Perangai-Perangai di Belantara Ilmu …

ذكر الشيخ الحويني أنه كلما قابل الشيخ الألباني ، قبل يده ، فكان الشيخ ينتزعها بشدة ويأبى ، فذكرالحويني أنه قرأ في بعض أبحاث الشيخ في (السلسلة الصحيحة) أن تقبيل يد العالم جائز  

Kata Syaikh al-Huwaini, dirinya pernah berbicara di depan Syaikh al-Albani lalu mengambil dan mencium tangan Syaikh al-Albani. Akan tetapi Syaikh al-Albani menarik tangannya dengan keras dan menolak hal itu. Syaikh al-Huwaini pun menyebutkan kepada Syaikh al-Albani bahwa dirinya telah membaca pembahasan Syaikh al-Albani di kitab Silsilah ash-Shahihah tentang kebolehan mencium tangan orang yang ‘alim (ulama).

فقال له الشيخ : وهل رأيت بعينيك عالماً قط؟

(Mendengar itu), Syaikh al-Albani berkata, “Memangnya kau melihat dengan kedua matamu seorang yang ‘alim?”

فقال الحويني : نعم أرى الآن .

Syaikh al-Huwaini menjawab, “Ya, aku melihatnya saat ini.”

 
فقال الشيخ : إنما أنا طويلب علم ، إنما مثلي ومثلكم كقول القائل: إن البغاث بأرضنا يستنسر.

Syaikh al-Albani berkata, “Aku hanyalah seorang thuwailib al-‘ilmi (pelajar kecil penuntut ilmu). Perumpamaanku dengan kalian adalah sebagaimana ucapan pepatah:  Sesungguhnya pipit di negeri kami telah menjadi nasar.”

Sumber dari sini: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5101

 ————————————————

Catatan dari saya:

 – Saya menangkap sikap tawadhu’ (rendah hati) dari ucapan Syaikh al-Albani ini, “Aku hanyalah seorang thuwailib al-‘ilmi.”

Thuwailib (pelajar kecil/penuntut kecil) adalah bentuk tashghir (pengecilan) dari kata thalib (pelajar/penuntut), dan ini semakin menunjukkan sikap tawadhu’ beliau di tengah belantara ilmu … padahal –pada kenyataannya- beliau adalah seorang yang benar-benar ‘alim, seorang ulama ahlus sunnah yang berjalan di atas manhaj para pendahulu yang shalih, dan itu bisa dibuktikan dengan menelaah kitab-kitab yang beliau tulis …

– Semangat Syaikh al-Huwaini dalam menelaah kitab Syaikh al-Albani, bukan hanya dalam masalah takhrij hadits tetapi juga dalam masalah fiqih dan fawaid hadits sebagaimana yang dibahas dan dikemukakan oleh Syaikh al-Albani di kitabnya –namun hal itu tak membuat Syaikh al-Huwaini menjadi seorang muqallid (orang taklid). Syaikh al-Huwaini menelaahnya lalu menerapkannya. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa Syaikh al-Albani juga sangat ‘alim dalam masalah fiqih dan fawaid hadits. Hal ini tidak seperti anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa Syaikh al-Albani hanyalah peneliti hadits dan bukan orang yang mengerti fiqih. Jauh, sungguh jauh hal itu dari kenyataan yang sebenarnya. Jauh, sungguh jauh dari bukti yang tertulis di kitab-kitab beliau … -semoga Allah merahmati beliau …

– Adapun tentang mencium tangan ulama, Syaikh al-Albani mengatakan dalam Silsilah ash-Shahihah (170) sebagai berikut:

أمّا ( تقبيل اليد ) ففي الباب أحاديث وأثار كثيرة يدلُّ مجموعها على ثبوت ذلك عن رسول الله صلي الله عليه وسلم والسلف ، فنرى جواز (تقبيل يد العالم ) إذا توفّرت الشروط الآتية :

Adapun tentang (mencium tangan), maka dalam masalah ini terdapat hadits-hadits dan atsar-atsar yang banyak, yang menunjukkan bahwa semua itu tsabit dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan dari para salaf. Oleh karena itu, kami memandang boleh mencium tangan ulama apabila memenuhi beberapa syarat berikut:

1 _ أنْ لا يتخذ عادةً بحيث يتطبع العالم على مدّ يده إلى تلامذته ، ويتطبّع هؤلاء على التبرك بذلك ، فإنّ النبي صلي الله عليه وسلم وإنْ قُبلت يده ؛ فإنما كان ذلك على الندرة ، وما كان كذلك ؛ فلا يجوز أن يُجعل سنة مستمرة ؛ كما هو معلوم من القواعد الفقهية .

