Sungguh Permintaan Kita kepada-Nya Bukanlah Tuduhan dan Kecurigaan …

روي عن كعب الأحبار: أن إبراهيم عليه الصلاة والسلام … لما رموا به في المنجنيق إلى النار استقبله جبريل فقال : يا إبراهيم ألك حاجة ؟ قال : أما إليك فلا ، قال جبريل: فسل ربك ، فقال إبراهيم: حسبي من سؤالي علمه بحالي (قال الشيخ الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة (١/ ۲١): لا أصل له. أورده بعضهم من قول إبراهيم عليه الصلاة و السلام ، و هو من الإسرائيليات و لا أصل له في المرفوع … ثم وجدت الحديث قد أورده ابن عراق في تنزيه الشريعة المرفوعة عن الأخبار الشنيعة الموضوعة وقال (١/۲٥٠ ): قال ابن تيمية موضوع)

Diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, bahwasanya Nabi Ibrahim –‘alaihish shalatu was salam, tatkala beliau dilemparkan ke dalam api dengan menggunakan manjaniq (katapel perang), datanglah Jibril seraya berkata kepada beliau, “Wahai Ibrahim, apakah kau mempunyai kebutuhan?”

Ibrahim menjawab, “Adapun darimu, aku tak membutuhkan apa pun.” 

Jibril berkata, “Maka memohonlah kepada Rabb-mu!”

Ibrahim menjawab, “Cukuplah bagiku pengetahuan-Nya tentang keadaanku sebagai permohonan (kepada-Nya).”

(Syaikh al-Albani berkara dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah 1/21: Hadits ini tidak ada asalnya. Sebagian di antara mereka menyebutkannya sebagai ucapan Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam, padahal itu merupakan riwayat Israiliyah yang tak ada asalnya secara marfu’ … kemudian aku temukan hadits ini disebutkan oleh Ibnu ‘Iraq di dalam Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Akhbar asy-Syani’ah al-Maudhu’ah 1/250, dan Ibnu ‘Iraq berkata, “Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini palsu.”)

 

Barangkali hadits palsu inilah yang menjadi dasar bagi ucapan sebagian kaum Sufi yang mengatakan:

طلبك منه اتهام له وطلبك له غيبه منك عنه

“Permintaanmu (akan sesuatu) dari-Nya merupakan kecurigaanmu kepada-Nya, permintaanmu bagi-Nya akan diri-Nya menunjukkan ketidakhadiran-Nya darimu.”

Ucapan tersebut merupakan ucapan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, penulis kitab al-Hikam, seorang Sufi dari thariqah asy-Syadziliyyah. Ibnu Katsir berkata tentang Ibnu ‘Athaillah:

… وكان ممن قام على شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، وتسبب مع جماعة من الصوفية في حبسه ظلماً بمصر سنة (۷۰۷)هـ، حيث ادعى عليه أشياء لم يثبت منها شيء (البداية والنهاية ١٤/٤۷)

“… (Ibnu ‘Athaillah) termasuk di antara orang-orang yang bangkit (menentang) Syaikh Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah, dan bersama-sama dengan kelompok sufi menjadi penyebab Syaikh Islam Ibn Taimiyah dipenjara secara zalim di negeri Mesir pada tahun 707 Hijriyah, dengan menuduhkan hal-hal yang sama sekali tidak benar.” (al-Bidayah wa an-Nihayah: 14/47)

قال الشيخ محمود مهدي الإستانبولي رحمه الله في كتب ليست من الإسلام (۸۸): ويستدلّ ابن عطاء الله على ذلك بحديث باطل على لسان إبراهيم عليه الصلاة والسلام: حسبي من سؤالي علمه بحالي، وهو مخالف للآيات والأحاديث الكثيرة التي تحض على دعاء الله كقوله تعالى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي- أي : عن دعائي- سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ) غافر/ 60

 

Syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuli –rahimahullah– berkata di dalam Kutub Laisat Min al-Islam (88):

Ibnu ‘Athaillah telah berdalil atas ucapannya itu (yakni ucapan: Permintaanmu akan sesuatu dari-Nya merupakan kecurigaanmu kepada-Nya, permintaanmu bagi-Nya akan diri-Nya menunjukkan ketidakhadiran-Nya darimu –pent) dengan hadits batil (yang dikatakan sebagai) ucapan Nabi Ibrahim –‘alaihis shalatu was salam, “Cukuplah bagiku pengetahuan-Nya tentang keadaanku sebagai permohonan (kepada-Nya),” padahal itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits yang menganjurkan untuk berdoa kepada Allah, sebagaimana firman-Nya ta’ala, “Dan Rabb-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (yakni: dari berdoa kepadaku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. al-Mu’min: 60)

 

