Bukan Cinta yang Lazim Diperbincangkan …

Kau pernah berkata tentang al-khullah kepadaku. Katamu, ia merupakan pemuncak dari mahabbah. Begitu istimewa perihalnya, sempurna dalam ahwal keakraban dengan kekasih yang dicintai, utuh tak mendua juga kukuh tak merambang. Ia tinggi melangit di atas segala cinta yang lazim diperbincangkan. Tak ada yang mampu mencapainya di dunia selain dua orang …

 

Allah ta’ala berkata:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا : ١٢٥

… dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil –kekasih-Nya yang tersayang.
(QS. an-Nisa’: 125)

 

Rasulullah  –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata:

 

فَإِنّ الله تَعَالَى قَدِ اتّخَذَنِي خَلِيلاً، كَمَا اتّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

Sungguh Allah ta’ala menjadikanku sebagai khalil –kekasih-Nya yang tersayang- sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil. (HR. Muslim)

“Maka perhatikanlah! Bagaimana mungkin kau menyebut habibullah kepada nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang telah Allah jadikan sebagai khalil-Nya? Sungguh tak cukup dan tak sempurna penyifatan itu, sangat kurang bahkan merendahkan kedudukan.”

“Al-Khalil keturunan al-Khalil akan menanti di ‘arshatul qiyamah, di sebuah telaga dengan cangkir-cangkir sebanyak jumlah bintang di langit. Kaubacalah ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab para muhadditsun.”

أنا فَرَطُكُمْ عَلَىَ الْحَوْضِ …

Aku akan telah berada di telaga menanti kedatangan kalian … (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

مَنْ وَرَدَهُ فَشَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا

… siapa yang mendatangi dan meminum airnya, ia takkan merasa haus selamanya. (HR. Muslim)

 

Ah, betapa ingin meminum air dari telaga nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menikmati kesegaran bersama para pencinta pada yaum al-mahsyar. Akan tetapi, ucapanmu yang lain membuatku cemas hingga seakan-akan jiwaku menggerisik, “Sungguh tiada jalan untuk bisa meminumnya selain menjadi seorang pencinta, sementara kejujuran seorang pencinta takkan terbukti kecuali dengan ittiba’.”

 

Ah, kau mengingatkanku akan ungkapan seseorang yang bersyair:

 

يَقُوْلُوْنَ أَقْوَلاً وَلاَ يَحْقِقُوْنَهَا *** وَإِنْ قِيْلَ هَاتُوا حَقِقُوا لَمْ يَحْقِقُوا

Mereka mengucapkan suatu ucapan yang tak sesuai dengan hakikatnya
Apabila dikatakan, “Buktikanlah!” Sungguh mereka tak mampu membuktikannya

Kini, aku merenungi diri seraya merisik kebenaran dari pengakuan ittiba’-ku, merenungi kabar tentang orang-orang yang terusir dari telaga karena bid’ah yang mereka perbuat. Sungguh aku cemas jika kelak termasuk bagian dari kaum yang terusir …

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

 

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ … فَأَقُولُ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي

Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku (di telaga). Aku mengenal mereka dan mereka pun mengenalku, namun kemudian aku terhalang dari mereka … aku berucap, “(Wahai Rabb-ku), mereka itu bagian dariku (umatku).” Akan tetapi dikatakan kepadaku, “Sungguh kamu tidak mengetahui muhdats yang mereka perbuat sepeninggalmu.” Maka aku pun berkata, “Menjauhlah! Menjauhlah (dariku) orang yang mengubah (agama) sepeninggalku!” (HR. al-Bukhari)

Bandung, 9 Januari 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements