Tulang-Tulang Nabi Yusuf? Padahal Bumi Tidaklah Memakan Jasad Para Nabi –shalawatullah ‘alaihim wa salamuhu …

Hadits Pertama:

 

عن أبي موسى الأشعريّ رضي الله عنه قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، (وفي رواية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي) فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم): سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل عظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار

أخرجه أبو يعلى في مسنده (١/٣٤٤)، والحاكم (٢/٤٠٤-٤٠٥ و ٥٧١-٥٧٢) من ثلاث طرق عن يونس بن أبي إسحاق عن أبي بردة عن أبي موسى -وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة ٣١٣)

 

Dari Abu Musa al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Seorang arab badui mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lalu nabi pun bersikap hormat kepadanya. Beliau bersabda kepada lelaki badui itu, “Mendekatlah kau kemari,” maka lelaki badui itu pun mendekati beliau. (Redaksi dalam riwayat lain: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– turun dari kendaraannya di depan seorang arab badui. Beliau bersikap hormat kepada lelaki badui itu, lalu berkata kepadanya, “Kemarilah, bergabunglah bersama kami,” maka lelaki badui itu pun mendekati beliau. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sila kaupinta kebutuhanmu!” Lelaki badui itu berkata, “Unta beserta pelananya, juga kambing betina yang bakal diperah oleh keluargaku.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Apakah kalian tak sanggup (memiliki keinginan) seperti (keinginan) perempuan tua Bani Israil?” Maka para shahabat beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun bertanya, “Wahai Rasulullah, memangnya kenapa dengan perempuan tua Bani Israil?” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

Sesungguhnya tatkala Musa berjalan memimpin Bani Israil (keluar) dari Mesir, mereka tersesat di jalan. Maka Musa pun berkata, “Kenapa begini?” Lalu para ulama Bani Israil berkata, “Akan kami ceritakan kepadamu. Sesungguhnya Nabi Yusuf pada saat menjelang kematiannya telah mengambil perjanjian dari kami dengan persaksian Allah agar tak meninggalkan negeri Mesir kecuali dengan membawa serta ‘izhamun (tulang-tulang) beliau bersama kami.” Nabi Musa lantas bertanya, “Kalau begitu, siapa yang tahu letak kuburan beliau?” Mereka menjawab, “Tidak ada yang mengetahui letak kuburan Nabi Yusuf kecuali seorang perempuan tua Bani Israil.” Maka Nabi Musa mengutus seseorang untuk membawa perempuan tua itu. Perempuan tua itu pun datang menghadap beliau, lalu Nabi Musa berkata, “Tunjukkan kepadaku letak kuburan Yusuf!” Perempuan tua itu menjawab, “Tidak, demi Allah! Aku takkan menunjukkan kuburan Yusuf kepadamu sampai kau menuruti ketentuanku!” Musa pun bertanya, “Apa ketentuanmu?” Perempuan tua itu menjawab, “Jadikan aku bersamamu di surga!” Musa enggan untuk menuruti hal itu, lalu Allah mewahyukan agar beliau menuruti ketentuan perempuan tua itu. Maka perempuan tua itu pun berangkat membawa mereka menuju buhairah (danau), suatu tempat yang dipenuhi dengan air. Perempuan tua itu berkata, “Surutkanlah air danau ini!” Maka mereka pun mengeringkan danau itu. Perempuan tua itu berkata lagi, “Galilah (kuburannya) dan keluarkan ‘izhamun (tulang-tulang) Yusuf!” Tatkala ‘izhamun Yusuf itu diangkat ke permukaan tanah, maka jalan pun menjadi jelas seumpama cahaya siang.

(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya:1/344, juga al-Hakim: 2/404-405 dan 571-572, dari tiga jalan dari Yunus bin Abi Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; dishahikan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 313).

 

Hadits Kedua:

عن أوس بن أوس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: إن من أفضل أيامكم يومَ الجمعة؛ فيه خلق آدم، وفيه قبض، وفيه النّفخة، وفيه الصعقة، فأكثروا علي من الصلاة فيه؛ فإن صلاتكم معروضة علي. قال: قالوا: يا رسول الله! وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟ -أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ- فقال: إن الله عز وجل حرّم على الأرض أجساد الأنبياء

أخرجه أحمد (٤/٨)، أبو داود (١٠٤٧) النسائي (٣/٢١)، الدارمي (١/٣٦٩) ابن ماجه (١/٣٣٦-٣٣٧ و ٥٠٢)، ابن حبان (٥٥٠)، الحاكم (١/٢٧٨) ، والبيهقي (٣/٢٤٨) وصححه الألباني في صحيح أبي داود (٩٢٥)

 

Dari Aus bin Aus, dia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama di antara hari-hari kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu pula dia diwafatkan, pada hari itu akan ditiup sangkakala dan pada hari itu pula semesta akan dibinasakan. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat karena sesungguhnya shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.” Para shahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa shalawat kami diperlihatkan kepadamu sementara kau telah rusak (hancur menjadi tanah)?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya Allah –‘azza wa Jalla- mengharamkan bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi.”

(Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad: 4/8, Abu Dawud: 1047, an-Nasa’i: 3/21, ad-Darimi: 1/369, Ibnu Majah: 1/336-337, Ibnu Hiban: 550, al-Hakim: 1/278, al-Baihaqi: 3/248; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud: 925).

Secara zhahir, seakan-akan terdapat pertentangan di antara kedua hadits di atas. Pada hadits pertama dikatakan bahwa Nabi Musa bersama Bani Israil mengangkat ‘izhamun (tulang-tulang) Nabi Yusuf, sementara pada hadits kedua dijelaskan bahwasanya jasad para nabi itu pastilah utuh karena Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi. Padahal sebagaimana kita ketahui, bahwasanya Yusuf –‘alaihis salam– itu adalah seorang nabi. Jadi bagaimana mungkin jasad nabi Yusuf hanya tinggal tulang-tulang belaka jika bumi tidak memakan jasad para nabi? Dan bukankah di dalam suatu permasalahan ilmiyah itu diharuskan adanya tsubut ad-dalil (kukuhnya dalil) dan salamah min al-mu’aridh (selamat dari pertentangan)?

Sebenarnya tidak ada pertentangan di antara kedua hadits di atas. Terlebih terdapat hadits lain yang bisa dijadikan sebagai penjelas tentang tidak adanya pertentangan di antara kedua hadits di atas, yaitu hadits Ibnu ‘Umar berikut ini:

 

Hadits Ketiga:

 

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى اللهُ عليه وسلم لَمَّا بدَّن قال له تميم الدّاري ألا أتّخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك قال بلى فاتَّخذ له منبرا مرقاتين

أخرجه أبو داود (١٠٨١) وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة (١/٦٢٤)

 

Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– bahwasanya tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah semakin tua, berkatalah Tamim ad-Dari kepada beliau, “Bolehkan aku membuatkanmu mimbar untuk membawa atau mengangkat ‘izhamun-mu, wahai Rasulullah?” Rasululah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Boleh.” Maka Tamim ad-Dari pun membuatkan mimbar dua tingkat untuk beliau.

(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud: 1081; dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1/624)

 

Ucapan Tamim ad-Dari –radhiyallah ‘anhu– dalam hadits ketiga tersebut memberikan gambaran bahwa perkataan ‘izhamun bisa dimaksudkan juga sebagai jasad, tubuh, atau badan. Hal itu dikarenakan mimbar tersebut -pada kenyataannya- diperuntukkan bagi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk menopang tubuh beliau. Dengan demikian, makna ‘izhamun dalam hadits pertama dan hadits ketiga adalah jasad atau tubuh atau badan, bukan tulang-tulang atau kerangka … -dan perkataan tersebut termasuk ke dalam bab ithlaq al-juz’i wa iradah al-kulli (menyebutkan sebagian namun yang dimaksudkan adalah seluruhnya), yakni sebagaimana ucapan kita, “Belum terlihat batang hidungnya,” padahal yang dimaksudkan adalah, “Belum terlihat orangnya.”