قال الألباني رحمه الله في سلسلة الأحاديث الضعيفة (١/ ۲١): وقد أخذ هذا المعنى بعض من صنف في الحكمة على طريقة الصوفية فقال: “سؤالك منه اتهام له” وهذه ضلالة كبرى ! فهل كان الأنبياء صلوات الله عليهم متهمين لربهم حين سألوه مختلف الأسئلة ؟ فهذا إبراهيم عليه الصلاة والسلام يقول: رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنْ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنْ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ * رَبَّنَا . . . (إبراهيم /٣۷-٣۸) . إلى آخر الآيات ، وكلها أدعية وأدعية الأنبياء في الكتاب والسنة لا تكاد تحصى ، والقائل المشار إليه قد غفل عن كون الدعاء الذي هو تضرع والتجاء إلى الله تعالى عبادة عظيمة، بغض النظر عن ماهية الحاجة المسؤولة ، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: (الدعاء هو العبادة ) ثم تلا قوله تعالى : ( وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ) غافر/60.

وذلك لأن الدعاء يظهر عبودية العبد لربه وحاجته إليه ومسكنته بين يديه ، من رغب عن دعائه ، فكأنه رغب عن عبادته سبحانه وتعالى ، فلا جرم جاءت الأحاديث متضافرة في الأمر به والحض عليه حتى قال صلى الله عليه وسلم: ” من لا يدع الله يغضب عليه ” (أخرجه الحاكم -١/٤٩١- وصححه ووافقه الذهبي وهو حديث حسن)

وقال صلى الله عليه وسلم: سلوا الله كل شيء حتى الشسع، فإن الله عز وجل إن لم ييسره لم يتيسر (أخرجه ابن السني -رقم ٣٤٩- بسند حسن، وله شاهد من حديث أنس عن الترمذي (٤/۲٩۲) وغيره)

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (1/21):

Makna dari hadits ini (yakni hadits palsu di atas –pent) telah diambil oleh orang yang menyusun hikmah di atas thariqah shufiyyah dengan mengatakan, “Permintaanmu (akan sesuatu) dari-Nya merupakan kecurigaanmu kepada-Nya,” dan ucapan ini merupakan kesesatan yang besar. Apakah mungkin para nabi –shalawatullah ‘alaihim– mencurigai (menuduh) Rabb mereka ketika memohon kepada-Nya? (Padahal) Nabi Ibrahim –‘alaihish shalatu was salam– pun berdoa, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.  Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan,” (QS. Ibrahim: 37-38), semuanya merupakan doa dan doa para nabi di dalam kitab dan sunnah hampir-hampir tak terhitung jumlahnya.

Orang yang mengatakan ucapan tersebut (yakni ucapan: Permintaanmu akan sesuatu dari-Nya merupakan kecurigaanmu kepada-Nyapent), telah lalai akan hakikat doa yang merupakan ibadah yang sangat agung -yang dengannya dia tunduk dan bersandar kepada Allah ta’ala, terlepas dari hal apa yang diminta. Mengenai hal ini Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Doa itu ibadah,”  kemudian beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– membacakan firman Allah, “Dan Rabb-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku -yakni: dari berdoa kepadaku- akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. al-Mu’min: 60)

Demikianlah, karena doa itu menunjukkan peribadahan seorang hamba kepada Rabb-nya dan (menunjukkan pula) kebutuhan dirinya terhadap-Nya serta ketidakberdayaannya. Barangsiapa yang meninggalkan doa kepada Allah maka seakan-akan dia meningalkan ibadah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala. Telah pasti pula hadits-hadits yang mendorong dan menganjurkan untuk berdoa, sampai-sampai Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

“Siapa yang tak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”

(Hadits ini dekeluarkan oleh al-Hakim 1/491, dan dia menyatakan shahih dan adz-Dzahabi menyetujuinya, dan ini merupakan hadits hasan)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:

“Mintalah apa pun kepada Allah sampai pun tali sandal karena jika Allah -‘azza wa jalla- tak memberikan kemudahan, maka hal itu takkan menjadi mudah.”

(Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu as-Sunni nomor 349 dengan sanad hasan, dan baginya terdapat syahid dari hadits Anas yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi 4/292 dan selainnya)

 

Bandung, 19 November 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

26 comments on “Sungguh Permintaan Kita kepada-Nya Bukanlah Tuduhan dan Kecurigaan …

  1. matahari_terbit says:

    *nyimak

  2. Novi Kurnia says:

    pernah dengar ucapan itu dari mulut seseorang.

  3. matahari_terbit says:

    naaaaaaaah pemikiran begitu emang bahaya..

  4. “doa itu ibadah” ~> suka 😀

  5. Dari hadist palsu itu, baru tahu bahwa ada orang yang menganggap doa sebagai sesuatu yang negatif. Apa benar kalau sufi itu terkadang nyeleneh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s