Memandang Cela yang Jauh …

Seberapa dalam aku menyelami jiwa sendiri? Sungguh ketakjuban pada diri sendiri membuat mataku tak mampu melihat apa pun selain cela pada orang selainku …

يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِيْ عَيْنِ أَخِيْهِ وَيَنْسَى الْجِذْلَ – أَوِ الْجِذْعَ – فِيْ عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian mampu melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi lupa akan tonggak -batang kayu- di pelupuk mata sendiri.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah Syaikh al-Albani hadits no. 33)

Bandung, 7 Februari 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

Mengapi lalu Mengasap …

Para pendahulu kami yang shalih mengampu persaksian di atas pilar-pilar nafyu dan itsbat. Mereka tetap berkabar naql ketika orang-orang bodoh dan para pengembara akal tertindih hina di bawah reruntuhan kata yang tak kukuh. Mustahil kaudapati petunjuk dari tinta para filsuf dan dawat tasawuf. Buang saja semua ceracau itu ke tanur batu jika tak mungkin kaulemparkan ke bintang-bintang. Sungguh tak ada sesuatu pun yang mereka wariskan selain tumpahan tinta yang meliuri kitab dan mencederai akal peradaban …

Hai, kamu! Perhatikanlah tanwir para penjaga hadits tentang falasifah yang mengapi dan tasawuf yang mengasap. Salah satunya membakar, salah satunya menjadi sulang asap yang hitam …

 

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ :٦١

 Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
(QS. al-Baqarah: 61)

 

Bandung, 7 februari 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—