Tentang Berlutut Seperti Unta Yang Menderum …

berlutut

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini

Sumber dari sini: http://www.alheweny.org/aws/play.php?catsmktba=662

kitab Nahyu ash-Shuhbah ‘an an-Nuzul bi ar-Rukbah (27-47)

اختلف الناس في هيئة الخرور إلى السجود أهي على اليدين أم هي على الركبتين؟ والراجح الصحيح في هذا الباب أن النزول إنما هو على اليدين لصحة الأدلة في ذلك ووضوح معناها. والحجة في هذا الباب هي حديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال:

Manusia berselisih pendapat mengenai cara turun menuju sujud, apakah dengan meletakkan kedua tangan terlebih dahulu ataukah dengan kedua lutut terlebih dahulu? Dan yang benar lagi shahih mengenai hal ini, bahwasanya tata cara turun menuju sujud itu dilakukan dengan meletakkan kedua tangan terlebih dahulu berdasarkan penunjukkan dalil yang shahih beserta kejelasan maknanya.

Adapun dalil yang dimaksud mengenai hal tersebut, yaitu hadits yang diterima dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu ta’ala– yang mengatakan sebagai berikut:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: “إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه.”

أخرجه أحمد (٢/٣٨١) وأبو داود (٣/٧٠ عون) والبخاري في “التاريخ الكبير”(١/١/١٣۹) والنسائي (٢/٢٠٧) والطحاوي في “شرح معاني الآثار” (١/٢٥٤)وفي “المشكل” (١/ ٦٥-٦٦) وكذا أخرجه الحازمي في” الاعتبار” (ص ١٥٨-١٥٩) والدارقطني (١/٣٤٤-٣٤٥) والبيهقي (٢/٩٩-١٠٠) وابن حزم في “المحلى” (٤/١٢٨-١٢۹) والبغوي في “شرح السنة” (٣/١٣٤-١٣٥) من طريق الدراوردي ثنا محمد بن عبد الله بن الحسن عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة مرفوعا فذكره.

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bersujud, janganlah dia berlutut seperti unta yang menderum, tetapi hendaklah dia meletakkan kedua tangannya terlebih dahulu sebelum kedua lututnya.”

Hadits tersebut dikeluarkan oleh Ahmad (2/381), Abu Dawud (3/70 –‘Aun al-Ma’bud), al-Bukhari di kitab at-Tarikh al-Kabir (1/1/139), an-Nasa’i (2/208), dan ath-Thahawi di kitab Syarh Ma’ani al-Atsar (1/253) dan di kitab al-Musykil (1/65-66). Juga dikeluarkan oleh al-Hazimi di kitab al-I’tibar (halaman 158-159), ad-Daruquthni (1/344-345), al-Baihaqi (2/99-100), Ibn Hazm di kitab al-Muhalla (4/128-129), dan al-Baghawi di kitab Syarh as-Sunnah (3/134-135), dari jalan ad-Darawardi: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah secara marfu’ … -lalu menyebutkan hadits di atas …

 

قلت:وإسناده صحيح لا غبار عليه وجود إسناده النووي في “المجموع” (٣/٤٢١) ولكن شيخ الإسلام ابن القيم رضي الله عنه أعله في كتابه الفذ “زاد المعاد “بعدة علل، هي عند التحقيق ليست كذلك، فأنا أوردها جملة، ثم أكر عليها بالرد تفصيلاً والله المستعان وعليه التكلان.

 

Aku katakan, sanad hadits tersebut shahih tanpa debu sedikit pun, dan an-Nawawi membaguskan sanadnya di kitab al-Majmu’ (3/421). Akan tetapi Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim –radhiyallahu ‘anhu– melemahkannya di kitabnya yang tiada duanya, az-Zad al-Ma’ad, dengan sejumlah kelemahan, padahal berdasarkan penelitian tidaklah seperti itu. Oleh karena itu, aku menyebutkannya secara umum kemudian mengulanginya dengan menyertakan bantahan secara terperinci, dan hanya Allah saja yang dimintai pertolongan, dan hanya kepada-Nya berserah diri.

ALASAN IBN AL-QAYYIM

قال شيخ الإسلام ابن القيم في “الزاد” (١/٥٧-٥٨) وفي “تهذيب سنن أبي داود” (٣/٧٣-٧٥) ما ملخصه:

Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim berkata di kitab az-Zad al-Ma’ad (1/57-58), juga di kitab Tahdzib Sunan Abi Dawud (3/73-75) yang kesimpulannya sebagai berikut:

 

أولاً: حديث وائل بن حجر رضي الله عنه أثبت من حديث أبي هريرة كما قال ذلك الخطابي. وقد قال فيه الترمذي: “حسن غريب” وقال في حديث أبي هريرة: “غريب” ولم يذكر فيه حسناً.

Pertama: hadits Wa-il bin Hujr –radhiyallahu ‘anhu– lebih kukuh dari hadits Abu Hurairah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Khaththabi. Imam at-Tirmidzi sendiri mengatakan (tentang hadits Wa-il bin Hujr), “Hasan gharib,” sementara terhadap hadits Abu Hurairah, dia mengatakan, “Gharib,” tanpa menyebutkan ungkapan, “Hasan.”

ثانياً: حديث أبي هريرة لعل متنه انقلب على بعض الرواة ولعل صوابه: “وليضع ركبتيه قبل يديه” فإن أوله يخالف آخره. قال: وقد رواه كذلك أبو بكر ابن أبي شيبة فقال: حدثنا محمد بن فضيل عن عبد الله بن سعيد عن جده عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه قال:”إذا سجد أحدكم فليبدأ بركبتيه قبل يديه ولا يبرك كبروك الفحل”. رواه الأثرم في “سننه” عن أبي بكر كذلك. وقد روى عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يصدق ذلك ويوافق حديث وائل بن حجر. قال أبي داود: حدثنا يوسف بن عدى حدثنا ابن فضيل عن عبد الله بن سعيد عن جده عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه كان إذا سجد بدأ بركبتيه قبل يديه.

Kedua: hadits Abu Hurairah, kemungkinan telah mengalami inqilab (keterbalikan) matan (redaksi) oleh sebagian perawi. Kemungkinan redaksi yang benar –seharusnya- adalah, “tetapi hendaklah dia meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya,” hal itu dikarenakan bagian awalnya menempati bagian akhirnya (redaksinya terbalik –pent).

Abu Bakr bin Abu Syaibah sendiri telah meriwayatkan redaksi yang seperti itu dengan mengatakan: (haddatsana) Muhammad bin Fudhail, (‘an) ‘Abdullah bin Sa’id, (‘an) kakeknya, (‘an) Abu Hurairah, (‘an) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam– bahwasanya beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bersujud, maka mulailah dengan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan janganlah dia berlutut seperti hewan jantan yang menderum.”

Al-Atsram juga meriwayatkan dari Abu Bakr di kitab Sunan seperti itu, bahkan telah diriwayatkan pula dari Abu Hurairah dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– riwayat yang membenarkan hal itu sekaligus bersesuaian dengan hadits dari Wa-il bin Hujr.

Abu Dawud mengatakan: (haddatsana) Yusuf bin ‘Adi, (haddatsana) Ibn Fudhail, (‘an) ‘Abdullah bin Sa’id, (‘an) kakeknya, (‘an) Abu Hurairah, (‘an) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: bahwasanya apabila beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersujud, beliau memulai dengan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.

 

ثالثاً: إن كان حديث أبي هريرة محفوظاً فهو منسوخ بحديث مصعب بن سعد بن أبي وقاص عن أبيه، والذي رواه ابن خزيمة في “صحيحه” قال:”كنا نضع اليدين قبل الركبتين فأمرنا بوضع الركبتين قبل اليدين.”

 

Ketiga: kalaupun (redaksi) hadits Abu Hurairah itu terpelihara (benar redaksinya), maka dia telah mansukh (dihapuskan) oleh hadits Mush’ab bin Sa’d bin Abu Waqqash, dari ayahnya -yang diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah di kitab Shahih-nya, dia berkata, “Kami dulu biasa meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, lalu kami diperintahkan untuk lebih dulu meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.”

رابعاً: حديث أبي هريرة مضطرب المتن. فإن منهم من يقول:”وليضع يديه قبل ركبتيه” ومنهم من يقول بالعكس. ومنهم من يقول:”وليضع يديه على ركبتيه” كما رواه البيهقي.

Keempat: redaksi hadits Abu Hurairah itu idh-thirab (kacau/guncang), karena sebagian di antara hadits-hadits itu ada yang mengatakan, “Tetapi hendaklah dia meletakkan kedua tangannya terlebih dahulu sebelum kedua lututnya,” sebagian lagi mengatakan hal yang sebaliknya (yakni: kedua lutut terlebih dahulu sebelum kedua tangan –pent), bahkan sebagian lainnya mengatakan, “Tetapi hendaklah meletakkan kedua tangan pada kedua lututnya.”

 

خامساً: أن رواة حديث أبي هريرة قد تكلموا فيهم. قال البخاري: “محمد بن عبد الله بن الحسن لا يتابع عليه، ولا أدري أسمع من أبي الزناد أم لا؟” وقال الدارقطني: “تفرد به الدرواردي عن محمد بن عبد الله المذكور.” وأعله الدارقطني أيضاً بتفرد أصبغ بن الفرج عن الدرواردي.

Kelima: para ulama memperbincangkan riwayat Abu Hurairah tersebut. Imam al-Bukhari berkata, “Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan tidak ada muttabi’ atasnya, dan aku tak mengetahui apakah dia mendengar dari Abu az-Zinad ataukah tidak.” Imam ad-Daruquthni berkata, “Ad-Darawardi menyendiri dengan riwayat yang tersebut itu dari Muhammad bin ‘Abdullah,” dan ad-Daruquthni juga melemahkan hadits itu dengan alasan tafarrud (kesendirian) Ashbagh bin al-Faraj dari ad-Darawardi.

سادساً: أن لحديث وائل بن حجر شواهد، أما حديث أبي هريرة فليس له شاهد!

 

Keenam: bahwa hadits Wa-il bin Hujr memiliki syawahid (hadits-hadits lain yang mendukung), sedangkan hadits Abu Hurairah tak memiliki syahid.

 

سابعاً:أن ركبة البعير ليست في يده وإن أطلقوا على اللتين في اليدين اسم الركبة فإنما هو على سبيل التغليب! وأن القول بأن ركبة البعير في يده لا يعرفه أهل اللغة.

