Waktu, Lelatu Api …

Lelaki- Lelatu Api

 

Telah nyata jemari senja menjentik senda gurauku. Ia bilang, waktu telah menjadi lelatu api. Sila kaulihat, meski harapan berputaran menjadi candu, mimpi-mimpi tetaplah berkalang tanah … -kaupikir di mana kemarin dan ke mana kemarin? Barangkali mintakat yang berasap turut menghalangi mataku dari kejelasan … -hanya hati, ia menjadi rumah sederhana tempatku menetap dan menatap binar-binar gemintang langit …

——————————————

 *renungan:

قال رسول الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يَتقارَبَ الزَّمانُ، فتَكونُ السَّنةُ كالشَّهرِ، والشَّهرُ كالجُمُعةِ، وتكونُ الجُمُعةُ كاليومِ، ويكونُ اليومُ كالسَّاعةِ، وتكونُ السَّاعةُ كالضَّرْمةِ بالنَّارِ. -حديث صحيح رواه أحمد والترمذي عن أنس ورواه أحمد وابن حبان عن أبي هريرة وهو في صحيح الجامع لشيخ الألباني برقم (۷٤۲۲)

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Takkan terjadi kiamat hingga jarak waktu jadi semakin berdekatan. Satu tahun seakan jadi sebulan, satu bulan seakan jadi sejumat, satu Jumat seakan jadi sehari, satu hari seakan jadi sesaat, dan sesaat seakan jadi sepercik api.”

(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tidmidzi dari Anas; dan diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Hibban dari Abu Hurairah; terdapat di kitab Shahih al-Jami’ no. 7422 susunan Syaikh al-Albani)

 

Bandung, 24 Desember 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Kerapuhan Penuturan Tentang Kisah Halimah as-Sa’diyah …

Halimah as-Sa'diyah

Salah satu di antara kisah-kisah lemah yang sering kita dengar atau baca adalah kisah tentang perjalanan Halimah as-Sa’diyah bersama suami dan para perempuan kabilah Bani Sa’d bin Bakr menuju Mekah untuk mencari anak-anak susuan. Berikut ini saya nukilkan –juga alihbahasakan- penjelasan Syaikh ‘Ali Hasyisy al-Mishri –hafizhahullah– di kitab Tahdzir ad-Da’iyah min al-Qishah al-Wahiyah (1/42-48) mengenai kelemahan kisah tersebut …

MATAN (Redaksi) Kisah

 

قال ابن إسحاق كانت حليمة تحدث: (أنها خرجت من بلدها مع زوجها وابن لها ترضعه في نسوة من بني سعد بن بكر، تلتمس الرضعاء، قالت: وذلك وفي سنة شهباء لم تبق لنا شيئا، قالت: فخرجت على أتان لي قمراء، معنا شارف لنا، والله ما تبض بقطرة، ولا ننام ليلتنا أجمع من صبينا الذي معنا من بكائه من الجوع، ما في ثديي ما يغنيه، وما في شارفنا ما يغذيه، ولكنا نرجوا الغيث والفرج، فخرجت على أتاني تلك، فلقد أذمت بالركب حتى شق ذلك عليهم ضعفا وعجفا، حتى قدمنا مكة نلتمس الرضعاء، فما منا امرأة إلا وقد عرض عليها رسول الله {صلى الله عليه وسلم} فتأباه، إذا قيل لها: إنه يتيم، وذلك أنا إنما كنا نرجو المعروف من أبي الصبي، فكنا نقول: يتيم ما عسى أن تصنع أمه وجده؟ فكنا نكرهه لذلك، فما بقيت امرأة قدمت معي إلا أخذت رضيعا غيري، فلما أجمعنا الانطلاق قلت لصاحبي والله إني لأكره أن أرجع من بين صواحبي ولم آخذ رضيعا والله لأذهبن إلى ذلك اليتيم فلآخذنه، قال لا عليك أن تفعلي عسى الله أن يجعل لنا فيه بركة، قالت: فذهبت إليه فأخذته وما حملني على أخذه إلا أني لم أجد غيره. فلما أخذته رجعت به إلى رحلى فلما وضعته في حجري أقبل عليه ثدياي بما شاء من لبن فشرب حتى روى، وشرب معه أخوه حتى روى، ثم ناما، وما كنا ننام معه قبل ذلك، وقام زوجي إلى شارفنا تلك، فإذا هي حافل، فحلب منها ما شرب وشربت حتى انتهينا ريا وشبعا، فبتنا بخير ليلة.

قالت: يقول صاحبي حين أصبحنا: تعلمي والله يا حليمة، لقد أخذت نسمة مباركة، قلت: فقلت: والله إني لأرجو ذلك. قالت: ثم خرجنا وركبت أنا أتاني، وحملته عليها معي، فوالله لقطعت بالركب ما يقدر علي شيء من حمرهم، حتى إن صواحبي ليقلن لي: يا ابنة أبي ذؤيب، ويحك اربعي علينا، أليست هذه أتانك التي كنت خرجت عليها، فأقول لهن: بلى والله إنها لهي هي، فيقلن: والله إن لها شأنا. قالت: ثم قدمنا منازلنا من بلاد بني سعد، ولا أعلم أرضا من أرض الله أجدب منها، فكانت غنمى تروح علي حين قدمنا به معنا شباعا لبنا، فنحلب ونشرب، وما يحلب إنسان قطرة لبن، ولا يجدها في ضرع، حتى كان الحاضرون من قومنا يقولون لرعيانهم، ويلكم اسرحوا حيث يسرح راعي بنت أبي ذؤيب، فتروح أغناهم جياعا ما تبض بقطرة لبن، وتروح غنمي شباعا لبنا، فلم نزل نتعرف من الله الزيادة والخير حتى مضت سنتان وفصلته، وكان يشب شبابا لا يشبه الغلمان، فلم يبلغ سنتيه حتى كان غلاما جفرا. قالت: فقدمنا به على أمه، ونحن أحرص على مكثه فينا، لما كنا نرى من بركته، فكلمنا أمه، وقلت لها: لو تركت ابنى عندي حتى يغلظ، فإني أخشى عليه وباء مكة. قالت: فلم نزل بها حتى ردته معنا)

 

Ibn Ishaq mengatakan:

Halimah mengisahkan bahwa dirinya pergi dari kampung halamannya bersama suami dan anaknya yang masih menyusu, juga para perempuan Bani Sa’d bin Bakr untuk mencari anak-anak yang bisa mereka susui (anak susuan).

Halimah mengatakan:

Itu terjadi pada tahun paceklik yang tak memberikan apa pun kepada kami. Aku berangkat dengan mengendarai keledai betina berwarna putih kehijau-hijauan. Kami juga membawa unta betina tua yang –demi Allah- sudah tak banyak mengeluarkan susu. Kami melewati malam tanpa bisa tidur karena tangis lapar anak kami, sementara payudaraku sudah tak mengeluarkan susu yang mencukupi baginya (karena kurang asupan makanan –pent), begitu juga dengan (susu) dari unta betina tua kami. (Dalam kondisi seperti itu), kami mengharapkan hujan dan (air) lembah. Aku melanjutkan perjalanan mengendarai keledai betinaku yang telah begitu lemah dan kurus sehingga menghambat dan menyusahkan kabilah sampai akhirnya kami sampai di Mekah dan mencari anak-anak susuan.

Tak ada seorang pun perempuan dari kabilah kami yang menerima Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai anak susuan saat dikatakan, “Dia ini anak yatim.” Hal itu dikarenakan kami memang mengharapkan imbalan dari ayah si anak. Kami berpikir, “Apa yang bisa diperbuat oleh ibu dan kakek dari seorang anak yatim (untuk membayar kami)?” Karena itulah kami enggan untuk menerima Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hanya tinggal aku saja yang belum mendapatkan anak susuan di antara semua perempuan yang datang bersamaku. Tatkala kami akan kembali ke kampung halaman, aku lantas berkata kepada suamiku, “Demi Allah, aku enggan pulang bersama rombongan tanpa mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku benar-benar akan kembali ke tempat anak yatim itu dan benar-benar akan mengambilnya sebagai anak susuan!” Suamiku pun berkata, “Tiada halangan untuk kau lakukan, semoga Allah menjadikan pada dirinya keberkahan bagi kita.”

Aku pun kembali kepada (keluarga) Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan mengambilnya sebagai anak susuan. Tidak ada yang mendorongku untuk membawanya kecuali karena aku tak mendapatkan anak lain.

Setelah mendapatkannya, aku pun membawa anak susuku menaiki tungganganku dan memberikan payudaraku yang ternyata penuh dengan susu kepadanya. Dia pun menyusu sampai puas kemudian tidur. Demikian juga dengan saudara sepersusuannya (anakku), padahal sebelumnya kami tak pernah bisa tidur karena (anakku) selalu menangis. Sementara itu, suamiku beranjak menuju unta betina tua kami, dan ternyata ambing susunya padat berisi. Suamiku pun memerahnya hingga aku minum susu bersamanya sampai puas dan kenyang lalu menghabiskan malam dengan indah.

Ketika hari telah mendusin, suamiku berkata, “Demi Allah aku tahu, wahai Halimah! Sungguh kamu telah mengambil jiwa yang penuh berkah.” Aku lantas berkata, “Demi Allah, itulah yang kuharapkan.”

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Aku menunggangi lagi keledai betinaku dengan membawa anak susuanku. Maka demi Allah, keledai betinaku berlari begitu cepat mengalahkan keledai-keledai mereka, sampai-sampai kawan-kawanku berkata kepadaku, “Celaka kamu, Wahai putri Abu Dzu’aib! Berhenti dan tunggulah kami! Apakah keledai betinamu ini bukan keledai betina yang kau kendarai saat kau pergi?” Maka aku pun menjawab, “Bahkan, demi Allah, ini keledai betinaku yang kemarin!” Mereka berkata lagi, “Demi Allah, pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya!” Kemudian kami pun tiba di kampung halaman kami, Kabilah Bani Sa’d.

Aku tak mengetahui negeri mana di bumi Allah yang lebih gersang dari perkampungan Bani Sa’d, namun kambingku selalu pulang (dari tempat penggembalaan) di sore hari dalam keadaan penuh dengan susu sehingga kami pun memerah dan meminumnya. Berbeda dengan kaumku, mereka tak mendapatkan setetes pun susu dari ambing kambing yang mereka perah. (Mengetahui hal itu), orang-orang dari kabilah kami pun berkata kepada para penggembala kambing, “Celaka kalian! Gembalakanlah kambing-kambing kami di tempat penggembala kambing putri Abu Dzu’aib menggembalakan kambingnya!”  Akan tetapi, tetap saja kambing-kambing mereka pulang dalam keadaan lapar dan tak mengeluarkan setetes susu pun, sementara kambingku pulang dalam keadaan penuh dengan susu. Terus-menerus kami memperoleh rezeki dari Allah ini selama dua tahun hingga tiba waktu penyapihan bagi anak susuku, dan dia mengalami pertumbuhan melebihi pertumbuhan anak-anak lainnya, dan tidaklah dia mencapai usia itu melainkan sebagai seorang anak yang kuat.

Kami mengembalikan anak susuan kami itu kepada ibunya, sementara kami sangat ingin agar dia tetap tinggal bersama kami setelah kami melihat keberkahan pada dirinya. Kami pun berbincang dengan ibunya dan kukatakan kepadanya, “Seandainya kau biarkan dia tinggal bersamaku hingga besar, karena aku sungguh khawatir iklim kota Mekah tidak cocok baginya.” Tak henti-hentinya kami meminta (kepada ibunya) hingga akhirnya dia mengizinkan anaknya dibawa lagi oleh kami.

TAKHRIJ (Sumber Pemberitaan kisah)

 

القصة أخرج حديثها: أبو يعلى في مسنده (١٣/٩٣) ح (٧١٦٣)، والطبراني في الكبير (٢٤/٢١٣) ح (٥٤٥)، وأبو نعيم في دلائل النبوة (١/١٩٣-١٩٦) ح (۹٣)، وابن حبان ح (٢۹٤-موارد)، وابن هشام في السيرة (١/۲١١) كلهم من طريق ابن إسحاق قال: حدثنى جهم بن أبى جهم مولى الحاريث بن حاطب الجمحى، عن عبد الله بن جعفر بن أبى طالب، أو عمن حدثه عنه، قال: (كانت حليمة بنت أبى ذؤيب السعدية أم رسول الله صلى الله عليه وسلم التى أرضعته تحدث أنها خرجت من بلدها مع زودها …) القصة

 

Kisah di atas dikeluarkan oleh Abu Ya’la di kitab Musnad (13/93; nomor hadits 8163), ath-Thabarani di kitab al-Kabir (24/213; nomor hadits 545), Abu Nu’aim di kitab Dala-il an-Nubuwwah (1/193-196; nomor hadits 93), Ibn Hibban di kitab Mawarid (293), dan Ibn Hisyam di kitab Sirah (1/211); semua dari jalan Ibn Ishaq, dia mengatakan: telah mengabarkan kepadaku Jahm bin Abu Jahm maula al-Harits bin Hatib al-Jamhi, dari ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang memberi kabar dari ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, dia berkata, “Halimah binti Abu Dzu’aib as-Sa’diyah, ibu susu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa dirinya pergi dari kampung halamannya bersama suaminya….” –sampai akhir kisah …

 

والحديث أورده ابن كثير في البداية والنهاية (۲/٦٦١) تحت عنوان (رضاعه عليه الصلاة والسلام من حليمة بنت ابي ذؤيب السعدية وما ظهر عليها من البركة وآيات النبوة) حيث قال: قال ابن إسحاق: حدثني جهم بن أبى جهم مولى لامرأة من بنى تميم كانت عند الحارث بن حاطب، ويقال له: مولى الحارث بن حاطب، قال: حدثني من سمع عبد الله بن جعفر بن أبى طالب، قال: حدثت عن حليمة بنت الحارث أنها قالت: قدمت إلى مكة في نسوة …)

 

Hadits ini juga disebutkan oleh Ibn Katsir di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (2/661) di bawah tajuk “Penyusuan Beliau –‘alaihish shalatu was salam- kepada Halimah binti Abu Dzu’aib as-Sa’diyah dan apa yang Tampak bagi Halimah dari Keberkahan dan Tanda-Tanda Kenabian”. Di tempat itu Ibn Katsir berkata:

Ibn Ishaq mengatakan: telah mengabarkan kepadaku Jahm bin Abu Jahm maula dari salah seorang perempuan Bani Tamim (dan ada yang mengatakan bahwa dia itu maula al-Harits bin Hathib), bahwa dia pernah berada di dekat al-Harits bin Hathib, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku seseorang yang mendengar ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Hathib, dia berkata: dikabarkan kepadaku dari Halimah binti al-Harits, bahwasanya dia berkata, “Aku pergi menuju Mekah bersama para perempuan ….”

 

والحديث أخرجه البيهقي في دلائل النبوة (١/١٣۲-١٣٣) من طريق ابن إسحاق قال: حدثني جهم بن أبى جهم مولى لامرأة من بنى تميم كانت عند الحارث بن حاطب، فكان يقال: مولى الحارث بن حاطب، قال: حدثني من سمع عبد الله بن جعفر بن أبى طالب، يقول: حدثت عن حليمة بنت الحارث أم رسول الله صلى الله عليه وسلم التى أرضعته أنها قالت: قدمت مكة في نسوة من بنى سعد بن بكر …)

 

Hadits ini juga dikeluarkan oleh al-Baihaqi di kitab Dala-il an-Nubuwwah (1/132-133) dari jalan Ibn Ishaq, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Jahm bin Abu Jahm maula dari salah seorang perempuan Bani Tamim (dikatakan juga dia itu maula al-Harits bin Hathib), bahwa dia pernah berada di dekat al-Harits bin Hathib, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku seseorang yang mendengar ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib berkata: dikabarkan kepadaku dari Halimah binti al-Harits, ibu susu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya dia berkata, “Aku pergi ke Mekah bersama para perempuan Bani Sa’d bin Bakr ….”

TAHQIQ (Penelitian atas Validitas Hadits)

 

القصة ليست صحيحة، وفيها علتان:

 

Kisah di atas tidak shahih karena mengandung dua cacat (penyakit) di dalamnya:

 

الأولى: جهم بن أبى جهم –وهو مجهول الحال. قال الذهبى في الميزان (١/٤۲٦/١٥۸٣): جهم بن أبى الجهم عن ابن جعفر بن أبى طالب، وعنه محمد ابن إسحاق، لا يعرف، له قصة حليمة السعدية)

وأقره ابن حجر في اللسان (١/١۷۸)-(۲۷٤/۲١٤١)

 

Pertama:

Keberadaan Jahm bin Abu Jahm, dan dia seorang yang majhul al-hal (tertutupi/tidak diketahui keadaannya).

Adz-Dhahabi berkata di kitab al-Mizan (1/427/1583), Jahm bin Abu al-Jahm menerima riwayat dari Ibn Ja’far bin Abu Thalib. Muhammad bin Ishaq mengambil riwayat darinya. Dia tidak dikenal, dan dia memiliki kisah tentang Halimah as-Sa’diyah.”

Ibn Hajar menyetujui ucapan adz-Dzahabi tersebut di kitab al-Lisan (1/178)-(274-2141).

 

الثانية: فيه انقطاع:

أ – بين جهم بن أبى جهم وبين عبد الله بن جعفر بن أبى طالب

ب – وكذلك بين عبد الله بن جعفر و بين حليمة السعدية

 

Kedua:

Ada inqitha’ (keterputusan) pada sanadnya, yaitu:

(1) Keterputusan antara Jahm bin Abu Jahm dengan ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib.

(2) Demikian juga keterputusan antara ‘Abdullah bin Ja’far dengan Halimah as-Sa’diyah.

FAIDAH PENTING

 

(أ) لقد أورد الدكتور محمد سعيد رمضان البوطى هذه القصة في كتابه فقه السيرة ص (٤٩) باختصار

(ب) الرد:

فردّ عليه الشيخ الألباني –رحمه الله- في كتابه دفاع عن الحديث النبوى والسيرة في الرد على جهالات الدكتور البوطى في كتاب فقه السيرة ص (٣۹-٤۰)، فقال:

 

(1) Doktor Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi telah menyebutkan kisah ini di kitabnya Fiqh as-Sirah (halaman 49) secara ringkas …

(2) Syaikh al-Albani –rahimahullah– telah menuliskan bantahan terhadap Doktor Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi itu di kitab beliau Difa’ ‘an al-Hadits an-Nabawwi wa as-Sirah fi ar-Radd ‘ala Jahalat ad-Duktur al-Buthi fi Kitab Fiqh as-Sirah (Pembelaan terhadap Hadits Nabawi dan Sejarah dalam Membantah Kejahilan Doktor al-Buthi di Kitab Fiqh as-Sirah) pada halaman 39-40:

 

إن القصة لم تأت بأسناد تقوم به الحجة، وأشهر طرقها ما رواه محمد بن إسحاق عن جهم بن أبى جهم، عن عبد الله بن جعفر، حليمة بنت الحارث السعدية … وهذا إسناد ضعيف، وفيه علتان:

الأولى: الإضطراب في إسناده، كما هو ظاهر، ففي الرواية الأولى عنعنة ابن إسحاق جميع رواته، وفي الأخرى تصريحه بالتحديث، مع تصريح الجهم بأنه لم يسمعه من عبد الله بن جعفر، وتصريح هذا بأنه لم يسمعه من حليمة. فعلى الرواية الأولى، فيه انقطاع بين ابن إسحاق والجهم، لأن الأول مشهور بالتدليس. وعلى الرواية الأخرى الإنقطاع في موضعين منه، ومنه تعلم وهْم الحافظ في الإصابة حيث قال (٤/۲٦٦): وصرح ابن حبان في صحيحه بالتحديث بين عبد الله وحليمة، فإنه لا أصل لهذا التحديث عند ابن حبان، ولا عند غيره ممن ذكرنا، ويستبعد جداً أن يدرك عبد الله بن جعفر حليمة مرضعة الرسول صلى الله عليه وسلم، فإنه لما توفى النبي صلى الله عليه وسلم كان عبد الله ابن عشر سنين، وهي وإن لم يذكروا لها وفاة فمن المفروض عادة أنها توفيت قبل رسول الله صلى الله عليه وسلم، والله أعلم، وسواء كان الراجح الرواية الأولى أو الأخرى فالأسناد منقطع لا محالة.

والعلة الأخرى: أن مدارة على جهم بن أبى جهم، وهو مجهول الحال، قال الذهبي في الميزان: لا يعرف، له قصة حليمة السعدية.

 

Sesungguhnya kisah ini tidak datang dengan sanad yang bisa dijadikan hujjah, sementara jalan periwayatannya yang paling terkenal adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Jahm bin Abu Jahm, dari Halimah binti al-harits al-Asa’diyah … dan sanad ini dha’if (lemah), di dalamnya terdapat dua cacat (penyakit), yaitu:

Cacat pertama, terdapat idh-thirab (keguncangan) dalam sanadnya, sebagaimana tampak dengan jelas. Pada riwayat pertama disebutkan ‘an’anah Ibn Ishaq pada keseluruhan riwayat, sementara pada riwayat yang lain dia menjelaskan tahdits (ucapan: haddatsana/haddatsani) bersama adanya penjelasan bahwa al-Jahm bin Abu Jahm tidak mendengar (secara langsung) dari ‘Abdullah bin Ja’far, dan tidak pula ‘Abdullah bin Ja’far itu mendengar (langsung) dari Halimah. Oleh karena itu, riwayat pertama inqitha’ (terputus) antara Ibn Ishaq dengan al-Jahm karena Ibn Ishaq telah diketahui melakukan tadlis, sedangkan pada riwayat yang lain terdapat dua keterputusan (yaitu keterputusan antara Jahm bin Abu Jahm dengan ‘Abdullah bin Jafar dan keterputusan antara ‘Abdullah bin Ja’far dengan Halimah –pent). Dari sini bisa diketahui bahwa al-Hafizh telah melakukan kesalahan dalam ucapannya di kitab al-Ishabah (4/266), “Ibn Hibban telah menjelaskan di kitab shahih-nya tentang adanya tahdits antara ‘Abdullah dan Halimah,” padahal penjelasan tentang tahdits tersebut tidak dikatakan oleh Ibn Hibban, tidak pula oleh yang lain dari para ulama yang kami sebutkan. Dan sungguh sangat jauh jarak antara ‘Abdullah bin Ja’far dengan Halimah ibu susu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– karena ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– wafat, ‘Abdullah bin Ja’far itu baru berusia sepuluh tahun, sedangkan Halimah, meskipun tidak disebutkan kapan wafatnya, namun besar dugaan dia telah lebih dulu wafat sebelum Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lamu. Dan yang benar sama saja, baik riwayat pertama maupun yang lainnya, tiada keraguan tentang kelemahan sanadnya.

Cacat kedua, hadits ini berporos pada Jahm bin Abu al-Jahm, dan dia itu seorang yang majhul al-hal. Adz-Dzahabi berkata di kitab al-Mizan, Dia tidak dikenal, dan dia memiliki kisah tentang Halimah as-Sa’diyah.”

 

JALUR PERIWAYATAN LAIN

 

وللقصة طريق آخر أخرجه ابن سعد في الطبقات (١/٥۲) قال: أخبرنا محمد بن عمر بن واقد الأسلمي، أخبرنا زكرياء بن يحيى بن يزيد السعدي عن أبيه قال: (قدم مكة عشر نسوة من بنى سعد بن بكر يطلبن الرضاع، فأصبن الرضاع كلهن إلا حليمة …) فذكر القصة

Jalan periwayatan lain atas kisah di atas dikeluarkan oleh Ibn Sa’d di kitab ath-Thabaqat (1/52). Ibn Sa’d berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Umar bin Waqid al-Aslami, telah mengabarkan kepada kami Zakariya bin Yahya bin Yazid as-Sa’di dari ayahnya, dia berkata, “Sepuluh orang perempuan dari kabilah Bani Sa’d bin Bakr pergi ke Mekah untuk mencari anak-anak susuan. Mereka semua berhasil mendapatkan anak susuan kecuali Halimah ….” –lalu menyebutkan kisahnya …

 

TAHQIQ (Penelitian atas Validitas Jalur Periwayatan Lain)

 

قلت: والقصة من هذا طريق أيضاً واهية، علتها: محمد بن عمر بن واقد الأسلمي، مولاهم الواقدي، أورده الذهبى في الميزان (٣/۲٦۲/۷۹۹٣) حيث قال: (قال أحمد بن حنبل: هو كذاب، يقلب الأحاديث)

وقال ابن معين: ليس بثقة. وقال مرة: لا يكتب حديثه.

وقال البخارى وأبو حاتم: متروك. وقال أبو حاتم أيضاً والنسائى: يضع الحديث.

وقال الدارقطني: فيه ضعف. وقال ابن عدى: أحاديثه غير محفوظة، والبلاء منه.

وقال البخارى: سكتوا عنه، ما عندي له حرف. وقال ابن راهوية: هو عندي ممن يضع الحديث. ثم ختم ترجمته بقوله: واستقر الإجماع على وهن الواقدي

 

Aku berkata:

Kisah melalui jalur periwayatan ini juga lemah. Sumber cacat (penyakit)nya adalah Muhammad bin ‘Umar bin Waqid al-Aslami al-Waqidi. Imam adz-Dzahabi telah menyebutkan al-Waqidi ini di kitab al-Mizan (3/262/7993) dengan mengatakan, “Ahmad bin Hanbal mengatakan, dia (al-Waqidi) itu pendusta, suka membolak-balik hadits.”

Ibn Ma’in berkata, “Tidak bisa dipercaya,” juga mengatakan, “Jangan ditulis haditsnya.”

Imam al-Bukhari dan Abu Hatim mengatakan, “Dia matruk (ditinggalkan haditsnya),” dan Abu Hatim juga bersama Imam an-Nasai mengatakan, “Dia memalsukan hadits.”

Imam ad-Daruquthni berkata, “Lemah pada dirinya,” sedangkan Ibn ‘Adi mengatakan, “Hadits-haditsnya tidak terjaga, dan kerusakan berasal darinya.”

Imam al-Bukhari mengatakan, “Mereka diam darinya, dan aku sama sekali tak memiliki huruf darinya.” Dan Ibn Rahawiyah mengatakan, “Dalam pandanganku, dia itu termasuk pemalsu hadits,” kemudian Ibn Rahawiyah menutup biografi al-Waqidi dengan ucapan, “Ijma’ menetapkan kelemahan al-Waqidi.”

 

قلت: وأورده ابن حبان في المجروحين (۲/۲۹٠) حيث قال:

 

Aku katakan, Ibn Hiban telah menyebutkan al-Waqidi di kitab al-Majruhin (2/290) dengan mengatakan:

 

١- محمد بن عمر بن واقد الواقدى الأسلمى المدنى قاضى بغداد، كنيته أبو عبد الله، يروى عن مالك وأهل المدينة، مات سنة سبع ومائتين أو بعدها بقريب ببغداد يوم الثلاثاء، لأثنتى عشرة خلت من رجب، كان ممن يحفظ أيام الناس وسيرهم، وكان يروى عن الثقات المقلوبات، وعن الأثبات المعضلات، حتى ربما سبق إلى القلب أنه كان المعتمد لذلك، كان أحمد بن حنبل يكذبه

 

(1) Muhammad bin ‘Umar bin Waqid al-Waqidi al-Aslami al-Madini, seorang Hakim di Bagdad, dengan nama kun-yah Abu ‘Abdillah. Dia meriwayatkan hadits dari Imam Malik dan ahli Madinah, wafat pada tahun 207 Hijriyah atau sesudahnya di suatu daerah di dekat Bagdad pada hari Selasa 12 Rajab. Dia termasuk salah seorang penulis sejarah, dan dia mencampurbaurkan riwayat dari orang-orang tepercaya serta meriwayatkan secara mu’dhal (gugur sanad) dari orang-orang yang jujur, sampai-sampai tertanam dalam hati bahwa al-Waqidi memang senantiasa melakukan hal seperti itu, makanya Ahmad bin Hanbal menganggapnya pendusta.

 

۲- وقال: سمعت محمد بن المنذر، سمعت عباس بن محمد، سمعت يحيى بن معين يقول: الواقد ليس بشيء

(2) Dan Ibn Hibban berkata: Aku mendengar Muhammad bin al-Mundzir, aku mendengar ‘Abbas bin Muhammad, aku mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan, “Al-Waqidi itu tidak ada apa-apanya.”

 

وقال: أخبرني محمد بن عبد الرحمن، سمعت أبا غالب ابن بنت معاوية بن عمرو، سمعت علي ابن المديني يقول: الواقدى يضع الحديث

قلت: وهذا الذي أخرجناه بسنده عن ابن حبان في قول يحيى بن معين وعلي ابن المديني لتوثيق ما نقلناه من قول الإمام الذهبى عنهما بلا سند

 

(3) Dan Ibn Hibban berkata: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Abdurrahman, aku mendengar Abu Ghalib ibn binti Mu’awiyah bin ‘Amr, aku mendengar ‘Ali ibn al-Madini mengatakan, “Al-Waqidi memalsukan hadits.”

Aku katakan, inilah takhrij kami dengan sanadnya dari Ibn Hibban mengenai ucapan Yahya bin Ma’in dan ‘Ali ibn al-Madini. Dengan demikian semakin kuatlah apa yang telah kami nukil dari ucapan Imam adz-Dzahabi yang disampaikan tanpa sanad tentang pen-dha’if-an al-Waqidi oleh Yahya bin Ma’in dan ‘Ali ibn al-Madini.

 

قلت: وقال البخارى في التاريخ الكبير (١/١۷۸/٥٤٣): محمد بن عمر الواقدي مدني، قاضى بغداد، عن معمر ومالك، سكتوا عنه، تركه أحمد وابن نمير، مات سنة سبع ومائتين أو بعدها بقليل

قلت: وهذا توثيق لما نقلناه عن الإمام الذهبى من قول البخارى في الواقدى: سكتوا عنه

 

Aku katakan, al-Bukhari berkata di kitab at-Tarikh al-Kabir (1/178/543): Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, orang Madinah dan menjadi hakim di Bagdad, dia meriwayatkan dari Ma’mar dan Malik, mereka diam darinya (para ulama mendiamkannya), sedangkan Ahmad dan Ibn Numair meninggalkan riwayat al-Waqidi. Dia wafat pada tahun 207 Hijriyah atau setelahnya tidak terlalu jauh dari tahun itu.

Aku katakan, (nukilan) ini merupakan peneguh atas nukilan yang telah kami kemukakan dari Imam adz-Dzahabi tentang ucapan al-Bukhari mengenai al-Waqidi, “Mereka diam darinya.”

 

وهذا المصطلح له معناه، يحسبه البعض هيناً، وهو عند أهل الفن عظيم. فقد أورد السيوطي في التدريب (١/٣٤۹) تحت تنبهات حيث قال: البخاري يطلق: فيه نظر، وسكتوا عنه. فيمن تركوا حديثه، ويطلق: منكر الحديث. على من لا تحل الرواية عنه.

 

Dan istilah tersebut memiliki pengertian tersendiri bagi al-Bukhari -sebagian orang menganggap remeh hal itu padahal menurut para ulama hadits sangatlah penting. Imam as-Suyuthi telah menyebutkan di kitab at-Tadrib (1/349) pada bagian tanbihat (peringatan) dengan mengatakan: ucapan al-Bukhari, “Fihi nazhar (pada dirinya ada pertimbangan),” dan, “Sakatu ‘anhu (mereka diam darinya),” digunakan untuk perawi yang haditsnya ditinggalkan, sedangkan ucapan al-Bukhari, “Munkar al-hadits,” digunakan untuk perawi yang tidak boleh diambil riwayatnya.

 

قلت: ولقد أورده الإمام النسائي في الضعفاء والمتروكين برقم (٥٣١)، وقال: محمد بن عمر الواقدى متروك الحديث

قلت: وهذا توثيق أيضأً لما نقلناه عن الإمام الذهبى. وهذا المصطلح له معناه عند الإمام النسائي، حيث قال الحافظ ابن حجر في شرح النخبة: مذهب النسائي أن لا يترك حديث الرجل حتى يجتمع الجميع على تركه

 

Aku katakan, al-Imam an-Nasa-i telah menyebutkan di kitab adh-Dhu’afa’ wa al-Matrukin pada nomor (531) dengan mengatakan, “Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi matruk al-hadits (haditsnya ditinggalkan).”

Aku katakan, ini juga merupakan peneguhan atas hal yang telah kami nukil dari al-Imam adz-Dzahabi, dan istilah ini memiliki pengertian tersendiri bagi al-Imam an-Nasa-i sebagaimana yang telah dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di kitab Syarh an-Nukhbah, “Imam an-Nasa-i berpendapat bahwa seorang perawi tidaklah ditinggalkan haditsnya sampai semua ulama sepakat untuk meninggalkannya.”

 

KAIDAH PENTING

 

هذا الطريق لا يصلح للمتابعات ولا الشواهد، بل يزيد القضة وهناً على وهن. فقد قال الحافظ ابن كثير في اختصار علوم الحديث ص (٣٣): قال الشيخ أبو عمرو: لا يلزم من ورود الحديث من طرق متعددة أن يكون حسناً، لأن الضعف يتفاوت، فمنه ما لا يزول بالمتابعات، يعنى لا يؤثر كونه تابعاً أو متبوعاً، كرواية الكذابين والمتروكين

 

Jalur periwayatan ini (jalur al-Waqidi) tidak bisa dijadikan sebagai mutabi’at maupun syawahid, bahkan malah merupakan tambahan kisah yang sangat lemah. Al-Hafizh Ibn Katsir telah berkata di kitab Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits (halaman 33): Syaikh Abu ‘Amr mengatakan, “Adanya periwayatan dari beberapa jalur lain tidaklah selalu mengharuskan suatu hadits menjadi hasan. Hal itu dikarenakan tingkat kelemahan hadits itu berbeda-beda, sebagian di antaranya ada yang tingkat kelemahannya tidak bisa hilang dengan keberadaan mutabi’at, yakni baik itu hadits tabi’ maupun hadits matbu’, keduanya sama-sama tidak berpengaruh, sebagaimana halnya riwayat dari para perawi dusta dan matruk.”

 

قلت: وقد ذكرت هذه القاعدة حتى لا يتقول علينا متقول ممن لا دراية له بتحليل طرق القصة، ويقول: إن للقصة متابعات وشواهد جاءت بطرق يقوِّي بعضها بعضا.

 

Aku katakan, telah kusebutkan kaidah ini agar orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang jalur periwayatan kisah ini tidak berbuat kebohongan terhadap kami dengan mengatakan, “Sesungguhnya kisah ini memiliki mutabi’at dan syawahid dengan jalur-jalur periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain.”

 

(فائدة): مما أوردناه آنفا يتبين أن القصة أخرجها أيضاً ابن سعد، ومدارها على الواقدى، وهو كذاب، وقال الشيخ الألباني –رحمه الله- في كتابه الرد على جهالات البوطي في فقه السيرة ص (٤٠): وللقصة عند أبى نعيم طريقان آخران، مدارهما على الواقدى، وهو كذاب، أحدهما عن شيخه موسى بن شيبة وهو لين الحديث، كما قال الحافظ في التقريب. والأخرى عن عبد الصمد بن محمد السعدى عن أبيه عن جده قال: حدثني بعض من كان يرعى غنم حليمة … وهؤلاء مجهولون.

