Tentang Abu Hurairah dan Dua Wadah Ilmu …

dua wadah

Sumber dari sini: http://islamqa.info/ar/ref/139569

السؤال: ورد في صحيح البخاري أن أبا هريرة رضي الله عنه قال : (حفظت عن النبي صلى الله عليه وسلم وعائين ، أما أحدهما فبثثته وأما الآخر فكتمته ولو بثثته لقطع هذا الحلقوم) فما معنى هذا الحديث ؟ ولماذا يكتم أبو هريرة هذا العلم؟ أرجو الشرح والتفصيل.

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Terdapat riwayat dalam Shahih al-Bukhari bahwa Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Aku menghafal dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dua bejana ilmu, satu bejana aku sebarkan sedangkan yang lainnya kusembunyikan. Seandainya (isi bejana yang kusembunyikan itu) kusebarkan, niscaya terputuslah tenggorokan ini.” Kenapa Abu Hurairah menyembunyikan ilmu tersebut? Aku mengharapkan penjelasan yang terperinci …

 الجواب:

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

 

الحمد لله …

روى البخاري (١٢٠) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ : فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ.

 

Alhamdulillah …

Imam al-Bukhari meriwayatkan (120) dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Aku menghafal dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dua bejana ilmu. Bejana yang satu kusebarkan, sedangkan yang satu bejana lagi, seandainya aku sebarkan, niscaya  terputuslah tenggorokan ini.”

 

قال الحافظ رحمه الله:

قَوْله: (وِعَاءَيْنِ) أَيْ ظَرْفَيْنِ … أَيْ : نَوْعَيْنِ مِنْ الْعِلْم , ومُرَاده : أَنَّ مَحْفُوظه مِنْ الْحَدِيث لَوْ كُتِبَ لَمَلَأَ وِعَاءَيْنِ” انتهى ملخصا.

 

Al-Hafizh (Ibnu Hajar al-Asqalani) –rahimahullah– berkata:

Ucapan Abu Hurairah, “Wi’a-ain (dua bejana),” maksudnya adalah, “Zharfain (dua wadah),” … yaitu dua macam ilmu. Jadi maksud ucapan Abu Hurairah itu, bahwasanya dia menghafal ilmu dari hadits, yang seandainya ilmu itu dituliskan, niscaya memenuhi dua wadah … –selesai ucapan al-Hafizh secara ringkas.

وبثثته : أذعته ونشرته .
والبلعوم : مجرى الطعام

Dan (ucapan Abu Hurairah), “Kusebarkan,” maksudnya adalah, “Kusiarkan,” dan, “kuberitahukan.”

Dan (ucapan Abu Hurairah), “Tenggorokan,” yaitu, “Kerongkongan tempat saluran makanan.”

 

قال الحافظ في “الفتح” (١/٢١٦):
“حَمَلَ الْعُلَمَاء الْوِعَاء الَّذِي لَمْ يَبُثّهُ عَلَى الْأَحَادِيث الَّتِي فِيهَا تَبْيِين أَسَامِي أُمَرَاء السُّوء وَأَحْوَالهمْ وَزَمَنهمْ , وَقَدْ كَانَ أَبُو هُرَيْرَة يَكُنِّي عَنْ بَعْضه وَلَا يُصَرِّح بِهِ خَوْفًا عَلَى نَفْسه مِنْهُمْ , كَقَوْلِهِ : (أَعُوذ بِاَلله مِنْ رَأْس السِّتِّينَ وَإِمَارَة الصِّبْيَان) . يُشِير إِلَى خِلَافَة يَزِيد بْن مُعَاوِيَة ، لِأَنَّهَا كَانَتْ سَنَة سِتِّينَ مِنْ الْهِجْرَة . وَاسْتَجَابَ اللَّه دُعَاء أَبِي هُرَيْرَة فَمَاتَ قَبْلهَا بِسَنَةٍ.

