Bunga Karang Bejana Kaca …

نصيحة شيخ الإسلام ابن تيمية لتلميذه ابن قيم الجوزية ، قال :

لا تجعل قلبك للإيرادات والشبهات مثل السفنجة فيشرَّبها ، فلا ينضح إلا بها ، ولكن اجعله كالزجاجة المصمتة ، تمر الشبهات بظاهرها ولا تستفز بها ، فيراها بصفائه ، ويدفعها بصلابته ، وإلا فإذا أشربَت قلبكَ كل شبهةٍ تمر عليه ، صار مقراً للشبهات. (علم أصول البدع لشيخ علي حسن علي الحلبي الاثري: 304)

 

Nasihat Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah kepada muridnya, Ibn Qayyim al-Jauziyah:

“Jangan kaujadikan hatimu terhadap keinginan-keinginan dan syubhat-syubhat itu seperti bunga karang (yang menyerap air), dia mereguknya lalu tak-menyiramkan-percik selain apa yang diserapnya. Akan tetapi jadikanlah hatimu semisal bejana kaca yang tak retak, (yang membuat) syubhat-syubhat hanya berlalu-lalang (di luar bejana kaca) tanpa pengaruh, lalu hati pun memandang syubhat-syubhat itu dengan kejernihannya dan menolak (mereka) dengan kekuatannya. Sebaliknya, jika hatimu mereguk semua syubhat yang melintas, niscaya dia menjadi tempat pengakuan terhadap syubhat-syubhat.” (‘Ilmu Ushul Bida’, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari: 304)

 

———————————————————

* Isfanjah merupakan sebutan orang Arab untuk bunga karang. Dia termasuk hewan laut atau mungkin tanaman air yang hidup di dasar laut. Hewan atau tanaman ini berongga dan memiliki lubang-lubang halus tempat masuknya air (menyerap air) yang berisi makanan dan oksigen baginya. Di Indonesia, isfanjah ini disebut dengan bunga karang dan juga koral, sedangkan nama Latin untuknya adalah Hedyotis uncinella. Isfanjah –bagi orang Arab- juga merupakan sebutan untuk busa –pencuci piring- yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan spons (Inggris: sponge)…

 

*Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterangkan sebagai berikut:

spons n 1 bunga karang; 2 benda serupa bunga karang (dr karet busa dsb) yg dapat mengisap air  

 

Bandung, 26 September 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Aku Berlindung dari Fitnah Hidup dan Mati …

اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم, ومن عذاب القبر, ومن فتنة المحيا والممات, ومن فتنة المسيح الدجال

 

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab neraka jahanam dan dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah al-Masih ad-Dajjal …

 

قال لشيخ عبدالرحمن بن عبد الله السحيم رحمه الله:

 Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah as-Suhaim –rahimahullah– berkata:

 

وفتنة الممات فُسّرت بأنها:

فتنة الاحتضار

فتنة القبر

وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : ولقد أوحي إلي أنكم تفتنون في القبور مثل أو قريبا من فتنة الدجال . رواه البخاري.

وأما عند الاحتضار فإن الشيطان يحرص على إغواء بني آدم ما دامت أرواحهم في أجسادهم ، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : إن الشيطان قال : وعزتك يا رب لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم . فقال الرب تبارك وتعالى : وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني . رواه الحاكم وصححه .

 

Dan fitnah mati itu diartikan:

Pertama: fitnah al-ihtidhar (fitnah ketika sakaratul maut/saat-saat menjelang kematian)

Kedua: fitnah kubur

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di dalam kubur-kubur kalian (dengan fitnah) seperti atau hampir seperti fitnah al-Masih Dajjal.” (HR. Bukhari)

Adapun pada saat ihtidhar (sakaratul maut/saat-saat menjelang kematian), setan bersemangat untuk menggoda anak-anak Adam selama arwah mereka masih berada dalam jasad-jasad mereka sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

 Sesungguhnya setan berkata, “Demi kemuliaan-Mu, wahai Rabb-ku. Aku takkan henti menggoda hamba-hamba-Mu selama arwah mereka masih berada dalam jasad-jasad mereka.” Rabb tabaraka wa ta’ala berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku. Aku takkan henti mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-Ku.” (Shahih al-Jami’ al-Albani: 2/32)

قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله:

 Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah– berkata:  

