Nun Yahudiyah Lam Jahmiyah …

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ibrahim al-Jibrin

diterjemahkan dari situs: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=1&book=98&page=5977

وجد في الأمة من تشبه باليهود في التعطيل، ومن تشبه بالنصارى في التمثيل، وهما طرفا نقيض؛ المشبهة والمعطلة في طرفي نقيض. المعطلة أكثر وأشهر؛ فلذلك حمل عليهم أهل السنة وأكثروا من التحذير منهم، وكذلك حملوا أيضا على المشبهة،

Didapati di (tubuh sebagian kaum muslimin) sikap tasyabbuh kepada Yahudi dalam masalah ta’thil (meniadakan/menolak sifat-sifat Allah) dan sikap tasyabbuh kepada Nasrani dalam masalah tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan makhluk). Kedua jenis tasyabbuh tersebut saling berlawanan, kaum Mu’aththilah (pelaku ta’thil) di satu sisi dan kaum Musyabbihah (pelaku tasybih/tamtsil) di sisi yang lain, hanyasanya kaum Mu’aththilah jauh lebih banyak dan jauh lebih terkenal. Maka telah menjadi kewajiban Ahlus Sunnah untuk melawan mereka dan mengingatkan umat dari bahaya (pemikiran) mereka …

وفي ذلك يقول ابن القيم:

Mengenai kedua bahaya ini, Ibnul Qayyim berkata (dalam syair Nuniyyah-nya):

لسنا نشبه ربنا بصفاتنا *** إن المشبه عابد الأوثان

كلا ولا نخْليه من أوصافه *** إن المعطل عابد البهتان

 Tidaklah kami menyerupakan rabb kami dengan sifat-sifat kami,
sungguh musyabbih itu hamba berhala …
Tidak! kami sama sekali tak meniadakan sifat-sifat-Nya,
sungguh Mu’aththil itu hamba kebohongan (hal yang tak nyata) …

وذكروا عن بعض السلف أنه قال: المشبه يعبد صنما، والمعطل يعبد عدما، والموحد يعبد إلها واحدا فردا صمدا. ويقول آخر: من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر، وليس فيما وصف الله به نفسه من الصفات تشبيه؛

Disebutkan bahwa sebagian Salaf berkata, “Musyabbih itu menyembah arca, Mu’aththil menyembah ketiadaan, sedangkan Muwahhid menyembah Allah, ilah yang Esa yang menjadi tujuan.”
Yang lainnya berkata, “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sungguh dia kafir. Siapa yang mengingkari sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri, sungguh dia kafir. Dan di dalam sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya itu tidaklah terdapat keserupaan dengan makhluk.”

فهذا هو القول الوسط، وهو أن نثبت الصفات، ولا نصل في الإثبات إلى التشبيه، ولا نعطل فنجحد صفات الله تعالى فنكون بذلك معطلين؛ بل إثبات بلا تمثيل، وتنزيه بلا تعطيل. هكذا يقول أهل السنة.

Maka inilah ucapan yang pertengahan (adil), yaitu kami menetapkan sifat-sifat Allah (sebagaimana yang Allah sifatkan bagi diri-Nya sendiri) tanpa menyerupakan sifat-sifat itu (dengan makhluk). Kami juga tidak meniadakan dan mengingkari sifat-fifat Allah ta’ala karena jika (kami berbuat begitu) berarti kami termasuk orang-orang yang mengingkari sifat-sifat Allah. Bahkan (secara tegas) kami menetapkan sifat Allah tanpa tamtsil, dan kami juga menyucikan sifat Allah tanpa ta’thil. Demikianlah ucapan Ahlu Sunnah …

المعطلة لما جاءتهم هذه النصوص ماذا فعلوا؟ سلطوا عليها التأويلات فلما سلطوا عليها التأويلات أصبحوا من الذين يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وفي آية أخرى: مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ

Apa yang dilakukan oleh orang-orang Mu’aththilah ketika mendapati nushus (dalil-dalil) tentang sifat? Mereka memaksakan penakwilan terhadap dalil-dalil itu, sehingga jadilah mereka termasuk orang-orang yang (disebutkan dalam ayat), “Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. al-Baqarah: 46), dan dalam ayat lain, “Dari tempat-tempatnya yang telah ada.”

