Lantaran Kebenaran Itu Hanya Satu-Satunya …

 satu-satunya

أبو عبد الله بلال القسنطيني الجزائري

(al-Akh: Abu ‘Abdillah Bilal al-Qusnathini al-Jaza-iri)

dari sini: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=44805

 

 قال ابن القيم رحمه الله تعالى:

وتأمل كيف قال الله تعالى: (ذَهَبَ الله بِنُورِهِمْ) فوحده، ثم قال: (وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُماتٍ) فجمعها. فإن الحق واحد، وهو صراط الله المستقيم، الذي لا صراط يوصل إليه سواه، وهو عبادة الله وحده لا شريك له بما شرعه على لسان رسوله صلّى الله عليه وسلّم، ولا بالأهواء والبدع، وطرق الخارجين عما بعث الله به رسوله صلّى الله عليه وسلّم، من الهدى ودين الحق، بخلاف طرق الباطل. فإنها متعددة متشعبة.

 

Ibn al-Qayyim –rahimahullah ta’ala– berkata:

… dan renungkanlah bagaimana firman Allah ta’ala (QS. Al-Baqarah: 17), “Allah melenyapkan nur (cahaya) mereka …,” maka Allah menyebutkan (cahaya) dalam bentuk tunggal, kemudian mengatakan, “… dan membiarkan mereka dalam zhulumat (kegelapan),” dengan menyebutkan (kegelapan) dalam bentuk jamak, karena sesungguhnya kebenaran itu hanya satu-satunya, dan itu adalah jalan Allah yang lurus (shirath al-mustaqim), jalan yang tiada jalan lain lagi yang bisa menyampaikan kepada-Nya, yaitu beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya tanpa membuat sekutu bagi-Nya, dengan cara yang telah disyariatkan oleh-Nya melalui lisan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukanlah beribadah berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah, bukan pula dengan mengikuti jalan-jalan yang keluar dari risalah yang Allah telah mengutus Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan risalah tersebut berupa petunjuk dan agama yang benar yang berlawanan dengan jalan-jalan kebatilan karena sesungguhnya jalan-jalan kebatilan itu berbilang-bilang jumlahnya dan mencerai-beraikan …

 

ولهذا يفرد الله سبحانه الحق ويجمع الباطل، كقوله تعالى: (الله وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَى النُّورِ، وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِياؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُماتِ)[البقرة : ٢٥٧] وقال تعالى: (وَأَنَّ هذا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ) [الأنعام : ١٥٣] فجمع سبيل الباطل، ووحد سبيل الحق.

 

Oleh karena itu, Allah subhanahu menunggalkan kebenaran dan menjamakkan kebatilan, sebagaimana ucapan Allah ta’ala:

“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari zhulumat (kegelapan-kegelapan) menuju nur (cahaya), adapun orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan.” (QS. al-Baqarah: 257)

Allah juga berfirman:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan) yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari sabil (jalan)-Nya.”  (QS. al-An’am: 153)

Maka Allah menjamakkan jalan yang batil dan menunggalkan jalan yang hak (benar) …

 

ولا يناقض هذا قوله تعالى: (يَهْدِي بِهِ الله مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ)[المائدة : ١٦] فإن تلك هي طرق مرضاته التي يجمعها سبيله الواحد، وصراطه المستقيم. فإن طرق مرضاته كلها ترجع إلى صراط واحد وسبيل واحد، وهي سبيله التي لا سبيل إليه إلا منها.

 

Dan ini tidaklah bertentangan dengan firman Allah ta’ala berikut:

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke subul as-salam (jalan-jalan keselamatan).” (QS. Al-Ma-idah: 16)

karena semua itu (subul as-salam) maksudnya adalah jalan-jalan keridaan-Nya, jalan-jalan keridaan yang tercakup di dalam jalan-Nya yang satu, shirath al-mustaqim. Sesungguhnya jalan-jalan keridaan-Nya itu, seluruhnya akan bermuara kepada shirath yang satu, sabil yang satu, dan itu adalah jalan-Nya yang tiada jalan lain untuk menuju kepada-Nya kecuali dengan meniti jalan tersebut …  