والمراد بالفتنة : اختبار المرء في دينه ؛ في حياته وبعد مماته ، وفتنة الحياة عظيمة وشديدة ، وقلَّ من يتخلَّص منها إلا مَنْ شاء الله ، وهي تدور على شيئين:  (شُبُهات , شهوات). أما الشُّبُهات : فتعرض للإنسان في عِلْمِه ِ، فيلتبس عليه الحقُّ بالباطل ، فيرى الباطل حقًّا ، والحقَّ باطلاً ، وإذا رأى الحقَّ باطلاً تجنَّبه ، وإذا رأى الباطلَ حقّاً فَعَلَهُ. وأمَّا الشَّهوات فتعرض للإنسان في إرادته ، فيريد بشهواته ما كان محرَّماً عليه ، وهذه فتنة عظيمة ، فما أكثر الذين يرون الرِّبا غنيمة فينتهكونه ! وما أكثر الذين يرون غِشَّ النَّاسِ شطارةً وجَودةً في البيع والشِّراء فيغشُّون ! وما أكثر الذين يرون النَّظَرَ إلى النساء تلذُّذاً وتمتُّعاً وحرية ، فيطلق لنفسه النظر للنساء ! بل ما أكثر الذين يشربون الخمر ويرونه لذَّة وطرباً ! وما أكثر الذين يرون آلاتِ اللهو والمعازف فنًّا يُدرَّسُ ويُعطى عليه شهادات ومراتب!

Yang dimaksud dengan fitnah ialah ujian terhadap manusia yang berkaitan dengan agamanya, baik  pada waktu hidupnya maupun setelah kematiannya. Dan fitnah hidup itu sangat besar dan kuat, sedikit sekali manusia yang terlepas darinya kecuali yang dikehendaki Allah.

Fitnah hidup itu mencakup dua hal, yaitu syubhat dan syahwat. Syubhat merintangi manusia berkaitan dengan ilmunya sehingga menjadi tak jelaslah baginya antara yang benar dengan yang batil. Dia memandang kebatilan sebagai kebenaran dan melihat kebenaran sebagai kebatilan. Tatkala melihat kebenaran sebagai kebatilan, dia pun menjauhinya. Sebaliknya, tatkala melihat kebatilan sebagai kebenaran, dia pun melakukannya. Adapun syahwat, hal ini menimpa manusia dalam hal keinginannya. Dorongan syahwat membuatnya berkeinginan terhadap hal yang haram baginya, dan ini merupakan fitnah yang sangat besar. Maka, berapa banyak manusia yang memandang riba sebagai ghanimah (kesempatan yang menguntungkan) lalu terus-menerus melakukannya. Berapa banyak manusia menganggap kecurangan manusia sebagai kecerdasan siasat perdagangan lalu larut dalam penipuan. Berapa banyak manusia beranggapan bahwa memandang wanita itu merupakan kesenangan, kenikmatan, dan kebebasan sehingga memutlakkan kebebasan bagi dirinya untuk memandang wanita. Berapa banyak manusia yang meminum khamr seraya menganggap itu sebagai kelezatan dan kesenangan. Berapa banyak manusia yang memandang permainan dan alat musik sebagai seni yang harus dipelajari dan patut untuk diberi ijazah penghargaan serta martabat yang terpandang.

وأما فتنة الممات : فاختلف فيها العلماءُ على قولين:

القول الأول : إن فتنة الممات : سؤال الملَكَين للميِّت في قَبْرِه عن ربِّه ، ودينه ونبيِّه ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : إنه أُوحِيَ إليَّ أنكم تُفتنون في قبوركم مثل أو قريباً من فتنة المسيح الدَّجَّال ، فأمَّا مَنْ كان إيمانُه خالصاً فهذا يسهل عليه الجواب.

فإذا سُئل : مَنْ ربُّك ؟ قال : ربِّي الله

مَنْ نبيُّك ؟ قال : نبيِّي محمَّد

ما دينك ؟ قال : ديني الإسلام ، بكلِّ سُهولة

 

Adapun fitnah mati, maka para ulama berbeda pandang mengenai hal ini menjadi dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan, “Fitnah mati adalah pertanyaan dua malaikat kepada mayit di dalam kuburnya mengenai Rab-nya, mengenai agamanya, dan mengenai nabinya.” (Hal ini berdasarkan) sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di dalam kubur-kubur kalian (dengan fitnah) seperti atau hampir seperti fitnah al-Masih Dajjal.”  Bagi orang yang imannya benar, akan mudah baginya menjawab pertanyaan itu.