Mengenai hal ini, Syaikh ‘Umar bin Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah- berkata:

 

لا يناقض هذا الحديث ما صح عن رسولنا من أن الله حرّم على الأرض أكل أجساد الأنبياء، والمراد بعظام يوسف في الحديث جثته، وليس المقصود أنه بلي ولم يبق منه الا عظامه (صحيح القصص النبوي: ١٠٧-١٠٨)

 

Hadits ini (hadits pertamapent) tidaklah bertentangan dengan hadits shahih dari Rasulullah (yang menyebutkan) bahwa Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi (yakni hadits kedua –pent). Dan yang dimaksud dengan ‘izhamun Yusuf dalam hadits tersebut adalah jasadnya, bukan tubuh yang telah rusak dan hanya tersisa tulang-tulangnya saja. (Shahih al-Qashash an-Nabawiy: 107-108)

 

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah– berkata:

 

كنت استشكلت قديما قوله في هذا الحديث (عظام يوسف) لأنه يتعارض بظاهره مع الحديث الصحيح: (إن الله حرم على الأرض أن تأكلأجساد الأنبياء) حتى وقفت على حديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن ، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبراً يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك ؟ قال : بلى .فاتخذ له منبراً مرقاتين) فعلمت منه أنهم كانوا يطلقون (العظام)، و يريدون البدن كله، من باب إطلاق الجزء و إرادة الكل، كقوله تعالى: (وقرآن الفجر) أي صلاة الفجر . فزال الإشكال والحمد لله، فكتبت هذا لبيانه. (سلسلة الصحيحة :١/٦٢٣-٦٢٤)

 

Semenjak jauh hari, aku telah dibuat samar dengan sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di dalam hadits ini (hadits pertama –pent), yakni ‘izhamun (tulang-tulang) Yusuf, karena secara lahiriah ucapan tersebut bertentangan dengan hadits shahih, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi, sampai akhirnya aku berhenti pada hadits Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma:

(bahwasanya tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah semakin tua, berkatalah Tamim ad-Dari kepada beliau, “Bolehkan aku membuatkanmu mimbar untuk membawa atau mengangkat ‘izhamun-mu, wahai Rasulullah?” Rasululah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Boleh.” Maka Tamim ad-Dari pun membuatkan beliau mimbar dua tingkat).

Maka tahulah aku, bahwasanya para shahabat mengungkapkan kata ‘izhamun dengan maksud seluruh badan, (yakni) termasuk ke dalam bab ithlaq al-juz’i wa iradah al-kulli (menyebutkan sebagian namun yang dimaksudkan adalah seluruhnya), sebagaimana firman Allah ta’ala, “Wa qur-anal fajri (bacaan fajar),” yang dimaksud adalah shalat fajar. Dengan demikian hilanglah kesamaran, dan segala puji bagi Allah, lalu kutuliskan penjelasan ini. (Silsilah ash-Shahihah: 1/623-624)

 

Bandung, 31 Oktober 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA-

Advertisements

Di Depan Mata Pengembara Sahara, Kambing itu Menghampiri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam …

عن ثوبان مولى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: نزل بنا ضيف بدوي، فجلس رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أمام بيوته فجعل يسأله عن الناس كيف فرحهم بالإسلام ؟ وكيف حدبهم على الصلاة ؟ فما زال يخبره من ذلك بالذي يسره حتى رأيت وجه رسول الله – صلى الله عليه وسلم – نضرا، فلما انتصف النهار، وحان أكل الطعام، دعاني مستخفياً لا يألو: أن أئت عائشة – رضي الله عنها – فأخبرها أن لرسول الله – صلى الله عليه وسلم – ضيفا، فقالت: والذي بعثه بالهدى ودين الحق ما أصبح في يدي شيء يأكله أحد من الناس، فردني إلى نسائه كلهن يعتذرن بما اعتذرت به عائشة – رضي الله عنها – فرأيت لون رسول الله – صلى الله عليه وسلم – خَسَف ، فقال البدوي: إنا أهل البادية معانون على زماننا، لسنا بأهل الحاضر، فإنما يكفي القبضة من التمر يشرب عليها من اللبن أو الماء فذلك الخصب! فمرت عند ذلك عنز لنا قد احتُلبت، كنا نسميها (ثمر ثمر) فدعا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – باسمها: (ثمر ثمر) فأقبلت إليه تحمحم، فأخذ برجلها باسم الله، ثم اعتقلها باسم الله، ثم مسح سُرّتها باسم الله ، فحفلت (الأصل : فحطت) فدعاني بمحلب فأتيته به، فحلب باسم الله، فملأه فدفعه إلى الضيف، فشرب منه شربة ضخمة، ثم أراد أن يضعه، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: (عُل). ثم أراد أن يضعه، فقال له: (عُل). فكرّره عليه حتى امتلأ وشرب ما شاء ثم حلب باسم الله وملأه وقال: (أبلغ عائشة هذا) فشربت منه ما بدا لها، ثم رجعت إليه، فحلب فيه باسم الله، ثم أرسلني به إلى نسائه، كلما شرب منه رددته إليه ، فحلب باسم الله فملأه ، ثم قال: (ادفعه إلى الضيف)، فدفعته إليه، فقال: باسم الله، فشرب منه ما شاء، ثم أعطاني، فلم آلُ أن أضع شفتي على درج شفته، فشربت شراباً أحلى من العسل، وأطيب من المسك، ثم قال : (اللهم بارك لأهلها فيها. يعني العنز).

 

Dari Tsauban, maula Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:

Seorang arab badui bertamu kepada kami, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– duduk di muka rumah seraya bertanya-tanya kepada tamu badui itu tentang kondisi masyarakatnya, tentang kegembiraan mereka dengan Islam, tentang kecenderungan mereka terhadap shalat. Maka tak henti-hentinya dikabarkan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sesuatu yang membuat beliau senang berkaitan dengan hal itu, sampai-sampai wajah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terlihat begitu cerah.

Tatkala hari telah mencapai pertengahan siang dan telah tiba pula waktu makan, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memanggilku secara tersembunyi (berbicara tanpa terdengar oleh tamu) agar aku mendatangi ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– dan mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mempunyai tamu (yakni dengan maksud agar ‘Aisyah menyiapkan makanan –pent).

‘Aisyah berkata, “Demi yang telah mengutus beliau dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, tidaklah aku melalui pagi sementara pada diriku terdapat sesuatu yang bisa dimakan.” Maka aku pun berbalik dan mendatangi istri-istri Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lainnya, namun mereka semua mengemukakan alasan yang sama seperti uzur yang dikemukakan oleh ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha. Maka aku pun menampak Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang memang begitu pucat (karena lapar).

Tamu badui itu berkata, “Sesungguhnya kaum pengembara sahara (badui) dalam keadaan tertolong pada masa kami ini. Kami bukanlah kaum yang suka tinggal menetap. Telah cukup (bagi kami) segenggam kurma lalu meminum susu atau air, maka inilah kehidupan yang mewah.”

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba lewatlah seekor kambing betina yang telah diperah susunya. Kami menamai kambing betina itu dengan sebutan “tsamar tsamar” (harta yang menghasilkan/produktif). Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas memanggil (kambing betina itu) dengan menyebut namanya, “Tsamar tsamar,” lalu kambing betina itu menghampiri beliau sambil mengembik pelan, maka beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memegang kaki kambing betina itu seraya menyebut nama Allah, kemudian menahannya seraya menyebut nama Allah, kemudian mengusap tengah perutnya seraya menyebut nama Allah, sehingga terkumpullah susunya (terkandung pada ambing susunya).

Setelah itu, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memanggilku agar mengambilkan bejana susu, maka aku memberikannya kepada beliau. Mulailah beliau memerah susu dengan bertadahkan bejana sambil menyebut nama Allah lalu memberikannya kepada tamu. Orang arab badui itu pun meminumnya dengan satu tegukan besar. Kemudian, ketika dia bermaksud untuk meletakkan bejana itu, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Minumlah lagi.” Kemudian orang Arab badui itu hendak meletakkan bejana lagi, lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kembali bersabda, “Minumlah lagi.” Berulang beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam– menyuruhnya untuk minum lagi sampai orang arab badui itu puas sesuai keinginannya.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali memerah kambing itu seraya menyebut nama Allah dan memenuhi bejana dengan susu. Beliau bersabda, “Sampaikan (bejana berisi susu) ini kepada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha!” Maka (setelah menerimanya), ‘Aisyah pun meminum susu itu sampai habis dan mengembalikannya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memerah lagi susu kambing itu sambil menyebut nama Allah, dan beliau mengutusku untuk memberikannya kepada istri-istri beliau lainnya. Setiap kali susu itu telah diminum (oleh salah seorang istri beliau), aku pun mengembalikan bejana itu kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sehingga beliau memerah lagi dengan menyebut nama Allah dan mengisi bejana itu sampai penuh. Setelah itu beliau bersabda, “Berikan ini kepada tamu (badui)!” Maka aku pun memberikannya kepada orang arab badui itu.

Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengucapkan, “Bismillah,” lalu meminumnya sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan kemudian memberikan bejana itu kepadaku. Maka tidaklah berkurang saat kuletakkan bibirku pada bekas minumnya, lalu aku meminum minuman yang lebih manis daripada madu dan lebih wangi daripada misk (minyak kesturi). Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Allahumma barik li ahliha fiha –yakni kambing betina itu.”

 

الحديث أخرجه أسلم بن سهل الرزاز الواسطى (كنيته أبو الحسن ولقبه بحشل) وصححه الألبانى فى السلسلة الصحيحة (صحيفة 4/625- 626 رقم 1977). قال الشيخ الألباني: أخرجه بحشل في  تاريخ واسط (ص 27 – 29 مصورة المكتب) … و هذا إسناد صحيح رجاله كلهم ثقات من رجال (التهذيب)

 

Hadits di atas dikeluarkan oleh Aslam bin Sahl ar-Razaz al-Wasithi (kuniyah-nya Abu al-Hasan, julukannya Bahsyal). Hadits tersebut dinilai shahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (4/625-626; no. 1977). Syaikh al-Albani berkata, “Dikeluarkan oleh Bahsyal dalam Tarikh Wasith (27-29) … sanad hadits ini shahih, semua perawinya tsiqat dan merupakan para perawi at-Tahdzib.”

 

Bandung, 26 Oktober 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Sujudkah Mu’adz kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Sumber: http://www.sahab.net/home/?p=727

قال الإمام ابن ماجه رحمه الله في “سننه” (1853):

حدثنا أزهر بن مروان، حدثنا حماد بن زيد ، عن أيوب، عن القاسم الشيباني، عن عبد الله بن أبي أوف، قال : (لما قدم معاذ من الشام, سجد للنبي صلى الله عليه وسلم، قال: ما هذا يا معاذ ؟ قال: أتيت الشام, فوافقتهم يسجدون لأساقفتهم وبطارقتهم، فوددت في نفسي أن نفعل ذلك بك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فلا تفعلوا، فإني لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لغير الله، لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها، والذي نفس محمد بيده، لا تؤدي المرأة حق ربها حتى تؤدي حق زوجها، ولو سألها نفسها وهي على قتب لم تمنعه).

Imam Ibnu Majah –rahimahullah– berkata dalam kitab Sunan-nya (1853):

Telah mengabarkan kepada kami Azhar bin Marwan, telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub dari al-Qasim asy-Syaibani, dari ‘Abdullah bin Abu Aufa, dia berkata:

Tatkala Mu’adz tiba dari Syam, dia bersujud kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pun bertanya, “Apa ini, wahai Mu’adz?” Mu’adz menjawab, “Aku datang ke Syam dan kudapati orang-orang di sana bersujud kepada Asaqifah (para uskup) dan Bathariqah (para panglima perang) sehingga hatiku berkeinginan agar kami pun melakukannya kepadamu.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Jangan kalian lakukan hal itu! Sesungguhnya, seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya sebelum dia menunaikan hak suaminya. Kalau pun suaminya itu meminta kepadanya dalam keadaan di atas hewan tunggangan, maka dia tak boleh menolaknya.”

 

قال الشيخ العلامة المحدث ربيع بن هادي حفظه الله تعالى:

حديث معاذ -رضي الله عنه- في سجوده للنبي صلى الله عليه وسلم ،لم يصح إسناده ولا يصحّ معناه.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullah ta’ala– berkata:

Hadits Mu’adz –radhiyallahu ‘anhu– tentang sujudnya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidaklah shahih sanadnya, tidak shahih pula maknanya …   

 

1- أما من جهة معناه فإنه لم يثبت أنه ذهب إلى الشام في حياة النبي وإنما الثابت ذهابه إلى الشام في عهد عمر بن الخطاب -رضي الله عنه – ومات بالطاعون هناك ، وفي الحديث (حين رجوعه من اليمن) وهو لم يذهب إلى اليمن إلا في آخر حياة النبي صلى الله عليه وسلم ، ومات النبي صلى الله عليه وسلم وهو باليمن، حيث لم يعد إلا في خلافة أبي بكر -رضي الله عنه.

ثم هو من كبار الصحابة وفقهائهم الكبار بعيد جداً أن يكون بهذه الدرجة من الجهل.

ومن جهة المتن ففيه اختلاف سيأتي بيانه.

 

Pertama:

Adapun dari segi makna, sesungguhnya tidaklah benar bahwa Mu’adz bin Jabal pergi ke negeri Syam pada masa kehidupan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang benar, Mu’adz bin Jabal pergi ke negeri Syam pada masa (kekhalifahan) ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– dan wafat di sana ketika terjadi wabah penyakit tha’un. Sedangkan dalam hadits lain (dengan matan), “Tatkala Mu’adz kembali dari Yaman,” maka Mu’adz tidaklah (diutus) pergi ke Yaman kecuali di akhir masa kehidupan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang mana beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– wafat ketika Mu’adz bin Jabal masih berada di Yaman. Mu’adz sendiri tidaklah kembali (ke Madinah) dari Yaman kecuali pada masa kekhalifahan Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu.

Mu’adz bin Jabal itu termasuk sebagai jajaran ulama dan fuqaha’ di kalangan shahabat, sungguh sangat jauh kedudukannya dari derajat kebodohan seperti itu. Sedangkan dari segi matan, maka di dalamnya terdapat perbedaan yang penjelasannya akan dikemukakan selanjutnya …

 

2- وأما من جهة الإسناد ففيه نكارة، ومداره على القاسم بن عوف الشيباني ضعّفه يحيى بن سعيد القطان وشعبة كما أشار إلى ذلك القطان وقال أبو حاتم:“مضطرب الحديث، ومحلّه عندي الصدق” ، وقال النسائي : “ضعيف”، وذكره ابن حبان في “الثقات”، وقال الذهبي في “الكاشف” : “مختلف في حاله”، وقال الحافظ: “صدوق يغرب”.

انظر ترجمته في “تهذيب التهذيب” (8/326-327) و“الكامل” لابن عدي(6/ 37) و“الميزان” للذهبي (3/376) و”الكاشف” للذهبي و”التقريب” للحافظ ابن حجر.

 

Kedua:

Adapun dari segi sanad, di dalamnya ada yang diingkari (ditolak) dan itu berporos pada al-Qasim bin Auf asy-Syaibani. Yahya bin Sa’id al-Qaththan dan Syu’bah telah melemahkannya sebagaimana hal itu telah diisyaratkan oleh al-Qaththan, dan Abu Hatim berkata, “Mudhtharib al-hadits, dan menurutku dia jujur,”  dan an-Nasa’i berkata, “Dha’if,” dan Ibnu Hiban menyebutkannya di dalam ats-Tsiqat. Adz-Dzahabi berkata dalam al-Kasyaf, “Diperselisihkan tentangnya,” sedangkan al-Hafizh berkata, “Jujur, suka meriwayatkan hadits gharib.”

Lihatlah biografinya di dalam Tahdzib at-Tahdzib (8/326-327), al-Kamil karya Ibnu Hadi (6/37), al-Mizan karya adz-Dzahabi (3/376), al-Kasyaf karya adz-Dzahabi, dan at-Taqrib karya al-Hafizh Ibnu Hajar …

  

وقد روى هذا الحديث أحمد (4/381) من طريق إسماعيل ابن عليَّة عن أيوب عن القاسم بن عوف الشيباني عن عبد الله بن أبي أوفى قال: قدم معاذ اليمن أو قال الشام، فرأى النصارى تسجد لبطارقتها وأساقفتها، فَرَوَّأ في نفسه أن رسول الله أحقّ أن يُعَظَّم، فلمّا قدم قال: يا رسول الله! رأيت النصارى تسجد لبطارقتها وأساقفتها فروّأتُ في نفسي أنك أحقّ أن تعظم فقال : (لو كنت آمراً أحداً أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها)

