Peran, Babak Demi Babaknya …

Al-Muhakah, bermain peran … mereka berpura-pura menjadi seseorang di atas panggung atau di layar-layar cahaya. Drama-drama pun dipentaskan babak demi babaknya, fragmen-fragmen yang dinukil dari kehidupan nyata atau pun karya-karya khayalan …

Di belakang panggung di belakang kamera, lelaki tak berjanggut menempelkan hiasan janggut pada dagunya … dia melingkarkan ‘imamah di kepalanya, sedang wajahnya dibedaki oleh lelaki-lelaki yang gemulai …

Babatun ba’da babatin … orang-orang pun tampil silih berganti, berjalan dengan gaya berjalan orang lain dan berbicara dengan gaya bicara orang lain …

Aku termenung membaca sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا أُحِبّ أَنّي حَكَيْتُ إِنْسَاناً وَإِنّ لِي كَذَا وكَذَا – صحيح الترمذي ( ۲ / ٣٠٦ ) الألباني

 “Sungguh aku tak suka berbuat muhakah (menirukan), bahwa bagiku menirukan seperti ini dan seperti itu.” (Shahih at-Tirmidzi 2/306; al-Albani)

 

Bandung, 14 Juni 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—


Advertisements

110 comments on “Peran, Babak Demi Babaknya …

  1. hwwibntato says:

    nikinput said: wah, banyak banget yang termasuk ghibah, ya. berarti acara parodi di teve juga ghibah, ya.

    wah, iya juga ya … ha ha ha …parodi itu kan mengejek orang lain meskipun tujuannya sebagai hiburan … he he he …

  2. sibghotalloh says:

    hwwibntato said: Beliau juga berkata dalam halaman lainnya:فأما الغيبة‏:‏ فهي ذكرُك الإِنسانَ بما فيه مما يكره، سواء كان في بدنه أو دينه أو دنياه، أو نفسه أو خَلقه أو خُلقه، أو ماله أو ولده أو والده، أو زوجه أو خادمه أو مملوكه، أو عمامته أو ثوبه، أو مشيته وحركته وبشاشته، وخلاعته وعبوسه وطلاقته، أو غير ذلك مما يتعلق به، سواء ذكرته بلفظك أو كتابك، أو رمزتَ أو أشرتَ إليه بعينك أو يدك أو رأسك أو نحو ذلك‏.‏ أما البدن فكقولك‏:‏ أعمى أعرج أعمش أقرع، قصير طويل أسود أصفر‏.‏ وأما الدِّيْنُ فكقولك‏:‏ فاسق سارق خائن، ظالم متهاون بالصلاة، متساهل في النجاسات، ليس بارّاً بوالده، لا يضعُ الزكاة مواضعَها، لا يجتنبُ الغيبة‏.‏ وأما الدنيا‏:‏ فقليلُ الأدب، يتهاونُ بالناس، لا يرى لأحد عليه حقاً، كثيرُ الكلام، كثيرُ الأكل أو النوم، ينامُ في غير وقته، يجلسُ في غير موضعه، وأما المتعلِّق بوالده فكقوله‏:‏ أبوه فاسق، أو هندي أو نبطي أو زنجي، إسكاف بزاز نخاس نجار حداد حائك‏.‏ وأما الخُلُق فكقوله‏:‏ سيء الخلق، متكبّر مُرَاء، عجول جبَّار، عاجز ضعيفُ القلب، مُتهوِّر عبوس، خليع، ونحوه‏.‏ وأما الثوب‏:‏ فواسع الكمّ، طويل الذيل، وَسِخُ الثوب ونحو ذلك، ويُقاس الباقي بما ذكرناه‏.‏ وضابطُه‏:‏ ذكرُه بما يكره‏”Adapun ghibah, yaitu apabila kamu menyebut seseorang dengan apa yang tidak disukainya. Sama saja bagimu apakah (hal itu menyangkut) tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara berjalannya, gerakannya, senyumnya, mukanya yang masam, atau yang selainnya dari perkara-perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama juga jika kamu menyebut tentang orang tersebut dengan ucapan bibirmu (lisanmu) ataupun dengan tulisanmu, atau juga melalui tanda dan isyarat matamu, atau juga dengan tanganmu, atau juga kepalamu dan yang semisalnya. Adapun ghibah yang menyangkut badan seseorang misalnya engkau mengatakan bahwa si Fulan buta, atau pincang, picak, botak, pendek, tinggi, hitam, dan lain-lainnya.Ghibah yang berkaitan dengan agama, misalnya kamu mengatakan bahwa si Fulan itu fasik, atau pencuri, pengkhianat, zalim, meremehkan shalat, bermudah-mudah dalam perkara najis, tidak berbuat baik pada orang tuanya, tidak memberikan zakat pada tempatnya, tidak menjauhi ghibah, dan lain-lain.Ghibah yang menyangkut urusan dunia seseorang, misalnya kamu mengatakan bahwa si Fulan kurang adabnya, meremehkan manusia, tidak memandang ada orang yang punya hak terhadapnya, banyak bicara, banyak makan dan tidur, tidur bukan pada waktunya, duduk tidak pada tempatnya, dan lain-lain.Ghibah yang bersangkutan dengan orang tuanya, misalnya kamu mengatakan bahwa si Fulan itu ayahnya fasik. Atau mengatakan dengan nada merendahkan bahwa si Fulan anaknya tukang sepatu, anaknya penjual kain, anaknya tukang kayu, anaknya pandai besi, anaknya orang sombong, dan lain-lainnya.Ghibah yang menyangkut akhlak, misalnya engkau mengatakan bahwa si Fulan jelek akhlaknya, sombong, ingin dilihat bila beramal (riya), sifatnya tergesa-gesa, lemah hatinya, dan lain-lain.Ghibah yang berkaitan dengan pakaian seseorang, misalnya engkau mengatakan bahwa si Fulan lebar kerah bajunya, bajunya kepanjangan, dan lain-lain. (al-Adzkar an-Nawawiyah)**Namun, dalam hal ini, tentu saja Imam an-Nawawi tidaklah sedang membicarakan masalah sandiwara atau drama atau teater … wallahu a’lamu …

    ijin copas yang ini kak Hen 🙂

  3. hwwibntato says:

    sibghotalloh said: ijin copas yang ini kak Hen 🙂

    iya silakan, Mei … he he he …

  4. sibghotalloh says:

    hwwibntato said: iya silakan, Mei … he he he …

    jazakalloh khoiron katsiron 🙂

  5. hwwibntato says:

    sibghotalloh said: jazakalloh khoiron katsiron 🙂

    wa anti fajazakillahu khairan katsiran …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s