Tatkala dia ditanya, “Siapa Rabb-mu?” Dia pun menjawab, “Rabb-ku Allah.”

“Siapa nabimu?” Dia pun menjawab, “Nabiku Muhammad.”

“Apa agamamu?” Dia pun menjawab, “Agamaku Islam.” Semuanya mudah …

 

وأما غيره – والعياذ بالله – فإذا سُئل قال : هاه … هاه … لا أدري ؛ سمعت الناس يقولون شيئاً فقلته

وتأمل قوله : ” هاه … هاه … ” كأنه كان يعلم شيئاً فنسيه ، وما أشدَّ الحسرة في شيء علمتَه ثم نسيتَه ؛

لأن الجاهل لم يكسب شيئاً ، لكن النَّاسي كسب الشيء فخسره ، والنتيجة يقول : لا أدري مَنْ ربِّي ، ما ديني ، مَنْ نبيي ، فهذه فتنة عظيمة ؛ أسألُ الله أن ينجِّيني وإيَّاكم منها ، وهي في الحقيقة تدور على ما في القلب ، فإذا كان القلب مؤمناً حقيقة : يرى أمور الغيب كرأي العين ، فهذا يجيب بكلِّ سُهولة ، وإن كان الأمر بالعكس : فالأمر بالعكس

 

Adapun orang selainnya (yang imannya tak benar), wal ‘iyadzu billah, maka tatkala ditanya dia menjawab, “Hah … hah! Aku tak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku pun mengatakan seperti itu.”

Cobalah kau renungkan jawabannya itu, “Hah … hah!” Seakan-akan dulu dia mengetahui sesuatu kemudian lupa. Betapa besarnya kesedihan akan sesuatu yang kauketahui kemudian lupa, karena orang bodoh memanglah tidak pernah memperoleh sesuatu, sedangkan orang yang lupa pernah memperoleh sesuatu kemudian hilang. Pada akhirnya, dia akan mengatakan, “Aku tidak tahu siapa Rabb-ku, apa agamaku, siapa nabiku.”  Maka inilah fitnah yang besar. Aku memohon kepada Allah keselamatan untuk diriku dan kalian dari fitnah ini. Dan pada hakikatnya, fitnah tersebut berkaitan dengan apa yang terdapat dalam kalbu. Apabila iman dalam kalbunya benar, dia melihat perkara ghaib seakan perkara indrawi (yakni meyakini kebenarannya -pent), maka dia akan menjawab dengan mudah. Akan tetapi, apabila dia dalam keadaan sebaliknya, maka perkaranya pun sebaliknya pula …

القول الثاني : المراد بـ ” فتنة الممات ” : ما يكون عند الموت في آخر الحياة ، ونصَّ عليها – وإنْ كانت مِن فتنة الحياة – لعظمها وأهميتها ، كما نصَّ على فِتنة الدَّجَّال مع أنها مِن فتنة المحيا ، فهي فِتنة ممات ؛ لأنها قُرب الممات ، وخصَّها بالذِّكر لأنها أشدُّ ما يكون ؛ وذلك لأن الإنسان عند موته ووداع العمل صائر إما إلى سعادة ، وإما إلى شقاوة ، قال الرسول صلى الله عليه وسلم : ( إن أحدَكُم ليعملُ بعملِ أهلِ الجنَّة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع ، فيسبق عليه الكتابُ ؛ فيعملُ بعملِ أهل النَّارِ ) فالفتنة عظيمة

 

Pendapat kedua mengatakan, “Yang dimaksud dengan fitnah mati adalah fitnah yang terjadi di akhir kehidupan (saat-saat kematian).” Meskipun pada dasarnya fitnah ini terjadi dalam kehidupan sebagaimana halnya fitnah Dajjal, namun dikatakan sebagai fitnah mati karena besar dan seriusnya keadaan tersebut dan karena dekatnya dengan kematian. Fitnah (mati) ini juga disebutkan (dalam hadits) secara khusus karena besarnya peristiwa tersebut. Demikianlah, karena manusia pada saat kematiannya berpisah dengan amal dan beranjak menuju (salah satu dari dua hal), bisa jadi  menuju kebahagiaan atau bisa jadi menuju kebinasaan. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, Sesungguhnya seseorang di antara kamu  benar-benar melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, namun takdir Allah telah ditetapkan baginya sehingga dia pun melakukan perbuatan ahli neraka.” Maka fitnah ini benar-benar besar …