Al-Hafizh (Ibnu Hajar al-Asqalani) berkata di dalam al-Fath (1/216):

Para ulama mempersamakan (menafsirkan) bahwa wadah yang tidak dikabarkan oleh Abu Hurairah itu adalah hadits-hadits yang memuat keterangan tentang nama-nama para pemimpin yang buruk, tentang ahwal mereka, dan tentang zaman kehidupan mereka. (Sebetulnya) Abu Hurairah pun mengemukakan hakikat sebagian dari para pemimpin itu, namun secara samar saja tanpa terang-terangan karena khawatir akan keselamatan dirinya dari (tindakan) mereka. Hal ini sebagaimana ucapan Abu Hurairah (dalam sebuah atsar), “Aku berlindung kepada Allah dari permulaan tahun 60 dan dari kepemimpinan anak kecil.” (Ucapan Abu Hurairah) tersebut mengisyaratkan kepada kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyah karena kepemimpinannya itu terjadi pada tahun 60 Hijriyah. Allah mengabulkan doa Abu Hurairah tersebut yang memang wafat setahun sebelum masa kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah.

 

قَالَ اِبْن الْمُنِير : وَإِنَّمَا أَرَادَ أَبُو هُرَيْرَة بِقَوْلِهِ : ” قُطِعَ ” أَيْ : قَطَعَ أَهْل الْجَوْر رَأْسه إِذَا سَمِعُوا عَيْبه لِفِعْلِهِمْ وَتَضْلِيله لِسَعْيِهِمْ , وَيُؤَيِّد ذَلِكَ أَنَّ الْأَحَادِيث الْمَكْتُومة لَوْ كَانَتْ مِنْ الْأَحْكَام الشَّرْعِيَّة مَا وَسِعَهُ كِتْمَانهَا . وَقَالَ غَيْره : يَحْتَمِل أَنْ يَكُون أَرَادَ مَعَ الصِّنْف الْمَذْكُور مَا يَتَعَلَّق بِأَشْرَاطِ السَّاعَة وَتَغَيُّر الْأَحْوَال وَالْمَلَاحِم فِي آخِر الزَّمَان , فَيُنْكِر ذَلِكَ مَنْ لَمْ يَأْلَفهُ , وَيَعْتَرِض عَلَيْهِ مَنْ لَا شُعُور لَهُ بِهِ ” انتهى ملخصا.

 

Ibn al-Munir berkata:

Maksud ucapan Abu Hurairah, “Niscaya terputuslah,” yaitu orang-orang lalim akan memenggal kepalanya jika mereka mendengar dirinya mencela perbuatan buruk mereka dan menganggap sesat tindakan-tindakan mereka. Hal ini dikuatkan dengan (alasan) bahwa jika hadits-hadits yang disembunyikan oleh Abu Hurairah itu merupakan hadits-hadits yang memuat hukum-hukum syariat, maka tentunya dia tidak diperkenankan untuk menyembunyikannya. Ada juga yang mengatakan, “Terkandung pengertian bahwa maksud dari (hal yang disembunyikan) itu adalah hal yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, perubahan-perubahan kondisi, dan peperangan di akhir zaman, lalu (jika hal itu disiarkan) akan diingkari oleh orang yang tak menyukai hal itu serta akan menentangnya pula orang yang tak memiliki kearifan.”selesai secara ringkas

 

وقال العيني :أراد به نوعين من العلم ، وأراد بالأول الذي حفظه من السنن المذاعة لو كتبت لاحتمل أن يملأ منها وعاء ، وبالثاني ما كتمه من أخبار الفتن كذلك .ويقال : حمل الوعاء الثاني على الأحاديث التي فيها تبيين أسامي أمراء الجور وأحوالهم وذمهم ” انتهى . “عمدة القاري” (٣/٣٦٤).

 

Imam al-‘Aini berkata:

Yang dimaksud oleh Abu Hurairah adalah dua jenis ilmu. Jenis ilmu yang pertama adalah (ilmu) yang dihafalnya berupa sunnah-sunnah yang disebarkan. Apabila dia menuliskan (ilmu jenis pertama itu), maka akan penuhlah sebuah wadah dengannya. Adapun ilmu jenis kedua adalah ilmu yang disembunyikannya, yaitu ilmu berupa kabar-kabar tentang fitnah. Dan ada yang mengatakan, “Wadah ilmu yang kedua adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang nama-nama para pemimpin yang lalim, keadaan-keadaan mereka, dan keburukan-keburukan mereka.”  –selesai penukilan (‘Umdah al-Qari 3/364)

 

وقال القرطبي رحمه الله : ” حُمل على ما يتعلق بالفتن من أسماء المنافقين ونحوه ، أما كتمه عن غير أهله فمطلوب بل واجب ” انتهى .”التيسير بشرح الجامع الصغير” (٢/٨٥٢).