 

(Faidah): apa yang kami kemukakan di atas menjelaskan bahwa kisah tersebut dikeluarkan juga oleh Ibn Sa’d dengan poros periwayatan al-Waqidi, dan al-Waqidi ini seorang pendusta. Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata dalam kitabnya ar-Radd ‘ala Jahalat al-Buthi fi Fiqh as-Sirah (40) sebagai berikut:

… dan di sisi Abu Nu’aim, kisah tersebut memiliki dua jalan periwayatan yang berporos pada al-Waqidi, dan al-Waqidi itu seorang pendusta. Jalan periwayatan pertama diterima dari gurunya, yaitu Musa bin Syaibah, dan Musa bin Syaibah itu layyin al-hadits (perawi lunak/lemah) sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafizh di kitab at-Taqrib. Adapun jalan periwayatan kedua, diterima dari ‘Abd ash-Shamad bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan, “Telah mengabarkan kepadaku beberapa orang penggembala kambing Halimah …,” dan mereka itu majhul semua.

 

قلت: بهذا يتبين أن القصة واهية، وأن طرقها الأخرى تزيدها وهناً على وهن.

 

Aku berkata, “Dengan ini jelaslah bahwa kisah (Halimah as-Sa’diyah) tersebut lemah, dan bahwasanya jalan-jalan periwayatan lainnya pun hanya menambah kelemahan lainnya.”

 

Bandung, 22 Desember 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

‘Umar Tidaklah Berkirim Surat Kepada Sungai Nil …

surat kpd nil

Syaikh ‘Ali Hasyisy al-Mishri –hafizhahullah

Sumber: http://www.forsanhaq.com/showthread.php?t=152312

 

قال الشيخ على حشيش –حفظه الله- عن القصة واهية التي اشتهرت على ألسنة الخطباء والوعاظ والقصاص: إن عمر بن الخطاب رضي الله عنه كتب رسالة إلى نيل مصر …

Syaikh ‘Ali Hasyisy –hafizhahullah– berkata tentang kisah lemah yang tersebar melalui lisan para khatib, para pemberi nasihat, dan para pencerita: bahwa ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– menulis surat kepada sungai Nil Mesir …

 

أولاً المتن

Pertama: Matan (Redaksi) Kisah

لما فتح عمرو بن العاص مصر أتى أهلها إلى عمرو بن العاص حين دخل بؤونة من أشهر العجم، فقالوا له أيها الأمير، إن لنيلنا هذا سُنَّة لا يجري إلا بها، فقال لهم وما ذاك؟ قالوا إنه إذا كان لثنتي عشرة ليلة تخلو من هذا الشهر عمدنا إلى جارية بكر بين أبويها فأرضينا أبويها وجعلنا عليها من الحُليّ والثياب أفضل ما يكون، ثم ألقيناها في هذا النيل، فيجري. فقال لهم عمرو إن هذا لا يكون في الإسلام، وإن الإسلام يهدم ما قبله، فأقاموا بؤونة وَأَبِيْبَ ومِسْرَى لا يجري قليلاً ولا كثيرًا حتى هموا بالجلاء، فلما رأى ذلك عمرو، كتب إلى عمر بن الخطاب بذلك، فكتب إليه عمر قد أصبتَ، إن الإسلام يهدم ما قبله، وقد بعثت إليك ببطاقة فألقها في داخل النيل إذا أتاك كتابي فلما قدم الكتاب على عمرو، وفتح البطاقة، فإذا فيها: (من عبد الله عمر أمير المؤمنين، إلى نيل أهل مصر، أما بعد فإن كنت تجري من قبلك فلا تجر، وإن كان الله الواحد القهار الذي يجريك فنسأل الله الواحد القهار أن يجريك). فعرّفهم عمرو بكتاب أمير المؤمنين والبطاقة، ثم ألقاها فألقى عمرو البطاقة في النيل قبل يوم الصليب بيوم، وقد تهيأ أهل مصر للجلاء والخروج منها لأنه لا يقوم بمصلحتهم فيها إلا النيل، فأصبحوا يوم الصليب وقد أجراه الله ستة عشر ذراعًا في ليلة، وقطع الله تلك السُّنَّةَ السوء عن أهل مصر.

 

Tatkala ‘Amr bin al-‘Ash memenangi negeri Mesir, para penduduk pun mendatanginya di awal bulan Ba-unah (bulan kesepuluh dari penanggalan tahun Mesir) seraya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Wahai Pemimpin, sesungguhnya kami memiliki tradisi berkaitan dengan sungai Nil kami ini, dan sungai ini takkan mengalir kecuali dengan (menjalankan) tradisi itu.”

‘Amr bin al-‘Ash bertanya kepada mereka, “Tradisi apakah itu?”

Mereka menjawab, “Apabila telah berlalu dua belas malam dari bulan ini, kami mengambil gadis perawan dari kedua orang tuanya setelah sebelumnya kami buat rela kedua orang tuanya itu. Kami mempercantik gadis perawan itu dengan perhiasan dan pakaian yang terbaik lalu melemparkannya ke sungai Nil ini sehingga air sungai pun kembali mengalir.”

‘Amr bin al-‘Ash berkata, “Perbuatan itu tak diperbolehkan oleh Islam, dan sesungguhnya Islam itu (datang) untuk meruntuhkan ajaran yang ada sebelumnya.”

Akhirnya penduduk sungai Nil pun (memutuskan) untuk menunggu (kemungkinan yang akan terjadi) sepanjang bulan Ba-unah, Abib, dan Misra. Apabila memang air sungai Nil tetap tidak mengalir, baik sedikit maupun banyak, mereka bermaksud pindah ke tempat lain. Melihat hal itu, ‘Amr bin al-‘Ash pun menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaththab tentang keadaan tersebut.

‘Umar pun menulis surat balasan kepada ‘Amr bin al-‘Ash dengan mengatakan dalam suratnya, “Kamu telah bertindak benar. Sesungguhnya Islam itu (datang) untuk meruntuhkan ajaran yang ada sebelumnya. Aku melampirkan bithaqah (sehelai surat/warkat/kartu) dalam suratku ini. Jika suratku ini telah kau terima, lemparkanlah bithaqah tersebut ke sungai Nil!”

Ketika surat itu sampai ke tangan ‘Amr bin al-‘Ash, ternyata di dalamnya memang terlampir bithaqah yang bertuliskan:

“Dari hamba Allah, ‘Umar Amir al-Mu’minin, kepada Nil, sungai penduduk Mesir. Amma ba’d. Jika kamu mengalir karena keinginanmu sendiri, maka tak usahlah kau mengalir. Akan tetapi jika Allah al-Wahid al-Qahhar yang membuatmu mengalir, maka kami memohon kepada Allah al-Wahid al-Qahhar agar mengalirkanmu.”

‘Amr bin al-‘Ash pun memberitahukan surat dan bithaqah dari Amir al-Mukminin itu kepada para penduduk Mesir. Setelah itu dia melemparkan bithaqah itu ke sungai Nil, tepatnya satu hari sebelum hari raya penyaliban (hari raya kaum Nasrani). Pada saat itu sebetulnya penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk berpindah keluar dari tempat itu karena tiada lagi kemaslahatan bagi mereka di tempat itu selain dengan mengalirnya sungai Nil.

Kemudian pada keesokan harinya, yakni pada hari raya penyaliban, Allah pun mengalirkan air sungai Nil. Dalam semalam saja ketinggian air telah mencapai enam belas hasta, dan dengan itulah Allah menghilangkan tradisi buruk penduduk Mesir.

 

ثانيًا التخريج

Kedua: Takhrij (Sumber Pemberitaan Kisah)

الخبر الذي جاءت به هذه القصة أخرجه ابن عبد الحكم، وهو عبد الرحمن بن عبد الله بن عبد الحكم بن أعين بن الليث بن رافع في كتابه «فتوح مصر وأخبارها»

ص حيث قال حدثنا عثمان بن صالح عن ابن لهيعة عن قيس بن الحجاج عن من حدثه قال «لما فتح عمرو بن العاص مصر أتى أهلها إليه » القصة

وأخرج هذه القصة أيضًا ابن قدامة وهو عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة في كتابه «الرقة والبكاء» ص الخبر قال أخبرنا محمد بن عبد الباقي، أنبأنا أبو بكر أحمد بن زكريا الطرثيثي سنة ثلاث وثمانين وأربعمائة، أنبأنا أبو القاسم هبة الله بن الحسن الطبري حدثنا محمد بن أبي بكر، حدثنا محمد بن مخلد، حدثنا محمد بن إسحاق، حدثنا عبد الله بن صالح، حدثني ابن لهيعة عن قيس بن الحجاج عن من حدثه قال

