Jejak Nasihat …

Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah*

diterjemahkan dari situs: http://www.alawaysheh.com/play.php?catsmktba=205

عن حكيم بن حزام رضي الله عنه قال :

»سألتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعطاني، ثمّ سألته فأعطاني، ثمّ سألته فأعطاني، ثمّ قال : » يا حكيم ! إنّ هذا المال خضرةٌ حُلوة ، فمن أخذه بسخاوة نفسٍ بورك له فيه ، ومن أخذه بإشراف نفسٍ لم يبارك له فيه، كالذي يأكل ولا يشبع ، واليد العليا خيرٌ من اليد السفلى« قال حكيم : فقلت: يا رسول الله ، والذي بعثك بالحق لا أرزأ [أي: لا أنقص ماله بالطّلب منه] أحداً بعدك شيئاً حتى أفارق الدنيا . فكان أبو بكر رضي الله عنه يدعو حكيماً إلى العطاء فيأبى أن يقبله ، ثمّ إن عمر رضي الله عنه دعاه ليعطيه ، فأبى أن يقبل منه شيئاً ، فقال عمر : إنّي أُشهدكم يا معشر المسلمين على حكيم ،أنّي أعرض عليه حقّه من هذا الفيء ، فيأبى أن يأخذه ، فلم يرزأ حكيم أحداً من الناس بعد رسول الله  صلى الله عليه وسلم حتى توفّي « [أخرجه البخاري : 1472 ، ومسلم : 1035

Dari Hakim bin Hizam –radhiyallahu ‘anhu– dia berkata:

Aku meminta kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan beliau memberiku, lalu aku meminta lagi dan beliau memberiku, lalu meminta lagi dan beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Hakim! Sesungguhnya harta ini hijau dan manis, maka siapa yang mengambilnya dengan kedermawanan jiwa, niscaya dia diberkahi pada harta itu. Namun siapa yang mengambilnya dengan ketamakan jiwa, niscaya dia tak diberkahi pada harta itu, tiada beda seperti orang yang makan namun tak merasa kenyang. Dan tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.”

Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi (Allah) yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tak akan pernah lagi mengurangi sesuatu (dengan cara mengambil atau menerimanya)dari seseorang sesudahmu sampai aku berpisah dengan dunia.”

Dan Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– (saat menjabat sebagai khalifah) memanggil Hakim bin Hizam untuk memberinya (bagian harta), namun dia menolak untuk menerima. Kemudian ketika ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– (menjabat sebagai khalifah) memangilnya untuk memberinya (bagian harta), dia pun menolak untuk menerima, lalu ‘Umar berkata, “Sungguh aku bersaksi kepada kalian, wahai kaum muslimin, tentang Hakim bin Hizam. Sungguh aku telah menawarkan kepadanya bagian dari harta al-fai’  yang menjadi haknya, namun dia menolak untuk mengambilnya.”

Dan Hakim tidak pernah mengambil sesuatu dari manusia sesudah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sampai dirinya wafat.  (HR. al-Bukhari 1472; Muslim 1035)

لقد سأل حكيم رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعطاه ، وكان ذلك ثلاث مرات ، ثمّ وجّهه النّبي صلى الله عليه وسلم إلى عفّة النفس وعزّتها وعدم السؤال ، فماذا كان من أمر حكيم رضي الله عنه ؟ لقد أقسم بالله -تعالى- أنّه لن يعود لمثل هذا ، ولن ينقص من أحدٍ شيئاً ، حتى يفارق الدنيا .

Sungguh Hakim bin Hizam telah meminta kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan beliau pun memberinya. Hal itu terjadi sampai tiga kali. Selanjutnya Nabi  –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengarahkan Hakim bin Hizam untuk berbuat ‘iffah (menjaga kesucian jiwa) dan ‘izzah (menjaga kehormatan jiwa) serta tidak meminta (kepada manusia). Lalu apa yang terjadi dengan Hakim –radhiyallahu ‘anhu (setelah mendengar arahan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu)? Hakim bin Hizam bersumpah dengan nama Allah Ta’ala bahwa dirinya tidak akan berbuat hal seperti itu lagi dan tidak pula dia akan mengurangi (harta) manusia (dengan cara meminta, mengambil, atau menerimanya) sampai dirinya berpisah dengan dunia.

