Sejauh jarak yang terlihat mata aku melaungmu. Sepemanggil saja, sesayup-sayup mata dan sekuat perlawanan angin. Ah, bagaimana bisa anak panahnya mendahului suaraku ke dadamu yang berhati …

Sejauh jarak yang terlihat mata aku melaungmu. Sepemanggil saja, sesayup-sayup mata dan sekuat perlawanan angin. Ah, bagaimana bisa anak panahnya mendahului suaraku ke dadamu yang berhati …

Bandung, 30 Juli 2011

–Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja–