Mereka Bilang, Pejuang Badr itu Merangkak ke Surga …

merangkak

Sering kali saya dengar –dalam ceramah-ceramah- bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf –radhiyallahu ‘anhu– akan memasuki surga dengan cara merangkak karena terhambat oleh hartanya. Beberapa kali pula saya membaca kisah tersebut melalui buku-buku, buletin-buletin, maupun jurnal-jurnal dunia maya … -dan nyatanya, kisah tersebut dusta …

Berikut ini saya nukilkan penjelasan para ulama atas kerapuhan kisah tersebut …

 

**

*

 

الشيخ على حشيش المصري -حفظه الله-

Syaikh ‘Ali Hasyisy al-Mishri –hafizhahullah

 

أولاً: متن القصة:

 

MATAN (Redaksi Kisah)

 

“بينما عائشة رضي الله عنها في بيتها إذ سمعت صوتًا رجت منه المدينة فقالت: ما هذا؟ فقالوا عير قدمت لعبد الرحمن بن عوف من الشام، وكانت سبع مائة راحلة، فقالت عائشة رضي الله عنها: أما إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “رأيت عبد

الرحمن بن عوف يدخل الجنة حَبْوًا”. فبلغ ذلك عبد الرحمن فأتاها فسألها عما بلغه فحدثته قال: فإني أشهدك أنها بأحمالها وأقتابها وأحلاسها في سبيل الله”.هـ.

وفي رواية قال: إن استطعت لأدخلنها قائمًا فجعلها بأقتابها وأحمالها في سبيل الله وكانت سبعمائة بعير فارتجت المدينة من الصوت.

 

Ketika ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– sedang berada di rumahnya, tiba-tiba terdengar olehnya suara yang mengguncangkan Madinah. ‘Aisyah pun berkata, “Suara apa itu?” Orang-orang menjawab, “Itu suara kafilah dagang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang baru datang dari Syam sebanyak tujuh ratus unta.” ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– berkata:

Adapun aku pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Aku melihat ‘Abdurrahman bin ‘Auf memasuki surga dengan merangkak.”

Ucapan itu sampai ke telinga ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf mendatangi ‘Aisyah untuk menanyakan hal itu. ‘Aisyah pun menceritakan hadits tersebut. ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Sesungguhnya kupersaksikan kepadamu, bahwa semua unta ini beserta beban yang dibawanya, juga semua pelana dan sekedupnya, aku berikan untuk perjuangan di jalan Allah.”

-dan dalam riwayat lain, ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Seandainya aku mampu, niscaya kumasuki surga dengan berjalan,” lalu dia pun memberikan semua unta beserta pelana-pelana dan muatannya untuk perjuangan di jalan Allah. Dan itu sebanyak tujuh ratus ekor unta yang suaranya mengguncangkan Madinah.

 

ثانيًا: التخريج:

 

TAKHRIJ (Sumber Periwayatan Kisah)

 

الحديث الذي جاءت به هذه القصة أخرجه:

أحمد في “المسند” (١/١١٥) ح(۲٤۸۸٦)، والطبراني في “المعجم” (١/١۲٩) ح(۲٦٤(، وأبو نعيم في “معرفة الصحابة” (١/٣۸٤)، وفي “الحلية” (١/٩۸(، وابن الجوزي في “الموضوعات)۲/١٣ (كلهم من طريق عمارة بن زاذان عن ثابت البناني، عن أنس بن مالك قال فذكره.

 

Hadits yang datang membawa kisah ini dikeluarkan oleh Ahmad di kitab Musnad (1/115; 24886), ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam (1/129; 264), Abu Nu’aim di kitab Ma’rifah ash-Shahabah (1/384) dan di kitab al-Hilyah (1/98), Ibn al-Jauzi di kitab al-Maudhu’at (2/13); semuanya dari jalan ‘Umarah bin Zadzan dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata … -lalu menyebutkan hadits tersebut …

 

ثالثًا: التحقيق:

 

TAHQIQ (Penelitian atas Validitas Kisah)

 

هذه القصة واهية وعلتها:

عمارة بن زاذان الصيدلاني أبو سلمة البصري:

١- أورده الحافظ في “التهذيب” (۷/٣٦٥) وقال:

أ- قال الأثرم عن أحمد: يروي عن ثابت عن أنس أحاديث مناكير.

ب- وقال الآجري عن أبي داود: ليس بذاك.

ج- وقال الساجي: فيه ضعف ليس بشيء ولا يقوى في الحديث.

 

Kisah di atas rapuh, dan yang menjadi cacat (penyakit)nya adalah ‘Umarah bin Zadzan ash-Shidalani Abu Salamah al-Bashri …

Pertama: al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan ‘Umarah bin Zadzan di kitab at-Tahdzib (7/365), dan beliau mengatakan:

(1) telah berkata al-Atsram dari Ahmad, “Yang diriwayatkan dari Tsabit dari Anas adalah hadits-hadits mungkar.”

(2) dan berkata al-Ajurri dari Abu Dawud, “Laisa bi dzaka.”

(3) dan as-Saji berkata, “Padanya terdapat kelemahan, tidak ada apa-apanya dan tidak kuat dalam hadits.”

 

۲- وأورده الإمام الدارقطني في “الضعفاء والمتروكين” رقم (٣۸۲) وقال: “عُمارة بن زاذان الصيدلاني بصري روى عن ثابت وأبي غالب فَزَوَّر”. اهـ.

قلت: وقد يُظن بكتاب الدارقطني هذا: أن الدارقطني باقتصاره على ذكر اسم الراوي فقط أنه سكت عنه. ولكن مجرد ذكر الاسم يكون الراوي متروكًا كما هو مبين في القاعدة المذكورة في أول الكتاب.

قال الإمام البرقاني: “طالت محاورتي مع ابن حمكان للإمام أبي الحسين علي بن عمر -عفا الله عني وعنهما- في المتروكين من أصحاب الحديث فتقرر بيننا وبينه على ترك من أثبته على حروف المعجم في هذه الورقات.” اهـ.

قلت: من هذه القاعدة يتبين أن عمارة بن زاذان متروك.

 

Kedua: dan Imam ad-Daruquthni menyebutkan ‘Umarah bin Zadzan di kitab adh-Dhu’afa wa al-Matrukin (382) seraya mengatakan, “’Umarah bin Zadzan ash-Shidalani, orang Bashrah, dia meriwayatkan dari Tsabit al-Bunani dan Abu Ghalib lalu memalsukannya.”

Aku katakan, dan orang telah menyangka melalui kitab ad-Daruquthni ini (yakni kitab adh-Dhu’afa wa al-Matrukin), bahwa Imam adh-Daruquthni dengan hanya mencukupkan penyebutan nama perawi saja, itu berarti beliau diam darinya (tidak melakukan jarh/celaan). Padahal dengan hanya sekedar menyebutkan nama perawi (di kitab itu pun) sudah mengartikan bahwa keadaan perawi tersebut matruk sebagaimana tampak jelas dalam kaidah yang disebutkan di awal kitab (adh-Dhu’afa wa al-Matrukin).

Imam al-Barqani berkata, “Aku bertanya-tanya panjang bersama Ibn Himkan kepada Abu al-Hasan ‘Ali bin ‘Amr (yakni ad-Daruquthni –pent) –semoga Allah memaafkanku dan mereka berdua- mengenai orang-orang matruk dari kalangan perawi hadits, lalu menjadi tetaplah di antara kami atas kematrukan nama-nama perawi yang telah ditetapkannya di dalam kitabnya.”

Aku katakan, dari kaidah (yang terdapat di awal kitab) ini, menjadi jelaslah bahwa ‘Umarah bin Zadzan itu perawi yang matruk.

 

٣- قال ابن الجوزي في “الموضوعات” (۲/١٣(:

أ- قال أحمد بن حنبل: هذا الحديث كذب منكر، قال: وعمارة يروي أحاديث مناكير.

ب- قال أبو حاتم الرازي: عمارة بن زاذان لا يحتج به.

ج- وقد روى الجراح بن منهال إسنادًا له عن عبد الرحمن بن عوف أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “يابن عوف إنك من الأغنياء، وإنك لا تدخل الجنة إلا زحفًا فاقرض ربك يطلق قدميك”.

قال النسائي: هذا حديث موضوع، والجراح متروك الحديث، وقال يحيى: ليس حديث الجراح بشيء، وقال ابن المديني لا يكتب حديثه، وقال ابن حبان: كان يكذب، وقال الدارقطني: روى عنه ابن إسحاق فقلب اسمه فقال منهال ابن الجراح وهو متروك.” اهـ.

 

Ketiga: Imam Ibn al-Jauzi di kitab al-Maudhu’at (2/13):

(1) Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Hadits ini dusta dan mungkar.” Dia berkata, “’Umarah bin Zadzan tidak bisa dijadikan hujjah.”

(2) Imam Abu Hatim ar-Razi berkata, “’Umarah bin Zadzan tidak bisa dijadikan hujjah.”

(3) al-Jarah bin Minhal meriwayatkan dengan sanad miliknya dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Wahai Ibn ‘Auf, sesunggunya kamu termasuk kalangan orang kaya, dan sesungguhnya kamu tidak memasuki surga kecuali dengan merayap. Maka berikan pinjaman untuk Rabb-mu (dari hartamu), niscaya Allah akan melepaskan kedua kakimu (hingga bisa berjalan).”

Imam an-Nasa’i berkata, “Hadits ini palsu. Al-Jarah bin Minhal matruk al-hadits.” Yahya berkata, “Hadits al-Jarah tidak ada apa-apanya.” Ibn al-Madini berkata, “Haditsnya jangan ditulis.” Ibn Hibban berkata, “Dia biasa berdusta.” Ad-Daruquthni berkata, “Ibn Ishaq meriwayatkan darinya lalu membalikkan namanya menjadi Minhal bin al-Jarah, dan dia itu matruk.”

 

٤- ثم قال الإمام ابن الجوزي: “وبمثل هذا الحديث الباطل تتعلق جهلة المتزهدين ويرون أن المال مانع من السبق إلى الخير، ويقولون: إذا كان ابن عوف يدخل الجنة زحفًا لأجل ماله كفى ذلك في ذم المال، والحديث لا يصح، وحاشا عبد الرحمن المشهود له بالجنة أن يمنعه ماله من السبق لأن جمع المال مباح، وإنما المذموم كسبه من غير وجهه، ومنع الحق الواجب فيه، وعبد الرحمن بن عوف منزه عن الحالين، وقد خلف طلحة الذهب وخلف الزبير وغيره، ولو علموا أن ذلك مذموم لأخرجوا الكل، وكم قاصٍ يتشدق بمثل هذا الحديث يحث على الفقر، ويذم الغنى فيالله در العلماء الذين يعرفون الصحيح ويفهمون الأصول.” اهـ.

 

Keempat: kemudian Imam Ibn al-Jauzi berkata: Hadits batil semisal ini terkait dengan kepandiran orang-orang yang zuhud. Mereka memandang bahwa harta itu merupakan penghalang dari kesegeraan menuju kebaikan. Mereka juga mengatakan, “Jika Ibn ‘Auf memasuki surga sambil merayap dengan sebab hartanya, maka itu sudah cukup menjadi alasan tentang ketercelaan harta.” Padahal hadits ini tidaklah shahih, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf –shahabat yang telah dipersaksikan baginya surga- terlepas dari (anggapan) bahwa dia terhalang oleh hartanya dari kesegeraan (menuju surga), karena mengumpulkan harta itu memang mubah, yang tercela itu adalah cara mendapatkannya yang tidak benar dan tidak mengeluarkan kewajiban atas harta itu di dalamnya, sedangkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf itu terlepas dari kedua hal itu. Thalhah pun telah mewariskan emas, demikian juga az-Zubair dan para shahabat lain. Jika mereka mengetahui bahwa mengumpulkan harta itu buruk, niscaya mereka akan mengeluarkan semuanya. Dan berapa banyak tukang cerita yang menyebarluaskan hadits semacam ini yang menganjurkan kepada kefakiran dan mencela kekayaan, maka semoga Allah membanyakkan ulama yang mengetahui yang shahih dan memahami ushul.

 

٥- وقال الحافظ ابن حجر في “القول المسدد” (ص ۲٥): والذي أراه عدم التوسع في الكلام عليه فإنه يكفينا شهادة الإمام أحمد بأنه كذب، وأولى مجاملة أن نقول: هو من الأحاديث التي أمر الإمام أحمد أن يضرب عليها، فإما أن يكون الضرب ترك سهوًا، وإما أن يكون بعض من كتبه عن عبد الله كتب الحديث وأخل بالضرب والله أعلم.” اهـ.

 

Kelima: dan al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata  di kitab al-Qaul al-Musaddad (halaman 25):

Aku melihatnya tidak meluaskan pembicaraan atas kisah ini, maka cukuplah bagi kita persaksian Imam Ahmad bahwa kisah itu dusta. Lebih utama kita katakan, “Kisah ini termasuk di antara hadits-hadits yang diperintahkan oleh Imam Ahmad untuk disingkirkan, bisa jadi dari yang seharusnya disingkirkan itu tertinggal karena lupa atau bisa jadi sebagian lagi dari yang (ditambahkan) oleh ‘Abdullah (bin Ahmad bin Hanbal) dan luput disingkirkan, wallahu a’lamu.