لم يسمع رضي الله عنه الموعظة ، ويهز رأسه متأثراً باكياً ، ثمّ يعود في اليوم التالي إلى ما كان عليه ، وكأنّ شيئاً لم يكن .     لقد بقي على العهد في حياة النّبي صلى الله عليه وسلم  وأبى بكر رضي الله عنه فقد كان يدعوه ليُعطيه العطاء فيأبى. وهكذا استمرّ حتى خلافة عمر رضي الله عنه ، وقد كان يعرض عليه حقّه الذي قسم الله تعالى من فوق سبع سماوات؛ من الفيء ، فيأبى ذلك تأثراً من موعظة رسول الله صلى الله عليه وسلم  ، وظلً على حاله هذه ، حتى توفيّ رضي الله عنه.

Tidaklah saat mendengar nasihat itu Hakim bin Hizam –radhiyallahu ‘anhu– bergoyang kepalanya karena menangis tersentuh lalu pada hari-hari selanjutnya dia kembali kepada keadaannya semula seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang terjadi. (Bukan begitu yang terjadi), tetapi sungguh (nasihat) itu tetap meresap pada jiwanya di sepanjang masa kehidupan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan ketika Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– (yang menjabat sebagai khalifah) memanggilnya untuk memberinya (suatu pemberian), Hakim bin Hizam tak mau menerimanya. Hal itu juga tetap bertahan pada masa Khalifah ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu, Hakim bin Hizam tak mau menerima haknya dari bagian harta al-fai’ yang telah Allah Ta’ala peruntukkan (bagi yang berhak) dari atas tujuh lapis langit. (Sikap Hakim bin Hizam) itu merupakan jejak pengaruh dari nasihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kepadanya yang terus-menerus membekas pada jiwanya hingga kematian menjemputnya –radhiyallahu ‘anhu.

 بَقِي مفعول النصيحة إلى آخر لحظة من حياته رضي الله عنه وحتى واراه الثّرى . هذا هو العمل وهكذا ينبغي أن نكون ، نسمع ما نسمع ، فنمضي ونُنفِّذ النصائح والمواعظ ، لتتغيّر أحوالنا ، وأحوال أمّتنا ، ولكن واحزناه لحالنا ، لقد أكثرنا من الكتب والمحاضرات والخطب والمواعظ، وكأنها للثقافة والمعرفة، لا للعمل والتنفيذ، فإلى الله تعالى المشتكى .

Pengaruh nasihat itu meresap abadi hingga ke penghujung saat dari kehidupan Hakim bin Hizam –radhiyallahu ‘anhu– bahkan sampai pun dirinya berkalangkan tanah. Inilah amal itu, dan demikianlah seharusnya yang terjadi pada diri kita, menyimak pengingat-penginat dan nasihat-nasihat seraya memberlangsungkan pengejawantahannya untuk mengubah ahwal diri kita dan umat. Akan tetapi betapa menyedihkannya ihwal kita saat ini, sungguh sebagian besar buku-buku, kuliah-kuliah, ceramah-ceramah, dan nasihat-nasihat, seakan-akan tak lebih dari sekadar kelengkapan budaya dan pengetahuan saja, (sama sekali) tak menjadi amal dan pelaksanaan. Maka hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu …

ما أجمل المال وما أحلاه ! لكنّ حبَّ الله -تعالى- ورسوله صلى الله عليه وسلم أجمل منه ، وأحلى وأغلى . كم كلّف حكيماً رضي الله عنه هذا الحب ؟ كلّفه الكثير الكثير . لقد سطّر لأمتنا دروساً في الصّبر ، ودوّن لنا كتباً في قوة الهمّة والعزم والعمل

Betapa indah dan betapa menawannya harta, namun mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya jauh lebih indah daripada itu, jauh lebih menawan dan jauh lebih mahal. Berapa banyak cinta ini membebani Hakim –radhiyallahu ‘anhu? Sangat banyak, sangat berlimpah. Dan sungguh dia telah menggariskan kepada umat ini suatu pelajaran tentang sabar, juga menuliskan kepada kita suatu catatan tentang keinginan hati yang kuat dan keteguhan amal  …

——————————————————————
*Syakh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah –hafizhahullah– tinggal di kota ‘Amman, Yordania. Beliau termasuk salah seorang murid Syaikh al-Albani –rahimahullah

 

 Bandung, 22 Juli 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

61 comments on “Jejak Nasihat …

  1. hwwibntato says:

    faeryfar said: Karena panjang dan hurufnya kecil2, kubaca awal tengah dan ujung aja ya Mas.Itupun udah sangat bermanfaat. Terimakasih 🙂

    *tersenyum … iya, terima kasih kembali, Ery … he he he …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s