Pertama: hendaknya hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan yang karenanya orang ‘alim itu menjadi biasa untuk menjulurkan tangannya kepada para murid dan sebaliknya para murid pun menjadi biasa mencium tangan guru (dengan anggapan) tabarruk. Sesungguhnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun sangat jarang dicium tangannya (oleh para shahabat). Oleh karena itu, tidak boleh menjadikan hal itu sebagai kebiasaan yang terus menerus sebagaimana telah maklum menurut qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fikih) …

2 _ أنْ لا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره ورؤيته لنفسه ؛ كما هو الواقع مع بعض المشايخ اليوم .

Kedua: hendaknya hal itu tidak menimbulkan perasaan sombong dari ulama tersebut terhadap orang lain dan dia merasa bangga terhadap dirinya sendiri sebagaimana hal itu menimpa sebagian kiyai pada saat ini …

3 _ أنْ لايؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة ؛ كسنة المصافحة ؛ فإنها مشروعة بفعله صلي الله عليه وسلم وقوله ، وهي سببٌ شرعيّ لتساقط ذنوب المتصافحين ؛ كما روي في غير ما حديث واحد ؛ فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر أحسن أحواله أنه جائز . ) ا.هـ

Ketiga: hendaknya hal itu tidak menyebabkan hilangnya sunnah yang sudah dimaklumi semisal sunnah jabat tangan. Sesungguhnya jabat tangan itu disyariatkan berdasarkan perbuatan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan merupakan penyebab syar’iyah bagi terhapusnya dosa orang yang berjabat tangan sebagaimana hal itu (dijelaskan) bukan hanya dalam satu buah hadits saja. Maka tidak boleh mengabaikan (suatu sunnah) hanya karena suatu amal yang perkaranya tidak lebih dari sekadar boleh saja …

– Saya tak tahu pasti makna pepatah Arab yang disebutkan oleh Syaikh al-Albani:

 إن البغاث بأرضنا يستنسر

“Sesungguhnya pipit di negeri kita telah menjadi nasar.”

Akan tetapi di antara pengertian yang saya temukan adalah:

 أي إن الضعيف يزعم أنه صار قويا

“Orang lemah menyangka bahwa dirinya menjadi kuat.”

Atau mungkin bisa saja maknanya, “Karena kelemahan negeri kita dan ketiadaan kekuatan, maka sesuatu yang lemah pun kita anggap begitu kuat.” Wallahu a’lamu …

Bandung, 31 Agustus 2012-08-31

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

30 comments on “Perangai-Perangai di Belantara Ilmu …

  1. matahari_terbit says:

    pertamaax

  2. matahari_terbit says:

    aih.. jadi inget tentang ihtirom.. *jleeb,,

    btw nasar itu apa bang?

  3. matahari_terbit says:

    iya kalo di jawa seriiing cium tangann.. =D

  4. indahlirik says:

    DiSumatera juga, kebiasaan mencium tangan pak Ustadz .
    Tapi ada juga sebagian yang menarik tangannya sebelum keburu nempel ciumnya 🙂

  5. yaaaaahh..dah keduluan fajar yg nanya 😀

  6. eehh?? kok komenku ga ada gambarnya??? 😦 ijo2 doang 😦

  7. Miss U says:

    di Sulawesi ga terlalu umum kebiasaan mencium tangan guru ngaji/ustadz/kiyai
    Kalo cium tangannya penghormatan sebagai orang tua (atau yang yg dianggap dituakan) sih biasa 😀
    nice post bang Hend 😀

  8. Novi Kurnia says:

    Kalau nyium tangan orang yang sudah tua sebagai penghormatan boleh ga, ya? Misalnya anak TK dibiasakan nyium tangan gurunya, ortunya, dan orang tua lainnya.

  9. umarfaisol says:

    saya tak mencium tangannya mas Hendra saja 😀

  10. […] Jenis Pangan Lokal Non-Beras yang tumbuh di Daerah JambiLatar Belakang Pendidikan KewarganegaraanWayang BeberDaftar Cagar Alam Indonesia di Pulau SulawesiMenambang Emas Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi UtaraSulawesi Selatan Terkorup di Pulau SulawesiPerangai-Perangai di Belantara Ilmu … […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s