والتحريف ذكروا أنه نوعان: أن التحريف نوعان: تحريف لفظ، وتحريف معنى. تحريف اللفظ تغيير الكلمة بزيادة أو بنقص، ومن ذلك قولهم: إن استوى بمعنى استولى زيادة لام؛ هذا تحريف لفظ، وهذه اللام ما وجدت في القرآن فهي زائدة شبيهة بالنون التي زادها اليهود لما قال الله: وَقُولُوا حِطَّةٌ فقالوا: حنطة. فهي زائدة.

Dan tahrif (mengubah perkataan) itu ada dua macam, yaitu tahrif lafzhi (mengubah lafal) dan tahrif ma’na (mengubah makna).

Tahrif lafzhi yaitu mengubah kata dengan cara menambah atau mengurangi huruf. Di antara contoh tahrif lafzhi adalah ucapan mereka (kaum Mu’aththilah/Jahmiyah), “Sesungguhnya Istawa itu bermakna Istaula.” Ada tambahan huruf ‘lam’. Inilah tahrif lafzhi, dan huruf ‘lam’ yang tak terdapat dalam al-Quran ini merupakan tambahan yang serupa dengan huruf ‘nun’ yang ditambahkan oleh orang-orang Yahudi terhadap firman Allah, “Katakanlah oleh kalian hiththah (ampuni dosa kami).” Lalu orang-orang Yahudi itu malah mengatakan, Hinthah (biji-biji gandum).” Maka huruf ‘nun’ itu merupakan tambahan.

يقول ابن القيم في النونية:

Ibnul Qayyim berkata dalam an-Nuniyyah:

 نـون اليهـود ولام جهمي هما *** في وحي رب العرش زائدتان

 Nun Yahudiah dan Lam Jahmiyah, keduanya
merupakan tambahan terhadap wahyu Rabb al-‘Arsy

 نون اليهود في: حنطة، ولام الجهمي في: استولى؛ كلاهما زائدة في وحي الله تعالى، فالذين قالوا: استوى بمعنى استولى حرفوا تحريفا لفظيا.

Nun Yahudiah (yang disisipkan) dalam ucapan, Hinthah,” dan Lam Jahmiyah dalam kata, Istaula,” keduanya merupakan tambahan terhadap wahyu Allah ta’ala. Oleh karena itu, orang-orang yang mengatakan bahwa, “Makna istawa adalah istaula,” berarti telah melakukan tahrif lafzhi (pengubahan lafal).

ومن التحريف اللفظي أيضا ما ذكروا أن بعض المحرفين وبعض النفاة قرءوا قول الله تعالى في سورة النساء: (وكلم اللَّهَ موسى تكليما) (وكلم اللهَ)، وأرادوا أن موسى هو الذي كلم الله

Di antara contoh tahrif lafzhi lainnya adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang yang mengubah lafal dan orang-orang yang menafikan sifat Allah dalam membaca surah an-Nisa’ berikut:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Wa kallamallaahu muusaa takliimaa
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa: 164)

Mereka membacanya, “Wa kallamallaaha,” yaitu (mengubah harakat dhammah ‘Hu’ pada lafal ‘Allah’ menjadi harakat fat-hah ‘Ha’ untuk mengubah posisi ‘Musa’ dari maf’ul (objek) menjadi fa’il  (subjek) –pent), hal itu mereka lakukan karena mereka menginginkan pemaknaan bahwa nabi Musa-lah yang berbicara kepada Allah (bukan Allah yang berbicara kepada Musa karena menurut mereka Allah tak berkata-kata).

وكذلك في سورة البقرة: (منهم من كلم اللَّهَ) غيروا وبدلوا؛ لأن القرآن جاء بقوله: وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا وأوضح ذلك في قوله تعالى: وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ هذه الآية لا يقدرون على تغييرها وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

Dan seperti itu pulalah terhadap ayat dalam surah al-Baqarah ayat 253, “Minhum man kallamallaahu,” mereka mengubah dan menggantinya. Padahal (ayat al-Quran surah an-Nisa’ ayat 164 itu) turun dengan ucapan:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

 Wa kallamallaahu muusaa takliimaa
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa: 164)

dan (bahwa Allah berbicara kepada Musa) itu dijelaskan pula dalam firman Allah ta’ala yang mereka tak kuasa mengubahnya:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya).” (QS. al-A’raf: 143)

فهذا من التحريف اللفظي.

