Cinta Menakik Bilur pada Ingatan …

bilur

Kau mengarau riak di telaga, bersampan kayu menakar jelaga dengan cangkir-cangkir kopi; butiran arang meruah ke dalam arus seperti prahara hitam yang kalah …

Aku tertawa menokoh renjana yang menggigis, terduduk ilu menyampang arah ke bibir daratan; tuntas merampai semua kama yang melabuh sauh menjadi antologi meski lantas kaukaramkan jua sedalam rahasia …

Benar, penanda waktu tak henti berkisaran selepas itu, palut usia pun terkelupas melintasi hujan dan kemarau. Tak lengkara ribuan matahari telah karam di luar hitunganku semenjak kau menjarak dari kedekatan, namun beribu-ribu malam yang panjang tak jua melesapkanmu dari ingatan –begitu juga warna luka yang kaupilihkan …

“Cinta telah menakik bilur pada ingatan, seorang pencinta menyadap pitawat dari lukanya,” itu semiang majasmu di hujung pertemuan, namun seakan-akan baru kemarin kau menggerisik di dekat hatiku yang terjatuh …

 

******************

Pitawat:

 

 قال ابن قيم رحمه الله: … في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله، وفيه وحشة لا يزيلها إلا الأنس به في خلوته ، وفيه حزن لا يذهبه إلا السرور بمعرفته وصدق معاملته … – مدارج السالكين

 

Ibn Qayyim –rahimahullah– berkata, “… di hati terdapat serpihan-serpihan terserak yang takkan bisa terhimpun kecuali dengan mendatangi Allah, ada kegundahan karena kesendirian yang takkan hilang selain dengan kesenangan bersunyi-sunyi dengan-Nya, ada kesedihan yang takkan berlalu kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya dan benar dalam berhubungan dengan-Nya ….” – Madarij as-Salikin …

 

Bandung, 27 Januari 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements