Hanya Saja Tak Ada Asalnya …

Di antara ucapan yang terkenal dan dianggap sebagai hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– padahal tidak ada asalnya dan tidak pula ada sanadnya:

 

أنا أفصح من نطق بالضاد بيد أنى من قريش … (قال ابن كثير رحمه الله في تفسيره لآخر سورة الفاتحة: لا أصل له. وقال الألباني في أحكام الجنازة وبدعها –صفحة ۲۲۹- : فلا أصل له كما قال الشوكاني في الفوائد المجموعة ٣۲١)

 

“Aku orang Arab yang paling fasih melafalkan huruf Dhadh, hanya saja aku seorang Quraisy ….

(Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata dalam tafsirnya di bagian akhir tafsir surah al-Fatihah, “(Hadits ini) tidak ada asalnya,” dan Syaikh al-Albani berkata dalam Ahkam al-Jana-iz wa Bida’uha, halaman 229, “(Hadits ini) tidak ada asalnya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam asy-Syaukani dalam al-Fawa-id al-Majmu’ah 321.”)

 

Barangkali kata “baida (hanya saja)” dalam redaksi di atas masuk ke dalam uslub ungkapan:

 

تَأكِيْدُ الْمَدْحِ بِمَا يُشْبِهُ الذَّمِ

“Memperkuat pujian dengan apa yang menyerupai celaan.”

 

Jika demikian, mungkin makna dari hadits yang tak ada asalnya itu adalah, “Aku orang Arab yang paling fasih melafalkan huruf Dhadh dengan sebab aku seorang Quraisy …,” atau barangkali, “Selain aku seorang Quraisy, aku juga orang Arab yang paling fasih melafalkan huruf Dhadh ….

Dalam redaksi yang lain -yang juga terkenal dan sama-sama tidak ada asalnya, tidak ada sanadnya, juga tidak diketahui orang yang mengeluarkannya- adalah:

 

أنا أفصح العرب، بيد أني من قريش … (قال السيوطي : أورده أصحاب الغرائب ، ولا يعلم من خرجه ولا إسناده)

 

“Aku sefasih-fasih orang Arab dengan sebab aku seorang Quraisy ….”

(Imam as-Suyuthi berkata, “Hadits ini berasal dari ash-hab al-ghara-ib, dan tak diketahui siapa yang mengeluarkannya, tidak juga sanadnya.”)

 

 

Bandung, 11 November 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

34 comments on “Hanya Saja Tak Ada Asalnya …

  1. Novi Kurnia says:

    Alhamdulillah, ga pernah dengar hadis ini. Dikit amat jurnalnya, kang? he he

  2. saya pernah denger hadits itu, kang
    terima kasih atan ilmunya

  3. matahari_terbit says:

    idem mba novii.. belum pernah tau ato denger.. hahaha..

    keknya di pelajaran tahsin juga alhamdulillaah kagak pernah ada yang bilang itu.. hihihi

    *duuuh jadi inget PR huruf ha & shad masih belum bener
    huhu

  4. matahari_terbit says:

    Ahkam al-Jana-iz wa Bida’uha itu kitab apa bang?

    • tipongtuktuk says:

      itu kitab karya Syaikh al-Albani, tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan jenazah … tentang shalat jenazah, memandikan jenazah, dan hal-hal lainnya secara lengkat -juga tentang bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan semua itu …

      alhamdulillah, ini sebuah kitab yang penuh faidah …

  5. baru denger juga nih Mas Hen
    terimakasih ya, jadi suatu hari saya denger dari seseorang, semoga saat itu saya ingat postingan ini dan bisa menjelaskannya ya

  6. matahari_terbit says:

    bahasa arab ltuuuuuuu……. aiiiiiiiihh.. cakep bener ya..

  7. matahari_terbit says:

    “Memperkuat pujian dengan apa yang menyerupai celaan.”

    iya ya.. kesannya ‘merendah’ =D

  8. matahari_terbit says:

    btw.. yang ntuuu

    Istawa Allah ta’ala di atas ‘Arsy-Nya merupakan sifat fi’liyah khabariyah yang berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya …

    Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya ketika Allah telah menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Langit yang tujuh jika dibandingkan dengan al-kursiy tak ubahnya seperti gelang di sahara. Demikian pula keunggulan al-‘arsy atas al-kursiy, yaitu seperti keunggulanan sahara atas gelang.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 109)

    al-Hafizh Ibnu Akhram (301 H) berkata, “Dan kami katakan, Allah di atas ‘Arsy sedangkan ilmu-Nya meliputi dunia dan akhirat.” (Tarikh Islam; Tadzkir al-Huffazh)

    Ibnu ‘Abd al-Hadi al-Hanbali (774 H) berkata, “Dan Dia –subhanahu- berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya.” (ash-Sharim al-Manki fi ar-Radd ‘ala as-Subki)

    Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (751 H) berkata, “Dia –subhanahu- berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya dan terpisah dari makhluk-Nya.” (Madarij as-Salikin)

    kenapa kagak dibikin postingan di mari juga? +_+a

  9. matahari_terbit says:

    haghaghag.. jadi inget hobi awal2 utak-atik alat elektronik dulu = kesetrum =))))

  10. matahari_terbit says:

    oiyaaaaaaaaa baaaaaaaaang heeeeeeeeeeendd.. *kumat brisik

    tanya dunk.. tentang hadits bahwa hidup dan mati itu adalah makhluk dan di akhirat kelak si makhluk maut itu dilenyapkan, pernah denger ga?

    derajat haditsnya gimana? ato kagak ada sanadnya juga =O

    • tipongtuktuk says:

      kalau tak salah pernah saya tulis di salah satu komen jurnal mp saya … he he he …

      iya, kelak di akhirat, Allah akan mendatangkan kematian dalam bentuk seekor kambing, lalu kambing itu di sembelih disaksikan oleh penghuni surga dan nereka, sehingga setelah itu tidak akan ada kematian lagi …

      hadits tentang penyembelihat “kematian” itu shahih … wallahu a’lamu …

      • matahari_terbit says:

        wooh iya yaaa.. nah kan kumat lupanya

        baiklaah akan fajar ubek2 lagi jurnalnya.. hehehe

        untung MP belum ilang.. =))) kalo di wp ngeliat komen agak susah =D apalagi yang pindahan.. hehehe

      • tipongtuktuk says:

        kalau tak salah sih pernah nulis komen begitu … he he he …

  11. nengwie says:

    Jazakalloh khoir kang Hend….
    sudah sepuh teh, lidahna balelol..meni sesaaaah pisan eta lulus kelas tahsin 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s