Apakah Kita Orang-Orang Yang Ikhlas?

بسم الله الرحمن الرحيم

 هل نحن مخلصون ؟

 Syaikh Abu Malik Abdul Hamid bin Khaliwiy al-Juhaniy*

diterjemahkan dari situs: http://abumalik.net/play.php?catsmktba=1584

 

 قال الله تعالى وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqon: 23)

لأنه لم يكن خالصاً لوجه الله تعالى, وهكذا كل عمل يعمله الإنسان , لا يبتغي به وجه الله تعالى

Hal itu dikarenakan (perbuatan-perbuatan tersebut) tidak murni dilakukan semata karena Allah Ta’ala. Dan memang begitulah jadinya setiap amal perbuatan manusia yang tak ditujukan untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala (ikhlas).

فما الفائدة إذن من التّعب والنّصب والمعاناة في مزاولة الأعمال , إذا كان مصيرها أن تكون هباءً منثورا ً؟

Maka apa gunanya semua kelelahan, keletihan, dan kepayahan selama mengerjakan amal-amal tersebut jika pada akhirnya semua itu hanya menjadi debu yang beterbangan?

فيا أيها العامل : الإخلاص ! الإخلاص ! . 

Oleh karena itu, wahai sekalian pelaku amal (kerjakan amal dengan), “Ikhlas! Ikhlas!”

هذا, ومن علامة المُخْلص :

Berikut ini sebagian dari tanda-tanda orang yg ikhlas:

أنه يحرص على صحة العمل وسلامته من كل ما يبطله أو يُنقص ثوابه , فيتقرب إلى الله تعالى بعمل صالح موافق للسنة.

Bahwasanya (orang yg ikhlas itu) sangat menginginkan amal yang baik dan keselamatan amal itu dari segala sesuatu yang bisa membatalkannya atau mengurangi pahalanya, dan senantiasa dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan amal shalih yang sesuai dengan Sunnah.

ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه ينظر إلى نفسه دائماً بعين الازدراء والتقصير, فلا يُعجب بنفسه ولا يُغتر بعمله , وهو يعمل ويخشى أن الله تعالى لا يتقبل منه .

Dia terus-menerus berintrospeksi, memandang hina diri sendiri dan menganggap diri penuh kekurangan, tidak merasa takjub (bangga) pada diri sendiri dan tidak pula tertipu (merasa aman) dengan amal yang dilakukannya. Dia beramal disertai perasaan takut kalau-kalau Allah Ta’ala tidak menerima amalnya.

ومن علامة المخلص :

 Tanda-tanda lainnya adalah:

 أنه لا يزهو بعمله على غيره , ولا يمُنُّ به على ربه , { بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }

Dia tak membanggakan amalnya (sombong) kepada orang lain dan tidak pula menganggap bahwa dirinya telah memberi karunia (bermurah hati menolong agama) Rabb-nya dengan amalnya itu. (Allah berfirman), “Sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 17)

 ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:
 

أنه لا يحب أن يظهر عمله أمام الناس , بل إخفاءُ العمل وكتمُه أحبُ إليه من إظهاره ونشره .

Dia tak suka amalnya diketahui manusia, bahkan sebaliknya dia lebih senang menutupi dan menyembunyikan amalnya daripada menampakkan dan menyiar-nyiarkannya kepada manusia.

كان عمرو بن قيس – أحد عُبَّاد السلف – إذا بكى , حوَّل وجهه إلى الحائط , ويقول لأصحابه : إن هذا زكام (الحلية 5/103

‘Amr bin Qais -salah seorang di antara para ‘abid salaf- akan memalingkan wajahnya ke arah dinding jika dia menangis, -dan setelah itu- dia mengatakan kepada para sahabatnya, “Ini pilek.” (al-Hilyah: 5/103)

ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه زاهد في الثناء والمدح , لا يحبه ولا يرغب فيه ولا يحرص عليه , فالزهد ليس في متاع الدنيا فقط , بل الزهد الأشد هو الزهد في مدح الناس وإطرائهم . وكم من زاهدٍ في الدنيا , راغبٍ في ثناء الناس ومدحهم . ولا يعلم ما في القلوب إلا علاَّم الغيوب .

Dia itu zahid (orang yang zuhud) dalam hal pujian dan sanjungan manusia. Dia tak menyukai pujian, tak menginginkan sanjungan, dan tak bergairah untuk mendapatkannya. Zuhud bukanlah menghindari dunia semata, bahkan jauh lebih besar daripada itu, zuhud terhadap sanjungan manusia dan puja-puji mereka. Berapa banyak orang zuhud terhadap dunia namun termasuk pencinta pujian dan sanjungan manusia. Tak ada yang mengetahui isi hati kecuali Yang Maha Mengetahui yang gaib.

ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه لا يحب أن يشتهر, ولا يسعى للشهرة , بل يفر منها دائماً , لعلمه أنها ربما أفسدت عليه الإخلاص , فكم من عامل مخلص أفسدته الشهرة , فأصبح يلتمس رضا الناس بسخط الله .

Dia tak suka menjadi terkenal dan tidak pula berupaya untuk mencapai kemasyhuran. Bahkan dia senantiasa menghindari kemasyhuran karena tahu bahwa hal itu sangat mungkin merusak keikhlasan. Berapa banyak orang yang ikhlas menjadi rusak oleh kemasyhuran, lalu jadilah dia mencari-cari kerelaan manusia dalam kemurkaan Allah.

قال أيوب السختياني : والله ما صدق عبد إلا سَرَّهُ أن لا يُشعر بمكانه (الحلية 3/6

Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Demi Allah, tidaklah seorang hamba dianggap tulus (kepada Allah) kecuali jika dia merasa senang tak diketahui.” (al-Hilyah: 3/6)

 ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه يحب الإصلاح وانتشار الخير وإقبال الخلق على طاعة الله تعالى , سواء أكان ذلك على يده أم على يد غيره , لأنه يسعى إلى مرضاة الله , وليس إلى تمجيد نفسه وطلب المنزلة لها بين الخلق .

Dia senang melakukan perbaikan, senang menyebarkan kebaikan, dan mengarahkan manusia menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sama saja baginya –yakni dia tetap senang- apakah kebaikan itu dicapai melalui tangannya atau melalui tangan orang lain. Hal itu dikarenakan dia hanya mencari keridhaan Allah dan bukan bermaksud untuk membesarkan dirinya di mata manusia atau pun mencari-cari kedudukan di antara manusia.

 قال الإمام الشافعي رحمه الله : وددتُ أن كل علم أعلمه , يعلمه الناس , أؤجر عليه , ولا يحمدوني (الحلية 9/119

Imam asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata, “Aku sangat ingin jika semua pengetahuan yang kuketahui dipelajari oleh manusia. Aku diberi ganjaran karenanya dan manusia tak memujiku.” (al-Hilyah: 9/119)

ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه لا ينتقص جهود الآخرين العاملين في حقل الدعوة والإصلاح ؛ ليظهر جهده وفضله عليهم , فلو كان صادقاً مخلصاً لبارك تلك الجهود , وأثنى على أهلها , وفرح بها , ولكن أبى المرائي أن يزكي غير عمله .

Dia tak mencela jerih payah orang-orang lain di lapangan dakwah dan perbaikan hanya karena ingin upaya dan keutamaan dirinya terlihat menonjol di mata mereka. Kalau memang dia jujur dan tulus, niscaya dia mendoakan keberkahan bagi upaya-upaya dakwah dan perbaikan (yang dilakukan orang lain) itu, juga memuji si pelaku dakwah dan perbaikan sekaligus turut berbahagia karenanya. Akan tetapi, orang yang berbuat riya memang selalu menolak untuk menganggap baik peran orang lain (hanya dia saja yang ingin dianggap berperan).

قال ابن الجوزي : ليعلم المرائي أن الذي يقصده يفوته , وهو التفات القلوب إليه . فإنه متى لم يخلص حُرم محبة القلوب , ولم يلتفت إليه أحد , والمخلص محبوب . فلو علم المرائي أن قلوب الذين يرائيهم بيد من يعصيه , لما فعل . ا.هـ (صيد الخاطر ص387

Ibnu al-Jauzi berkata, “Selayaknya orang yang riya mengetahui bahwa apa yang dia tuju tidaklah akan tercapai, (dan yang ditujunya) itu berupa menolehnya hati manusia kepadanya (perhatian manusia). Sesungguhnya kapan pun dia beramal tanpa ketulusan, maka kecintaan hati manusia pun akan terhalang darinya, takkan ada seorang pun yang menaruh perhatian kepadanya. Sebaliknya, orang yang ikhlas akan dicintai. Kalau saja orang yang riya itu mengetahui bahwa hati orang-orang yang dia inginkan untuk memandang kepadanya itu berada di tangan (Allah) yang dia maksiati (dengan perbuatan riya), niscaya dia tak akan melakukan perbuatan riya tersebut.” (Shaid al-Khathir: 387)

ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه لا يضيق ذرعاً بالنقد , بل ينظر فيه , فإن كان نقداً صحيحاً أعلن عن تراجعه وشكر الناقد , وإن كان نقدا ًغير صحيح – وكان الناقد ناصحاً – بين وجهة نظره وأبان عن أدلته ودافع عن حجته بالأسلوب المؤدب الذي يستفيد منه ناقده وقارئه , وإن كان الناقد مغرضاً متعنتاً أعرض عنه ولم يشتغل به , أخذاً بالأدب القرآني : { وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Dia tak menjadi lemah karena kritik yang diarahkan kepadanya, bahkan dia akan menelaahnya sehingga apabila kritik itu benar, dia pun secara terang-terangan akan rujuk dan berterima kasih kepada si pengkritik. Sebaliknya, apabila kritik itu tidak benar –dan pengkritik itu pemberi nasihat, maka dia akan menjelaskan penelaahannya, menerangkan dalil-dalilnya, dan mempertahankan hujjahnya dengan cara yang baik sehingga dapat memberi faidah kepada si pengkritik. Lain lagi urusannya kalau si pengkritik itu memang keras kepala dan terus berputar-putar (mencari-cari pembenaran), selayaknya dia berpaling darinya tanpa menyibukkan diri menghadapinya demi mengikuti petunjuk Qur’ani, “Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf: 199)

 ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه لا يستعجل في الظهور قبل اشتداد العود , ولا يشتغل بعلم وغيره أولى منه , لينال به رتبة عند أهل الدنيا , كما تراه – مع الأسف – عند بعض الشباب , يطبعون الرسائل ويكثرون من تخريج الحديث , وأحدهم لو سئل عن مسألة في الطهارة لما عرف الجواب ! وآخرون أكثروا من التجريح للأشخاص وتجاسروا على ذلك لصرف الأنظار إليهم أنهم من أهل النقد ومن أهل الجرح والتعديل , وبعضهم لا يحسن تلاوة القرآن ! فوآسفاه على من كانت هذه حاله !

Dia tak tergesa-gesa muncul (untuk menyampaikan) sebelum benar-benar siap (dengan hujjah). Dia juga tidak menyibukkan diri dengan ilmu tertentu ketika ada ilmu lain yang sebenarnya lebih utama baginya untuk dipelajari hanya karena ingin mencapai suatu kedudukan (diakui sebagai orang pandai) oleh ahli dunia, sebagaimana kau lihat saat ini –dengan menyesal saya katakan- sebagian pemuda gemar sekali menulis risalah-risalah dan kebanyakan tentang takhrij hadits (padahal) ketika ditanya tentang masalah thaharah, mereka tak bisa menjawabnya. Sebagian pemuda lainnya sibuk melakukan tajrih (celaan) terhadap person-person tertentu. Mereka berbuat lancang seperti itu untuk mengarahkan pandangan manusia kepada diri mereka (sehingga diakui) sebagai Ahli Naqd atau sebagai Ahli Jarh wa Ta’dil, padahal kenyataannya sebagian dari mereka itu belum baik dalam bertilawah al-Quran. Betapa menyedihkan keadaan orang yang seperti itu.

ومن علامة المخلص :

Tanda-tanda lainnya adalah:

أنه لا ينقطع عن العمل بذم بعض الناس له , وعدم رضاهم عنه ؛ لأنه لا يعمل لهم , بل يعمل لله تعالى , فهو مستمر في عمله في طاعة الله ومرضاته ولو سخط عليه من سخط , ولا يتأثر – كذلك – بقلة المستفيدين منه أو كثرتهم ؛ لأنه يسعى إلى مرضاة الله , ويدعو إلى الله وليس إلى نفسه .

Dia tak menghentikan amalnya hanya karena celaan manusia kepadanya, tidak juga (menghentikan amalnya) hanya karena manusia tak rela kepadanya. Hal itu dikarenakan dia bukan beramal karena manusia melainkan karena Allah Ta’ala. Dia terus-menerus beramal sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya meskipun mendapatkan kemurkaan orang yang murka. Dia tidak terpengaruh oleh jumlah orang yang mengambil manfaat darinya, apakah sedikit ataukah banyak, karena dia hanya berupaya untuk mendapatkan ridha Allah dengan menyeru manusia kepada Allah, bukan menyeru mereka kepada dirinya.

قال علي بن الفضيل بن عياض لأبيه : يا أبتِ , ما أحلى كلام أصحاب محمد ( صلى الله عليه وسلم ) فقال : يا بني , وتدري لِمَ حلا ؟ قال : لا . قال : لأنهم أرادوا الله به (الحلية 10/23

‘Ali, putra al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Wahai Ayah, betapa manis ucapan para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.” Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Anakku, tahukah kau mengapa ucapan mereka begitu manis?” ‘Ali menjawab, “Tidak.” Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata lagi, “Karena mereka hanya menginginkan Allah dengan ucapan mereka.” (al-Hilyah: 10/23)

——————————————————————–

*Syaikh Abu Malik Abdul Hamid bin Khaliwiy al-Juhaniy –hafizhahullah, Imam dan Khatib masjid ‘Umar bin al-Khaththab di Yanbu al-Bahr, pemimpin di Darul Hadits di Kota Yanbu al-Bahr, juga sebagai da’i di Kementrian Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Kerajaan Saudi Arabia.

 

Bandung, 13 Juli 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

79 comments on “Apakah Kita Orang-Orang Yang Ikhlas?

  1. nurfirman40 says:

    iya ya gak bisa putus harapan sama rahmat allah yg maha agung……….

  2. hwwibntato says:

    nurfirman40 said: iya ya gak bisa putus harapan sama rahmat allah yg maha agung……….

    iya, putus harapan itu sangat berbahaya … he he he …

  3. Abu Zuhriy says:

    Tentang “pilek” bukankah tidak pantas ‘berdusta’ hanya karena ‘takut riya’ ?

    • tipongtuktuk says:

      sepertinya itu bukan dimaksudkan berdusta, tapi -banyak terjadi- orang yang menangis itu mengeluarkan ingus saat dia menangis …
      beliau memalingkan wajahnya lagi kepada para penyimak dalam keadaan beringus -karena menangis- lalu beliau mengatakan bahwa itu pilek … wallahu a’lamu …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s