 

Imam al-Qurthubi –rahimahullah– berkata:

Dibawa kepada pengertian tentang hal yang terkait dengan fitnah-fitnah berupa nama-nama orang-orang munafik dan yang semacam itu. Adapun disembunyikannya hal itu dari selain ahlinya, maka itulah yang memang seharusnya dilakukan, bahkan wajib (menyembunyikannya). –selesai penukilan (at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir 2/852)

وقال ابن بطال رحمه الله :
” قال المهلب ، وأبو الزناد : يعنى أنها كانت أحاديث أشراط الساعة ، وما عَرَّف به صلى الله عليه وسلم من فساد الدين ، وتغيير الأحوال ، والتضييع لحقوق الله تعالى ، كقوله صلى الله عليه وسلم : ( يكون فساد هذا الدين على يدى أغيلمة سفهاء من قريش ) ، وكان أبو هريرة يقول : لو شئت أن أسميهم بأسمائهم ، فخشى على نفسه ، فلم يُصَرِّح . وكذلك ينبغى لكل من أمر بمعروف إذا خاف على نفسه في التصريح أن يُعَرِّض . ولو كانت الأحاديث التي لم يحدث بها من الحلال والحرام ما وَسِعَهُ تركها ، لأنه قال : ” لولا آيتان في كتاب الله ما حدثتكم” ، ثم يتلو : ( إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى ) البقرة /١٥٩” انتهى .”(شرح صحيح البخارى” لابن بطال (١/١٩٥).

 

Ibnu Bathal –rahimahullah– berkata, “Imam al-Muhallab dan Abu az-Zinad mengatakan:

Yaitu hadits-hadits tentang tanda-tanda kiamat dan tentang hal-hal yang diberitakan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenai kerusakan agama, perubahan keadaan-keadaan, dan pengabaian terhadap hak-hak Allah ta’ala sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan rusak agama ini di tangan anak-anak muda bodoh dari kalangan Quraisy,” dan Abu Hurairah pernah berkata, “Kalau aku mau, akan kusebut mereka dengan nama-nama mereka,” akan tetapi Abu Hurairah khawatir akan keselamatan dirinya, maka dia pun tak menjelaskannya. Memang demikianlah seharusnya sikap yang diambil oleh setiap penyeru kebaikan apabila khawatir atas keamanan dirinya jika menjelaskan (hal-hal seperti itu). (Berbeda halnya) jika hadits-hadits yang tidak disebarkan itu merupakan hadits-hadits tentang halal dan haram, maka tentunya Abu Hurairah tidak mungkin memiliki keleluasaan untuk menyembunyikannya karena dia telah berkata, “Kalau bukan karena dua ayat di dalam al-Quran, niscaya aku tidak akan mengabarkan hadits kepada kalian,” kemudian Abu Hurairah membaca ayat (QS. Al-Baqarah: 159), Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk.” –selesai ucapan (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibn Bathal: 1/195)

 

وقال ابن الجوزي رحمه الله:

“ولقائل أن يقول : كيف استجاز كتم الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد قال: (بلغوا عني) ؟ وكيف يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم ما إذا ذُكِرَ قُتِلَ راويه ؟ وكيف يستجيز المسلمون من الصحابة الأخيار والتابعين قتل من يروي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟

فالجواب : أن هذا الذي كتمه ليس من أمر الشريعة ؛ فإنه لا يجوز كتمانها وقد كان أبو هريرة يقول : ” لولا آية في كتاب الله ما حدثتكم ” وهي قوله : (إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى) فكيف يظن به أن يكتم شيئا من الشريعة بعد هذه الآية وبعد أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يبلغ عنه ؟ وقد كان يقول لهم : ( ليبلغ الشاهد منكم الغائب ) وإنما هذا المكتوم مثل أن يقول : فلان منافق ، وستقتلون عثمان ، و(هلاك أمتي على يدي أغيلمة من قريش) بنو فلان ، فلو صرح بأسمائهم لكذبوه وقتلوه” انتهى .”كشف المشكل من حديث الصحيحين” (ص/١٠١٤ (