 

٦- قلت: لقد اكتفى الحافظ ابن حجر على كذب القصة بشهادة الإمام أحمد لأن الحافظ رحمه الله يعرف مكانة الصحابي عبد الرحمن بن عوف رحمه الله. حيث قال في “الإصابة في تمييز الصحابة” (٤/٣٤٦( ترجمة )٥١۸٣(: عبد الرحمن بن عوف بن عبد الحارث بن زهرة بن كلاب القرشي الزهري أبو محمد، أحد العشرة المشهود لهم بالجنة، وأحد الستة أصحاب الشورى الذين أخبر عمر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه توفي وهو عنهم راضٍ، وأسند رفْقته أمرهم إليه حتى بايع عثمان ثبت ذلك في الصحيح. اهـ.

ثم قال: ولد بعد الفيل بعشر سنين، وأسلم قديمًا قبل دخول دار الأرقم، وهاجر الهجرتين، وشهد بدرًا وسائر المشاهد.

 

Keenam: aku katakan, al-Hafizh Ibn Hajar telah merasa cukup dengan persaksian Imam Ahmad atas kedustaan kisah tersebut karena al-Hafizh –rahimahullah– mengenal kedudukan shahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf –rahimahullah. Al-Hafizh berkata di kitab al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah (4/346; 5183), “’Abdurrahman bin ‘Auf bin ‘Abd al-Harits bin Zuhrah bin Kilab al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad, salah seorang dari sepuluh shahabat yang dipersaksikan mendapatkan surga, juga salah seorang dari enam shahabat ahli musyawarah yang telah dikabarkan oleh ‘Umar dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- bahwasanya beliau –shallallahu ‘alaihi wa salllam- wafat dalam keadaan rida terhadap mereka, dan ahli syura menyerahkan urusan mereka kepadanya hingga akhirnya dibai’atlah ‘Utsman bin ‘Affan (sebagai khalifah), hal ini terdapat di dalam ash-Shahih.”

Kemudian al-Hafisz berkata, “’Abdurrahman bin ‘Auf lahir sepuluh tahun setelah tahun gajah, masuk Islam awal-awal sebelum (kaum muslimin) memasuki Dar al-Arqam, dan melakukan hijrah dua kali. Dia mengikuti perang Badr dan semua peperangan (bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

*Diambil dari: Qashash al-Wahiyah li Syaikh ‘Ali Hasyisy al-Mishri (2/85-88) …

 

—————————————————————————-

*Tambahan:

 

قال الشيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله- في مجموع الفتاوى (١١/١۲۸(: “… وما روي: أن ابن عوف يدخل الجنة حبواً، كلام موضوع لا أصل له …

 

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah– berkata di kitab Majmu’ al-Fatawa (11/128):

 … dan apa yang diriwayatkan, “Bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf memasuki surga dengan merangkak,” merupakan ucapan yang palsu tidak ada asalnya …

 

قال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد: “رواه أحمد والبزار بنحوه والطبراني وفيه عمارة بن زاذان ضعفه النسائي والدارقطني. وقد شهد عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه بدراً والحديبية وشهد له رسول الله صلى الله عليه وسلم بالجنة وصلى خلفه.”

قال الحافظ الهيثمي في كشف الأستار: قلت: هذا منكر، وعلته (عُمارة بن زاذان) : قال الإمام أحمد: له مناكير. وقال أبو حاتم: لا يحتج به. وضعفه الدارقطني.”

 

Al-Hafizh al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazar seperti itu, juga ath-Thabarani dan di dalam sanadnya ada ‘Umarah bin Zadzan yang dilemahkan oleh an-Nasa’i dan ad-Daruquthni. Dan sungguh ‘Abdurrahman bin ‘Auf –radhiyallahu ‘anhu- itu mengikuti perang Badr dan perjanjian Hudaibiyah, dan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mempersaksikan baginya surga serta pernah pula beliau shalat di belakang ‘Abdurrahman bin ‘Auf.”

Dan telah berkata al-Hafizh al-Haitsami di kitab Kasyf al-Astar:

Aku katakan, “Ini mungkar, dan penyakitnya adalah ‘Umarah bin Zadzan. Imam Ahmad mengatakan ‘Umarah memiliki riwayat-riwayat mungkar, Abu Hatim mengatakan, ‘Umarah tidak bisa dijadikan hujjah. ‘Umarah dilemahkan oleh ad-Daruquthni.”

 

قال الشوكاني في الفوائد المجموعة -بتحقيق المعلمي: رواه أحمد، وفي إسناده: عمارة، وهو يروي المناكير، وقد قال أحمد: هذا الحديث كذب منكر. قال ابن حجر: لم يتفرد به عمارة بن زاذان، فقد رواه البزار من طريق أغلب بن تميم، وأغلب شبيه عمارة بن زاذان في الضعف، لكن لم أر من اتهمه بالكذب، وقد روى من طريق أخرى فيها متروك.