 

وأشدُّ ما يكون الشيطانُ حرصاً على إغواء بني آدم في تلك اللحظة ، والمعصومُ مَنْ عَصَمَه الله ، يأتي إليه في هذه الحال الحرجةِ التي لا يتصوَّرها إلا من وقع فيها ، قال تعالى : ( كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ . وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ . وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ . وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ . إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ ) القيامة/26– 30 ، حال حرجة عظيمة ، الإنسانُ فيها ضعيفُ النَّفْسِ ، ضعيفُ الإِرادة ، ضعيفُ القوَّة ، ضيقُ الصَّدر ، فيأتيه الشيطانُ ليغويه ؛ لأن هذا وقت المغنم للشيطان ، حتى إنه كما قال أهل العلم : قد يعرضُ للإِنسان الأديان اليهودية ، والنصرانية ، والإسلامية بصورة أبويه ، فيعرضان عليه اليهودية والنصرانية والإسلامية ، ويُشيران عليه باليهودية أو بالنصرانية ، والشيطان يتمثَّلُ كُلَّ واحد إلا النبي صلى الله عليه وسلم ، وهذه أعظم الفِتَن

 

Pada saat-saat tersebut (saat-saat kematian), setan lebih bersemangat lagi untuk menggoda anak Adam, dan orang yang selamat (dari hal itu) hanyalah orang yang dilindungi Allah. (Pertolongan Allah) datang kepadanya dalam keadaan genting itu, keadaan genting yang tak bisa dibayangkan oleh siapa pun selain oleh orang yang mengalaminya. Allah berfirman, Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’ dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Rabb-mulah pada hari itu kamu dihalau (QS. al-Qiyamah: 26-30).”  

Keadaan yang benar-benar sulit. Jiwa manusa benar-benar lemah pada saat itu, keinginannya lemah dan tiada kekuatan, dada pun terasa sempit. Lalu datanglah setan kepadanya -karena bagi setan saat tersebut merupakan kesempatan emas untuk menggoda. Sampai-sampai, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, “Setan datang kepada manusia (yang sedang sekarat) dalam rupa kedua orang tuanya seraya meperlihatkan agama Yahudi, agama Nasrani, dan juga agama Islam. Setan menawarkan agama Yahudi, Nasrani, dan Islam seraya menyarankan kepadanya untuk memilih Yahudi dan Nasrani. Setan (datang) bisa dalam rupa siapa pun, kecuali rupa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan ini merupakan sebesar-besar fitnah …

 

ولكن هذا – والحمد لله – لا يكون لكلِّ أحدٍ ، كما قاله شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، وحتى لو كان الإنسان لا يتمكَّن الشيطان من أن يَصِلَ إلى هذه الدرجة معه ، لكن مع ذلك يُخشى عليه منه .
يقال : إنَّ الإمام أحمد وهو في سكرات الموت كان يُسمَعُ وهو يقول : بعدُ ، بعدُ ، فلما أفاق قيل له في ذلك ؟ قال : إنَّ الشيطان كان يعضُّ أنامله يقول : فُتَّني يا أحمد ، يعضُّ أنامله ندماً وحسرة كيف لم يُغوِ الإمام أحمد ! فيقول له أحمد : بعدُ ، بعدُ ، أي : إلى الآن ما خرجت الرُّوح ، فما دامت الرُّوح في البدن فكلُّ شيء وارد ومحتمل ، ( رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا ) آل عمران/8 ، في هذه الحال فتنة عظيمة جدّاً ، ولهذا نصَّ النبي صلى الله عليه وسلم عليها قال : مِن فِتنة المحيا والممات ( الشرح الممتع 3:185 – 188

 

Akan tetapi hal ini –walhamdulillah– tidaklah menimpa setiap orang sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah. Hanya saja, meskipun manusia tidak sampai dikalahkan oleh setan sehingga membersamai dalam kedudukannya, namun tetap saja terdapat kekhawatiran atasnya dari (godaan) setan.