Inilah sebagian daripada (contoh) tahrif terhadap lafal (al-Quran) …

أما التحريف المعنوي فهو صرف اللفظ عن ظاهره، أو عن ما يدل عليه؛ كثير منهم أولوا قوله تعالى:

Adapun tahrif ma’na, yaitu memalingkan lafal dari zhahirnya atau dari arti yang ditunjukkannya. Kebanyakan dari mereka menakwilkan firman Allah ta’ala:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Tabaarakal ladzii bi yadihil mulku.” (QS. al-A’raf: 143)

قالوا: بيده أي تحت تصرفه وتقديره بِيَدِكَ الْخَيْرُ أي: بقدرتك. معلوم أن القدرة عامة. الله تعالى ذكر أن بيده الملك، والنبي عليه الصلاة والسلام ذكر ذلك أيضا في أحاديث كثيرة؛ في حديث الذكر: بيده الخير وهو على كل شيء قدير وفي التلبية: لبيك وسعديك والخير بيديك وفي حديث سعة النفقة يقول: يمين الله ملأى لا تغيضها نفقة، سحاء الليل والنهار. أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض؟ فإنه لم يغض ما في يمينه، وبيده الأخرى القسط يخفض ويرفع فأثبت لله تعالى اليدين.

Para pen-tahrif itu mengatakan, “Makna biyadihi (di tangan-Nya) adalah di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya.” Biyadikal khair (kebaikan ada di tangan-Nya) mereka artikan “kebaikan ada dalam kekuasaan-Mu.” Padahal sudah jelas bahwa kekuasaan itu sangatlah umum, (sementara) Allah ta’ala telah menyebutkan bahwa di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Nabi –‘alaihish shalatu wassalam– telah menyebutkan demikian pula di banyak hadits. Misalnya dalam hadits dzikir, “Di tangan-Nya kebaikan dan Dia menguasai segala sesuatu,” juga dalam hadits talbiyah, “Aku penuhi panggilan-Mu dan seluruh kebaikan ada di tangan-Mu,” juga dalam hadits tentang nafkah, “Tangan kanan Allah selalu penuh dan sama sekali tidak pernah kurang karena bederma, padahal Dia selalu memberi baik siang maupun malam. Tidakkah kalian tahu apa yang telah diinfaqkan-Nya semenjak Dia menciptakan langit dan bumi, dan itu semua tidak mengurangi apa yang berada di  tangan kanan-Nya? Dan arsy-Nya berada di atas air, dan di tangan-Nya yang lain urusan memberi atau menahan, karenanya Dia meninggikan atau merendahkan.” Maka (jelaslah bahwa) Allah ta’ala menetapkan sifat dua tangan (bagi diri-Nya).

النفاة والمعطلة قالوا في قوله تعالى: بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ قالوا: المراد بقدرته، قالوا في قوله: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ قالوا: أي بقدرتي أو بنعمتي، وهذا من التحريف؛ تحريف معنوي.

Orang-orang yang menafikan dan meniadakan sifat Allah itu berkata tentang firman Allah, “Bahkan kedua tangan Allah itu terbuka.” (QS. al-Maidah: 64), kata mereka, “Maknanya adalah kekuasaan-Nya.” Mereka juga berkata tentang firman Allah, “Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang telah kuciptakan dengan kedua tangan-Ku?” (QS. Shad: 75), kata mereka, “Yaitu dengan kekuasaan-Ku dan dengan nikmat-Ku.” Inilah bentuk tahrif, yakni tahrif ma’na.

فعرف بذلك أن هناك من أثبت لله تعالى صفة اليد، وجعلها كيد المخلوق، وهناك من نفاها ونفى أن يكون لله تعالى يد حقيقية، وأنها صفة من صفاته، وكلا القولين باطل؛

Maka jelaslah bahwa di sana terdapat kelompok Musyabbihah yang menetapkan sifat tangan bagi Allah namun menganggap bahwa tangan Allah itu sama dengan tangan makhluk. Di sisi lain, ada juga kelompok Mu’aththilah yang menafikan dan mengingkari bahwa Allah memiliki tangan secara hakiki. Kedua kelompok tersebut sama-sama bathil.