Kabar mengenai kisah ini dikeluarkan oleh Ibn ‘Abd al-Hakim, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abd al-Hakim bin A’yan bin al-Laits bin ar-Rafi’ di dalam kitabnya Futuh Mishri wa Akhbariha (Penaklukkan Mesir dan Kabar-Kabarnya). Di kitab itu dia berkata: telah mengabarkan kepadaku ‘Utsman bin Shalih, dari Ibn Luhai’ah, dari Qais bin al-Hajjaj, dari seseorang yang mengabarkan kepadanya, dia berkata, Tatkala ‘Amr bin al-‘Ash memenangi negeri Mesir, para penduduk pun mendatanginya …,” –kisah di atas …

Juga dikeluarkan oleh Ibn Qudamah, yaitu ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah di dalam kitabnya ar-Riqqah wa al-Buka’ (Kelembutan dan Tangis). Di kitab itu dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abd al-Baqi’, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Zakariya ath-Thurtsitsi pada tahun 83 Hijriyah, telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan ath-Thabari, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abu Bakr, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Makhlad, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah mengabarkan kepadaku Ibn Luhai’ah dari Qais bin al-Hajjaj, dari seseorang yang mengabarkan kepadanya, dia berkata … -kisah di atas …

 

ثالثًا التحقيق

Ketiga: Tahqiq (Penelitian atas Validitas Kisah)

القصة واهية، وفيها علتان:

الأولى عبد الله بن لهيعة وهو عبد الله بن لهيعة بن عقبة بن فرعان بن ربيعة بن ثوبان الحضرمي أبو عبدالرحمن المصري

 

Kisah tersebut lemah karena mengandung dua cacat (penyakit) di dalamnya:

Cacat (penyakit) yang pertama: adalah (keberadaan perawi) ‘Abdullah bin Luhai’ah bin ‘Uqbah bin Far’an bin Rabi’ah bin Tsauban al-Hadhrami Abu ‘Abdurrahman al-Mishri …

قال الإمام ابن حبان في «المجروحين»

أ «قد سبرت أخبار ابن لهيعة من رواية المتقدمين والمتأخرين عنه فرأيت التخليط في رواية المتأخرين عنه موجودًا، وما لا أصل له من رواية المتقدمين كثيرًا، فرجعت إلى الاعتبار فرأيته كان يدلس عن أقوام ضعفى عن أقوام رآهم ابن لهيعة ثقات فالتزقت تلك الموضوعات به»

 

Imam Ibn Hibban berkata (tentang Ibn Luhai’ah) di dalam kitab al-Majruhin:

(1) Aku telah meneliti riwayat-riwayat Ibn Luhai’ah dari riwayat-riwayat ulama mutaqaddimin (terdahulu) dan muta-akhirin (belakangan), lalu tahulah aku bahwa terdapat takhlith (campur aduk) dalam riwayat-riwayat ulama muta-akhirin yang berasal darinya, sedangkan dalam riwayat-riwayat ulama mutaqaddimin yang berasal darinya ditemukan banyak hadits yang tidak ada asalnya. Aku pun kembali mempertimbangkan (mendalami penelitian tentangnya), lalu kuketahui bahwa Ibn Luhai’ah biasa melakukan tadlis (menyembunyikan) para perawi lemah yang menerima riwayat dari para perawi yang dipandang tsiqah (tepercaya) olehnya sehingga bercampurlah karenanya masalah-masalah …

 

ب ثم قال «وأما رواية المتأخرين عنه بعد احتراق كتبه ففيها مناكير كثيرة، وذاك أنه كان لا يبالي ما دفع إليه قراءة سواء كان من حديثه أو غير حديثه فوجب التنكب عن رواية المتقدمين عنه قبل احتراق كتبه لما فيه من الأخبار المدلّسة عن الضعفاء والمتروكين، ووجب ترك الاحتجاج برواية المتأخرين عنه بعد احتراق كتبه لما فيه مما ليس من حديثه»

 

(2) Kemudian Ibn Hibban berkata:

Adapun riwayat-riwayat yang diterima oleh para ulama muta-akhirin dari Ibn Luhai’ah, itu terjadi setelah kitab-kitab Ibn Luhai’ah terbakar, sehingga di dalam riwayat-riwayat itu terdapat banyak sekali kemungkaran. Dia tidak pula mengindahkan redaksi-redaksi  yang dimasukkan ke dalamnya apakah itu dari riwayatnya ataukah dari riwayat selainnya. Oleh karena itu wajib untuk menjauh dari riwayat-riwayat ulama mutaqaddimin yang menerima darinya sebelum kitabnya terbakar karena di dalamnya terdapat tadlis riwayat dari para perawi dha’if (lemah) dan matruk (ditinggalkan), dan wajib pula untuk meninggalkan riwayat-riwayat ulama muta-akhirin yang menerima darinya setelah kitabnya terbakar karena di dalamnya terdapat riwayat-riwayat yang bukan merupakan riwayatnya.

 

لذلك أورده الحافظ ابن حجر في «طبقات المدلسين» المرتبة الخامسة رقم حيث قال «عبد الله بن لهيعة الحضرمي اختلط في آخر عمره، وكثرت عنه المناكير في روايته»

 

Mengenai hal ini, al-Hafizh Ibn Hajar berkata di dalam kitab Thabaqat al-Mudallisin –pada bagian perawi tingkat kelima, ’Abdullah bin Luhai’ah al-Hadhrami mengalami takhlith (perubahan/kekacauan) hafalannya pada akhir usianya, dan semakin bertambah banyaklah kemungkaran di dalam riwayatnya.”

 

قلت وأقر قول الإمام ابن حبان «إنه كان يدلس عن الضعفاء»

والمرتبة الخامسة هي التي قال فيها الحافظ ابن حجر في «المقدمة» «من ضعف بأمر آخر سوى التدليس فحديثهم مردود ولو صرحوا بالسماع»

Aku katakan, “Dan ucapan al-Imam Ibn Hibban menyatakan bahwasanya Ibn Luhai’ah itu biasa melakukan tadlis perawi dha’if.”

Adapun yang dimaksud dengan perawi tingkat kelima adalah para perawi yang sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di dalam al-Muqaddimah, “Orang-orang yang pada masa akhirnya menjadi dha’if selain tindakan tadlis-nya, maka hadits-hadits mereka tertolak meskipun mereka menerangkan tentang penyimakan hadits.”

 

قلت قول الإمام ابن حبان «أنه كان يدلس على الضعفاء» له أصل عملي نقله الحافظ ابن حجر في «التهذيب» عن الإمام أحمد بن حنبل قال «كتب يعني ابن لهيعة عن المثنى بن الصباح عن عمرو بن شعيب وكان بعد يحدث بها عن عمرو بن شعيب»

 

Aku berkata, ucapan al-Imam Ibn Hibban, “… bahwa Ibn Luhai’ah biasa melakukan tadlis perawi dha’if,” penjelasan atas pelaksanaan tadlis Ibnu Luhai’ah tersebut telah dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab at-Tahdzib dari al-Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan, Ibn Luhai’ah menulis dari al-Mutsanna bin ash-Shabbah, dari ‘Amr bin Syu’aib, dan dia mengabarkan bahwa hadits itu dari ‘Amr bin Syu’aib.”

 

قلت يتبين أن ابن لهيعة أسقط المثنى بن الصباح الذي كتب عنه وحدث بها عن عمرو بن شعيب، وبهذا ثبت أن ابن لهيعة كان يدلس عن الضعفاء والمتروكين، وذلك لأن المثنى بن الصباح متروك. فقد قال الإمام النسائي في كتابه «الضعفاء والمتروكين» ترجمة «المثنى بن الصباح متروك»

 

Aku katakan, “Jelaslah bahwa Ibnu Luhai’ah menggugurkan al-Mutsanna bin ash-Shabbah (menghilangkan dari sanad) yang darinyalah dia menulis, lalu Ibnu Luhai’ah mengabarkan bahwa hadits itu dari ‘Amr bin Syu’aib. Dengan demikian menjadi kukuhlah bahwa Ibnu Luhai’ah menyembunyikan para perawi dha’if dan matruk, dan al-Mutsanna bin ash-Shabbah itu seorang perawi matruk. Imam an-Nasa’i pun telah mengatakannya di dalam kitab adh-Dhu’afa’ wa al-Matrukin, dalam biografi al-Mutsanna bin as-Shabbah.”

