Pinta …

Aku menyampaikan pinta bertadah tanya ketika kau menyarak pena dari tinta. Kuyakin kau tahu, meski kedua tanduk hilal di atas matahari yang terbenam itu menghalangimu dari kuku dan rambut, tidaklah keduanya kan mencegahmu berbincang dengan sejarah. Kuharap kau iba, setakat fajar kubertumpu cinta sambil menumbuk rindu yang rawan, tak rebah menantimu melelakan tangan menuliskan alusi di atas kertas bergaris-garis …

 

Dis, cecahkan pena itu! Agar bisa kumarkahi lagi kata-kata dan peristiwa yang kau suling dari gorong-gorong zaman …

Bandung, 31 Oktober 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—
Advertisements

Khaiyth al-Abyadh …

Ketika fajar berdusta, kusebut ia Kadzib. Kau lihatlah cahayanya yang menjulang itu, tinggi mengangkasa seperti Dzanab as-Sirhan, si Ekor Serigala. Sila kau kunyah hidangan sederhana ini sampai fajar berkata jujur. Sungguh Khaiyth al-Abyadh pun takkan hadir di kaki langit sebelum fajar berkata jujur …


*

**

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الفجر فجران، فجر يقال له: ذنب السرحان، وهو الكاذب يذهب طولا، ولا يذهب عرضا، والفجر الآخر يذهب عرضا، ولا يذهب طولا –أخرجه الحاكم (١/١٩١)؛ وصححه الشيخ الألباني في سلسلة الصحيحة (٢٠٠٢)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Fajar itu ada dua; yaitu fajar yang disebut dzanab as-sirhan (si ekor serigala), dialah fajar dusta yang tampak menjulang tinggi (vertikal) bukan melintang panjang (horizontal). Adapun fajar kedua, dia terlihat melintang panjang bukan menjulang tinggi.” (HR. al-Hakim 1/191; disahihkan oleh Syaikh al-Albani di kitab Silsilah ash-Shahihah 2002)

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“ … dan makan minumlah hingga terang bagimu khaith al-abyadh (benang putih) dari khaith al-aswad (benang hitam), yaitu fajar.” (QS. al-Baqarah: 187)

Bandung, 19 Oktober 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Ayah Lupa Sehingga Kita pun Lupa …

Seribu tahun usia ayah kita ditetapkan, namun cahaya di wajah Dawud yang menakjubkan telah membuat ayah merelakan empat puluh tahun dari usianya untuk keturunan Israil yang mulia itu. Kemudian ayah turun ke bumi, ia menjalani kehidupan sambil menghitung sendiri usia yang dilewatinya. Seribu tahun perjalanan, itulah kurun waktu yang selalu tertera dalam ingatan ayah …

Suatu hari, Maut datang menemui ayah di tahun kehidupan yang ke sembilan-ratus-enam-puluh. Penuai ruh itu mengatakan bahwa waktu kepulangan ayah telah tiba. Tentu saja ayah mengingkari ucapan Maut. Menurut ayah, seribu tahun perjalanan untuknya itu belum lagi tergenapkan. Ah, ayah telah lupa tentang empat puluh tahun yang diberikannya kepada Dawud. Sungguh ayah telah lupa sehingga kita pun lupa, ayah mengingkari sehingga kita pun mengingkari …

***

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

فَجَحَدَ ذَلِكَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ

 “Adam mengingkari sehingga keturunannya pun mengingkari, dan Adam lupa sehingga keturunannya pun lupa.” (H.R al-Hakim dan at-Tirmidzi; Shahih al-Jami’ no. 5209, al-Albani)

Bandung, 17 Oktober 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—