Ketujuh: bahwa lutut unta bukanlah berada pada tangannya, dan kalaupun mereka (orang-orang) mengatakan bahwa lutut (unta) itu berada pada tangannya, maka hal itu hanyalah penyebutan secara sabil at-taghlib (menurut yang berlaku umum di masyarakat), padahal –sebenarnya- ucapan bahwa lutut unta itu berada pada tangannya tidaklah dikenal oleh para ahli bahasa.

BANTAHAN TERHADAP IBN AL-QAYYIM

قلت : هذه كانت جملة المطاعن وهي كما أشرت ـ قبل ـ مطاعن لا تثبت على النقد. والجواب عليها من وجوه مراعياً الترتيب.

 

Aku (Syaikh Abu Ishaq al-Huwainy) katakan, (kesimpulan Ibn al-Qayyim) ini merupakan sejumlah kritik terhadap hadits (Abu Hurairah), dan semua itu, sebagaimana yang telah kuisyaratkan sebelumnya, merupakan kritikan yang tidak ditetapkan berdasarkan penelitian. Ada pun bantahannya adalah sebagai berikut berdasarkan tertib urutannya:

 

الأول: أن حديث وائل بن حجر حديث ضعيف. فأخرجه أبو داود(٣/٦٨-٧٤ عون) والنسائي (٢/ ٢٠٦-٢٠٧) وابن ماجة (١/٢٨٧) والدرامي (١/٢٤٥) والطحاوي في “شرح المعاني” (١/٢٥٥) والدارقطني(١/٣٤٥) والحاكم في “المستدرك” (١/٢٢٦) وابن حبان (٤٨٧) والبيهقي (٢/۹٨) والبغوي في “شرح السنة” (٣/١١٣) والحازمي في” الاعتبار” (ص ١٦٠-١٦١) من طريق شريك النخعي عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر رضي الله تعالى عنه قال: “رأيت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا سجد يضع ركبتيه قبل يديه وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه.” قال الترمذي: “هذا حديث حسن غريب. لا نعرف أحداً رواه مثل هذا عن شريك. “وتبعه البغوي فقال: “حديث حسن” وكذا الحازمي. وقال الدارقطني: “تفرد به يزيد بن هارون عن شريك ولم يحدث به عن عاصم بن كليب غير شريك.وشريك ليس بالقوي فيما تفرد به.” وقال البيهقي (٢/١٠١): “إسناده ضعيف.” وقال أيضاً: “هذا حديث يعد في أفراد شريك القاضي وإنما تابعه همام من هذا الوجه مرسلاً.” وهكذا ذكره البخاري وغيره من الحفاظ المتقدمين رحمهم الله تعالى. وقال ابن العربي في “عارضة الأحوذي” (٢/٦٨-٦۹): “حديث غريب.”

 

Bantahan Pertama:

Justru hadits Wa-il bin Hujr itu merupakan hadits yang dha’if, dikeluarkan oleh Abu Dawud (3/68-74 –‘Aun al-Ma’bud), an-Nasa’i (2/206-207), Ibn Majah (1/287), ad-Darami (1/245), ath-Thahawi di kitab Syarh al-Ma’ani (1/255), ad-Daruquthni (1/345), al-Hakim di kitab al-Mustadrak (1/226), Ibn Hibban (487), al-Baihaqi (2/98), al-Baghawi di kitab Syarh as-Sunnah (3/113), al-Hazimi di kitab al-I’tibar (halaman 160-161), dari jalan Syarik an-Nakha’i, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa-il bin Hujr –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- apabila bersujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”

Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib, kami tak mengetahui seorang pun yang meriwayatkan seperti ini dari Syarik,” dan al-Baghawi mengikuti at-Tirmidzi dengan mengatakan, “Hadits hasan,” demikian juga al-Hazimi.

Imam ad-Daruquthni berkata, “Telah menyendiri dengan hadits ini Yazid bin Harun dari Syarik, dan tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim bin Kulaib selain Syarik, sedangkan Syarik itu bukan perawi yang kuat jika tafarrud (menyendiri).”

Imam al-Baihaqi (2/101) berkata, “Sanadnya dha’if,” dan dia juga mengatakan, “Hadits ini termasuk hadits yang diriwayatkan secara menyendiri oleh Syarik al-Qadhi, dan hanya diikuti oleh Hammam dari jalan ini secara mursal,” dan demikian pulalah yang disebutkan oleh al-Bukhari dan yang lainnya dari kalangan huffazh terdahulu –rahimahumullah ta’ala, dan Ibn al-‘Arabi berkata di kitab ‘Aridhah al-Ahwadzi (2/68-69), “Hadits gharib.”

 

قلت: وهذا القول منهم هو الذي تطمئن إليه نفس المرء المنصف. فإنه لا يعلم بتة لشريك متابع عليه إلا همام. ومع ذلك فقد خالفه في إسناده كما يأتي بيانه إن شاء الله. وشريك كان سيىء الحفظ. وسيىء الحفظ لا يحتج به إذا انفرد ، فكيف إذا خالف! قال إبراهيم بن سعد الجوهري: “أخطأ شريك في أربعمائة حديث” وقال النسائي: “ليس بالقوي” وضعفه يحيى بن سعيد جداً.وعليه فقول الترمذي: “حديث حسن” غير حسن. وأشد منه قول الحاكم “صحيح على شرط مسلم” وإن وافقه الذهبي! فشريك إنما أخرج له مسلم متابعة ولم يخرج له احتجاجاً. فأنى يكون على شرطه؟ وقد صرح بذلك الذهبي نفسه في” الميزان” ثم كأنه ذهل عنه. فسبحان من لا يسهو.

 

Aku katakan, inilah ucapan para ulama yang membuat jiwa orang yang bersikap adil (objektif) berkecenderungan kepadanya (merasa tenteram) dikarenakan tak diketahui sama sekali adanya mutabi’ bagi Syarik selain Hammam. Selain itu, sanad Hammam pun berlainan dengan Syarik sebagaimana akan datang penjelasannya, insya Allah. Dan Syarik itu memiliki hafalan yang buruk, sedangkan perawi dengan hafalan yang buruk tidak bisa dijadikan sebagai hujjah jika infirad (bersendirian), lebih-lebih jika sanadnya pun berlainan.

Ibrahim bin Sa’d al-Jauhari berkata, “Syarik melakukan kesalahan di sebanyak empat ratus hadits.” Imam an-Nasa’i berkata, “Bukan perawi yang kuat.” Yahya bin Sa’id menganggap Syarik perawi yang sangat lemah. Dengan demikian, ucapan at-Tirmidzi, “Hadits hasan,” kenyataannya tidaklah hasan.

Ucapan yang paling berat adalah ucapan al-Hakim yang mengatakan, “Shahih menurut syarat Muslim.” Dan meskipun adz-Dzahabi menyetujui ucapan al-Hakim itu, maka –sebagai jawabannya- Syarik dikeluarkan (dipakai riwayatnya) oleh Muslim hanyalah sebagai mutabi’ dan bukan digunakan sebagai hujjah. Dengan demikian, di mana letak ketepatannya dengan syarat Muslim? Padahal Imam adz-Dzahabi sendiri telah pernah menjelaskan hal itu di kitab al-Mizan, namun kemudian seakan-akan dia lupa akan hal itu, maka Maha Suci Allah yang tidak pernah lupa.

 

أما مخالفة همام لشريك فأخرجها أبو داود في “سننه” (٣/٦۹ عون) والبيهقي (٢/۹۹) عنه ثنا شقيق أبو الليث قال: حدثني عاصم بن كليب عن أبيه مرسلاً بنحوه.قال البيهقي: “قال عفان: هذا الحديث غريب” وقد خالف شقيق شريكاً القاضي أرسله.”

قلت: ولكن شقيق هذا مجهول. قال الذهبي: “شقيق بن عاصم بن كليب وعنه همام لا يعرف” وأقره الحافظ في “التقريب” فقال: “مجهول.” وأخرجه أبو داود والبيهقي من طريق همام ثنا محمد بن جحادة عن عبد الجبار ابن وائل عن أبيه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم. ولكنه حديث واهٍ. فعبد الجبار لم يسمع من أبيه. كما قال الحافظ في “التلخيص” (١/٢٤٥). ولم يعتبر الحافظ الحازمي هذه الطريق شيئاً فقال في “الاعتبار” (ص١٦١): “والمرسل هو المحفوظ.”فتبين مما قد ذكرته أن حديث وائل ضعيف بعلتين:
الأولى: ضعف شريك.

الثانية:  مخالفة همام له. والله أعلم.

 

Adapun penyelisihan sanad Hammam terhadap Syarik telah dikeluarkan oleh Abu Dawud di kitab Sunan (3/69 –‘Aun al-Ma’bud), al-Baihaqi (2/99), dari Hammam: mengabarkan kepada kami Syaqiq Abu al-Laits, dia berkata:  telah mengabarkan kepadaku ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya –secara mursal dengan riwayat seperti itu. Imam al-Baihaqi mengatakan, (bahwa) ‘Affan berkata, “Ini hadits gharib,” dan Syaqiq telah menyelisihi sanad Syarik al-Qadhi dan me-mursal-kannya (yakni: tidak menyebutkan Wa-il bin Hujr –pent).

Aku katakan, Syaqiq ini seorang yang majhul. Imam adz-Dzahabi berkata, “Syaqiq bin ‘Ashim bin Kulaib, dan darinya Hammam meriwayatkan, tidaklah diketahui,” dan Ibn Hajar menetapkan pula hal itu di kitab at-Taqrib dengan mengatakan, “Majhul.”

Abu Dawud dan al-Baihaqi mengeluarkan riwayat tersebut dari jalan Hammam, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Juhadah, dari ‘Abd al-Jabbar ibn Wa-il, dari ayahnya (Wa-il bin Hujr), dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, akan tetapi ini merupakan hadits yang lemah karena ‘Abd al-Jabbar tidak mendengar dari ayahnya (Wa-il bin Hujr) sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di kitab at-Talkhis (1/245), dan al-Hafizh al-Hazimi pun sama sekali tak mengindahkan sanad dengan jalur ini, dan dia mengatakan di kitab al-I’tibar (halaman 161), “Yang benar, hadits ini mursal.”