 

قلت وهذا المصطلح عند النسائي له معناه، فقد قال الحافظ ابن حجر في «شرح النخبة» ص «ولهذا كان مذهب النسائي أن لا يترك حديث الرجل حتى يجتمع الجميع على تركه» وبهذا تسقط القصة بتدليس ابن لهيعة وعنعنته وعدم التصريح بالسماع

أما عن القول بأن ابن لهيعة ضعف بأمر آخر سوى التدليس فإثبات ذلك يتبين من
أ قال أمير المؤمنين في الحديث الإمام البخاري في كتابه «الضعفاء الصغير» ترجمة «عبد الله بن لهيعة ويقال ابن عقبة أبو عبد الرحمن الحضرمي ويقال الغافقي، قاضي مصر حدثنا محمد، حدثنا الحميدي عن يحيى بن سعيد أنه كان لا يراه شيئًا»

قلت ونقل هذا الحافظ ابن حجر في «التهذيب» ، ثم نقل عن الأئمة
وقال ابن المديني عن ابن مهدي «لا أحمل عن ابن لهيعة قليلاً ولا كثيرًا»

وقال عبد الكريم بن عبد الرحمن النسائي عن أبيه «ليس بثقة»

وقال ابن معين كان ضعيفًا لا يحتج بحديثه، كان من يشاء يقول له حديثًا

وقال ابن خرش «أحرقت كتبه فكان من جاء بشيء قرأه عليه حتى لو وضع أحد حديثًا وجاء به إليه قرأه عليه»

وقال الخطيب «فمن ثم كثرت المناكير في روايته لتساهله»

وقال الجوزجاني «لا يوقف على حديثه ولا ينبغي أن يحتج به، ولا يغتر بروايته»

وقال الإمام ابن عدي في «الكامل» «إن ابن لهيعة له أحاديث منكرات يطول ذكرها إذا ذكرناها» اهـ

 

Aku katakan, yang dimaksud dengan istilah matruk menurut Imam an-Nasa’i telah dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di dalam kitab Syarh an-Nukhbah, “Menurut pendapat an-Nasa’i, seorang perawi itu tidak ditinggalkan riwayatnya (matruk) sampai semua ulama bersepakat untuk meninggalkannya.”

Dengan demikian, gugurlah validitas kisah (tentang surat ‘Umar ini) dengan sebab tadlis mu’an’anah Ibn Luhai’ah, juga tidak adanya penjelasan tentang penyimakan.

Adapun mengenai ucapan bahwa Ibn Luhai’ah pada masa akhirnya menjadi dha’if selain tindakan tadlis-nya, maka pemastian tersebut menjadi jelas dengan ucapan Amir al-Mu’minin di bidang hadits, al-Imam al-Bukhari di dalam kitabnya adh-Dhu’afa ash-Shaghir, Abdullah bin Luhai’ah disebut juga Ibnu ‘Uqbah Abu ‘Abdurrahman al-Hadhrami al-Ghafiqi, seorang hakim di Mesir. Telah mengabarkan kepada kami Muhammad, telah mengabarkan kepada kami al-Hamidi dari Yahya bin Sa’id bahwasanya dia tak menganggap haditsnya sama sekali.”

Aku katakan, al-Hafizh Ibn Hajar telah menukil hal ini di dalam kitab at-Tahdzib, kemudian menukil pula dari para ulama.

Ibn al-Madini berkata dari Ibn Mahdi, “Aku tidak membawakan hadits dari Ibn Luhai’ah, baik sedikit maupun banyak.”

‘Abd al-Karim bin ‘Abdurrahman an-Nasa’i, dari dari ayahnya, dia berkata, “Dia (Ibn Luhai’ah) bukan orang tepercaya.”

Ibn Ma’in mengatakan, “Dia (Ibn Luhai’ah) seorang yang dha’if, haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah. Dia akan menceritakan hadits kepada siapa yang dikehendakinya.”

Ibnu Kharrasy berkata, “Kitab-kitabnya terbakar, maka siapa saja yang datang kepadanya dengan membawa hadits, dia akan meriwayatkannya. Sampai-sampai jika seseorang yang memalsukan hadits datang kepadanya, dia akan meriwayatkannya.”

Al-Khathib berkata, “Karena itu bertambah banyaklah kemungkaran di dalam riwayat-riwayat Ibnu Luhai’ah lantaran sikap tasahul (bermudah-mudah).”

Al-Jaujazani berkata, “Tidak boleh berhenti pada hadits Ibnu Luhai’ah dan tidak layak menjadikannya sebagai hujjah. Jangan tertipu oleh riwayatnya.”

Imam Ibnu ‘Adi berkata di dalam kitab al-Kamil, “Sesungguhnya Ibn Luhai’ah memiliki hadits-hadits mungkar, akan sangat panjang jika kami menyebutkannya.” 

 

ملحوظة هامة:

البعض قد يغفل عن قول الإمام ابن حبان في أن ابن لهيعة من المدلسين ورمي بالتدليس عن الضعفاء والمتروكين، ونقله الحافظ في «طبقات المدلسين» كما بينا آنفًا، ونقله في «التهذيب» ، ويغفل أيضًا عن تجريح هؤلاء الأئمة الأعلام الذي أوردناه آنفًا
ويتعلق بما نقله الحافظ ابن حجر في «التهذيب» عن عبد الغني بن سعيد الأزدي قال «إذا روى العبادلة عن ابن لهيعة فهو صحيح ابن المبارك، وابن وهب والمقري ، وذكر الساجي وغيره مثله

 

Catatan Penting:

Sebagian orang lupa akan ucapan al-Imam Ibn Hibban yang mengatakan bahwa Ibn Luhai’ah termasuk golongan mudallis dan tertuduh sebagai pelaku tadlis dari perawi dha’if dan matruk. Al-Hafizh Ibn Hajar telah menukilnya di dalam kitab Thabaqat al-Mudallisin sebagaimana telah kami jelaskan di atas, dan beliau pun telah menukilnya pula di kitab at-Tahdzib. Sebagian orang juga telah lupa akan tajrih (celaan) para imam ahli hadits yang telah kami sebutkan di atas, dan hanya bergantung kepada nukilan al-Hafizh Ibn Hajar di kitab at-Tahdzib, dari ‘Abd al-Ghani bin Sa’id al-Azdi yang mengatakan, “Jika al-‘Abadilah (orang-orang yang bernama ‘Abdullah) meriwayatkan hadits dari Ibn Luhai’ah, maka haditsnya shahih. (Al-‘Abadillah) yang dimaksud adalah Ibn al-Mubarak, Ibn Wahb, dan al-Muqri,” dan hal ini disebutkan pula oleh as-Saji dan yang lainnya.

 

وقلت وحتى هذا القول لا ينطبق على هذا الخبر الذي جاءت به هذه القصة الواهية المنكرة

 

Dan aku katakan, ucapan tersebut tidak berlaku terhadap riwayat tentang kisah (surat ‘Umar) yang lemah dan mungkar ini, (dengan alasan):

 

أ فالعبادلة المذكورون في هذا القول هم عبد الله بن المبارك، وعبد الله بن وهب، وعبدالله بن يزيد المُقري، كما هو مبين في «تهذيب الكمال» في الذين رووا عن ابن لهيعة

 

(1) Al-‘Abadilah yang disebutkan dalam ucapan itu adalah ‘Abdullah bin al-Mubarak, ‘Abdullah bin Wahb, dan ‘Abdullah bin Yazid al-Muqri sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Tahdzib al-Kamal tentang orang-orang yang meriwayatkan dari Ibn Luhai’ah.

 

 ب وبالرجوع إلى طرق القصة من التخريج الذي أوردناه آنفًا نجد في الطريق الذي أخرجه ابن عبد الحكم أن الذي روى عن ابن لهيعة هو عثمان بن صالح
ونجد في الطريق الذي أخرجه ابن قدامة أن الذي روى عن ابن لهيعة هو عبد الله بن صالح المصري

 

(2) Setelah memeriksa jalan-jalan periwayatan dari kisah yang telah kami sebutkan takhrij-nya di atas, kami dapati pada jalan riwayat yang dikeluarkan oleh Ibn ‘Abd al-Hakim bahwa perawi yang meriwayatkan kisah itu dari Ibn Luhai’ah adalah ‘Utsman bin Shalih. Sedangkan yang kami dapati pada jalan riwayat yang dikeluarkan oleh Ibn Qudamah bahwa perawi yang meriwayatkan kisah itu dari Ibn Luhai’ah adalah ‘Abdullah bin Shalih al-Mishri (bukan termasuk al-‘Abadilah yang dimaksud –pent).

 

بهذا يتبين خلو الطريقين من العبادلة الثلاثة ابن المبارك، وابن وهب، والمقري، فالقصة بتطبيق هذا القول واهية أيضًا كما في «الضعفاء والمتروكين» للدارقطني ترجمة ، حيث إن ابن لهيعة متروك إلا من رواية هؤلاء الثلاثة عنه

 

Dengan ini jelaslah bahwa ketiga orang al-‘Abadilah, yakni Ibn al-Mubarak, Ibn Wahb, dan al-Muqri, sama sekali tidak terdapat di dalam kedua jalan periwayatan (kisah surat ‘Umar) tersebut. Dengan demikian, penerapan ucapan tersebut terhadap kisah ini merupakan penerapan yang lemah juga sebagaimana (disebutkan) di dalam kitab adh-Dhu’afa’ wa al-Matrukin susunan al-Imam ad-Daruquthni yang (menyebutkan), “Sesungguhnya Ibn Luhai’ah itu matruk (ditinggalkan haditsnya) kecuali dari hadits ketiga al-‘Abadilah yang meriwayatkan darinya.”