Ditakatan (bahwa) Imam Ahmad pada saat berada dalam sakaratul maut terdengar mengucapkan, “Menjaulah, menjauhlah!”  Tatkala dia mendusin, ditanyakanlah kepadanya tentang hal itu. Imam Ahmad pun berkata, “Sesungguhnya setan menggigit ujung jarinya seraya berkata, ‘Wahai Ahmad, kau lolos dariku!’”

Setan menggigit ujung jarinya dengan penuh sesal dan sedih karena tak berhasil menggoda Imam Ahmad, lalu Imam Ahmad berkata kepada setan, “Menjauhlah, menjauhlah!” -yakni, sampai saat itu ruh belum terlepas dari jasad. Maka, selama ruh masih membersamai badan, segala sesuatu (baik-buruk) bisa saja terjadi.

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami (QS. Ali ‘Imran: 8).” Keadaan ini merupakan fitnah yang sangat besar, karenanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “… dari fitnah hidup dan mati.”

 

Bandung, 13 September 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Perkataan Tak Berharga …

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

Sumber dari sini: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=31002&page=2

 

يقول السَّائل: يقول أحدُهم: (مَن قال لكم أنَّه يجبُ تعلُّم ثلاثة مسائل: «مَن ربُّك؟ ما دينُك؟ وماذا تقول في الرَّجل الذي بُعث فيكم؟»، وكذا الخوض في الصِّفات، وتقسيم التَّوحيد إلى: ربوبيَّة، وألوهيَّة، وأسماء وصفات؛ فهذا مما ليس عليه دليلٌ، ولم يأمر به النَّبيُّ -صلَّى الله عليه وسلَّم-)؟

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah– ditanya:

Ada orang mengatakan, “Barangsiapa mengatakan kepada kalian tentang keharusan mempelajari tiga masalah*, yaitu: ‘siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Apa pendapatmu tentang orang yang diutus kepadamu?’, demikian juga jika dia larut (sibuk) dalam masalah shifat dan membagi tauhid menjadi ‘rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat’, maka hal ini termasuk perkara yang dia tak memiliki dalil atasnya, tidak pula diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

*mungkin yang dimaksud dengan tiga masalah oleh orang tersebut adalah dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rahimahullah- yang menulis kitab berjudul Ushul Tsalatsah, yang memang membahas mengenai ketiga hal tersebut  –pent

الجواب:
هذا كلامٌ باطلٌ، وقولٌ لا وزنَ له، ولا حقيقةَ له. فكيف تكونُ عبدًا ربَّانيًّا، تُحقِّق معنى العُبوديَّة -التي ما خلقكَ اللهُ إلا مِن أجلها-، وهو القائل -سبحانَهُ وتعالَى-: {وما خَلقْتُ الجنَّ والإنسَ إلا لِيَعبُدونِ}، وأنتَ لا تعرف ربَّك، ولا تعرفُ نبيَّك، ولا تعرفُ دينَك، وأنت لا تعرفُ ألوهيَّة اللهِ، وأن تُفردَه بالعبادةِ، وأن تُثبتَ له ما أثبتهُ لنفسِه

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullahmenjawab:

Ucapan tersebut batil, perkataan tak berharga dan tak memiliki hakikat. Lantas bagaimana bisa menjadi hamba-rabbani yang mengejawantahkan makna ‘ubudiyyah –yang tidaklah Allah menciptakanmu kecuali karena hal itu, dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”  (Bagaimana bisa menjadi hamba-rabbani) sementara kamu tak mengenal Rabb-mu, tak mengenal nabimu, dan tidak pula mengenal agamamu? (Bagaimana bisa menjadi hamba-rabbani) sementara kamu tak mengenal uluhiyyah Allah yang Dia itu diesakan dalam ibadah serta ditetapkan bagi-Nya (sifat dan nama) yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya sendiri.  

بل إذا تأملتَ سورةَ الفاتحةِ وجدتَها قائمةً على أنواعِ التَّوحيد الثلاثة، وإذا تأملتَ سورةَ النَّاس وجدتَها قائمةً على أقسام التَّوحيد الثلاثة، وبالتَّالي: ما بين الدَّفَّتين، أو ما بين هاتَين السورتَين -مِن أوَّل القرآن وآخره-؛ كلُّه يدلُّ على هذه المعاني، وكلُّه يدلُّ على هذه الأحكام، وما لم يكنْ كذلك؛ فهو سبيلٌ إليها.