Imam asy-Syaukani berkata di kitab al-Fawa-id al-Majmu’ah –dengan tahqiq Syaikh ‘Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan di dalam sanadnya ada ‘Umarah, seorang perawi yang meriwayatkan hadits-hadits mungkar. Imam Ahmad mengatakan hadits ini dusta dan mungkar. Ibn Hajar mengatakan, ‘Umarah bin Zadzan tidak menyendiri dengan hadits ini (karena) al-Bazar telah meriwayatkan dari jalan Aghlab bin Tamim yang menyamai kelemahan ‘Umarah bin Zadzan, namun tidak tertuduh sebagai pendusta, dan diriwayatkan juga dari jalan lain namun di dalamnya ada perawi matruk.”

 

قال الشيخ الألباني -رحمه الله- في الضعيفة (٦٥٩۰) عن هذا الحديث: “كذب.” أخرجه أحمد في (مسند عائشة) (٣/١١٠)، وعنه ابن الجوزي في “الموضوعات” (٢/١٣)، وكذا ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (١٠/١٢٤(، والبزار (٣/٢٠۹/٢٥٨٦ -كشف)، والطبراني في “المعجم الكبير” (١/٨۹-۹٠)، وعنه أبو نعيم في “الحلية” (١/۹٨) من طرق عن عمارة ابن زاذان عن ثابت عن أنس …

 

Syaikh al-Albani berkata tentang hadits ini di kitab adh-Dha’ifah (6590), “Dusta. Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnad ‘Aisyah (3/115), dan darinya Ibn al-Jauzi di kitab al-Maudhu’at (2/13), juga Ibn Asakir di kitab Tarikh Dimasq (10/124), al-Bazar (3/209/2586 –Kasyf), ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir (1/89-90), dan darinya Abu Nu’aim di kitab al-Hilyah (1/98) dari jalan ‘Umarah bin Zadzan dari Tsabit dari Anas ….”

———————————————————-

Bandung, 19 Februari 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

41 comments on “Mereka Bilang, Pejuang Badr itu Merangkak ke Surga …

  1. thetrueideas says:

    alhamdulillah…sudah pernah dengar tentang ketidakbenaran kisah ini sebelumnya

    vote: SANGAT bermangfaat!

  2. Novi Kurnia says:

    fotonya warna warniii. salah satu kisah masa kecil yang paling kuingat, karena selalu bertanya, “benarkah? kasihan betul kalau iya (sembari berasa janggal)”. Ternyata…

  3. Novi Kurnia says:

    para ahli hadis itu belajar dari kapan, ya… kok bisa inget dan hapal banyak perawi dan hadis.

  4. Saya juga pernah baca hadits tersebut, ooo… ternyata palsu.

  5. jampang says:

    ternyata…. oh ternyata….. nggak valid juga

  6. Sejak dulu saya merasa kisah ini janggal, ternyata memang tidak shahih

  7. wuih.. matruk….
    ngeriii…

  8. hemm.. fajar coret2 dulu baru balik lagi ah.. hahaha
    insyaAllaah..

    ngomongin hafal hadits & rawi.. jadi inget
    di univ di yaman ada pemuda 19 tahun apa berapa ya umurnya *lupa..
    diceritain ustadz hartanto.. (pemuda itu adik angkatan blio)
    hafal kutubussittah
    sama apal rawi2 kedudukannya gimana dsb..
    dan itu hidup di zaman ini..
    namanya Ghozi..

    *jadi pengen namain anak Ghozi.. hahaha

  9. omjek says:

    ajibb kang..!! ;thumbup:

    Hadits yg sanadnya lemah dan matannya munkar…

    Dari segi matan hadist ini berisi keterangan bahwa harta itu mencegah seseorang untuk menjadi orang terdepan dalam kebaikan, padahal sebenarnya mengumpulkan harta adalah boleh.

    Yang tercela adalah apabila mengumpulkan harta dengan cara yang haram dan tidak menunaikan kewajiban di dalamnya. Sedangkan Abdurrahman bin ‘Auf terbebas dari dua keadaan ini. wallohu a’lam

  10. Assalamualaikum ..mas Hendra….sekadar membaca aja saya….terimakasih….mau tanya semua ini mas yg menaip di PC nya ya…..? berapa lama utk menyiapkannya?

  11. tantodikdik says:

    alhamdulillah sudah diberikan ilmu tentang syubhat ini. hatur nuhun.
    barokalloohu fiik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s