Dengan demikian, dari yang telah kukemukakan di atas, jelaslah bahwa hadits Wa-il bin Hujr itu dha’if (lemah) berdasarkan dua cacat (penyakit), yaitu (pertama): kelemahan perawi Syarik, dan (kedua): sanad Hammam menyelisihi sanad Syarik (yakni: sanad Hammam mursal, sedangkan sanad Syarik marfu’pent), wallahu a’lamu.

 

(تنبيه) وقع في “موارد الظمان إلى زوائد ابن حبان” للحافظ نور الدين الهيثمي بدل “شريك”: “إسرائيل” وكنت في باديء أمري أظنها متابعة منه لشريك. وجعلت أتعجب في نفسي كيف خفيت على الدارقطني وغيره حتى قالوا: لم يروه عن عاصم إلا شريك غير أني قلت في نفسي لعلها تصحفت عن شريك ثم إنه لا يمكن القطع في مثل هذا دون دليل قوي. وظللت هكذا حتى وصلني الجزء الثاني من “ضعيفة” شيخنا الألباني حفظه الله تعالى فإذا الأمر على ما كنت أحسب والحمد لله. قال شيخنا حفظه الله تعالى (٢/ ٣٢۹): “وقع في الموارد: “إسرائيل” بدل “شريك” وهو خطأ من الناسخ وليس من الطابع، فقد رجعت إلى الأصل المخطوط المحفوظ في المكتبة المحمودية في المدينة المنورة فرأيته في (ق ١/٣٥): “إسرائيل” كما في المطبوعة عنه فليتنبه”اهـ

 

Catatan Penting:

Di kitab Mawarid azh-Zham’an ila Zawa-id Ibn Hibban karya al-Hafizh Nur ad-Din al-Haitsami, tertera nama Israil pada rangkaian sanad dan bukannya Syarik. Pada mulanya aku menyangka bahwa Israil itu mutabi’ dari ‘Ashim bagi Syarik. Akan tetapi dugaan itu malah membuatku terheran-heran dan bertanya-tanya sendiri, (kalau memang benar dugaanku itu), bagaimana bisa hal itu tersembunyi dari ad-Daruquthni dan ahli hadits lainnya sehingga mereka sama mengatakan, “Tidaklah meriwayatkan dari ‘Ashim kecuali Syarik.” Selain itu, aku pun berkata-kata dalam hati, jangan-jangan itu merupakan mushahhaf (kesalahan dikte/eja/tulisan) untuk nama Syarik, namun tidak mungkin memastikan hal seperti ini tanpa petunjuk yang kuat. Terus-menerus hal itu membayangiku hingga akhirnya aku sampai pada juz kedua dari kitab Silsilah adh-Dha’ifah karya guru kami, Syaikh al-Albani –hafizhahullah ta’ala (ini ditulis sebelum Syaikh wafat –pent), dan ternyata perkara tersebut memang seperti yang kuduga (yakni terjadi mushahhaf penulisan Syarik menjadi Israil –pent). Guru kami –hafizhahullah ta’ala– berkata (2/329), “Tertera di kitab al-Mawarid penulisan (Israil) menggantikan nama (Syarik), dan itu merupakan kesalahan dari penyalin naskah, bukan kesalahan dari percetakan. Aku telah merujuk langsung makhthuthah asli (manuskrip/naskah tulisan tangan) yang tersimpan di al-Maktabah al-Mahmudiyah, Madinah al-Munawwarah, dan memang kulihat di sana (1/35) tertulis nama (Israil) sebagaimana yang tertulis dalam naskah tercetak, maka perhatikanlah.”

 

الوجه الثاني: قال شيخ الإسلام ـ ابن القيم ـ رضي الله عنه: “وحديث أبي هريرة لعل متنه انقلب” .. الخ

قلت:أصاب شيخ الإسلام أجراً واحداً. فما قاله أقرب إلى الرجم بالغيب منه إلى التحقيق العلمي. وقد رده الشيخ على القاري رحمه الله تعالى في “مرقاة المفاتيح” (١/٥٥۲) فقال: “وقول ابن القيم أن حديث أبي هريرة انقلب متنه على راويه فيه نظر إذ لو فتح هذا الباب لم يبق اعتماد على رواية راوٍ مع كونها صحيحة” اهـ وصدق يرحمه الله. فلو فتح هذا الباب لرد الناس كثيراً من السنن دونما دليل بحجة أن راويه أخطأ فيه ولعله كذا.

 

Bantahan Kedua:

Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, Hadits Abu Hurairah, kemungkinan telah mengalami inqilab (keterbalikan) matan (redaksi) oleh sebagian perawi …” –sampai akhir ucapannya.

Aku katakan, Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim patut mendapatkan satu pahala (atas ijtihadnya –pent). Hal yang dikatakannya lebih dekat kepada “berbicara tentang hal yang tak diketahui” daripada kepada “penelitian ilmiah”. Syaikh ‘Ali al-Qari –rahimahullah ta’ala– telah membantahnya di kitab Mirqah al-Mafatih (1/552) dengan mengatakan, “Dan ucapan Ibn al-Qayyim yang mengatakan bahwa redaksi hadits Abu Hurairah mengalami inqilab dari perawi, maka ini harus diteliti lagi. Jika pintu ini dibuka (dengan cara seperti itu), niscaya takkan tersisa lagi riwayat yang bisa dipegangi dari rawi yang shahih.”

Benar sekali ucapan Syaikh ‘Ali al-Qari itu, semoga Allah merahmatinya, karena seandainya pintu ini dibuka (dengan cara demikian), niscaya manusia akan menolak kebanyakan sunnah tanpa dalil dengan asal berargumentasi, “Riwayatnya salah, dan kemungkinannya demikian.”

الوجه الثالث: أن الأحاديث التي أوردها معلولة لا تقوم بمثلها حجة! فلا يعول على شيء منها عند أئمة النقد. والحديثان اصلهما حديث واحد. فأخرجه ابن أبي شيبة (١/۲٦٣) (ب) وكذا الطحاوي (١/۲٥٥)والبيهقي (۲/١٠٠) من طريق محمد بن فضيل عن عبد الله بن سعيد عن جده عن أبي هريرة مرفوعاً فذكره.

قلت: وإسناده ساقط! وآفته عبد الله بن سعيد هذا فقد كذبه يحيى القطان. وقال أحمد: “منكر الحديث متروك الحديث”. وقال ابن عدي: “عامة ما يرويه الضعف عليه بين” وقال الحاكم أبو أحمد: “ذاهب الحديث” والكلام فيه طويل الذيل. ولذا قال الحافظ في “الفتح” (۲/۲۹١): “إسناده ضعيف.

 

Bantahan Ketiga:

Bahwa hadits-hadits yang disebutkan oleh Ibn al-Qayyim (pada poin kedua tentang kemungkinan inqilab), merupakan hadits-hadits ma’lul (cacat/lemah) yang tidak memungkinkan untuk mendirikan hujjah di atasnya sehingga para imam pun tidak mengindahkan hadits-hadits itu sama sekali. Dan kedua hadits yang disebutkannya itu sebenarnya berasal dari hadits yang satu. Ibn Abi Syaibah mengeluarkannya (1/263), demikian juga ath-Thahawi (1/255) dan al-Baihaqi (2/100) dari jalan Muhammad bin Fudhail, dari ‘Abdullah bin Sa’id, dari kakeknya, dari Abu Hurairah secara marfu’, kemudian menyebutkan haditsnya.

Aku katakan, sanadnya saqith (tidak berharga/sangat lemah). Penyebabnya adalah ‘Abdullah bin Sa’id, dan dia telah didustakan oleh Yahya al-Qaththan. Imam Ahmad berkata, “’Abdullah bin Sa’id munkar al-hadits, matruk al-hadits.” Ibn ‘Adi berkata, “Pada umumnya hadits-hadits yang diriwayatkannya dha’if secara jelas.” Al-Hakim Abu Ahmad berkata, “Haditsnya tersingkir (tak berguna/sia-sia).” Dan pembicaraan mengenai hal ini sangatlah panjang, oleh karena itu al-Hafizh Ibn Hajar berkata di kitab al-Fath (2/291), “Sanadnya dha’if.”

 

الوجه الرابع: قال شيخ الإسلام ابن القيم: “إن كان حديث أبي هريرة محفوظاً فهو منسوخ …”

قلت: وهو تعلق متداعٍ!وقد سبقه إليه إبن خزيمة والخطابي. ولكن الحديث الذي زعموا أنه ناسخ حديث ضعيف. فكيف ينهض لنسخ حديث صحيح؟ وهذا الحديث أخرجه ابن خزيمة في “صحيحه” (١/١٣۹) والبيهقي (١/١٠٠) والحازمي في “الاعتبار” من طريق إبراهيم بن إسماعيل بن يحيى بن سلمة بن كميل قال حدثني أبي عن أبيه عن سلمة عن مصعب بن سعد بن أبي وقاص عن أبيه. فذكره. ولكن إسناده ضعيف جداً! وله علتان بل ثلاثة:

 

Bantahan Keempat:

Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim mengatakan, “Kalaupun (redaksi) hadits Abu Hurairah itu terpelihara (benar redaksinya), maka dia telah mansukh (dihapuskan) ….”

Aku katakan, ini merupakan komentar yang ringkih, sungguh Ibn Khuzaimah dan al-Khathabi telah lebih dulu berkomentar seperti itu. Akan tetapi hadits yang mereka klaim sebagai hadits yang menghapus adalah hadits yang dha’if, lantas bagaimana bisa hadits yang dha’if menghapuskan hadits yang shahih? Hadits tersebut dikeluarkan oleh Ibn Khuzaimah di kitab Shahih-nya (1/139), al-Baihaqi (1/100), dan al-Hazimi di kitab al-I’tibar dari jalan Ibrahim bin Isma’il bin Yahya bin Salamah bin Kumail, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku ayahku dari ayahnya, dari Salamah, dari Mush’ab bin Sa’d bin Abu Waqqash, dari ayahnya … -lalu menyebutkan haditsnya, akan tetapi sanadnya sangatlah dha’if karena terdapat dua cacat (penyakit), bahkan tiga cacat, yaitu:

 

الأولى: إبراهيم بن إسماعيل هذا قال فيه ابن حبان: “في روايته عن أبيه بعض المناكير” وكذا قال ابن نمير. وقال العقيلي: “لم يكن إبراهيم يقيم الحديث.”

الثانية : أبوه إسماعيل بن يحيى متروك كما قال الأزدى والدارقطني. وقد ألمح إلى ذلك الحافظ فقال في” الفتح” (۲/۲۹١): “وقد ادعى ابن خزيمة النسخ ولو صح حديث النسخ لكان قاطعاً للنزاع. ولكنه من أفراد إبراهيم بن إسماعيل بن سلمة بن كميل عن أبيه وهما ضعيفان.”

الثالثة: يحيى بن سلمة واهٍ. تركه النسائي، وقال أبو حاتم وغيره: “منكر الحديث” وقال ابن معين: “لا يكتب حديثه.”وقال الحافظ الحازمي: “أما حديث سعد ففي إسناده مقال ولو كان محفوظاً لدل على النسخ غير أن المحفوظ عن مصعب عن أبيه حديث نسخ التطبيق. والله أعلم ” اهـ. وقال النووي في “المجموع” (٣/٤۲۲): “ولا حجة فيه لأنه ضعيف.” قلت: وأقره شيخ الإسلام ابن القيم في “الزاد” ورغم ذلك أورده كناسخ. وقال شيخنا الألباني في تعليقه على “المشكاة” (١/۲۸۲)بعد قول الخطابي في النسخ: “وهذا يعني قول الخطابي في دعوى النسخ أبعد ما يكون عن الصواب من وجهين:الأول: أن هذا إسناد صحيح -يعني حديث أبي هريرة- وحديث وائل ضعيف. الثاني: إن هذا قول وذاك فعل والقول مقدم على الفعل عند التعارض .ثم وجه ثالث: وهو أن له شاهداً من فعله صلى الله عليه وآله وسلم. فالأخذ بفعله الموافق لقوله أولى من الأخذ بفعله المخالف له وهذا بين لا يخفى إن شاء الله تعالى. وبه قال مالك وعن أحمد نحوه كما في “التحقيق” لابن الجوزي” اهـ

 

Pertama: Ibrahim bin Isma’il ini telah dikatakan oleh Ibn Hibban, “Di dalam riwayatnya dari ayahnya terdapat beberapa kemungkaran,” seperti itu pulalah yang dikatakan oleh Ibn Numair. Imam al-‘Uqaili berkata, “Tidaklah Ibrahim menegakkan hadits.”

Kedua: ayahnya Ibrahim, yaitu Isma’il bin Yahya adalah perawi matruk sebagaimana dikatakan oleh al-Azdi dan ad-Daruquthni. Imam al-Hafizh Ibn Hajar pun telah menyinggung hal itu di kitab al-Fath (2/291) dengan mengatakan, “Ibn Khuzaimah telah mengklaim adanya nasakh (penghapusan). Seandainya saja hadits yang menghapus itu shahih, niscaya akan mengakhiri perselisihan (dalam perkara ini). Akan tetapi hadits tersebut termasuk hadits-hadits yang Ibrahim bin Isma’il bin Salamah bin Kumail menyendiri dalam meriwayatkan dari ayahnya, sementara dia dan ayahnya itu sama-sama dha’if.”

Ketiga: Yahya bin Salamah perawi lemah. Imam an-Nasa’i meninggalkan hadits-hadits yahya bin Salamah. Abu Hatim dan yang lainnya mengatakan, “Munkar al-hadits.” Ibn Ma’in mengatakan, “Jangan ditulis haditsnya.” Al-Hafizh al-Hazimi berkata, “Adapun hadits Sa’d, di dalam sanadnya terdapat pembicaraan (yakni lemah). Kalau saja hadits tersebut shahih, niscaya menjadi dalil atas adanya penghapusan. Tidaklah terpelihara dari Mush’ab, dari ayahnya, hadits yang menghapus pelaksanaan tersebut, wallahu a’lamu.” Imam an-Nawawi berkata di kitab al-Majmu’ (3/422), “Tidak ada hujjah dalam hadits ini karena dha’if.”

Aku katakan, Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim menetapkan hadits (lemah) tersebut di kitab az-Zad al-Ma’ad seraya memaksakannya sebagai hadits nasikh (yang menghapus). Guru kami, al-Albani, berkata dalam catatan kakinya terhadap kitab al-Misykah al-Mashabih (1/282), setelah perkataan al-Khaththabi mengenai nasakh, “Dan ini, yakni ucapan al-Khaththabi yang mengklaim tentang adanya nasakh, sangatlah jauh dari kebenaran ditinjau dari dua segi, yaitu (1) (karena) bahwasanya sanad hadits Abu Hurairah itu shahih sedangkan sanad hadits Wa-il bin Hujr dha’if, dan (2) sesungguhnya (hadits Abu Hurairah) ini merupakan ucapan (sabda berupa perintah) dan (hadits Wa-il bin Hujr) itu merupakan perbuatan, sementara apabila terjadi ta’arudh (pertentangan) di antara ucapan dan perbuatan, maka yang didahulukan adalah ucapan. Kemudian ada lagi segi yang ketiga, yaitu bahwa hadits Abu Hurairah itu memiliki syahid (hadits penguat) berupa perbuatan Nabi –shallallahi ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dengan demikian, mengambil perbuatan Nabi yang bersesuaian dengan ucapan beliau sendiri lebih utama daripada mengambil perbuatan beliau yang bertentangan dengan ucapan beliau sendiri, dan hal ini jelas tanpa kesamaran, insya Allah. Imam Malik pun berpendapat demikian, juga Imam Ahmad sebagaimana terdapat di kitab at-Tahqiq karya Imam al-Jauzi.”

الوجه الخامس: قال شيخ الإسلام ابن القيم رضي الله عنه: “وحديث أبي هريرة مضطرب المتن.”

قلت: ليس كما قال. فالاضطراب هو أن يُروى الحديث على أوجه مختلفة متقاربة.ثم إن الاختلاف قد يكون من راوٍ واحدٍ بأن رواه مرة على وجه، ومرة أخرى على وجه آخر مخالف له ، أو يكون أزيد من واحد بأن رواه كل جماعة على وجه مخالف للآخر. والاضطراب موجب لضعف الحديث لأنه يشعر بعدم ضبط رواته. ويقع في الإسناد والمتن كليهما. ثم إن رجحت إحدى الروايتين أو الروايات على الأخرى بحفظ راويها أو كثرة صحبته أو غير ذلك من وجوه الترجيحات فالحكم للراجحة ولا يكون الحديث

مضطرباً. هذه هي القاعدة التي وضعها أسلافنا رضوان الله عليهم للحديث الذي يتنازع في أنه مضطرب. فإن علم ذلك فإن الحديث المعارض لحديث الباب حديث ساقط الإسناد لضعف عبد الله بن سعيد الشديد حتى لقد اتهمه يحيى القطان بأنه يكذب. وتقدم

شرح ذلك. فيزول الاضطراب بترجيح حديث أبي هريرة الذي هو حجة لنا في الباب. والله الموفق .

 

Bantahan Kelima:

Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Redaksi hadits Abu Hurairah itu idh-thirab (kacau/guncang).”

Aku katakan, hal itu tidak seperti yang dikatakan oleh Ibn al-Qayyim, karena yang dimaksud dengan idh-thirab itu adalah periwatan hadits dengan beberapa redaksi yang berlainan dengan perbedaan yang tidak jauh. Selain itu, perbedaan yang terjadi pun muncul dari seorang perawi yang pada suatu waktu dia meriwayatkan dengan redaksi tertentu namun pada kesempatan lain dia meriwayatkan dengan redaksi yang berbeda dari redaksi sebelumnya. Atau bisa juga menyangkut lebih dari satu perawi yang ternyata dari masing-masing perawi itu teriwayatkanlah redaksi yang berbeda-beda.

Dan idh-thirab itu menjadi alasan atas kelemahan suatu hadits karena keadaan itu menandakan tiadanya dhabt (kekuatan hafalan) para perawinya, dan idh-thirab itu bisa terjadi pada sanad dan redaksinya. (Akan tetapi) kemudian, apabila salah satu dari kedua riwayat itu ada yang rajih (valid) -atau salah satu dari beberapa riwayat itu ada yang rajih, baik karena kekuatan hafalan para perawinya, atau karena perawi tersebut dikenal lama membersamai guru (yang memberikan riwayat kepadanya), atau hal-hal selain itu berdasarkan pertimbangan tarjih, maka hadits tersebut ditetapkan memiliki validitas dan bukan merupakan hadits idh-thirab. Inilah kaidah yang ditetapkan oleh para salaf (pendahulu) kita –ridhwanullah ‘alaihim– terhadap hadits yang diperselisihkan bahwa di dalamnya terdapat idh-thirab.

Setelah permasalahannya diketahui seperti itu, maka sesungguhnya hadits yang menjadi penentang terhadap hadits dalam permasalahan ini adalah hadits dengan sanad yang saqith (tidak berharga/lemah) karena adanya perawi ‘Abdullah bin Sa’id yang sangat lemah, bahkan saking lemahnya sampai-sampai dituduh pendusta oleh Yahya al-Qaththan -sebagaimana telah berlalu penjelasan mengenai celaan yahya al-Qaththan ini. Maka hilanglah idh-thirab dengan ke-rajih-an hadits Abu Hurairah yang merupakan hujjah bagi kami dalam permasalahan ini, wallah al-muwaffiq.

الوجه السادس: قول البخاري: “محمد بن عبد الله بن الحسن لا أدري أسمع من أبي الزناد أو لا.”

قلت: ليس في ذلك شيىء بتة. وشرط البخاري معروف. والجمهور على خلافه من الاكتفاء بالمعاصرة إذا أمن من التدليس. ولذا قال ابن التركماني في” الجوهر النقي”: “محمد بن عبد الله بن الحسن وثقه النسائي، وقول البخاري:”لا يتابع على حديثه” ليس بصريحٍ في الجرح، فلا يعارض توثيق النسائي “اهـ

ومحمد هذا كان يلقب بالنفس الزكية وهو براء من التدليس فتحمل عنعنته على الاتصال.قال المباركفوري في “تحفة الأحوذي” (۲/١٣٥): “أما قول البخاري: “لا يتابع عليه” فليس بمضرٍ فإنه ثقة ولحديثه شاهد من حديث ابن عمر” اهـ

وسبقه الشوكاني إلى مثل ذلك في “نيل الأوطار” (۲/۲۸٤) وانتصر لذلك الشيخ المحدث أبو الأشبال أحمد بن محمد شاكر في “تعليقه على المحلى” (٤/١۲۸-١٣۰) فقال بعد أن ساق حديث أبي هريرة: “وهذا إسناد صحيح.محمد بن عبد الله بن الحسن هو النفس الزكية وهو ثقة. وقد أعل البخاري الحديث بأنه لا يدري سمع محمد من أبي الزناد أم لا. وهذه ليست علة.وشرط البخاري معروف لم يتابعه عليه أحد، وأبو الزناد مات سنة (١٣۰) بالمدينة.ومحمد مدني أيضاً غَلَبَ على المدينة ثم قتل سنة (١٤٥) وعمره (٥٣) سنة فقد أدرك أبا الزناد طويلاً ” اهـ

Bantahan Keenam:

Ucapan Imam al-Bukhari, “Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan, aku tak mengetahui apakah dia mendengar dari Abu az-Zinad ataukah tidak.”

Aku katakan, ucapan al-Bukhari itu tak teranggap (sebagai celaan) sama sekali. Syarat al-Bukhari itu telah dikenal dan jumhur ahli hadits berbeda dengannya. Jumhur menganggap cukup dengan isytirath al-mu’asharah (syarat sezaman) selama aman dari tadlis. Mengenai hal ini, Ibn at-Turkumani berkata di kitab al-Jauhar an-Naqi, “Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan dianggap tsiqah (terpercaya) oleh an-Nasa’i, sedangkan perkataan al-Bukhari bahwa Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan tidak ada muttabi’ atasnya, maka itu tidaklah tegas sebagai celaan, sehingga tidak pula bertentangan dengan tautsiq dari an-Nasa’i.”

Dan Muhammad (bin ‘Abdullah bin al-Hasan) ini dijuluki dengan an-Nafs az-Zakiyah (jiwa yang bersih), dan dia terbebas dari tadlis sehingga ‘an’anah-nya dianggap sebagai al-ittishal (tersambung). Al-Mubarakfuri berkata di kitab Tuhfah al-Ahwazdi (2/135), “Adapun ucapan al-Bukhari bahwa dia (Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan) tidak ada muttabi’ atasnya, maka itu tidaklah membahayakan (menjatuhkan)nya karena Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan itu perawi tsiqah dan haditsnya mempunyai syahid dari hadits Ibn ‘Umar.”

Imam asy-Syaukani telah mendahului al-Mubarakfuri dengan pernyataan semisal itu di kitab Nail al-Authar (2/284), dan Syaikh al-Muhaddits Abu al-Asybal Ahmad bin Muhammad Syakir menganggap unggul pernyataan itu dalam komentarnya terhadap kitab al-Muhalla setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah, “Sanad hadits ini shahih. Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan itu (berjuluk) an-Nafs az-Zakiyah (jiwa yang bersih), dan dia perawi yang tsiqah. Imam al-Bukhari memang telah menganggap cacat hadits ini, dan hal itu dikerenakan Imam al-Bukhari tidak mengetahui apakah Muhammad mendengar dari Abu az-Zinad ataukah tidak. Akan tetapi –sebetulnya- ini bukanlah suatu cacat. Syarat al-Bukhari itu telah diketahui tidak diikuti oleh seorang ulama pun. Abu az-Zinad itu wafat di Madinah pada tahun 130 Hijriyah, dan Muhammad itu orang Madinah juga, menguasai Madinah kemudian terbunuh pada tahun 145 Hijriyah di usia 53 tahun. Dengan demikian, Muhammad bertemu dengan Abu az-Zinad dalam masa yang panjang.”

الوجه السابع: إعلال الدارقطني أنه تفرد به الدرواردي.

قلت: فيه نظر. فإن الدراوردي واسمه عبد العزيز بن محمد ثقة من رجال مسلم فتفرده لا يضر الحديث شيئاً. غير أنه لم يتفرد به. فقد تابعه عبد الله بن نافع عن محمد بن عبد الله به. أخرجه أبو داود (۸٤١) والنسائي (۲/۲۰۷) والترمذي (۲/٥۷-٥۸ شاكر). وقد تعقب الحافظ المنذري الدارقطني بمثل ذلك، والشوكاني في “نيل الأوطار” (۲/۲۸٦) “ولا ضير في تفرد الدراوردي فإنه قد أخرج له مسلم في “صحيحه” واحتج به وأخرج له البخاري مقروناً بعبد العزيز بن أبي حازم. وكذلك تفرد به أصبغ فإنه حدث عنه البخاري في “صحيحه” محتجاً يه” اهـ وأقره صاحب “تحفة الأحوذي” (۲/١٣٥).

 

Bantahan Ketujuh:

(Adapun mengenai) i’lal (pencacatan) ad-Daruquthni bahwa ad-Darawardi tafarrud dengan hadits tersebut, maka aku katakan, ini perlu diteliti lagi karena ad-Darawardi yang bernama ‘Abd al-‘Aziz bin Muhammad itu adalah perawi yang tsiqah dan termasuk di antara rijal (perawi yang dipakai) oleh Imam Muslim. Oleh karena itu, tafarrud ad-Darawardi itu sama sekali tidak membahayakan hadits. Bahkan ad-Darawardi ini tidaklah menyendiri dengan hadits tersebut karena ‘Abdullah bin Nafi’ telah mengikutinya dengan hadits tersebut dari Muhammad bin ‘Abdullah. Hadits tersebut dikeluarkan oleh Abu Dawud (841), an-Nasa’i (2/207), dan at-Tirmidzi (2/57-58 –ta’liq Ahmad Syakir).

Al-Hafizh al-Mundziri telah mengkritik Imam ad-Daraquthni dengan bantahan semisal ini, begitu juga dengan Imam asy-Syaukani di kitab Nail al-Authar (2/286), “Dan tidaklah kesendirian ad-Darawardi itu membahayakan (membuat lemah) karena Imam Muslim pun telah mengeluarkan riwayatnya di kitab Shahih-nya dan menjadikannya sebagai hujjah. Imam al-Bukhari juga mengeluarkan riwayatnya sebagai maqrun (riwayat pendamping) bagi riwayat ‘Abd al-‘Aziz bin Abu Hazim. Demikian juga halnya dengan tafarrud Ashbagh (bin al-Faraj), karena al-Bukhari meriwayatkan tahdits darinya di kitab Shahih-nya dan ber-hujjah pula dengannya. Dan hal ini disetujui pula oleh penulis Tuhfah al-Ahwadzi (2/135).”

الوجه الثامن: قال شيخ الإسلام ابن القيم رضي الله عنه: “وحديث وائل له شواهد أما حديث أبي هريرة فليس له شاهد.

قلت: أبعد شيخ الإسلام النجعة في ذلك! فإن شاهد حديث أبي هريرة أقوى من شواهد حديث وائل مجتمعة كما يأتي شرحه قريباً إن شاء الله تعالى.

Bantahan Kedelapan:

Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim mengatakan, “Dan hadits Wa-il itu mempunyai syawahid (hadits-hadits lain yang mendukung), sedangkan hadits Abu Hurairah tidak mempunyai syahid.”

Aku katakan, betapa jauh Syaikh a-Islam dari padang rumput dan ladang hujan (jauh dari benar), karena sesungguhnya syahid hadits Abu Hurairah itu lebih kuat daripada semua syawahid hadits Wa-il sebagaimana akan datang penjelasannya sebentar lagi, insya Allah ta’ala.

أما شاهد حديث أبي هريرة فهو من حديث ابن عمر. أخرجه البخاري في “صحيحه” تعليقاً (٦/ ۷۸-۷۹ عمدة) ووصله ابن خزيمة (١/ ٣١۸-٣١۹) وأبو داود كما في “أطراف المزي” (٦/١٥٦). والطحاوي “شرح المعاني” (١/۲٥٤) وكذا الدارقطني (١/٣٤٤) والحاكم (١/۲٦٦) والبيهقي (۲/١۰۰) والحازمي في “الاعتبار” (ص ١٦۰) وأبو الشيخ في “الناسخ والمنسوخ” كما في “التعليق” (ق ۷۷/١) للحافظ، من طريق الدراوردي عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أنه كان يضع يديه قبل ركبتيه. وقال: “كان النبي صلى الله عليه وآله وسلم يفعل ذلك.” قال الحاكم: “صحيح على شرط مسلم” ووافقه الذهبي. وهو كما قالا. أما البيهقي فقال: “كذا قال عبد العزيز ولا أراه إلا وهماً” يعني رفعه فتعقبه ابن التركماني: “حديث ابن عمر المذكور أولاً أخرجه ابن خزيمة في “صحيحه” وما علله به البيهقي من حديثه المذكور فيه نظر لأن كلاً منهما معناه منفصل عن الآخر. وحديث أبي هريرة المذكور أولاً دلالته قولية وقد تأيد بحديث ابن عمر فيمكن ترجيحه على حديث وائل لأن دلالته فعليه على ما هو الأرجح عند الأصوليين “اهـ

Adapun yang menjadi syahid bagi hadits Abu Hurairah yaitu hadits Ibn ‘Umar. Imam al-Bukhari mengeluarkannya di kitab Shahih (6/78-79 –‘Umdah al-Qari’) secara mu’alaq (tidak menyebut awal sanadnya) tetapi disambungkan sanadnya oleh Ibn Khuzaimah (1/318-319), juga dikeluarkan oleh Abu Dawud sebagaimana terdapat di kitab Athraf al-Mizi (6/156), ath-Thahawi di kitab Syarh al-Ma’ani (1/254), demikian juga ad-Daruquthni (1/344), al-Hakim (1/266), al-Baihaqi (2/100), al-Hazimi di kitab al-I’tibar (halaman 160), Abu asy-Syaikh di kitab an-Nasikh wa al-Mansukh sebagaimana terdapat di kitab at-Ta’liq (no. 1/77) karya al-hafizh Ibn Hajar dari jalan ad-Darawardi, dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari Nafi’, dari Ibn ‘Umar:

bahwasanya dia (Ibn ‘Umar) meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. Dan Ibn ‘Umar berkata, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- berbuat demikian.”

Al-Hakim berkata, “Shahih atas syarat Muslim,” dan adz-Dzahabi pun berpendapat sama dengannya. Dan keadaan hadits itu memang seperti yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi).

