Air, Sungai, dan Thalut …

Cikapundung, sungai yang berhulu di utara itu membelah kotaku untuk sampai ke muaranya di selatan. Kemarin, aku melihat lagi aliran kemaraunya yang cukup deras meskipun tak sejernih dulu. Aku duduk di atas batu, menikmati suara air sambil mengingat beberapa hal tentang air dan sungai …

Sebagian orang berkata tentang air, “Air itu tercakup dalam keumuman pengertian makanan.” Mereka juga berkata, “Makanan itu mencakup segala sesuatu yang dimakan dan diminum.” Mungkin mereka menyimpulkan hal itu dari perkataan yang diucapkan oleh Thalut kepada bala tentaranya sebelum menyeberangi sungai:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ٢٤٩

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, dia bukanlah pengikutku. Dan siapa yang tidak yath’amhu (memakannya), kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” (QS. al-Baqarah:249)

قال القرطبي : دل على أن الماء طعام (الجامع لأحكام القرآن

Imam al-Qurthubi berkata, “(Ayat) Ini menjadi dalil bahwa air itu tergolong sebagai makanan.” (al-Jami’u Li Ahkam al-Quran)

Tentu saja sungai yang dulu diseberangi oleh Thalut dan bala tentaranya itu bukanlah sungai Cikapundung yang kemarin kududuki batu-batunya, melainkan sungai lain yang berada di jazirah yang sangat jauh dari kotaku. Menurut beberapa kabar, sungai itu dinamakan sungai Syariah dan berada di antara negeri Palestina dan negeri Yordania …

قال ابن عباس وكثير من المفسرين: هذا النهر هو نهر الأردن، وهو المسمى بالشريعة (صحيح قصص الأنبياء الشيخ سليم بن عيد الهلالي

Ibnu ‘Abbas dan kebanyakan ahli tafsir mengatakan, “Sungai itu adalah sungai Yordania, dan dia dinamakan sungai Syari’ah. (Shahih Qashash al-Anbiya’; Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali)

Tidaklah Thalut menyeberangi sungai itu kecuali bersama sejumlah kecil tentara yang beriman. Tiga ratus sekian belas orang saja jumlah mereka, namun mampu mengalahkan pasukan Jalut yang berjumlah jauh lebih besar dari mereka …

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ ٢٤٩

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Baqarah : 249)

Benarlah ucapan Allah itu dengan sebenar-benar ucapan. Sungguh para pendahulu kami dari kalangan ahlul Badr pun telah mengalami kemenangan seperti itu dengan izin Allah …

 
عَنِ الْبَرَاءِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ أَصْحَابَ بَدْرٍ ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةَ عَشَرَ، بِعِدَّةِ أَصْحَابِ طَالُوتَ الَّذِينَ جَاوَزُوا مَعَهُ النَّهَرَ، وَمَا جَاوَزَ مَعَهُ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

Dari al-Bara’ –radhiyallahu ‘anhu– dia berkata, “Kami (para shahabat nabi) biasa berbincang tentang ahlul Badr yang berjumlah sekitar tiga ratus sekian belas orang saja, jumlah yang sama dengan jumlah pasukan Thalut yang menyeberangi sungai bersamanya. Dan tiada seorang pun yang menyeberangi sungai bersama Thalut kecuali seorang yang beriman.” (HR. al-Bukhari)

 

Bandung, 24 Juli 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s