Aku Menangkap Pelangi …

Tentang langit di seberang atas bumi, ia terjarak dan berjarak dari tempatku berpijak. Kuyakin ia luas, tetapi memiliki batas

“Kau lihatlah bianglala itu! Ia terlukis begitu dekat. Jauh lebih dekat daripada bintang-bintang di petala langit yang terdekat.”

*
**

Tentang pelangi itu, ia adalah si lengkung bianglala. Orang Arab menyebutnya qausu quzah (busur warna-warna; lengkung warna-warna) …

Qaus adalah busur atau apa pun yang berbentuk melengkung. Kau lihat sendiri, di langit kita, pelangi memang selalu tampak melengkung seperti busur untuk melesatkan anak-anak panah …

Lantas apakah Quzah? Mereka bilang:

هو جمع قُزْحَة وهي الطريقة التي تتركب منها ألوان هذا القوس

Quzah adalah bentuk jamak dari kata quz-hah, yaitu suatu jalan yang tersusun dari warna-warna pada lengkung tersebut.”

Akan tetapi, ada juga orang-orang yang benci untuk menamai lengkung bianglala itu dengan sebutan qausu quzah. Kata mereka, “Quzah adalah setan. Jangan pernah kausebut lengkung bianglala itu qausu quzah (busur setan)!” Para pembenci sebutan tersebut berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah al-Auliya’ berikut:

حدثنا أحمد بن السندي بن بحر، قال : ثنا الحسين بن محمد بن حاتم عبيد العجلي الحافظ، قال: ثنا بشر بن الوليد، قال: ثنا زكريا بن حكيم الحبطي، عن أبي رجاء العطاردي، عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :لا تقولوا قوس قزح فإن قزح شيطان ، ولكن قولوا قوس الله عز وجل فهو أمان لأهل الأرض

Dari Ibn ‘Abbas, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Janganlah kalian mengatakan qausu quzah! Sesungguhnya quzah itu adalah setan. Akan tetapi, katakanlah oleh kalian qausullah (busur Allah) –‘Azza wa Jalla- karena bianglala itu adalah keamanan bagi penduduk bumi.”

Akan tetapi, hadits tersebut sama sekali tidak sahih. Hadits tersebut PALSU sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh al-Albani –rahimahullah– di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (no. 872). Dengan demikian, lantaran tak sahih, tentu saja mereka dan juga kita, tidak boleh dan tidak bisa menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah untuk melarang penamaan bianglala dengan sebutan qausu quzah

*
**

Akhirnya, setelah sekian tahun tak melihatnya, saya bisa menyaksikan lagi qausu quzah, si lengkung bianglala … -senja tadi, sesaat sebelum magrib …

Sekarang, sila kaulihat pelangi yang telah kutangkap! Itulah bianglala, itulah qausu quzah …!

Bandung, 20 Januari 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s