 

Ibn al-Jauzi –rahimahullah– berkata:

Dan kepada orang yang mengatakan, “Bagaimana mungkin diperbolehkan menyembunyikan hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- padahal beliau telah bersabda: (sampaikan yang datang dariku)? Dan bagaimana mungkin Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan sesuatu yang jika hal itu disebutkan, dibunuhlah orang yang meriwayatkannya? Bagaimana boleh kaum muslimin dari kalangan para shahabat yang mulia dan para tabi’in membunuh orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Maka jawabannya adalah, bahwa hal yang disembunyikannya itu bukanlah perkara syariat, karena sesungguhnya tidak boleh menyembunyikan perkara syariat. Dan Abu Hurairah pun telah berkata, “Kalau bukan karena ayat di dalam al-Quran, niscaya aku tidak akan mengabarkan hadits kepada kalian.” Dan ayat yang dimaksud oleh Abu Hurairah adalah firman Allah (QS. Al-Baqarah: 159), Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk.” Lantas bagaimana bisa berprasangka kepada Abu Hurairah bahwa dia menyembunyikan sesuatu dari perkara syariat setelah (dia mengetahui) ayat tersebut dan setelah adanya perintah dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk menyampaikan apa yang datang dari beliau? Dan sungguh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah bersabda kepada para shahabat, “Hendaklah orang yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.” (Oleh karena itu, wadah) yang disembunyikan (oleh Abu Hurairah) itu hanyalah perkara semisal ucapan, “Si Fulan adalah seorang munafik, kalian akan membunuh ‘Utsman,” juga semisal (sabda Rasulullah), “Kebinasaan umatku di tangan anak-anak kecil dari Quraisy,” juga semisal, “Anak-anak keturunan fulan,” maka seandainya Abu Hurairah menyebutkan nama-nama mereka secara jelas, niscaya mereka akan mendustakan dan membunuhnya. –selesai ucapan yang dinukil (Kasyfu al-Musykil min Hadits ash-Shahihain, hal. 1014).

 

والخلاصة :
أن ما كتمه أبو هريرة رضي الله عنه من العلم مختص بأخبار الفتن وأمراء السوء وأحوالهم وزمانهم ، وأسماء المنافقين ، وما يحصل آخر الزمان من تغير الأحوال ووقوع الفتن ونحو ذلك مما لا يألفه الناس. وإنما كتمه أبو هريرة رضي الله عنه ولم ينشره للمصلحة الراجحة ؛ فإنه لو ذكر أمراء السوء ، أو عين أحدا منهم ، أو كنّى عنه بما يدل عليه لوقع الناس في الفتن ، ولكثر القيل والقال ، ولتعرض أبو هريرة للأذى ، ولتحمس بعض هؤلاء الأحداث ممن لا علم لهم ولا روية عندهم وأثار القلاقل وأحدث الفتن ، بدعوى أن هؤلاء أمراء السوء الذين أخبر عنهم النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا بد من تطهير الأرض منهم وإراحة الناس من شرهم وأذاهم ، فيخرجون على الخلفاء والأمراء ، ويحدثون الفتن. وكذا لو أخبر أبو هريرة رضي الله عنه بما يحصل من الملاحم والفتن آخر الزمان لسارع كثير ممن لا علم له من السفهاء والدهماء إلى تكذيبه ، ولكثر الجدل ولاحتدّ النقاش فيما يرويه ويقوله ، فينصرف الناس – كما هي عادتهم في مثل ذلك – عن الانشغال بما يهمهم من أمر دينهم ودنياهم إلى أندية الجدل ومحاطّ الخصام .
وقد كانوا لا يقبلون بعض ما يروي من أحاديث الأحكام ، ويستكثرون عليه ما يروي في الحلال والحرام ، فكيف لو روى لهم شيئا من أحاديث الفتن ؟! فكان كتمانه هذا النوع من العلم من حكمته وتمام فقهه وعلمه رضي الله عنه.

 

Kesimpulan:

Bahwa (bejana ilmu) yang disembunyikan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– itu merupakan perkara khusus tentang kabar-kabar fitnah, tentang para pemimpin yang buruk beserta hal ihwal dan zaman kehidupan mereka, tentang nama-nama orang munafik, tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir zaman berupa perubahan-perubahan kondisi dan realitas-realitas fitnah, juga hal-hal semacam itu yang takkan disukai oleh manusia. Abu Hurairah menyembunyikan hal itu -tanpa mengabarkannya- demi kemaslahatan atau demi tercapai kebaikan yang lebih banyak, karena sesungguhnya apabila dia menyebutkan para pemimpin yang buruk, atau menyebutkan kejelekan-kejelekan salah seorang dari mereka, atau menyingkap hakikatnya dengan apa yang ditunjukkan oleh (kabar-kabar yang disimpan oleh Abu Hurairah itu), niscaya manusia terjatuh ke dalam berbagai fitnah, bahkan pembicaraan gosip “katanya dan katanya” akan merebak luas dan Abu Hurairah pun tertimpa bahaya. (Selain itu) hadits-hadits itu akan menyulut amarah orang-orang yang tak memiliki ilmu dan pertimbangan akal sehat sehingga menimbulkan kerusuhan dan fitnah-fitnah seraya menyerukan bahwa para pemimpin mereka itu adalah para pemimpin yang buruk berdasarkan kabar dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sehingga dunia harus bersih dari keberadaan (para pemimpin) seperti itu dan manusia harus terlepas dari keburukan dan gangguan mereka. Maka orang-orang pun memberontak kepada para khalifah dan para pemimpin, dan terjadilah beragam fitnah.

Demikian juga jika seandainya Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– mengabarkan peristiwa-peristiwa peperangan dan fitnah akhir zaman, niscaya kebanyakan dari kalangan masyarakat yang tak memiliki ilmu lagi bodoh akan dengan terburu-buru mendustakannya. Mereka akan menyanggah dan membantah kabar-kabar yang diriwayatkan dan dikatakan olehnya. Akibatnya, manusia pun berpaling dari kesibukan dan perhatian terhadap urusan agama dan dunia mereka menuju majelis-majelis perdebatan dan perbantahan –sebagaimana hal ini merupakan kebiasaan mereka dalam hal yang seperti ini.

Pada kenyataanya, sebagian dari apa yang diriwayatkan dalam hadits-hadits hukum saja banyak yang tidak diterima oleh orang-orang, dan kebanyakannya tentang masalah halal dan haram. Lantas bagaimana pula jadinya kalau yang diriwayatkan kepada mereka itu berupa hadits-hadits tentang berbagai fitnah? Oleh karena itu, tindakan penyembunyian satu bejana ilmu yang dilakukan oleh Abu Hurairah tersebut terlahir dari kebijaksanaannya, juga terlahir dari kesempurnaan pemahaman dan pengetahuannya –radhiyallahu ‘anhu.

 

أما أحاديث الأحكام ونحوها : فلم يكن بدّ من روايتها ، روى البخاري (٢٣٥٠) ومسلم (٢٤٩٢) عنه رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: يَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ ، وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ ، وَيَقُولُونَ : مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ مِثْلَ أَحَادِيثِهِ ، وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ ، وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ ، وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي ، فَأَحْضُرُ حِينَ يَغِيبُونَ ، وَأَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ … إلى أن قال : وَاللَّهِ لَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ شَيْئًا أَبَدًا : (إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلَئِكَ يَلْعَنُهُمْ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمْ اللاَّعِنُونَ * إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُوْلَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

 

Adapun mengenai hadits-hadits tentang hukum-hukum syariat dan sejenisnya, tentu saja terdapat riwayat-riwayat darinya. Imam al-Bukhari (2350) dan Muslim (2492) meriwayatkan bahwa Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– berkata:

Orang-orang mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali meriwayatkan hadits, wallahu al-mau’id. Dan orang-orang juga mengatakan, “Mengapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah?” Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin disibukkan oleh kegiatan perdagangan di pasar, dan saudara-saudaraku dari kalangan Anshar disibukkan oleh kegiatan mengurus harta-harta mereka (pertanian), sedangkan aku sendiri hanyalah seorang lelaki miskin yang senantiasa ber-mulazamah kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–  untuk memenuhi kecukupan isi perutku. Aku selalu hadir (di majelis Rasulullah) ketika yang lain tidak hadir, dan aku pun selalu mengingat (apa yang datang dari Rasulullah) ketika mereka lupa … –demikian seterusnya hingga ucapan Abu Hurairah berikut:

“Demi Allah, kalau bukan karena dua ayat di dalam al-Quran, niscaya aku tidak akan meriwayatkan sesuatu pun kepada kalian selamanya.”

Yaitu ayat:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 159-160)

 

Bandung, 7 Desember 2012

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

20 comments on “Tentang Abu Hurairah dan Dua Wadah Ilmu …

  1. Novi Kurnia says:

    Fotonya bagussssss… hiii pingin belajar fotografi jadinya

  2. Novi Kurnia says:

    Subhanallah… sikap dan tindakan orang berilmu memang jitu, tidak ada yang asal dan hambur, ya.

  3. matahari_terbit says:

    ورد itu artinya apa bang?
    koq diterjemahin jadi “Terdapat riwayat”
    *pengen tauuu artinyaa =D

  4. matahari_terbit says:

    *fajar jadi inget kajiannya ustadz Yunahar.. hehe..
    ada yang tanya tentang bukankah ini menyembunyikan ilmu

    ahayy.. *dejavu

  5. matahari_terbit says:

    “sedangkan aku sendiri hanyalah seorang lelaki miskin yang senantiasa ber-mulazamah kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk memenuhi kecukupan isi perutku. Aku selalu hadir (di majelis Rasulullah) ketika yang lain tidak hadir, dan aku pun selalu mengingat (apa yang datang dari Rasulullah) ketika mereka lupa … ”

    ucapan abu hurairah radhiyallaahu anhu iniiiiiii so sweeeeeet bangggeeeeet *halah

    bikin klepek2 *loh =))

    *hobi bawa kalimat aneh wekekeke

    • tipongtuktuk says:

      bahkan ada riwayat lain yang berupa pernyataan dari shahabat lain yang ketika ditanya seperti itu oleh para tabi’in, maka shahabat lain itu mengatakan bahwa memang Abu Hurairah itu selalu menyertai nabi pada saat dirinya dan shahabat lain sibuk dengan perdagangan atau pertanian … he he he …

  6. matahari_terbit says:

    Al-Fath
    trus
    ‘Umdah al-Qari
    itu kitab apa bang?

    • tipongtuktuk says:

      al-Fath itu maksudnya Fath al-Bari, yaitu syarah terhadap shahih bukhari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani. Kitab yang menurut para ulama telah membuat hutang kaum muslimin terhadap imam bukhari terbayarkan saking banyak sekali faidah di dalamnya …

      ‘Umdah al-Qari itu kitab karya Imam al-‘Aini … merupakan syarah terhadap shahih al-Bukhari … he he he …

  7. Makasih Mas Hendra atas ilmunya.

    Kemaren persoalan Abu Hurairah ini sempet saya tanyakan pada Ustadz dari Wahdah Islamiyah yang kebetulan ngisi kajian aqidah, pas bahas Muadz bin Jabal yang dilarang Rasulullah menyampaikan khabar keutamaan kalimat syahadat dan haqnya bagi seseorang.

    Juga menjawab pertanyaan dari pendukung Syiah di http://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/10/21/abu-hurairah-menyembunyikan-hadis/

    • tipongtuktuk says:

      terima kasih kembali, Mas Priyo -Abu Saif- …

      berkaitan dengan Syi’ah, memang sungguh tak ada satu hadits pun dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang bebas dari kedengkian dan kebencian mereka, tidak juga ada kehormatan shahabat yang lepas dari amarah mereka … -semoga Allah meneguhkan kita di atas Sunnah, di atas jalannya kaum mukminin …

  8. Miss U says:

    ternyata masih ada batasan untuk menyampaikan sesuatu *ngangguk2*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s