Adapun ucapan Imam al-Baihaqi, Demikianlah yang diucapkan (diriwayatkan) oleh ‘Abd al-‘Aziz, dan aku tak memandang lain kecuali wahm (ragu),” yakni al-Baihaqi meragukan status marfu’ hadits ‘Abd al-‘Aziz ad-Darawardi ini, namun Imam at-Turkumani mengkritik ucapan al-Baihaqi itu dengan mengatakan, “Hadits Ibn ‘Umar yang disebutkan pertama itu dikeluarkan oleh Ibn Khuzaimah di kitab Shahih-nya, dan apa yang (digunakan) oleh al-Baihaqi untuk menerangkan sebabnya berupa hadits yang disebutkannya (bahwa yang masyhur dari Ibn ‘Umar mengenai sujud adalah yang berikutnya dalam Sunan al-Kubra  –pent), harus diteliti lagi, karena masing-masing dari kedua hadits itu maknanya tak berhubungan. Dan hadits Abu Hurairah yang disebutkan pertama itu merupakan dalil qauliyah lalu dikuatkan dengan hadits Ibn ‘Umar sehingga mungkin mengunggulkannya menurut kaidah ushuliyah atas hadits Wa-il yang merupakan dalil fi’liyah.”

قلت: هذا حديث ابن عمر الذي هو شاهد حديث أبى هريرة وهو حسن بانضمامه إلى سابقه كما ترى فلننظر في شواهد حديث وائل بن حجر:

Aku katakan, hadits Ibn ‘Umar yang merupakan syahid atas hadits Abu Hurairah itu derajatnya hasan dengan menggabungkannya kepada yang sebelumnya sebagaimana kau lihat, lalu kita lihat syawahid hadits Wa-il bin Hujr (sebagai berikut):

الشاهد الأول:

حديث أنس: “رأيت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم انحط بالتكبير فسبقت ركبتاه يديه.”

Tentang Syahid pertama untuk hadits Wa-il bin Hujr:

Yaitu hadits Anas, “Aku melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- turun (menuju sujud) dengan bertakbir, lalu kedua lututnya mendahului kedua tangannya.”

أخرجه الدار قطني (١/٣٤٥) والحاكم (١/۲٦٦) والبيهقي (۹۹/۲) وابن حزم في “المحلي” (٤/١۲۹) والحازمي في “الاعتبار” (ص ١٥۹) من طريق العلاء من إسماعيل العطار ثنا حفص بن غياث عن عاصم الأحوال عن أنس به.

(Syahid tersebut) dikeluarkan oleh ad-Daruquthni (1/345), al-Hakim (1/266), al-Baihaqi (99/2), Ibn Hazm di kitab al-Muhalla (4/129), dan al-Hazimi di kitab al-I’tibar (halaman 159), dari jalan al-‘Ala’ dari Isma’il al-‘Aththar: telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Ghayyats, dari ‘Ashim bin al-Ahwal, dari Anas.

قال الدارقطني وتبعه البيهقي: “تفرد به العلاء بن إسماعيل عن حفص بهذا الإسناد.”

وقال الحافظ في “التلخيص” (١/۲٥٤): “قال البيهقي في “المعرفة” تفرد به العلاء وهو مجهول.” وأقر ابن القيم ذلك. أما الحاكم فقال: “صحيح على شرط الشيخين” ووافقه الذهبي!! وهذا عجب، فقد عرفت علة الحديث. ونقل ابن أبي حاتم عن أبيه في “العلل” (١/١۸۸): “حديث منكر” وأقره في “الزاد”.!

Imam ad-Daruquthni diikuti oleh Imam al-Baihaqi mengatakan, “Al-‘Ala’ bin Isma’il tafarrud dengan hadits ini dari Hafsh dengan sanad ini.” Al-Hafidz Ibn Hajar berkata di kitab at-Talkhish (1/254) dan disetujui oleh Ibn al-Qayyim, “Al-Baihaqi mengatakan di kitab al-Ma’rifah bahwa al-‘Ala’ tafarrud dengan hadits ini, dan dia itu majhul.”

Imam al-Hakim berkata, “Shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim,” dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Sungguh mengherankan (anggapan al-Hakim dan adz-Dzahabi) ini, padahal kautahu cacat hadits tersebut. Ibn Abi Hatim telah menukil dari ayahnya di kitab al-‘Illal (1/188), “Hadits munkar,” dan Ibn al-Qayyim pun menyetujuinya di kitab az-Zad.

قلت: ومما يدل على نكارة هذا الخبر ما أخرجه الطحاوي في “شرح المعاني” (١/۲٥٦) من طريق عمر بن حفص بن غياث ثنا أبي ثنا الأعمش قال حدثنى إبراهيم عن أصحاب عبد الله: علقمة والأسود قالا: “حفظنا عن عمر في صلاته أنه خر بعد ركوعه على ركبتيه كما يخر البعير ووضع ركبتيه قبل يديه.”

Aku katakan, di antara hal yang menunjukkan kemungkaran riwayat tersebut adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thahawi di kitab Syarh al-Ma’ani (1/256), dari jalan ‘Umar bin Hafsh bin Ghayyats: telah mengabarkan kepada kami ayahku (yakni Hafsh bin Ghayyats), telah mengabarkan kepada kami al-A’masy, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ibrahim, dari sahabat ‘Abdullah, yaitu ‘Alqamah dan al-Aswad yang keduanya berkata, “Kami hafal dari ‘Umar (bin al-Khaththab) mengenai shalatnya, bahwasanya dia turun setelah rukuknya dengan kedua lututnya sebagaimana unta yang menderum dengan meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.”

فأنت ترى أن عمر بن حفص وهو من أثبت الناس في أبيه قد خالف العلاء فجعله عن عمر لم يتجاوزه فهذه علة أخرى. وقد أقرها الحافظ في “اللسان” فقال: “وقد خالفه عمر بن حفص بن غياث وهو من من أثبت الناس في أبيه فرواه عن أبيه عن الأعمش عن إبراهيم عن علقمة وغيره عن عمر موقوفاً عليه. وهذا هو المحفوظ “اهـ

Maka kau tahu bahwa ‘Umar bin Hafsh itu –yang merupakan perawi tepercaya yang meriwayatkan dari ayahnya (Hafsh bin Ghayyats)- telah menyelisihi riwayat al-‘Ala’ itu. ‘Umar bin Hafsh menjadikan riwayatnya itu dari ‘Umar bin al-Khaththab saja tidak lebih (yakni hanya perbuatan ‘Umar saja secara mauquf, tidak seperti riwayat al-‘Ala’ yang juga dari Hafsh bin Ghayyats –pent). Dengan demikian, ini menjadi ‘illah (cacat) yang lain. Al-Hafizh Ibn Hajar pun telah menetapkan hal ini di kitab al-Lisan dengan mengatakan, “’Umar bin Hafsh bin Ghayyats telah menyelisihi al-‘Ala’, sementara ‘Umar bin Hafsh itu perawi yang paling tepercaya yang menerima dari ayahnya (Hafsh bin Ghayyats), lalu dia meriwayatkan dari ayahnya, dari al-A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dan selainnya dari ‘Umar bin al-Khaththab secara mauquf, dan riwayat inilah yang terpelihara.”

ثم إن العاقل لو تأمل الأثر الوارد عن عمر رضي الله عنه لوجد أنه حجة لنا لا علينا. وذلك أنه قرر أن عمر كان يخر كما يخر البعير ، ثم وضح الكيفية فقال: “يضع ركبتيه قبل يديه” ونحن مأمورون أن نخالف البعير فوجب وضع اليدين قبل الركبتين وهذا بين لا يخفى على المنصف إن شاء الله تعالى. ولست أدري كيف أورده شيخ الإسلام ابن القيم في “الزاد “محتجاً به؟

Seandainya orang yang sadar merenungkan atsar yang datang dari ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– itu, niscaya akan dia dapati bahwa atsar tersebut merupakan hujjah bagi kami dan bukan atas kami. Atsar tersebut menetapkan bahwa ‘Umar bin al-Khththab turun menuju sujud seperti turunnya unta yang menderum, kemudian atsar itu pun menjelaskan dengan ucapan, “ … meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya,” sedangkan kita diperintahkan untuk menyelisihi (cara turun) unta, maka wajib meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, dan penjelasan ini tidaklah tersembunyi atas orang yang objektif, insya Allah ta’ala. Tidaklah aku mengetahui bagaimana bisa Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim menjadikannya sebagai hujjah di kitab az-Zad.

ثم هب أن حديث أنس رضي الله عنه يكون صحيحاً فإنه لا حجة فيه لأمرين كما قال ابن حزم: الأول : أنه ليس في حديث أنس أنه كان يضع ركبتيه قبل يديه ، وإنما فيه الركبتان ، واليدان فقط ، وقد يمكن أن يكون السبق في حركتهما لا في وضعهما فيتفق الخبران. الثاني: أنه لو كان فيه وضع الركبتين قبل اليدين لكان ذلك موافقاً لمعهود الأصل في إباحة ذلك ولكان خبر أبي هريرة وارداً بشرع زائد رافعٍ للإباحة السالفة بلا شك ناهية عنها بيقين ولا يحل ترك اليقين لظن كاذب.

Anggaplah bahwa hadits Anas –radhiyallahu ‘anhu– itu shahih, namun tetap saja hal itu bukanlah merupakan hujjah karena dua perkara sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibn Hazm, yaitu, Pertama: tidaklah disebutkan dalam hadits  hadits Anas itu bahwa beliau meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan karena di dalam hadits itu hanya disebutkan ‘kedua lutut’ dan ‘kedua tangan’ saja. Bisa jadi bahwa yang dimaksud dengan kata ‘mendahului’ itu adalah mendahului dalam ‘menggerakkan keduanya’ dan bukan mendahului dalam ‘meletakkan keduanya’. Dengan demikian, kedua riwayat itu jadi bersesuaian (yakni riwayat Abu Hurairah dengan Anas). Kedua: kalau pun memang maksudnya adalah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, maka itu bersesuaian dengan perkara asal yang membolehkan hal tersebut. Akan tetapi riwayat Abu Hurairah datang dengan membawa syariat tambahan yang menghilangkan kebolehan perbuatan sebelumnya tanpa keraguan dan melarang perbuatan tersebut dengan yakin, dan tidaklah diperbolehkan untuk meninggalkan hal yang yakin kepada persangkaan yang dusta.

الشاهد الثاني: حديث سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه: “كنا نضع اليدين قبل الركبتين فأمرنا بوضع الركبتين قبل اليدين” وقد تقدم شرح علته.

Tentang Syahid kedua untuk hadits Wa-il bin Hujr:

Hadits Sa’d bin Abu Waqqash –radhiyallahu ‘anhu, “Kami dulu biasa meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, lalu kami diperintahkan untuk lebih dulu meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.”

Penjelasan tentang cacat hadits ini telah dikemukakan sebelumnya.

