Menungkai Rintih …

Aku menyergahkan ajak untuk menungkai rintih pada awal musibah di hadapan bilah kerelaan dan kesabaran. Kuyakin kau belum lagi lupa akan petuah para tetua kaum kita, takkan ada kesedihan-panjang di segara kerelaan terhadap takdir dan kesabaran di tengah musibah …

Akan tetapi kau menukasku dingin. Katamu hari kemarin bukanlah kala yang purba, masih begitu banyak repih darinya selain remah kenangan. Aku lantas menyisih merahasiakan tangis tanpa ingin menyusuli kata-katamu. Biar saja sejurus kaumengasing, sekadar mengajuk kisahan hati seraya menjenaki babad hari yang katamu masih hangat dan teramat jauh dari purwa yang kuna …

Aku tahu, beberapa tangkai ingatan masih saja mencagak rindu yang bukan melulu milikmu, menyelisik seludang mayang yang senyap lalu merajang riwayat sepotong demi sepotong. Tetapi mungkin kau tak tahu tentang seberapa kerap bilangan hari itu menyerantaku. Sungguh dia gugur berbantal lengan kiriku …

Kini, kaulihatlah peradaban yang telah dia bangun pada ketegaran langkah kaki anak-anaknya … -dari saat-saat kepergiannya hingga selepas kauiringi jenazahnya tanpa suara dan api …

 

*Semoga Allah merahmati kakakku …

——————————————–

Shalat jenazah dengan empat takbir, berdasarkan hadits:

 

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى أَصْحَمَةَ النَّجَاشِيِّ فَكَبَّرَ أَرْبَعًا

 

“Dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– shalat atas jenazah Ash-hamah an-Najasyi, lalu beliau bertakbir empat kali.” (HR. al-Bukhari)

 

Shalat Jenazah dengan lima takbir, berdasarkan hadits:

 

عَنْ عَبْدِ الرّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَىَ قَالَ: كَانَ زَيْدٌ يُكَبّرُ عَلَىَ جَنَائِزِنَا أَرْبَعاً. وَإِنّهُ كَبّرَ عَلَى جَنَازَةٍ خَمْساً. فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يُكَبّرُهَا

 

Dari ‘Abdullah bin Abi Laila, dia berkata, “Zaid (bin Arqam) biasa bertakbir empat kali dalam menshalati jenazah-jenazah kami, dan dia pernah bertakbir lima kali atas satu jenazah. Aku lantas bertanya tentang hal itu kepadanya, lalu dia menjawab, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun bertakbir seperti itu.” (HR. Muslim)

 

Shalat jenazah dengan enam takbir dan tujuh takbir, berdasarkan atsar berikut:

 

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مُعَقَّل أَنَّ عَلِيًّا رضي الله عنه صَلىَّ عَلَى سَهْلٍ بْنِ حُنَيْفٍ فَكَبَّرَ عَلَيْهِ سِتًّا

 

“Dari ‘Abdullah bin Mughaffal, bahwasanya ‘Ali (bin Abi Thalib) –radhiyallahu ‘anhu- shalat atas jenazah Sahl bin Hunaif, lalu dia bertakbir enam kali.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Kabir)

 

عَنْ مُوْسَى بن عبد الله أَنَّ عَلياً صَلَّى عَلَى أَبَا قَتَادَةَ، فَكَبَّرَ عَلَيْهِ سَبْعاً

 

“Dari Musa bin ‘Abdillah, bahwasanya ‘Ali (bin Abi Thalib) shalat atas jenazah Abu Qatadah, lalu dia bertakbir tujuh kali.” (Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dan al-Baihaqi)

 

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata dalam Ahkam al-Jana-iz wa Bida’uha:

 

وأما لست والسبع ، ففيها بعض الاثار الموقوفة ، ولكنها في حكم الاحاديث المرفوعة ، لان بعض كبار الصحابة أتى بها على مشهد من الصحابة دون أن يعترض عليه أحد منهم

 

Adapun (shalat jenazah) dengan enam kali takbir dan tujuh kali takbir, maka dalam hal tersebut terdapat beberapa atsar berupa riwayat-riwayat yang mauquf. Akan tetapi atsar-atsar tersebut memiliki status hukum yang sama dengan riwayat-riwayat yang marfu’ (kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam) karena beberapa pembesar shahabat pernah mengerjakannya dengan penyaksian para shahabat lainnya tanpa seorang pun di antara mereka yang membantahnya …

 

Syaikh al-Albani juga berkata dalam catatan kaki Ahkam al-Jana-iz wa Bida’uha:

 

قلت : فهذه آثار صحيحه عن الصحابة تدل على أن العمل بالخمس والست تكبيرات الستمر إلى ما بعد النبي صلى الله عليه وسلم خلافا لمن ادعى الاجماع على الاربع فقط ، وقد حقق القول في بطلان هذه الدعوى ابن حزم في ” المحل ” ( 5 / 124 – 125 ) .

 

Aku katakan, “Atsar-atsar ini shahih bersumber dari shahabat dan menunjukkan bahwa pelaksanaan shalat jenazah dengan lima takbir dan enam takbir terus berlanjut sepeninggal Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bertentangan dengan pengakuan orang yang mengklaim tentang adanya ijma’ (kesepakatan) bahwa takbir shalat jenazah itu hanya empat kali saja. Dan Ibnu Hazm telah menguatkan pendapat yang membatalkan klaim ijma’ tersebut di dalam kitab al-Muhalla (5/124-125) …

 

Shalat jenazah dengan sembilan takbir, berdasarkan hadits berikut:

 

عن عبد الله بن الزبير: أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى على حمزة فكبر عليه تسع تكبيرات

 

Dari ‘Abdullah bin az-Zubair, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– shalat atas jenazah Hamzah lalu beliau bertakbir sembilan kali. (Dikeluarkan oleh ath-Thahawi dalam al-Ma’ani al-Atsar 1/290)

 

عن عبد الله بن عباس قال :”لما وقف رسول الله صلى الله عليه وسلم على حمزة… أمر به فهيى إلى القبلة ، ثم كبر عليه تسعا

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, dia berkata, “Tatkala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berhenti di dekat jenazah Hamzah … beliau pun memerintahkan agar jenazah Hamzah disiapkan ke arah kiblat, lalu beliau pun shalat atas jenazahnya dengan sembilan takbir.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir)

 

Bandung, 14 Oktober 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

23 comments on “Menungkai Rintih …

  1. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati kakakmu. aamiin.

  2. Indah says:

    *Semoga Allah merahmati kakakku …

    Aamiin..Allohumma aamiin…

  3. Novi Kurnia says:

    Belum belajar salat jenazah juga sampai tua begini. Hmm. Jazakallah khairan tentang takbir-takbir salat jenazahnya.

    Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, juga sesama saudara pohon tidak jauh berbeda. Insya Allah

  4. matahari_terbit says:

    *makin galau tentang atsar.. @_@

    • tipongtuktuk says:

      Fajar sudah nanya belum sama ustadz-mu?
      ayo semangat … he he he …

      atau barangkali sebutan lain untuk hadits mauquf itu adalah atsar … -wallahu a’lamu, demikianlah sebagian ulama mengistilahkannya …

      • matahari_terbit says:

        belum.. mesti fajar pelajari bener2 dulu.. contoh2 & pengertian2 yang ada..
        baru minta waktu ustadz bahas beberapa list pertanyaan fajar yang cukup berat di otak

        iya beberapa ulama menyatakan begitu..
        tapi fajar jadi bingung.. berarti kan kalo gitu ga semua hadits mauquf itu dari tindakan rasulullaah..
        tapi bisa jadi ijtihad shahabat..
        lalu bagaimana dengan perkataan para shahabat..
        misal kata2 Ali tentang kejahatan teroganisir mampu mengalahkan kebaikan terorganisir..

        trus pertanyaan berikutnya lalu bolehkah kita mengambil hukum dari hadits mauquf ataupun maqthu’ kalo memang itu sama dengan atsar..

        meskipun bukan ijma’..

        itu inti masalah napa fajar beneran tanya ttg bedanya atsar & hadits mauquf..

        dulu fajar mikirnya.. hadits mauquf itu ya sumber utamanya dari rasulullaah hanya segi sanad saja berhenti di tataran shahabat..
        lah.. lalu kalo atsar ntu ya yang sumber utamnya dari shahabat..

        kalo ternyata sama, berarti yang fajar pahami dari apa yang fajar baca selama ini salah..

        @_@
        *makanya galau.. hehehe

      • tipongtuktuk says:

        Manggut-manggut –tuing tuing tuing … betul sekali, berarti perkara itu memang harus segera Fajar tanyakan kepada ustadz-mu yang mumpuni ilmunya. Takkan tersembunyi bagi beliau apa yang tersembunyi bagi kita …

        53m4n6444444444TTTTT … he he he …

        iya benar, ada di antara hadits-hadits mauquf itu yang isi “beritanya atau perkataannya atau perbuatannya” merupakan ijtihad shahabat dan ada pula yang isi “beritanya atau perkataannya atau perbuatannya” dianggap punya status hukum marfu’ kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini, para ulamalah yang memiliki kemampuan untuk menelitinya berdasarkan kaidah-kaidah, qarinah-qarinah, dan informasi-informasi ilmiyah lainnya yang mereka ketahui, apakah hadits mauquf tersebut merupakan ijtihad shahabat ataukah merupakan perbuatan yang diambil dari sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam …

        Sebagai contoh, sebagian ulama hadits telah menganggap bahwa atsar (hadits mauquf) ‘Ali di atas, yang menyebutkan bahwa ‘Ali bertakbir enam kali, bukanlah ijtihad ‘Ali melainkan perbuatan dari sunnah yang diteladani oleh ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu. Alasannya menurut para ulama tersebut –sebagaimana diikuti oleh Syaikh al-Albani- banyak atsar lainnya pula dari shahabat, juga bahwasanya perbuatan itu dilakukan di hadapan para shahabat lain tanpa ada yang menentangnya. Tidak adanya penentangan dari para shahabat yang menyaksikan perbuatan tersebut inilah yang menjadikan para ulama menganggap bahwa hal itu diambil dari sunnah, sebab para shahabat tidak mungkin berdiam diri dari perkara yang muhdats. Dan ini bukanlah pendapat Syaikh al-Albani semata. Sungguh telah terdahulu pendapat ini dikemukakan oleh para ulama sebelum Syaikh al-Albani … rahimahumullah …

        Begitu juga tentang hadits mauquf yang merupakan ijtihad shahabat, maka para ulama pulalah yang bisa mengetahui bahwa hal tersebut merupakan ijtihad shahabat … wallahu a’lamu …

        Keadaan ini membuat kita sadar akan tingginya kedudukan ulama … sungguh para ulama telah mencapai ilmu –dengan izin Allah- yang belum kita capai, sehingga apa yang bagi para ulama tidak tersembunyi, masih saja tersembunyi bagi kita …

  5. matahari_terbit says:

    iyaaaaaa baaaang heeeeeeeeeeennddd.. *maluuu masih males2an,,
    *nunduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s