وقد صح عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أنه: ”خط خطا مستقيما، وقال: هذا سبيل الله، ثم خط خطوطا عن يمينه وعن شماله، وقال: هذه سبل، على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه، ثم قرأ قوله تعالى: (وَأَنَّ هذا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ. ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)] الأنعام : ١٥٣[  

Sungguh telah shahih dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwasanya beliau menorehkan satu garis yang lurus (di tanah) seraya bersabda, “Inilah sabil (jalan) Allah,” kemudian beliau menorehkan garis-garis lain di sebelah kanan dan kiri garis (yang pertama tadi) sambil bersabda, “Ini adalah subul (jalan-jalan) yang pada masing-masing jalan ini ada setan yang menyeru (manusia) agar menempuhnya.” Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala (QS. Al-An’am: 153), “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan) yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari sabil (jalan)-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”  [1],[2]

 

وقد ذكر ابن كثير أن رجلاً سأل ابنَ مسعود رضي الله عنه: ”ما الصراطُ المستقيم؟ قال: تَرَكَنَا محمّدٌ صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم في أدناه وطرفه في الجنة، وعن يمينه جوادٌّ([3]) وعن يساره جوادٌّ، ثمّ رجال يدعون من مرَّ بهم، فمن أخذ في تلك الجواد انتهت به إلى النار، ومن أخذ على الصراط انتهى به إلى الجنة، ثمّ قرأ ابن مسعود الآية”([4]).

 

Ibn Katsir telah menyebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Ibn Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu, “Apakah shirath al-mustaqim (jalan yang lurus) itu?” Ibn Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– pun menjawab, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- meninggalkan kami di atas jalan yang ujungnya di surga, di sebelah kanan jalan itu ada jawad (jalan yang banyak) [3] dan di sebelah kirinya ada jawad (jalan yang banyak) pula. Kemudian (pada masing-masing jalan) ada orang-orang yang menyeru kepada setiap yang lewat (agar menempuh jalan-jalan itu). Siapa pun yang mengambil jalan-jalan itu, dia akan disampaikan ke neraka, namun siapa yang menempuh shirath, dia akan disampaikan ke surga,” kemudian Ibn Mas’ud membaca ayat tersebut (al-An’am: 153). [4]

—————————————–

Catatan Kaki:

 

-الحديث أخرجه الدارمي في سننه (٢٠٦)، وابن حبان في مقدمة صحيحه:باب الاعتصام بالسنة وما يتعلق بها نقلاً وأمراً وزجراً (٧)، والحاكم في المستدرك (٣٢٤١)، وأحمد (٤١٣١)، والبزار في مسنده (١٧١٨)، من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه. والحديث صححه أحمد شاكر في تحقيقه لمسند الإمام أحمد (٦/٨٩)، وحسنه العلامة الألباني كما في المشكاة (١٦٦)

 

[1] Hadits ini dikeluarkan oleh ad-Darimi di kitab Sunan-nya (206), Ibn Hibban di Muqadimah Shahih-nya bab al-I’tisham bi as-Sunnah wa ma yata’allaq biha Naqlan wa Amran wa Zajran (7), al-Hakim di kitab al-Mustadrak (3241), Ahmad (4131), al-Bazar di kitab Musnad-nya (1718), dari hadits ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam tahqiq-nya terhadap Musnad al-Imam Ahmad (6/89), dan dihasankan oleh al-Albani sebagaimana terdapat dalam al-Misykah (166).

 

التفسير القيم (ص:١٢٨)

 

[2] at-Tafsir al-Qayyim (halaman 128).

 

الجوادُّ: جمع جادّة، وهي معظم الطريق، وأصل الكلمة من جدَدَ.[النهايةلابن الأثير( ١/٣١٣).

 

[3] al-jawaad merupakan bentuk jamak dari jaaddah, yaitu jalan yang besar, asalnya dari kata jadada

 

تفسير ابن كثير (٢/١۹١).

 

[4] Tafsir Ibn Katsir (2/191).

 

Bandung, 30 Januari 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Kebodohan yang Menyibukkan, Hawa Nafsu yang Menindas …

celaan

Kebodohan seringkali mendorongku untuk mencela seseorang secara zalim –tentu saja lantaran pemahamanku yang buruk, sementara hawa nafsu membuatku lalai dari ilmu dan malah bersibuk-sibuk mengumpulkan kabar-kabar yang katanya adalah katanya; seorang guru mengatakan, celaan orang berilmu adalah nasihat kepada Sunnah dan kaum muslimin, celaan orang bodoh dan pengikut hawa nafsu adalah fitnah dan kezaliman terhadap Sunnah dan kaum muslimin …

 

***

*

 

Asy-Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abd al-Hamid al-Halabi al-Atsari hafizhahullah

Dari sini: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=21942

قال الشيخ علي بن حسن–حفظه الله:

 

Asy-Syaikh ‘Ali bin Hasanhafizhahullah– berkata:

 

روَى أبو نُعَيم في «حِلية الأولياء»، وابنُ عساكِر في «تبيين كذب المُفتري»، والبيهقيُّ في «الزُّهدِ الكَبير»، عن الرّبيعِ بنِ صَبِيحٍ، قال: قُلتُ للحسنِ: إنَّ -ها هُنا- قوماً يتتَبَّعُونَ السَّقَطَ مِن كلامِك؛ لِيجِدُوا إلى الوَقيعةِ فيكَ سَبيلاً! قال: لا يَكبُرُ ذلك عليك! فقد أطْمَعْتُ نَفسي في خُلودِ الجِنان، فطمِعَت وأَطْمَعْتُها في جِوارِ الرَّحمنِ، فطَمِعَت.. وأطمَعْتُها في السَّلامةِ مِن النَّاسِ، فلَم أجِد إلى ذلك سبيلاً؛ لأنِّي رأيتُ النَّاسَ لا يرضُونَ عن خالِقِهِم، فعلِمْتُ أنَّهُم لا يَرضُونَ عن مَخلوقٍ مِثلِهم

 

هؤلاء هُم سلفُنا الصّالحُون؛ فأين سَلَفُكُم -أيُّها المُتسقِّطُون-؟!

فبِرَبِّكُم: … هذا واقِعُهُم؛ فكيفَ واقعُنا؟! … هكذا مُخالِفُوهُم؛ فكيفَ مُخالِفُونَا؟! … هكذا (ناسُهُم)؛ فكيف (ناسُنا)؟!

ولكنْ: هكذا أخلاقُ (صالحِيهِم)؛ فهَل تكونُ مِثلَهُم أخلاقُنا؟!

 

Abu Nu’aim meriwayatkan di kitab Hilyah al-Auliya’, juga Ibn ‘Asakir di kitab Tabyin Kadzib al-Muftari, dan al-Baihaqi di kitab az-Zuhd al-Kabir, dari ar-Rabi’ bin Shabih, dia berkata:

Aku berkata kepada al-Hasan, “Sesungguhnya di sini ada orang-orang yang mencari-cari kekeliruan dari ucapanmu agar mereka mendapatkan jalan untuk menjatuhkanmu.” Al-Hasan al-Bashri pun berkata, “Jangan sampai hal itu membuatmu susah. Sungguh aku menyemangati jiwaku akan keabadian surga, maka jiwaku pun menginginkannya (tersemangati untuk menapaki jalan ketaatan). Aku menyemangati jiwaku akan perlindungan ar-Rahman, maka jiwaku pun menginginkannya (tersemangati untuk manjauhi jalan keburukan). Aku menginginkan agar jiwaku selamat dari manusia, namun tak kutemukan jalan untuk mendapatkannya karena kulihat manusia itu tidak rela kepada khaliq, maka aku pun tahu mereka tidak mungkin rela terhadap makhluk semisal mereka.”  

Mereka itulah para pendahulu kami yang shalih, maka di manakah para pendahulu kalian, wahai orang-orang yang suka mengumpulkan kabar dan mencari-cari kesalahan?

Maka, demi Rabb kalian … inilah realitas mereka (para pendahulu yang shalih), lantas bagaimana dengan realitas kita?

… demikian itulah orang-orang yang memusuhi mereka, lantas bagaimana dengan orang-orang yang memusuhi kita?

… seperti itulah perihal mereka, lantas bagaimana dengan perihal kita?

Hanya saja … seperti itulah perangai orang-orang saleh mereka (dalam sikap dan perbuatan), lantas apakah perangai kita seperti mereka?

 

وما أجملَ -بَعْدُ- ما رواهُ البيهقيُّ في «الزُّهدِ» عن مالِكِ بنِ دِينار، أنَّهُ قال: «مُنذُ عَرَفْتُ النّاسَ ما أُبالِي مَن حَمِدَنِي، ولا مَن ذَمَّنِي؛ لأنِّي لا أرَى إلاّ حامِداً مُفرِطاً؛ أو ذامًّا مُفَرِّطاً».

 

Betapa indah apa yang diriwayatakan oleh al-Baihaqi di kitab az-Zuhd, dari Malik bin Dinar, bahwasanya dia berkata, “Sejak aku memahami manusia, aku tak lagi peduli akan orang yang memujiku, tidak pula terhadap orang yang mencelaku, karena aku tidak melihat manusia kecuali orang yang memuji dengan berlebih-lebihan atau orang yang mencela dengan berlebih-lebihan.”  

 

قلتُ: وهذا هو (الواقِع)، ما لهُ مِن دافِع … والوسطُ قليلٌ …

(وقليلٌ مِن عبادِيَ الشَّكُور …)

وقد كانُوا إذا عُدُّوا قليلاً *** وقد صارُوا أعزَّ مِن القَليلِ

… جَعَلَنِي اللهُ -وإيَّاكُم- مِنهُم.

 

Aku berkata, “Dan ini memang realitas yang tak terelakkan, sementara orang yang bersikap pertengahan itu sangat sedikit.”

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur.” (QS. Saba’ : 13)

Sungguh mereka itu sedikit jika dihitung *** dan sungguh mereka menjadi yang paling langka dari yang sedikit

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk golongan mereka (yang sedikit) …

 

Bandung, 29 Januari 2013

-HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Cinta Menakik Bilur pada Ingatan …

bilur

Kau mengarau riak di telaga, bersampan kayu menakar jelaga dengan cangkir-cangkir kopi; butiran arang meruah ke dalam arus seperti prahara hitam yang kalah …

Aku tertawa menokoh renjana yang menggigis, terduduk ilu menyampang arah ke bibir daratan; tuntas merampai semua kama yang melabuh sauh menjadi antologi meski lantas kaukaramkan jua sedalam rahasia …

Benar, penanda waktu tak henti berkisaran selepas itu, palut usia pun terkelupas melintasi hujan dan kemarau. Tak lengkara ribuan matahari telah karam di luar hitunganku semenjak kau menjarak dari kedekatan, namun beribu-ribu malam yang panjang tak jua melesapkanmu dari ingatan –begitu juga warna luka yang kaupilihkan …

“Cinta telah menakik bilur pada ingatan, seorang pencinta menyadap pitawat dari lukanya,” itu semiang majasmu di hujung pertemuan, namun seakan-akan baru kemarin kau menggerisik di dekat hatiku yang terjatuh …

 

******************

Pitawat:

 

 قال ابن قيم رحمه الله: … في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله، وفيه وحشة لا يزيلها إلا الأنس به في خلوته ، وفيه حزن لا يذهبه إلا السرور بمعرفته وصدق معاملته … – مدارج السالكين

 

Ibn Qayyim –rahimahullah– berkata, “… di hati terdapat serpihan-serpihan terserak yang takkan bisa terhimpun kecuali dengan mendatangi Allah, ada kegundahan karena kesendirian yang takkan hilang selain dengan kesenangan bersunyi-sunyi dengan-Nya, ada kesedihan yang takkan berlalu kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya dan benar dalam berhubungan dengan-Nya ….” – Madarij as-Salikin …

 

Bandung, 27 Januari 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–