الشاهد الثالث: حديث وائل بن حجر: “صليت خلف النبي صلى الله عليه وآله وسلم ثم سجد فكان أول ما وصل إلى الأرض ركبتاه.” أخرجه البيهقي (۲/۹۹) من طريق محمد بن حجر ثنا سعيد بن عبد الجبار بن وائل عن أمه عن وائل بن حجر به.

قلت: وهو حديث ضعيف لا يحتج به ، وله علتان:

الأولى: محمد بن حُجر هذا ، قال البخاري: “فيه بعض النظر” وقال الذهبي: “له مناكير.”

الثانية: سعيد ابن عبد الجبار قال النسائي: “ليس بالقوي” وليس هو سعيد بن عبد الجبار القرشي الكرابيسي فإن هذا من شيوخ مسلم.

Tentang Syahid ketiga untuk hadits Wa-il bin Hujr:

Hadits Wa-il bin Hujr juga, “Aku shalat di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- kemudian beliau bersujud dan yang pertama kali mencapai tanah adalah kedua lututnya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh al-Baihaqi (2/99) dari jalan Muhammad bin Hujr: telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin ‘Abd al-Jabbar bin Wa-il, dari ibunya, dari Wa-il bin Hujr.

Aku katakan, ini hadits dha’if, tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Hadits ini memiliki dua cacat, yaitu (1) Muhammad bin Hujr telah dikatakan oleh al-Bukhari, “Ada beberapa pandangan terhadapnya,” sedangkan adz-Dzahabi mengatakan, “Dia memiliki riwayat-riwayat mungkar.” (2) Sa’id bin ‘Abd al-Jabbar telah dikatakan oleh an-Nasa’i, “Bukan perawi yang kuat,” dan dia itu bukanlah Sa’id bin ‘Abd al-Jabbar al-Qurasyi al-Karabisyi yang merupakan salah seorang di antara para guru Imam Muslim.

الشاهد الرابع: أن عبد الله بن مسعود كان يضع ركبتيه قبل يديه.

قلت: أخرجه الطحاوي (١/۲٥٦) من طريق حماد بن سلمة عن الحجاج بن ارطأة قال قال إبراهيم النخعي: “حفظ عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أنه كانت ركبتاه تقعان إلى الأرض قبل يديه” ولكن إسناده ضيعف واهٍ مع كونه موقوفاً! فالحجاج بن أرطأة ضعيف الحفظ مدلس وقد استخدم ما يدل على التدليس قطعاً بقول: “قال إبراهيم …” ثم إن إبراهيم النخعي لم يدرك عبد الله بن مسعود رضي الله عنه. وحتى لو صح لما كان فيه حجة لكونه موقوفاً. ولا تعارض سنة النبي صلى الله عليه وآله وسلم بفعل الصحابي والله الموفق.

Tentang Syahid keempat untuk hadits Wa-il bin Hujr:

Bahwasanya ‘Abdullah bin Mas’ud biasa meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.

Aku katakan, hadits tersebut dikeluarkan oleh ath-Thahawi (1/256) dari jalan Hammad bin Salamah, dari al-Hajjaj bin Artha-ah, dia berkata: Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Aku hafal dari ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya kedua lututnya mencapai tanah sebelum kedua tangannya.” Akan tetapi sanadnya dha’if wahin, selain keadaannya juga mauquf. Perawi al-Hajjaj bin Artha-ah itu lemah dan juga mudallis, dia menggunakan hal yang menunjukkan tadlis keterputusan sanad dengan ucapan, “Qala Ibrahim (Ibrahim berkata) ….” Kemudian sesungguhnya Ibrahim an-Nakha’i itu tidak berjumpa dengan ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu. Dan kalau pun riwayat ini shahih, tetap saja tidak menjadi hujjah karena riwayat tersebut mauquf, sedangkan Sunnah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam– tidaklah dibantah dengan perbuatan shahabat, wallahu al-muwaffiq.

الشاهد الخامس: “أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه كان يضع ركبتيه قبل يديه.” أخرجه ابن أبي شيبة (١/٦٣) وعبد الرزاق (۲/ ١۷٦)، عن الأعمش، عن إبراهيم، أن عمر كان يضع … فذكره. ثم أخرجه ابن أبي شيبة من طريق يعلى، عن الأعمش، عن إبراهيم، عن الأسود، عن عمر أنه كان يقع على ركبتيه.

قلت: والوجه الأول منقطع لأن إبراهيم لم يدرك عمر، وأما الثاني فصحيح، إلا ما كان من عنعنة الأعمش، ولكن الذهبي مشاها فيما روى عن أبي صالح وإبراهيم وجماعة. ويجاب عنه بمثل الجواب المتقدم في أثر ابن مسعود. والله أعلم.

Tentang Syahid kelima untuk hadits Wa-il bin Hujr:

Bahwasanyaa ‘Umar bin al-Khththab –radhiyallahu ‘anhu– biasa meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah (1/63), ‘Abd ar-Razaq (2/176), dari al-A’masy, dari Ibrahim, bahwasanya ‘Umar biasa meletakkan … -lalu menyebutkan hadits tersebut.

Kemudian Ibn Abi Syaibah mengeluarkannya dari jalan Ya’la, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari al-Aswad, dari ‘Umar bahwasanya dia turun dengan kedua lututnya.

Aku katakan, riwayat pertama munqathi’, karena Ibrahim itu tidak berjumpa dengan ‘Umar. Adapun riwayat kedua, maka itu shahih, kecuali pada ‘an’anah al-A’masy, namun adz-Dzahabi membersamainya dengan yang diriwayatkan dari Abu Shalih dan Ibrahim serta jama’ah. Akan tetapi jawaban terhadap riwayat ini sama dengan jawaban terdahulu terhadap atsar Ibn Mas’ud, wallahu a’lamu.

قال الشيخ المحدث أبو الأشبال في “شرح الترمذي” (۲/ ٥۸-٥۹): “وحديث أبي هريرة نص صريح ومع هذا فإن بعض العلماء ومنهم ابن القيم حاول أن يعلله بعلةٍ غريبة فزعم أن متنه انقلب على راويه وأن صحة لفظه لعلها: “وليضع ركبتيه قبل يديه” ثم ذهب ينصر قوله ببعض الروايات الضعيفة وبأن البعير إذا برك وضع يديه قبل ركبتيه فمقتضى النهي عن التشبه به هو أن يضع الساجد ركبتيه قبل يديه. وهو رأي غير سائغ لأن النهي هو أن يسجد فينحط على الأرض بقوة وهذا يكون إذا نزل بركبتيه أولاً والبعير يفعل هذا أيضاً ولكن ركبتاه في يديه لا في رجليه وهو منصوص عليه في ” لسان العرب “لا كما زعم ابن القيم.” اهـ

Syaikh al-Muhaddits Abu al-Asybal Ahmad bin Muhammad Syakir berkata di kitab Syarh at-Tirmidzi (2/58-59):

… dan Hadits Abu Hurairah ini merupakan perkataan (dalil) yang terang. Bersamaan dengan itu, sesungguhnya sebagian ulama, di antaranya Ibn al-Qayyim, berupaya untuk melemahkannya dengan alasan yang aneh seraya mengklaim bahwa redaksi hadits Abu Hurairah itu mengalami inqilab dari perawinya, juga menduga bahwa kemungkinan redaksi yang benar adalah, “… tetapi hendaklah dia meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya,” kemudian menunjang pendapatnya itu dengan beberapa riwayat yang lemah. Selain itu, juga mengatakan bahwa apabila unta menderum, dia akan meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, sehingga hal itu menuntut atas terlarangnya perbuatan menyerupai unta, dan hendaklah orang yang sujud itu meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan pendapat ini bukanlah pendapat yang bisa diterima karena yang dilarang itu ialah bersujud dengan cara turun ke tanah dengan kuat, dan hal ini hanya terjadi jika meletakkan kedua lutut terlebih dahulu. Dan unta juga melakukan hal yang demikian, hanya saja lutut unta itu berada pada tangannya bukan pada kakinya, dan (penjelasan mengenai) ini terdapat di kitab Lisan al-‘Arab, tidak seperti anggapan Ibn al-Qayyim.

 

الوجه التاسع:قال شيخ الإسلام ابن القيم رضي الله عنه: “وركبة البعير ليست في يده”

قلت: فيه نظر وركبة البعير في يده ونص أهل اللغة على ذلك وإن أنكر شيخ الإسلام.

قال ابن منظور في “لسان العرب” (١٤/۲٣٦): “وركبة البعير في يده.”

وقال الأزهري في “تهذيب اللغة” (١۰/ ۲١٦ ): “وركبة البعير في يده.وركبتا البعير المفصلان اللذان يليان البطن إذا برك ، وأما المفصلان الناتئان من خلف فهما العرقوبان.”

وقال ابن سيدة في “المحكم والمحيط الأعظم” (۷/١٦): “وكل ذي أربع ركبتاه في يديه، وعرقوباه في رجليه.”

وقال ابن حزم في “المحلى” (٤/١۲۹): “وركبتا البعير هي في ذراعيه.”

 

Bantahan Kesembilan:

Syaikh al-Islam Ibn al-Qayyim –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Dan lutut unta bukan berada di tangannya.”

Aku katakan, ucapan ini harus diteliti. Lutut unta itu memang berada di tangannya. Ahli lughah (bahasa) telah menetapkan hal itu meskipun diingkari oleh Syaikh al-Islam.

Ibn al-Manzhur berkata di kitab Lisan al-‘Arab (14/236), “Dan lutut unta itu terdapat di tangannya.”

Al-Azhari berkata di kitab Tahdzib al-Lughah (10/216), “Dan lutut unta itu terdapat di tangannya, dan kedua lutut unta itu merupakan dua persendian yang berada dekat perut ketika unta menderum. Adapun dua sendi yang menonjol dari belakang kedua lutut, itu adalah al-‘urqub (urat palingan).”

Ibn Sayyidah berkata di kitab al-Muhkan wa al-Muhith al-A’zham (7/16), “Dan semua (binatang) berkaki empat, maka kedua lututnya berada di kedua tangannya, sedangkan kedua ‘urqub-nya ada di kedua kakinya.”

Ibn Hazm berkata di kitab al-Muhalla (4/129), “Dan kedua lutut unta berada pada kedua lengannya.”