إذا أثبتنا أن لله تعالى صفة اليد واليدين كما أثبت، وقلنا: إنها لا تشبه صفات المخلوقين فليس علينا اعتراض. هذا دليل على أن التوسط بين اليهود والنصارى هو أيضا توسط بين المعطلة والمشبهة.

Apabila (kami katakan) bahwa kami menetapkan sifat tangan bagi Allah ta’ala dan menetapkan dua tangan bagi-Nya sebagaimana yang telah ditetapkan-Nya, maka kami katakan pula, “Sesungguhnya (kami menetapkan sifat tangan bagi Allah itu) tanpa tasybih (menyerupakannya) dengan makhluk, sehingga tidak ada pertentangan dalam ucapan kami.” Inilah petunjuk yang adil (pertengahan) di antara (dua kesesatan) Yahudi dan Nasrani. Inilah pula petunjuk yang adil (pertengahan) di antara (dua kesesatan) Mu’aththilah dan Musyabbihah …

————————————————————————
catatan: Ada pembahasan senada dari Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr tentang masalah ini di sini (http://www.al-sunna.net/articles/file.php?id=290). Di antaranya beliau berkata, “Dan umat Islam apabila mengikuti jalan Yahudi dalam tahrif dan tabdil, niscaya akan menimpa kaum muslimin apa yang menimpa Yahudi. Dulu Yahudi mengubah “hiththah” menjadi “Hinthah” dengan menambahkan huruf ‘nun’, lalu sebagian kaum muslimin –yang mengikuti langkah setan- juga mengganti “Istawa” menjadi “Istaula”. Maka apa bedanya antara Nun Yahudiyah dengan Lam Jahmiyah?”

Bandung, 30 Juli 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

54 comments on “Nun Yahudiyah Lam Jahmiyah …

  1. hwwibntato says:

    nurfirman40 said: Apa rasanya mas…manis…..wah wah kalau manis saya suka donggggggggggg….deh deh batal gak ya? hee hee heee

    iya, rasanya manis … he he he …coba semut cari kolak itu, terus nanti makan setelah magrib … he he he …

  2. nurfirman40 says:

    hwwibntato said: iya, rasanya manis … he he he …coba semut cari kolak itu, terus nanti makan setelah magrib … he he he …

    wah wah nanti bila cuti saya akan cari di bazar romadhan untuk mencarinya …..terimakasih ya mas uda tunjuki saya kolak ubi itu……nampaknya seperti enak deh…manis lagi……..

  3. hwwibntato says:

    nurfirman40 said: wah wah nanti bila cuti saya akan cari di bazar romadhan untuk mencarinya …..terimakasih ya mas uda tunjuki saya kolak ubi itu……nampaknya seperti enak deh…manis lagi……..

    iya, kolak ubi itu enak sekali …saya kasih bintang lima untuk kolak ubi itu … he he he …

  4. nurfirman40 says:

    weiiiiiiiiiiiiii…sekarang malah saya yakin pasti enak……..mau cari mau cari ….ha ha ha

  5. hwwibntato says:

    nurfirman40 said: weiiiiiiiiiiiiii…sekarang malah saya yakin pasti enak……..mau cari mau cari ….ha ha ha

    ha ha ha …ayo, semangat … he he he …

  6. umarfaisol says:

    salut buat mas Hendra, semangat untuk tholabul ‘ilmi dan berbagi luar biasa!

  7. hwwibntato says:

    umarfaisol said: salut buat mas Hendra, semangat untuk tholabul ‘ilmi dan berbagi luar biasa!

    ayo kita bersemangat, Mas Umar …sampai terdengar suara adzan magrib yang merdu … he he he …

  8. umarfaisol says:

    hwwibntato said: ayo kita bersemangat, Mas Umar …sampai terdengar suara adzan magrib yang merdu … he he he …

    hayo,, kalau saya nunggu calon mahasiswa yang registrasi. tapi tak ada snacknya ^_^

  9. hwwibntato says:

    umarfaisol said: hayo,, kalau saya nunggu calon mahasiswa yang registrasi. tapi tak ada snacknya ^_^

    tenang, nanti juga ada panitia yang bawa snack … he he he …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s