 

العلة الأخرى

من التخريج نجد أن خبر القصة أخرجه ابن عبد الحكم في «فتوح مصر»، وابن قدامة في «الرقة» من طريق ابن لهيعة عن قيس بن الحجاج عن من حدثه قال «لما فتح عمرو بن العاص مصر» القصة

نجد أن هذا الخبر فيه راوٍ مبهم لم يروه عن هذا المبهم المجهول إلا قيس بن الحجاج تفرد به ابن لهيعة

 

Cacat (penyakit) yang kedua: dari takhrij yang kami dapati bahwa kisah ini dikeluarkan oleh Ibn ‘Abd al-Hakim di kitab Futuh Mishri wa Akhbariha (Penaklukkan Mesir dan Kabar-Kabarnya), dan dikeluarkan juga oleh Ibn Qudamah di kitab ar-Riqqah wa al-Buka’ (Kelembutan dan Tangis), melalui jalan Ibn Luhai’ah dari Qais bin al-Hajjaj dari seseorang yang mengabarkan kepadanya, Tatkala ‘Amr bin al-‘Ash memenangi negeri Mesir …,” –hingga akhir kisah seperti telah diceritakan di atas-

Kami dapati bahwa riwayat ini di dalamnya terdapat seorang perawi yang mubham (perawi yang tidak disebutkan namanya), tidak ada yang meriwayatkan kisah tersebut dari perawi mubham majhul ini selain Qais bin al-Hajjaj. Ibn Luhai’ah menyendiri dengan riwayat ini.

 

والحديث المبهم هو الحديث الذي فيه راوٍ لم يُصَرَّح باسمه قال البيقوني في منظومته «ومبهم ما فيه راوٍ لم يسم» اهـ

قال الحافظ في «شرح النخبة» «ولا يقبل حديث المُبهم ما لم يُسم لأن شرط قبول الخبر عدالة راويه ومن أبهم اسمه لا تعرف عينه فكيف تعرف عدالته؟» اهـ

 

Dan hadits mubham adalah hadits yang di dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya. Al-Baiquni berkata di Manzhumah-nya, “Dan mubham itu apa yang di dalamnya terdapat periwayat tanpa nama.”

Al-Hafizh berkata di kitab Syarh an-Nukhbah, “Tidaklah diterima hadits dari perawi mubham, yaitu yang tidak disebutkan namanya karena syarat diterimanya riwayat itu adalah keadilan perawi. Barang siapa disamarkan namanya, takkan dikenali jati dirinya. Lantas bagaimana mungkin diketahui keadilannya?”

 

قلت وهذه العلة تجعل هذا الخبر مردودًا وتزيد القصة وهنًا على وهن خاصة وأن قيس بن الحجاج من الطبقة السادسة كما في «التقريب» حيث قال الحافظ ابن حجر «قيس بن الحجاج الكلاعي المصري من السادسة«

وبيَّن الحافظ في المقدمة أن الطبقة السادسة «لم يثبت لهم لقاء أحد من الصحابة«

فقيس بن الحجاج لم ير عمرو بن العاص، ولم ير عمر بن الخطاب، وروى القصة عنهما عن طريق مبهم لم يسم

Aku katakan, cacat (penyakit) ini menjadikan riwayat ini tertolak sehingga menambah kelemahan kisah ini secara khusus, dan bahwa Qais bin al-Hajjaj itu termasuk ke dalam thabaqah as-sadisah (kelompok perawi tingkat keenam) sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Taqrib, “Qais bin al-Hajjaj al-Kala’i al-Mishri termasuk kelompok keenam.”

Dan al-Hafizh telah menjelaskan di dalam al-Muqaddimah bahwa ath-thabaqah as-sadisah itu, “Tidak ditetapkan bagi mereka pertemuan dengan salah seorang dari kalangan shahabat.”

 

فالقصة باطلة واهية بالتدليس والطعن في ابن لهيعة ورواية شيخه عن مجهول مبهم فهي من منكرات ابن لهيعة التي يطول ذكرها

وإن تعجب فعجب أَن هذه القصة الواهية لم تقع لأي بلد على النيل إلا لمصر من المنبع إلى المصب. ولم يقع هذا الخبر لأي نهر في العالم إلا لنهر النيل وفي مصر بالذات بهذه القصة الواهية

 

Oleh karena itu, kisah ini lemah dan batil dengan sebab tadlis dan celaan terhadap Ibn Luhai’ah, juga terhadap periwayatan gurunya dari perawi majhul mubham. Dan kisah ini termasuk dari riwayat-riwayat mungkar Ibn Luhai’ah yang sangat panjang pembahasannya.

Dan jika ada sesuatu yang mengherankan, maka yang patut untuk diherankan adalah bahwa (peristiwa yang terjadi) dalam kisah yang lemah ini tidak menimpa negeri-negeri sungai Nil selain Mesir, dari mulai mata air (hulu) sampai ke pertemuan dengan laut (hilir). Dan tidak terjadi pula di sungai-sungai mana pun selain di sungai Nil di Mesir menurut kisah lemah ini.

 

ومن حاول تأويل الخبر فهو غافل لأن السند تالف والأنهار سخرها الله لكل من على الأرض ليقرر توحيد الربوبية، وأن ذلك مستلزم أن لا يعبد إلا الله، وهو توحيد الألوهية

فيجعل الأول دليلاً على الثاني، قال الله تعالى:

 

Barang siapa yang mencoba untuk melakukan penakwilan atas kabar –lemah- ini, maka dia teperdaya dalam kelengahan karena pijakan yang lemah, padahal Allah sajalah yang menundukkan sungai-sungai itu untuk semua penduduk bumi agar mengakui tauhid rububiyyah, dan bahwasanya dari pengakuan terhadap tauhid rububiyyah itu kemudian mengharuskan untuk tidak beribadah kepada selain Allah, dan itulah tauhid uluhiyyah. Dengan demikian, jadilah perkara pertama (tauhid rubbubiyyah) sebagai dalil atas perkara kedua (tauhid uluhiyyah). Allah ta’ala berfirman:

 

أَمَّن جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ البَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ.

 

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengukuhkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada ilah (sesembahan) yang lain? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. (QS. An Naml : 61)

 

هذا ما وفقني الله إليه، وهو وحده من وراء القصد

 

Inilah yang –semoga- Allah memberikan taufik kepadaku terhadap tulisan ini, dan Dia-lah satu-satu-Nya yang menjadi tujuan …

————————————————

Tambahan:

 

قال الشيخ محمد صالح المنجد عن هذه القصة واهية:

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid berkata tentang kisah yang lemah ini:

 

… انتهى من “البداية والنهاية” (۷/١١٤-١١۰). وهكذا رواه ابن عبد الحكم في فتوح مصر (ص١٦٥) واللالكائي في شرح اعتقاد أهل السنة (٦/٤٦٣) وابن عساكر في تاريخ دمشق (٤٤/٣٣٦) وأبو الشيخ في العظمة (٤/١٤۲٤) من طريق ابن لهيعة به.

 

… hingga akhir kisah di dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (7/114-115), dan demikian juga diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Hakim di kitab Futuh Mishri (halaman 165), al-Lalika-i di kitab Syarh I’tiqad Ahl as-Sunnah (6/463), Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (44/336), dan Abu asy-Syaikh di kitab al-‘Uzhmah (4/1424), dari jalan periwayatan Ibn Luhai’ah.

 

وهذا إسناد ضعيف لا يصح ، ولا يثبت بمثله هذا الخبر ، وابن لهيعة ، واسمه عبد الله بن لهيعة بن عقبة ، ضعيف كان قد اختلط ، وهو مع ذلك مدلس ، راجع “التهذيب (٥/٣۲۷-٣٣١)، ميزان الاعتدال (۲/٤٥۷-٤۸٤).

 

Sanad riwayat ini lemah, tidak shahih sehingga kabar di dalamnya tidak bisa ditetapkan dengan sanad seperti ini. Ibn Luhai’ah, namanya adalah ‘Abdullah bin Luhai’ah bin ‘Uqbah, perawi lemah yang hafalannya kacau (campur aduk). Selain itu, dia juga seorang yang mudallis. Silakan merujuk kitab at-Tahdzib (5/328-331) dan Mizan al-I’tidal (2/407-484).

 

وقيس بن الحجاج صدوق من الطبقة السادسة عند الحافظ ابن حجر ، وهم الذين لم يثبت لهم لقاء أحد من الصحابة. انظر: تقريب التهذيب (١/۲۰). وكان تارة يرويه مرسلا ، وتارة يرويه عمن حدثه ، ومن حدثه مجهول لا يعرف. فالخبر ضعيف لا يصح.

 

Dan Qais bin al-Hajjaj adalah perawi shaduq dari ath-thabaqah as-sadisah menurut al-Hafizh Ibn Hajar, dan thabaqat tersebut tidak ditetapkan bagi mereka pertemuan dengan salah seorang dari kalangan shahabat, silakan melihat Taqrib at-Tahdzib (1/25). Terkadang Qais bin al-Hajjaj itu meriwayatkan secara mursal dan terkadang pula meriwayatkan dari seseorang yang mengabarkan kepadanya, yakni dari seseorang yang majhul tanpa diketahui jati dirinya sehingga riwayat ini dha’if tidak memiliki validitas.

 

Bandung, 16 Desember 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–