.” (Shahih at-Tirmidzi 2/306; al-Albani)

 

Bandung, 14 Juni 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—


Aku Teringat Lalu Mempermaklumkan …

Aku teringat akan ucapan Maryam, ibunda ‘Isa –‘alaihis salam– ketika dia menyisihkan diri dari kaumnya ke tempat yang jauh lalu bersandar pada sebatang pohon kurma:

 

يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا :٢٣

 “Aduhai, seandainya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti lagi dilupakan.” (QS. Maryam: 23)

 

Dialah Maryam putri ‘Imran, perempuan yang tak tersentuh oleh jari jemari setan pada saat kelahirannya, perempuan mulia yang dipanggil oleh kaumnya dengan sebutan “Saudara Perempuan Harun” … dialah ash-Shiddiqah yang senantiasa ber-khidmah di mihrab Bait al-Maqdis dalam asuhan Zakariyya …

 

Aku juga teringat akan ucapan putri ash-Shiddiq, ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– di akhir kehidupannya setelah mendengar tazkiyah dari Hibr al-Ummah:

 

وَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ نِسْيًا مَنْسِيًّا

 “Betapa inginnya aku menjadi sesuatu yang tak berarti dan dilupakan.” (HR. al-Bukhari)

 

Dialah ‘Aisyah, perempuan yang kesuciannya difirmankan Allah dari atas petala langit ketujuh, perempuan yang kalungnya terjatuh di al-Abwa’ yang tak berair hingga Allah berkenan menurunkan wahyu tentang debu yang suci. Dialah Humaira’, istri Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam– dan perempuan yang paling dicintainya … Ummul Mu’minin, ibunda kami -dan aku seorang mukmin, insya Allah …

Lalu aku teringat akan ucapan Usaid bin Hudhair-radhiyallahu ‘anhu … lelaki Anshar dan pemuka kabilah ‘Aus, lelaki yang tongkatnya pernah bersinar di kegelapan malam, lelaki yang pernah memandangi payung-payung awan yang seperti lampu di langit ketika para malaikat mendengarkan qira’ah-nya. Dan inilah ucapannya kepada ibunda kami:

 

جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا فَوَاللَّهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ تَكْرَهِينَهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ ذَلِكِ لَكِ وَلِلْمُسْلِمِينَ فِيهِ خَيْرًا

 “Semoga Allah memberi balasan yang baik kepadamu. Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang kau benci, melainkan Alloh menjadikan dengannya kebaikan bagimu dan bagi kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari)

 

Namun … kini aku teringat pula akan suatu kaum yang menyebut ibunda kami sebagai Ummusy Syaithan, perempuan pezina, dan juga putri dari thaghut Quraisy -semoga Allah memburukkan wajah-wajah kaum itu. Demi Allah, tak ada sesuatu pun yang kutemukan dalam ajaran kaum itu selain dari bencana dan kedustaan …

 Maka, semoga Allah menyayangi dan menyucikan ruh Ibnu Hazm yang telah berkata tentang kaum itu:

 

فَإِنَّ الرَّوَافِضَ لَيْسُوْا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ الفصل في الملل والنحل: ۲/۲۱٣

 “Sesungguhnya kaum Syi’ah itu bukanlah bagian dari kaum muslimin.” (al-Fishal fi al-Milal wa an-Nihal: 2/213)

 

Dan semoga Allah pun menyayangi dan menyucikan ruh Abu ‘Abdillah, Ahmad bin Hanbal yang telah berkata tentang kaum  itu yang senantiasa mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ibunda kami:

 

مَاأَرَاهُ عَلىَ الاِسْلاَم- الخلال / السنة : ۲/ ٥٥٧  

 “Aku memandangnya bukan Islam.” (al-Khalal dalam as-Sunnah: 2/557)

 

Sungguh telah kuingat semua itu dan aku mempermaklumkan apa yang kuyakini dalam dada … tidaklah Syi’ah menjadi bagian dari Islam sedikit pun meski sebagian manusia menasabkannya kepada Islam. Sungguh Islam terlepas dari kekotoran Syi’ah sebagaimana terlepasnya Ya’qub –‘alaihis salam– dari kekotoran Yahudi. Syi’ah adalah sebuah agama dan Islam juga sebuah agama, sementara Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ  :۱۹

 “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)

 

Maka, tidaklah kukatakan semua ini kecuali:

 

 لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَن بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَن بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ  : ٤۲

 “Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)

Bandung, 13 Juni 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—