 

وروى أبو القاسم السرقسبطي في “غريب الحديث” (۲/۷۰) بسند صحيح عن أبي هريرة أنه قال: “لا يبرك أحد بروك البعير الشارد.” قال الإمام: “هذا في السجود يقول: لا يرم بنفسه معاً كما تفعل البعير الشارد غير المطمئن المواتر ولكن ينحط مطمئناً يضع يديه ثم ركبتيه.” ذكره شيخنا الألباني في “صفة الصلاة.”

 

Dan Abu al-Qasim as-Saraqasbithi meriwayatkan di kitab Gharib al-Hadits (2/70) dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah, bahwasanya dia berkata, “Janganlah seseorang berlutut seperti unta yang bingung.” Al-Imam as-Saraqasbithi berkata, “Ini di saat sujud, yaitu dia mengatakan: janganlah menjatuhkan diri secara sekaligus sebagaimana perbuatan unta bingung yang tak tenang tak beraturan, tetapi hendaklah dia turun dengan tenang sambil meletakkan kedua tangannya lalu kedua lututnya.” Guru kami, al-Albani, telah menyebutkan riwayat ini di kitab Shifat ash-Shalah.

 

يؤيد ذلك كله ما أخرجه البخاري (۷/۲٣۹ فتح) وأحمد (٤/١۷٦) والحاكم (٣/٦) والبيهقي في “الدلائل” (۲/ ٤۸٥-٤۸۷)في قصة سراقة بن مالك رضي الله عنه قال: “.. وساخت يدا فرسي في الأرض حتى بلغتا الركبتين …” فهذا يؤيد أن الركبة في يد البعير.فلا متعلق لشيخ الإسلام فيه. والحمد لله على التوفيق.

 

Semua keterangan di atas dikuatkan lagi dengan riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari (7/239 –Fath al-Bari), Ahmad (4/176), al-Hakim (3/6), dan al-Baihaqi di kitab ad-Dala-il (2/485-487) mengenai kisah Suraqah bin Malik –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “…dan kedua tangan kudaku terbenam ke dalam tanah sedalam kedua lututnya …,” maka riwayat ini semakin mengukuhkan bahwa lutut unta itu berada di tangannya. Maka, tiada penyangga bagi Syaikh al-Islam dalam hal ini, dan segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya.

 

وقال الطحاوي في “المشكل” بعد أن روى حديث أبي هريرة: “فقال قائل: هذا كلام مستحيل، لأنه نهاه إذا سجد أن يبرك كما يبرك البعير. والبعير ينزل يديه، ثم أتبع ذلك بأن قال: ولكن ليضع يديه قبل ركبتيه، فكان ما في هذا الحديث مما نهاه عنه في أوله، قد أمره به في آخره؟ فتاملنا ما قال ذلك، فوجدناه محالاً، ووجدنا ما روى عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم مستقيماً لا إحالة فيه. وذلك أن البعير، ركبتاه في يديه، وكذلك كل ذي أربع من الحيوانات، وبنو آدم بخلاف ذلك، لأن ركبتهم في أرجلهم، لا في أيديهم. فنهى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الحديث المصلي أن يخر على ركبتيه اللتين في رجليه ولكن يخر في سجوده على خلاف ذلك، فيخر على يديه اللتين ليس فيهما ركبتاه بخلاف ما يخر البعير على يديه اللتين فيهما ركبتاه. فبان بحمد الله ونعمته أن ما في هذا الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلام صحيح لا تضاد فيه ولا استحالة. والله نسأله التوفيق” اهـ

 

Imam ath-Thahawi berkata di kitab al-Musykil setelah meriwayatkan hadits Abu Hurairah:

Ada orang yang mengatakan, “Ucapan (dalam hadits Abu Hurairah) ini mustahil, karena beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang bersujud dengan cara berlutut seperti unta yang menderum, padahal unta itu turun dengan kedua tangannya. Selanjutnya beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata lagi agar seseorang itu meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. Padahal, bukankah itu merupakan hal yang dilarang untuk dilakukan pada bagian awal hadits? Lantas kenapa malah jadi diperintahkan di akhir hadits?” Maka kami pun merenungkan ucapan orang tersebut, lalu kami dapati bahwa ucapan (orang) itulah yang mustahil. Sebaliknya, kami dapati apa yang diriwayatkan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam– itu sangatlah lurus tanpa mengandung kemustahilan. Hal itu dikarenakan lutut unta itu berada di tangannya, dan seperti itu pulalah setiap binatang yang berkaki empat. Berbeda halnya dengan anak-anak Adam, lutut mereka terdapat di kaki mereka, bukan di tangan mereka. Maka, dalam hadits ini, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam– melarang orang yang shalat dari melakukan sujud dengan (mendahulukan) kedua lututnya yang berada di kedua kakinya, namun hendaknya dia itu turun menuju sujud dengan cara yang berbeda, yaitu turun dengan (mendahulukan) kedua tangannya yang memang tak ada lututnya agar berbeda dengan unta yang menderum dengan (mendahulukan) kedua tangan yang ada lututnya. Maka dengan memuji Allah dan atas nikmat-Nya, jelaslah bahwa hadits (Abu Hurairah) ini merupakan ucapan yang shahih yang tiada pertentangan dan kemustahilan di dalamnya, dan hanya kepada Allah kami memohon taufiq.

 

Bandung, 2 Januari 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

31 comments on “Tentang Berlutut Seperti Unta Yang Menderum …

  1. Novi Kurnia says:

    hosh hosh… panjang, ga kuat bacanya T_T mana banyak istilah tak kukenal, mana banyak bengong karena ga ngerti ilmu hadis…. ck ck ck…. hebat ya yang belajar ilmu hadis, belajarmenelusuri jejak yg panjang dan berliku-liku

  2. Novi Kurnia says:

    Akhirnya selesai, tapi urutan sanadnya ada yg diloncat2, soalnya ga paham, xixixixii

  3. jampang says:

    saya bersujud dengan kedua caranya…. kadang lutut duluan, kadang tangan duluan menyentuh lantai 🙂

  4. omjek says:

    Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bersujud, janganlah dia berlutut seperti unta yang menderum, tetapi hendaklah dia meletakkan kedua tangannya terlebih dahulu sebelum kedua lututnya.”

    berdasarkan hadits diatas, Syaikh Al- Utsaimin (rahimahulloh) berpendapat bahwa umumnya/kebiasaan Unta menderum (turun) dgn 2 kaki depan terlebih dahulu. kalau dikiaskan 2 kaki depan berarti 2 tangannya, maka lebih shorih turun dgn lutut dulu, wallohu a’lam.

    • omjek says:

      oia, pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin sebagaimana pendapat Ibnul Qoyyim, bahwa hadits ini terbalik krn unta menderum dgn 2 kaki depannya… 🙂

    • tipongtuktuk says:

      Ya, Syaikh al-‘Utsaimin memang berpendapat demikian -semoga Allah merahmati beliau …
      dan hal seperti pendapat beliau itu sudah dikupas di atas, alhamdulillah … yaitu, bukan masalah tangan (kaki depan)-nya saja, tetapi lututnya itu … unta turun dengan lututnya yang hakikatnya ada di kaki depan (tangan) … dan karena kita tidak boleh turun dengan lutut, maka tak bisa tidak kita turun dengan tangan (yg tak ada lututnya) … wallahu a’lamu …

      • omjek says:

        ya, ya, ya… walhasil ini perkara khilafiyyah, yg mana medan fiqih tdk lepas dari ikhtilaf. semangat terus kang Hendra! ditunggu artikel2 manfaat lainnya…. hamasah! 🙂

      • tipongtuktuk says:

        ya, pada kenyataannya memang para ulama ikhtilaf dalam masalah ini. Syaikh Abu Ishaq -hafizhahullah- pun mengatakan demikian di awal tulisannya ini … -dan bantahan beliau terhadap pendapat Ibn al-Qayyim sangatlah kuat … wallahu a’lamu …

  5. matahari_terbit says:

    *makin terkesima ama para peneliti hadits..

  6. matahari_terbit says:

    fajar pengen banyak tanya.. tapi mau belajar dulu *usaha dulu sebelum nanya,,, hihi

  7. don jenggot says:

    ikutan belajar ya kang…

  8. thetrueideas says:

    bantah membantah, dengan #ILMU wuih….subhanallah…

  9. Muliawan says:

    Terima kasih atas ulasan yang mendetail ini sehingga menambah wawasan saya. Walaupun secara sanad bahwa hadits Abu Hurairah lebih kuat daripada hadits Wa’il bin Hujr, saya cenderung menggunakan cara lutut terlebih dahulu daripada tangan. Dalil yang lebih tinggi adalah ibadah dalam agama bukan untuk menyusahkan.

    Jika tangan terlebih dahulu menyentuh bumi, maka postur tubuh cenderung membungkuk dulu baru kemudian lutut dibengkokkan. Sedangkan jika lutut terlebih dulu menyentuh bumi, maka postur tubuh tetap tegak ketika lutut dibengkokkan dan baru membungkuk ketika lutut sudah menyentuh bumi.

    Berdasarkan ilmu kesehatan sudah terbukti bahwa membungkukkan badan ketika lutut masih lurus cenderung menimbulkan cedera pada pinggang, punggung dan leher karena bobot tubuh bertumpu pada tulang dan otot punggung yang lemah. Bisa jadi akan jatuh terjerembab ketika otot kaki tidak kuat. Selagi masih berusia muda mungkin hal ini tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kesehatan. Akan tetapi, jika terus menerus dilakukan baru terasa akibatnya ketika usia beranjak tua dengan kondisi otot sudah melemah. Sering timbul keluhan sakit pinggang atau punggung.

    Sedangkan ketika menurunkan badan dalam keadaan tegak, maka sebagian besar bobot tubuh akan bertumpu pada lutut dan telapak kaki dengan ditunjang oleh otot kaki yang lebih besar dan kuat daripada otot punggung. Dengan demikian resiko cidera lebih kecil. Agar mengurangi lagi pembebanan pada punggung, gunakan tangan untuk bertumpu juga pada lutut. Baru ketika lutut menyentuh bumi, tangan dijulurkan ke depan sekaligus menopang tubuh ketika badan dibungkukkan. Dengan cara ini kecil sekali pembebanan pada otot punggung. Cara ini juga melatih keseimbangan tubuh dan menguatkan otot kaki.

    Dalam buku “The Salah of a believer in the Quran and Sunnah” oleh Shaykh Abu Yusuf Riyadh Ul Haq banyak atsar para shahabat dengan riwayat yang shahih yang menguatkan hadits Wa’il bin Hujr.

    Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s