 

Ahmad meriwayatkan hadits ini (4/381) dari jalan Ismail bin ‘Ulayyah dari Ayyub dari al-Qasim bin Auf asy-Syaibani, dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata:

Mu’adz tiba dari negeri Yaman –atau dia mengatakan negeri Syam, di sana dia melihat kaum Nasrani bersujud kepada Bathariqah (para panglima perang) dan Asaqifah (para uskup), lalu dia pun berbatin bahwa Rasulullah lebih berhak untuk diagungkan. Maka tatkala Mu’adz tiba (di Madinah), dia pun berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat kaum Nasrani bersujud kepada Bathariqah dan Asaqifah sehingga aku pun berbatin bahwa dirimu lebih berhak untuk diagungkan.” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya.”

 

ورواه أحمد عن وكيع عن الأعمش عن أبي ظبيان عن معاذ بن جبل قال : يا رسول الله! رأيت رجالاً باليمن يسجد بعضهم لبعض أفلا نسجد لك قال : (لو كنت آمراً بشراً أن يسجد لبشر لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها)

ورواه من طريق ابن نمير سمعت أبا ظبيان يحدث عن رجل من الأنصار عن معاذ بمعناه . المسند (4/277)

 

Ahmad (juga) meriwayatkannya dari Waki’ dari al-A’masy dari Abu Zhabyan, dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang Yaman saling bersujud satu sama lain. Apakah kami boleh bersujud kepadamu?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya.” Beliau juga meriwayatkan dari jalan Ibnu Numair yang mendengar hadits Abu Zhabyan dari seorang lelaki Anshar dari Mu’adz yang semakna dengan itu. (al-Musnad: 4/277)

فالحديث من طريق القاسم وأبي ظبيان ليس فيه أن معاذاً سجد للنبي وإنما فيه عرض السجود للرسول ثم ردّ الرسول ذلك.

 

Maka hadits dari jalan al-Qasim dan Abu Zhabyan tidaklah terdapat di dalamnya (kisah) bahwa Mu’adz bersujud kepada Nabi, melainkan hanya sekedar meminta pertimbangan untuk bersujud kepada Rasul yang kemudian hal itu ditolak oleh Rasul …

 

هذا مضمون هذا الحديث من هذين الوجهين، ومع ذلك فالحديث من طريق القاسم قد أعلّه أبو حاتم بالاضطراب، انظر “العلل” لابنه ( 2/253) وكذلك أعلّه الدار قطني في “علله” ( 6/37-38) .

 

Inilah kandungan hadits dari kedua riwayat tersebut, yang bersamaan dengan itu, maka hadits dari jalan al-Qasim ini telah diterangkan ‘illat (cacatnya) berupa idhthirab oleh Abu Hatim -lihat kitab al-‘Ilal karya Ibnu Abi Hatim. Demikian juga dengan ad-Daraquthni, beliau telah menjelaskan ‘illat al-Qasim dalam kitab ‘Ilal-nya (6/37-38) …

وأعلّ حديث أبي ظبيان بالاختلاف في إسناده ثم بالانقطاع؛ لأن أبا ظبيان لم يسمع من معاذ، انظر “العلل” (6/39-40).

 

Dan ad-Daraquthni juga menjelaskan tentang cacat hadits Abu Zhabyan berupa adanya perbedaan dalam sanadnya kemudian juga ‘inqitha’ (terputus sanadnya) karena Abu Zhabyan itu tidak mendengar hadits dari Mu’adz –lihat al-‘Ilal (6/39-40) …

 

وأما التصريح بأن معاذاً سجد للنبي صلى الله عليه وسلم ، فرواه ابن ماجة حديث (1853) وابن حبان في صحيحه حديث (4171) والبيهقي (7/292) من طرق عن حماد بن زيد عن القاسم الشيباني عن عبد الله بن أبي أوفى به، وفيه سجد معاذ للنبي الحديث فمدار هذه الطرق على القاسم الشيباني.

 

Adapun penjelasan bahwa Mu’adz bersujud kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diriwayatkan oleh Ibnu Majah pada hadits (1853), Ibnu Hiban dalam kitab Shahih-nya pada hadits (4171), al-Baihaqi (7/292), dari jalan Hammad bin Zaid, dari al-Qasim asy-Syaibani, dari ‘Abdullah bin Abu Aufa, maka jalan sanadnya berporos pada al-Qasim asy-Syaibani …

وذكر الدار قطني في “علله” (6/37-39) له طرقاً أخرى منها ما سبق.

ومنها عنه عن زيد ابن أرقم عن معاذ.

ومنها عنه عن عبد الرحمن ابن أبي ليلى عن أبيه عن معاذ.

ومنها عن عبد الرحمن بن أبي ليلى عن أبيه عن صهيب عن معاذ.

ثم قال : والاضطراب فيه من القاسم بن عوف.

 

Dan ad-Daraquthni telah menyebutkan dalam kitab ‘Ilal-nya (6/37-39) jalan lain dari al-Qasim, di antaranya dari al-Qasim dari Zaid bin Arqam dari Mu’adz. Juga dari al-Qasim dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila dari ayahnya dari Mu’adz. Juga dari al-Qasim dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila dari ayahnya dari Shuhaib dari Mu’adz. Kemudian ad-Daraquthni mengatakan, “Idhthirab di dalamnya dari al-Qasim bin Auf.”

فهذا حال هذا الحديث المنسوب إلى معاذ فيه عدة علل:

1-الأولى : ضعف القاسم بن عوف الشيباني.

2-الثانية : اضطرابه في الأسانيد.

3-الاختلاف في المتن.

4-الانقطاع في إسناد أبي ظبيان بينه وبين معاذ.

5-الاختلاف عليه، ونحن نستبعد وقوع مثل هذا من هذا الصحابي الفقيه الجليل معاذ ابن جبل -رضي الله عنه.

Maka keadaan hadits yang disandarkan kepada Mu’adz ini memiliki sejumlah cacat, yaitu:

Pertama: kelemahan perawi al-Qasim bin Auf asy-Syaibani …

Kedua: Idhthirab-nya (keguncangannya) dalam sanad …

Ketiga: Perbedaan dalam matan …

Keempat: Keterputusan sanad antara Abu Zhabyan dan Mu’adz (Abu Zhabyan tidaklah mendengar dari Mu’adz –pent) …

Kelima: perselisihan tentangnya; dan kami menganggap mustahil perbuatan seperti itu dilakukan oleh shahabat mulia nan faqih, Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu

 

وما كان كذلك لا يبنى عليه حكم شرعي فضلاً عن عقيدة.

أما حديث (لو كنت آمراً أحداً أن يسجد لأحد الخ) فهو حديث ثابت إن شاء الله بمجموع طرقه عن أبي هريرة وأنس وعائشة . راجع “الإرواء” للعلامة الألباني (7/54-55).

 

Jika demikian perihalnya (hadits tentang sujud Mu’adz), maka tidaklah dibangun hukum syariat berdasarkan hadits ini, terutama tentang masalah akidah …

Adapun redaksi hadits, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya sebelum dia menunaikan hak suaminya. Kalau pun suaminya itu meminta kepadanya dalam keadaan di atas hewan tunggangan, maka dia tak boleh menolaknya,” maka redaksi hadits ini tsabit, insya Allah, dengan keseluruhan jalannya dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan juga Aisyah –silakan merujuk kitab al-Irwa’ karya al-‘Allamah al-Albani (7/54-55) …

 

—————————————-

*Tambahan: menurut sebagian ulama, hadits tentang sujud Mu’adz bin Jabal kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ini berderajat hasan berdasarkan jalan-jalan riwayat yang banyak; disertai pula dengan perbedaan pendapat mengenai jenis (sifat) sujud Mu’adz bin Jabal kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah merupakan sujud ibadah ataukah sujud tahiyyah (penghormatan) … –pent … wallahu a’lamu

 

Bandung, 22 Oktober 2012

-HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–