Aku berjalan di persawangan, menghirup udara sawang langit. Kau lihatlah! Asaku berkibar di antara langit dan bumi …

Aku berjalan di persawangan, menghirup udara sawang langit. Kau lihatlah! Asaku berkibar di antara langit dan bumi …

Bandung, 25 November 2011

–Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja–

Advertisements

Dua Hal yang Merembah, Dua Jejak yang Membekas …

Aku berjalan di salah satu tepian siang yang dingin, mencakah mencari kelembutan hati melewati kalakanji yang meredam suara langkahku. Perdu-perdu liar yang pemalu tampak berkelompok-kelompok di sepanjang tepi-jalan-setapak yang kulalui …

“Putri-putri yang pemalu,” batinku. Daun-daun sirip mereka yang menawan langsung menguncup saat terlanggar sandal kulitku. Hijau dan ungu warna mereka …

Aku melambatkan langkah di depan maqbarah yang senyap, mengucapkan salam kepada para penghuni dunia barzakh sambil menanggalkan sandal sebelum berjalan di antara rumah-rumah kaum yang mati. Tubuhku menggeligis menjenaki kubur-kubur bisu, menggeletar berselubung khasyah dan bersimbah pikiran tentang maut dan akhirat. Aku menekuri diri sambil mengenang para fulan dan fulanah, mengenang kaum kerabat yang mendahuluiku ke manzil akhirat yang pertama –semoga Allah mengampuni dan menyayangi mereka …

Berteman bayang-bayang-diri aku berbalik ke jalan setapak yang tadi kulalui, menginjak-injak lagi kemuncup dan putri-putri-malu sambil mengingat-ingat nasihat yang pernah kau sampaikan kepadaku dahulu …

“Kubur itu penasihat yang bisu,” katamu lirih, sementara matamu berkaca-kaca. “Dia mengingatkan kita tanpa suara dan ucap kata.”

Aku menyeka air yang mengering di bawah mataku, membuka lagi catatan-catatan pelajaran yang tak mampu kusulam dalam ingatan. Aku mencari dalil-dalil tentang kubur dan riwayat tangis Dzun Nurain, namun mataku terpaku pada riwayat sabda yang menggetarkan hati …

لَيْسَ شَيْءٌ أحَبّ إلى الله مِنْ قَطْرَتَيْنِ وأثَرَيْنِ: قَطْرَة من دُمُوعٍ في خَشْيَةِ الله، وقَطْرَة دمٍ تُهْرَاقُ في سَبيلِ الله، وأمّا الأثَرَانِ فَأَثَرٌ في سَبيلِ الله وأثَرٌ في فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ الله  رواه الترمذي، وصححه الألباني في صحيح الترمذي  1363

“Tiada sesuatu pun yang lebih Allah cintai dibandingkan dengan dua hal yang merembah dan dua jejak yang membekas, tetes air mata yang mengalir karena takut kepada Allah dan tetes darah yang mengucur di jalan Allah. Adapun kedua jejak yang membekas adalah jejak di jalan Allah dan jejak dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah.” (HR. at-Tirmidzi, disahihkan oleh al-Albani dalah Shahih at-Tirmidzi 1363)

 

 وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (١٢)

dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan, dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata. (QS. Yasin: 12)

Aku menangis merenungi jejak-jejak yang memang harus kusesali, namun tak mau kehilangan asa untuk menikmati air telaga dengan cangkir-cangkir sebanyak bintang di langit …

 

Bandung, 21 November 2011

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—