Kau mengingkari fulan karena kecintaannya kepada kabilah akal. Katamu, ia menyalakan semangat dakwah namun enggan membuka pintu-pintu ilmu. “Ia membakar bukan menerangi.”

Kau mengingkari fulan karena kecintaannya kepada kabilah akal. Katamu, ia menyalakan semangat dakwah namun enggan membuka pintu-pintu ilmu. “Ia membakar bukan menerangi.”

Bandung, 24 Januari 2012

–Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja–

Advertisements

Aku Menangkap Pelangi …

Tentang langit di seberang atas bumi, ia terjarak dan berjarak dari tempatku berpijak. Kuyakin ia luas, tetapi memiliki batas

“Kau lihatlah bianglala itu! Ia terlukis begitu dekat. Jauh lebih dekat daripada bintang-bintang di petala langit yang terdekat.”

*
**

Tentang pelangi itu, ia adalah si lengkung bianglala. Orang Arab menyebutnya qausu quzah (busur warna-warna; lengkung warna-warna) …

Qaus adalah busur atau apa pun yang berbentuk melengkung. Kau lihat sendiri, di langit kita, pelangi memang selalu tampak melengkung seperti busur untuk melesatkan anak-anak panah …

Lantas apakah Quzah? Mereka bilang:

هو جمع قُزْحَة وهي الطريقة التي تتركب منها ألوان هذا القوس

Quzah adalah bentuk jamak dari kata quz-hah, yaitu suatu jalan yang tersusun dari warna-warna pada lengkung tersebut.”

Akan tetapi, ada juga orang-orang yang benci untuk menamai lengkung bianglala itu dengan sebutan qausu quzah. Kata mereka, “Quzah adalah setan. Jangan pernah kausebut lengkung bianglala itu qausu quzah (busur setan)!” Para pembenci sebutan tersebut berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah al-Auliya’ berikut:

حدثنا أحمد بن السندي بن بحر، قال : ثنا الحسين بن محمد بن حاتم عبيد العجلي الحافظ، قال: ثنا بشر بن الوليد، قال: ثنا زكريا بن حكيم الحبطي، عن أبي رجاء العطاردي، عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :لا تقولوا قوس قزح فإن قزح شيطان ، ولكن قولوا قوس الله عز وجل فهو أمان لأهل الأرض

Dari Ibn ‘Abbas, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Janganlah kalian mengatakan qausu quzah! Sesungguhnya quzah itu adalah setan. Akan tetapi, katakanlah oleh kalian qausullah (busur Allah) –‘Azza wa Jalla- karena bianglala itu adalah keamanan bagi penduduk bumi.”

Akan tetapi, hadits tersebut sama sekali tidak sahih. Hadits tersebut PALSU sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh al-Albani –rahimahullah– di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (no. 872). Dengan demikian, lantaran tak sahih, tentu saja mereka dan juga kita, tidak boleh dan tidak bisa menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah untuk melarang penamaan bianglala dengan sebutan qausu quzah

*
**

Akhirnya, setelah sekian tahun tak melihatnya, saya bisa menyaksikan lagi qausu quzah, si lengkung bianglala … -senja tadi, sesaat sebelum magrib …

Sekarang, sila kaulihat pelangi yang telah kutangkap! Itulah bianglala, itulah qausu quzah …!

Bandung, 20 Januari 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Bukan Cinta yang Lazim Diperbincangkan …

Kau pernah berkata tentang al-khullah kepadaku. Katamu, ia merupakan pemuncak dari mahabbah. Begitu istimewa perihalnya, sempurna dalam ahwal keakraban dengan kekasih yang dicintai, utuh tak mendua juga kukuh tak merambang. Ia tinggi melangit di atas segala cinta yang lazim diperbincangkan. Tak ada yang mampu mencapainya di dunia selain dua orang …

 

Allah ta’ala berkata:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا : ١٢٥

… dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil –kekasih-Nya yang tersayang.
(QS. an-Nisa’: 125)

 

Rasulullah  –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata:

 

فَإِنّ الله تَعَالَى قَدِ اتّخَذَنِي خَلِيلاً، كَمَا اتّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

Sungguh Allah ta’ala menjadikanku sebagai khalil –kekasih-Nya yang tersayang- sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil. (HR. Muslim)

“Maka perhatikanlah! Bagaimana mungkin kau menyebut habibullah kepada nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang telah Allah jadikan sebagai khalil-Nya? Sungguh tak cukup dan tak sempurna penyifatan itu, sangat kurang bahkan merendahkan kedudukan.”

“Al-Khalil keturunan al-Khalil akan menanti di ‘arshatul qiyamah, di sebuah telaga dengan cangkir-cangkir sebanyak jumlah bintang di langit. Kaubacalah ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab para muhadditsun.”

أنا فَرَطُكُمْ عَلَىَ الْحَوْضِ …

Aku akan telah berada di telaga menanti kedatangan kalian … (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

مَنْ وَرَدَهُ فَشَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا

… siapa yang mendatangi dan meminum airnya, ia takkan merasa haus selamanya. (HR. Muslim)

 

Ah, betapa ingin meminum air dari telaga nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menikmati kesegaran bersama para pencinta pada yaum al-mahsyar. Akan tetapi, ucapanmu yang lain membuatku cemas hingga seakan-akan jiwaku menggerisik, “Sungguh tiada jalan untuk bisa meminumnya selain menjadi seorang pencinta, sementara kejujuran seorang pencinta takkan terbukti kecuali dengan ittiba’.”

 

Ah, kau mengingatkanku akan ungkapan seseorang yang bersyair:

 

يَقُوْلُوْنَ أَقْوَلاً وَلاَ يَحْقِقُوْنَهَا *** وَإِنْ قِيْلَ هَاتُوا حَقِقُوا لَمْ يَحْقِقُوا

Mereka mengucapkan suatu ucapan yang tak sesuai dengan hakikatnya
Apabila dikatakan, “Buktikanlah!” Sungguh mereka tak mampu membuktikannya

Kini, aku merenungi diri seraya merisik kebenaran dari pengakuan ittiba’-ku, merenungi kabar tentang orang-orang yang terusir dari telaga karena bid’ah yang mereka perbuat. Sungguh aku cemas jika kelak termasuk bagian dari kaum yang terusir …

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

 

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ … فَأَقُولُ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي

Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku (di telaga). Aku mengenal mereka dan mereka pun mengenalku, namun kemudian aku terhalang dari mereka … aku berucap, “(Wahai Rabb-ku), mereka itu bagian dariku (umatku).” Akan tetapi dikatakan kepadaku, “Sungguh kamu tidak mengetahui muhdats yang mereka perbuat sepeninggalmu.” Maka aku pun berkata, “Menjauhlah! Menjauhlah (dariku) orang yang mengubah (agama) sepeninggalku!” (HR. al-Bukhari)

Bandung, 9 Januari 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—