Berseluk Bersimpul Jerat …

Angin melabuh usap ke peluhmu semasa kaubersinggah di selasar rumah kayu. Bersila di atas galih meranti, kaubacakan risalah akal para pencinta puak. Tiada hujah selain pikiran, cinta pun berseluk seperti tali yang bersimpul jerat hizbiyyah

Aku berkata, “Bersandarlah! Sungguh tak ada yang patut kauambil selain halaman kosong di akhir buku.”

——————————————————————-
asy-Syaikh ‘Abdurrahman ibn Yahya al-Yamani* –rahimahullah- berkata:

كثيرا ما تجمع المحبة ببعض الناس فتخطى الحجة ويحاربها, ومن وفق علم أن ذلك مناف للمحبة المشروعة, والله المستعان (بداية السول في تفضيل الرسول; تحقيق الشيخ الألباني)

“Acap kali perasaan cinta terhadap sebagian manusia membuat seseorang menyimpang dari hujah dan bahkan memeranginya, sementara orang yang menepati petunjuk mengetahui bahwa perbuatan tersebut justru bersimpangan dengan cinta yang masyru’. Wallahul musta’an.”  (Bidayatus Sul fi Tafdhil ar-rasul; tahqiq asy-Syaikh al-Albani)

——————————————————————–

*Beliau adalah Abu ‘Abdillah ‘Abdurrahman bin Yahya bin ‘Ali bin Abu Bakr al-Mu’allimi al-‘Utmi al-Yamani (1313 H -1387 H), seorang muhaddits dan muhaqqiq, ulama yang berasal dari Bani Mu’allim di daerah Utmah, Yaman. Semoga Allah merahmati beliau …

 

Bandung, 19 April 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Khayalku telah sampai di kediamanmu meninggalkan langkahku yang bertambat pada rintangan. Jika saja ketidakhadiran itu tak mencacati cinta, niscaya kuteriakkan isi hati dari jauh. Akan tetapi orang-orang tua dari kaumku berkata, “Lelaki takkan mengutarakan janji jika tak mampu menghadirkan dua bukti di hadapan keluarga kekasih, dada yang menyimpan kejujuran dan mata yang memancarkan kesungguhan.”

Khayalku telah sampai di kediamanmu meninggalkan langkahku yang bertambat pada rintangan. Jika saja ketidakhadiran itu tak mencacati cinta, niscaya kuteriakkan isi hati dari jauh. Akan tetapi orang-orang tua dari kaumku berkata, “Lelaki takkan mengutarakan janji jika tak mampu menghadirkan dua bukti di hadapan keluarga kekasih, dada yang menyimpan kejujuran dan mata yang memancarkan kesungguhan.”

Bandung, 9 April 2012 …

–Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja–

Musim Semi di Tanah Air Hati …

Aku melucuti kesah dari wilayah dada dan berhenti mengeluhkan Rabb-ku kepada manusia. Katamu, harus kucari wasilah berupa qurbah sebagaimana yang tertera dalam hikayat sabar dan riwayat syukur, berlapang dada memurnikan ‘ubudiyyah seraya meneladan perilaku hamba yang tak henti menyanjung Rabbul ‘Arsy dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah …

 

“Al-kamal fauqal kamal,” ucapmu. “Betapa sering Rabb kita menyandingkan dua nama-Nya yang indah dalam firman-Nya, dan sungguh setiap kesempurnaan itu hanyalah milik-Nya.”

 

Aku lantas melimbang fawaid yang kauraup dari khazanah pemilik dua kitab silsilah, berpenat-penat menyalin suaramu menjadi aksara karena ingatan sering kali terhalang rintangan. Aku menggoreskan lambang-lambang bunyi berwujud huruf-huruf mati dan harakat hidup, berjerih menapis fasal-fasal yang kauambil dari peninggalan para pemilik ilmu …

 

Kau berkata, “Harus kaupersiapkan musim semi di tanah air hati agar pengetahuan, kehendak, dan cinta yang bermukim di sana tak raib disesap kekhawatiran yang membenalu.” Sececah mata aku tersadar. Tak ayal kata-kataku berinaian sebagaimana rintik permohonan seorang hamba yang berdekap gundah:

أَنْ تَـجْعَلَ الْقُرآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ

 “… agar Engkau menjadikan al-Quran sebagai musim semi di hatiku dan cahaya di dadaku.”

(Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 199)

 

 

Ah, betapa ingin berpaling dari sebab-sebab penelantaran hati lalu berlindung kepada Rabb-ku dari sikap yang dicela-Nya dalam firman-Nya:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا :٣٠

 Dan Rasul berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tak diacuhkan.”

(QS. al-Furqan: 30)

 ***

_______________________________

Ibnu Qayyim berkata:

وقوله: ان تجعل القرآن ربيع قلبى ونور صدرى. الربيع المطر الذي يحيى الأرض، شبه القرآن به لحياة القلوب به

Ucapan doa “agar Engkau menjadikan al-Quran sebagai musim semi di hatiku dan cahaya di dadaku”, yang dimaksud dengan ar-Rabi’ (musim semi) adalah hujan yang menghidupkan tanah. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam– mengumpamakan al-Quran dengan hujan musim semi –yang menghidupkan tanah- karena al-Quran itu menghidupkan hati … (Fawa-id al-Fawa-id li Ibni Qayyim, tahqiq: Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali al-Halabi)

Ibnul Manzhur berkata:

وفي حديث الدعاء: اللهم اجْعلِ القرآنَ رَبِيعَ قَلْبي؛ جعله ربيعاً له لأَن الإِنسان يرتاح قلبه في الربيع من الأَزمان ويَمِيل إِليه

Dan di dalam hadits doa “Ya Allah, jadikanlah al-Quran sebagai musim semi di hatiku”, dijadikan musim semi baginya karena hati manusia itu merasa senang dengan kedatangan musim semi dan menaruh minat kepadanya … (Lisan al-‘Arab)

 

Bandung, 3 April 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—