 

Bahkan jika kamu bertadabbur atas surah al-Fatihah, niscaya akan kautemukan landasan dari tiga pembagian tauhid tersebut. (Demikian juga) jika kamu bertadabbur atas surah an-Nas, niscaya kaudapati landasan dari tiga pembagian tauhid tersebut. Bahkan apa yang terdapat di antara kedua sampul, atau yang terdapat di antara kedua surah tersebut, yakni  di antara surah awal dan surah akhir al-Quran, seluruhnya menunjukkan kepada makna-makna tersebut, dan seluruhnya juga menunjukkan kepada hukum-hukum tersebut. Dan (ayat) mana pun yang tidak seperti itu, (pastilah) dia merupakan jalan menuju hal itu …

فالقرآنُ عقيدةٌ، وأحكامٌ، وقصصٌ. القَصص لم تُذكر إلا للتَّثبيتِ؛ للتثبيت على ماذا؟ للتثبيتِ على العُبوديَّةِ، للتَّثبيت على عظمة اللهِ، للتَّثبيتِ على الطَّاعةِ والعلمِ النَّافع والعملِ الصَّالح.
كذلك الأحكام: الأحكامُ لم تَرِد في القرآنِ الكريم إلا للعِلمِ بها، والعمل بها، والالتزامِ بها، والدَّعوة إليها. كلُّ ذلك تعظيمًا لله -تَعالَى- في ربوبيَّته، تعظيمًا له في ألوهيَّته، تعظيمًا له في أسمائِه وصِفاته، واللهُ -تَبارك وتَعالى- يقولُ -مِن قبلُ ومن بعدُ-: أَفلا يتدبَّرونَ القُرآنَ أمْ عَلَى قُلوبٍ أقْفالُها.

 

Maka al-Quran itu (mengandung) aqidah, ahkam (hukum-hukum), dan kisah-kisah. Tidaklah kisah-kisah (dalam al-Quran) itu disebutkan kecuali untuk tatsbit (menetapkan/mengukuhkan). Tatsbit terhadap apa? Tatsbit terhadap ‘ubudiyyah (peribadahan), tatsbit tentang keagungan Allah, juga tatsbit tentang ketaatan, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang saleh …

Demikian juga ahkam (hukum-hukum). Tidaklah (ayat-ayat) ahkam itu disebutkan di dalam al-Quran al-Karim kecuali untuk diketahui, diamalkan, dan diikuti (berkomitmen dengannya) serta berdakwah kepadanya. Semua itu merupakan wujud pengagungan terhadap Allah ta’ala dalam hal rububiyyah, uluhiyyah, dan juga asma’ wa shifat-Nya. Dan Allah –tabaraka wa ta’ala– berfirman, “Maka apakah mereka tidak memerhatikan (mentadabburi) al-Quran ataukah hati mereka terkunci?

فهذا الذي يدَّعي أنَّه لا دليلَ على ذلك؛ هذا كلامُه مِن أتفهِ القولِ! لأنَّه يُناقضُ صريحَ القرآن، وصريحَ السُّنَّة، وصريحَ حديثِ رسولِ الله -عليهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ-، وسِيرتَه، وسُنَّته -العمليَّة والعِلميَّة والتَّاريخيَّة-منذ أن بعثه اللهُ إلى أن توفَّاهُ الله-تَبارك وتَعالى-، فستظل دعوتُه قائمةً في النَّاس إلى أن يرِثَ اللهُ الأرضَ ومَن عليها.

 

Maka orang yang mengatakan bahwasanya tidak ada dalil atas hal tersebut, perkataannya itu merupakan sebodoh-bodoh ucapan karena menentang kejelasan (ayat-ayat) al-Quran dan kejelasan Sunnah. Menentang kejelasanan hadits Rasulullah –‘alaihish shalatu was salam, perjalanan hidup beliau, juga sunnah ‘amaliah-‘ilmiyah-tarikhiyah beliau dari semenjak diutus hingga diwafatkan Allah –tabaraka wa ta’ala. Maka (sungguh) dakwah beliau –shallallahu ‘alaihi wa salam– (yang demikian itu) akan tetap berlangsung hingga Allah mewarisi bumi dan isinya …

 

Bandung, 10 September 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA-