Katanya, Hindun Mengunyah Hati Hamzah di Padang Uhud …

Hati

Benar bahwa dalam perang Uhud, kaum musyrikin Quraisy merusak jasad para syuhada kaum muslimin yang gugur, namun tidaklah benar bahwa Hindun binti ‘Utbah –radhiyallahu ‘anha– mengunyah dan memakan hati Hamzah –radhiyallahu ‘anhu. Kisah tentang kebiadaban Hindun mengunyah hati Hamzah ini tersebar luas di kalangan kaum muslimin … -dan kabar itu tidaklah benar …

**

*

الشيخ محمد بن عبد الله العوشن

Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah al-‘Ausyan

Dari kitab: Ma Sya’a wa lam Yatsbut fi as-Sirah an-Nabawiyah (147-152)

 

 

قال ابن إسحاق: (ووقعت هند بنت عتبة -كما حدثني صالح بن كيسان- والنسوة اللاتي معها يُمثّلن بالقتلى من أضحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يجدّعن الآذان والأنوف، حتى اتخذت هند من آذان الرجال وأنوفهم خَدمًا ]١[ وقلائد، وأعطت خدمها وقلائدها وقرطها وحشيًا، غلام جبير بن مطعيم، وبقرت عن كبد حمزة، فلاكتها، فلم تستطع أن تسيغها فلفظتها …) ]۲[

 

Ibn Ishaq berkata, “Dan Hindun binti ‘Utbah mengumpat –sebagaimana diceritakan oleh Shalih bin Kaisan kepadaku- juga para perempuan yang turut serta dengannya. Mereka sama-sama melakukan pengrusakan terhadap jasad para shahabat yang gugur. Mereka memotong telinga dan hidung para shahabat yang gugur, bahkan Hindun malah menjadikan telinga-telinga dan hidung para shahabat itu sebagai khadaman (gelang kaki) [1] dan kalung. Hindun memberikan gelang kaki, kalung, dan anting itu kepada Wahsyi, seorang hamba sahaya milik Jubair bin Muth’im. Hindun membedah perut Hamzah untuk mendapatkan kabid (hati/lever) Hamzah, lalu mengunyahnya namun tak sanggup untuk menelannya hingga dia pun memuntahkannya … [2]

 

[1] yakni bentuk jamak dari khadamah, dan itu adalah al-khulkhul (gelang kaki) … -(Lisan al-‘Arab; madah: khadama)

[2] ar-Raudh al-Unf (6/15)

 

وصالح بن كيسان ثقة، من رجال الجماعة، وهو مؤدب ولد عمر بن عبد العزيز، لكن الخبر مرسل.

 

Shalih bin Kaisan itu orang yang tsiqah (tepercaya) dan termasuk perawi yang dipakai oleh al-Jama’ah. Dia itu guru dari ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz. Akan tetapi kabar tersebut (riwayat di atas) mursal

 

ثم قال ابن إسحاق: (وخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم –فيما بلغني- يتلمس حمزة بن عبد المطلب، فوجده ببطن الوادي قد بقر بطنه عن كبده، ومُثّل به، فجدع أنفه وأذناه). فحدثني محمد بن جعفر بن الزبير أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال حين رأى ما رأى: (لولا أن تحزن صفية  ]٣[، ويكون سنة من بعدي لتركته حتى يكون في بطون السباع، وحواصل الطير، ولئن أظهرني الله على قريش في موطن من المواطن لأمثلن بثلاثين رجلا منهم). فلما رأى المسلمون حزن رسول الله صلى الله عليه وسلم وغيظه على من فعل بعمه ما فعل، قالوا: والله لئن أظهرنا الله بهم يوما من الدهر لنمثلن بهم مثلة لم يمثلها أحد من العرب ]٤[. والخبر مرسل.

 

Kemudian Ibn Ishaq berkata, “Menurut kabar yang sampai kepadaku, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- keluar untuk mencari Hamzah bin ‘Abd al-Muthalib, lalu beliau mendapati Hamzah di perut lembah dalam keadaan terbedah perutnya dari bagian hati. Tubuhnya dirusak, hidung dan telinganya dipotong,” lalu Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata saat melihat keadaan itu, “Kalau saja Shafiyyah[3] tidak akan dibuat sedih, dan kalau saja tidak akan menjadi sunnah setelahku, niscaya kutinggalkan saja jasad Hamzah hingga memenuhi perut binatang buas dan tembolok burung-burung. Dan kalau Allah memenangkanku atas Quraisy dalam suatu medan pertempuran di antara padang-padang pertempuran, niscaya akan kusiksa tiga puluh orang lelaki dari kalangan mereka.” Ketika kaum Muslimin melihat kesedihan dan kemarahan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– atas apa yang diperbuat oleh (orang-orang Qurais) kepada pamannya, mereka pun berkata, “Dan kalau suatu hari nanti Allah memenangkan kami atas mereka, niscaya akan kami siksa mereka dengan siksaan yang tak pernah dirasakan oleh seorang pun dari bangsa Arab.” [4] … dan riwayat ini mursal …

 

[3] yakni Shafiyyah binti ‘Abd al-Muthalib –radhiyallahu ‘anha, saudari kandung Hamzah –radhiyallahu ‘anhu. Imam adz-Dzahabi berkata, “Yang sahih, bahwasanya tidak ada di antara para bibi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang masuk Islam selain Shafiyyah.”as-Sair (2/270) …

[4] ar-Raudh al-Unf (6/20)

 

ثم قال ابن إسحاق: (وحدثني بريدة بن سفيان بن فروة الأسلمي، عن محمد بن كعب القرظي، وحدثني من لم اتّهم عن ابن عباس، أن الله عز أنزل في ذلك، من قول رسول الله صلى الله عليه وسلم وقول أصحابه: (وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرينَ وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِالله وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ) فعفا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وصبر، ونهى عن المثلة ]٥([.

 

Kemudian Ibn Ishaq berkata:

Dan telah menceritakan kepadaku Buraidah bin Sufyan bin Farwah al-Aslami, dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, dan telah menceritakan kepadaku seseorang yang tidak tertuduh dari Ibn ‘Abbas, bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat berkaitan dengan peristiwa itu, yakni berkaitan dengan ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para shahabat beliau, (yakni surah an-Nahl: 126-127), Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan,” maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menahan diri, bersabar, dan melarang dari penyiksaan. [5]

 

[5] ar-Raudh al-Unf (6/21)

 

وذكرها ابن كثير في البداية عن ابن إسحاق ثم قال: (قلت: هذه الآية مكية، وقصة أُحد بعد الحجرة بثلاث سنين، فكيف يلتئم هذا؟ فالله أعلم ]٦([.

 

Dan Ibn Katsir menyebutkan kisah itu di kitab al-Bidayah dari Ibn Ishaq, kemudian Ibn Katsir berkata, “Aku katakan, ayat tersebut merupakan ayat makiyyah (ayat yang turun di Mekah), sedangkan kisah perang Uhud itu terjadi tiga tahun setelah hijrah, lantas bagaimana mungkin ayat ini bertepatan dengan peristiwa Uhud? Fallahu a’lamu.” [6]

 

[6] al-Bidayah wa an-Nihayah (4/40)

 

قال الذهبي في المغازي: (وقال يحيى الحمّاني: حدثنيا قيس –هو ابن الربيع- عن ابن أبي ليلى، عن الحكم، عن مقسم، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم قتل حمزة ومُثّل به: (لئن ظفرت بقريش لأمثلن بسبعين منهم). فنزلت: (وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرينَ) فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (بل نصبر ياربّ). إسناده ضعيف من قِبَل قيس. وقد روى نحوه حجاج بن منهال، وغيره، عن صالح المرّي –وهو ضعيف- عن سليمان التيمي، عن أبي عثمان النهدي، عن أبي هريره، وزاد: فنطر إلى منظر لم ينظر إلى شيء قطّ أوجع منه لقلبه). ]۷[ 

 

Imam adz-Dzahabi berkata di kitab al-Maghazi:

Yahya al-Hammani berkata: telah menceritakan kepadaku Qais –dia adalah Ibn ar-Rabi’- dari Ibn Abi Laila, dari al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibn ‘Abbas, dia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata pada hari terbunuhnya Hamzah dan dirusak jasadnya, “Jika aku mengalahkan Qurais, niscaya akan benar-benar kusiksa tujuh puluh orang dari mereka,” lalu diturunkanlah ayat, Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun bersabda, “Ya, kami bersabar, wahai Rabb-ku.” –sanad hadits ini lemah karena adanya Qais. Dan telah meriwayatkan pula Hajjaj bin Minhal dan yang lainnya riwayat yang seperti itu dari Shalih al-Murri –dan Shalih ini perawi lemah- dari Sulaiman at-Taimi, dari Abu ‘Utsman an-Nahdi, dari Abu Hurairah, dengan tambahan redaksi pada kisah, “Lalu Rasulullah menerawangkan pandang ke suatu arah seraya menahan derita yang menyakitkan hatinya.” [7]

 

[7] al-Maghazi (209-210)

 

وذكر هذه الرواية الهيثمي في المجمع وفيه: (… ونظر إليه وقد مُثّل به، فقال: رحمة الله عليك إن كنت ما علمت لوصولا للرحم فعولا للخيرات، والله لولا حزن من بعدك عليك لسرني أن أتركك حتى يحشرك الله من بطون السباء –أو كلمة نحوها- أما والله على ذلك لأمثلن بسبعين كميتتك. فنزل جبريل عليه السلام على محمد صلى الله عليه وسلم بهذه سورة، وقرأ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ إلى آخر الآية فكفّر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأمسك عن ذلك). ثم قال الهيثمي: (رواه البزار والطبراني، وفيه صالح بن بشير المرّي]۸[ وهو ضعيف. ]۹[

 

Dan al-Haitsami pun telah menyebutkan riwayat ini di kitab al-Majma’, dan di dalamnya terdapat redaksi berikut:

… dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memandang jasad Hamzah yang dirusak, lalu bersabda, “Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya sejauh pengetahuanku, kamu selalu menjalin silaturahim dan melakukan kebaikan-kebaikan. Demi Allah, seandainya saja tak ada yang bersedih setelah kepergianmu, niscaya aku berlalu dan meninggalkan jasadmu hingga Allah mengumpulkan (kembali jasad)mu dari perut-perut binatang buas –atau kalimat semisal ini. Adapun aku, demi Allah, akan benar-benar menyiksa tujuh puluh orang (dari mereka) sebagaimana siksaan yang mereka lakukan terhadapmu,” lalu turunlah Jibril –‘alaihi as-salam– kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan membawa ayat berikut, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu,” hingga akhir ayat. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengampuni (perbuatan mereka) dan menahan diri dari penyiksaan.

Kemudian al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani, dan di dalam sanadnya ada Shalih bin Basyir al-Murri[8], dia dia itu seorang yang lemah. [9]

 

[8] di dalam sumber asalnya tertulis al-Muzani …

[9] Majma’ az-Zawa-id (9/119). Dan diriwayatkan pula oleh al-Hakim di kitab al-Mustadrak (3/218) dengan nomor hadits (4894), dan al-Hakim diam terhadap hadits ini, sedangkan adz-Dzahabi menganggap Shalih al-Murri itu lemah. Al-Hafizh Ibn Hajar pun menyebutkan hadits ini di kitab al-Fath (7/371) seraya mengisyaratkan kelemahannya.

 

وروى الحاكم في المستدرك عن أبي بن كعب رضي الله عنه قال: لما كان يوم أحد أصيب من الأنصار أربعة وستون رجلا، ومن المهاجرين ستة، فمثّلوا بهم، وفيهم حمزة، فقالت الأنصار: لئن أصبناهم يوماً مثل هذا لنربينّ عليهم، فلما كان يوم الفتح المكة أنزل الله عز وجل: (وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرينَ وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِالله …) فقال رجل: (لا قريش بعد اليوم)، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (كفّوا عن القوم غير أربعة). ثم قال الحاكم: (هذا الحديث صحيح الإسناد، ولم يخرجاه)، ووافقه الذهبي ]١٠[.

 

Al-Hakim telah meriwayatkan di kitab al-Mustadrak dari Ubay bin Ka’b –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Pada peristiwa perang Uhud telah gugur enam puluh empat orang dari kalangan Anshar sedangkan dari kalangan Muhajirin sebanyak enam orang. Jasad mereka dirusak (oleh kaum Quraisy), termasuk jasad Hamzah. Orang Anshar berkata, “Kalau kami bisa menimpakkan yang semisal ini kepada mereka pada suatu hari, niscaya kami benar-benar akan menambahkan siksaan kepada mereka.” Lalu pada hari Fath al-Makkah, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah …,” lalu seseorang berkata, “Takkan ada lagi Quraisy setelah hari ini!” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Biarkan orang- orang Quraisy kecuali empat orang!”

Kemudian al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini sahih, namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya,” dan Imam adz-Dzahabi menyetujuinya [10]

 

[10] al-Mustadrak (2/391, 484)

 

قال ابن هشام: (ولما وقف رسول الله صلى الله عليه وسلم على حمزة قال: لن أصاب بمثلك أبداً. ما وقفت موقفاً قطّ أغيظ إلَيّ من هذا) ]١١[. قال الألباني: (حديث لا يصح، ذكره ابن هشام بدون إسناد، ولم أجده عند غيره، وقد نقله عنه الحافظ ابن كثير (٤/٤۰)، وابن حجر في الفتح (۷/۲۹۷( ولم يوصلاه) ]١۲[.

 

Ibn Hisyam berkata:

Tatkala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berhenti di depan jasad Hamzah, beliau berkata, “Takkan pernah terjadi lagi musibah sepertimu yang kaualami ini selamanya. Tidaklah aku sekadar berhenti dan berdiri saja, melainkan juga merasa marah atas hal ini.” [11] Syaikh al-Albani berkata, “Hadits ini tidak sahih. Hadits ini disebutkan oleh Ibn Hisyam tanpa sanad, dan aku tak mendapatinya dari selain Ibn Hisyam. Al-Hafizh Ibn Katsir telah menukilnya dari Ibn Hisyam (4/40), juga Ibn Hajar di kitab al-Fath (7/297), namun Ibn Hajar tidak menyambungkan sanadnya. [12]

 

[11] ar-Raudh al-Unf (6/20)

[12] Takhrij Fiqh as-Sirah (264); al-Waqidi pun meriwayatkannya di kitab al-Maghazi (1/290)

 

وروى الإمام أحمد قال: حدثنا عفّان قال: حدثنا حمّاد قال: حدثنا عطاء بن السائب عن الشعبي عن ابن مسعود قال: (… فنظروا فإذا حمزة قد بُقر بطنه، وأخذتْ هند كبده فلاكتها، فلم تستطع أن تمغضها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أكلتْ شيئاً؟) قالوا: لا، قال: ما كان الله ليدخل شيئا من حمزة في النار) ]١٣[. وفيه صلاته على حمزة سبعين صلاة.

 

Dan Imam Ahmad meriwayatkan, dia berkata:

Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Atha’ bin as-Sa-ib dari asy-Sya’bi dari Ibn Mas’ud, dia berkata:

… lalu para shahabat sama mencari lalu menemukan Hamzah dalam keadaan terbedah perutnya. Hindun telah mengambil kabid (hati/lever) Hamzah dan mengunyahnya, namun dia tak kuasa untuk menelannya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya, “Apakah dia memakan sesuatu (dari tubuh Hamzah)?” Para shahabat menjawab, “Tidak!” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Tidaklah Allah akan memasukkan sesuatu pun dari jasad Hamzah ke dalam neraka.” [13] –dan di dalam hadits ini disebutkan tentang shalat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk Hamzah sebanyak tujuh puluh kali …

 

[13] al-Musnad (6/191)

 

قال ابن كثير في البداية: (تفرّد به أحمد، وهذا إسناد فيه ضعف، من جهة عطاء بن السائب، فالله أعلم) ]١٤[ قال الشيخ الألباني: (وهذا هو الصواب، خلافا لقول الشيخ محمد أحمد شاكر: إنه صحيح، فإنه ذُهل عما ذُكر من سماعه منه في الاخطلاط ]١٥ [

ثم إن الراوي عن ابن مسعود هو عامر بن شراهيل الشعبي، ولا يصح له سماع من ابن مسعود، كما قال ذلك الأئمة: الحاكم، والدرقطني، وأبو حاتم ]١٦[، وابن باز ]١۷[.

 

Ibn Katsir berkata di kitab al-Bidayah, “Ahmad menyendiri dengannya, dan sanad hadits ini mengandung kelemahan dari arah ‘Atha’ bin as-Sa-ib, fallahu a’lamu.” [14] Syaikh al-Albani berkata, “Dan inilah yang benar (yakni ucapan Ibn Katsir yang mengatakan lemah -pet), berbeda dengan ucapan asy-Syaikh Muhammad Ahmad Syakir yang mengatakan bahwa dia itu sahih. Sesungguhnya dia dikacaukan dengan riwayat dari penyimakan terhadapnya pada saat ikhtilath.” [15]

 

Kemudian sesungguhnya perawi yang meriwayatkan dari Ibn Mas’ud adalah ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi, dan tidaklah sahih bahwa dia mendengar dari Ibn Mas’ud sebagaimana dikatakan oleh para imam seperti al-Hakim, ad-Daruquthni, Abu Hatim [16], dan Ibn Baz [17].

 

[14] al-Bidayah wa an-Nihayah (4/14)

[15] Hasyiyah Fiqh as-Sirah (halaman 260)

[16] Tahdzib at-Tahdzib (5/68)

[17] Aqwal as-Samahah  asy-Syaikh ‘Abd al-‘Aziz bin Baz fi ar-Rijal, susunan al-Akh al-Fadhil asy-Syaikh Fahd as-Sunaid, halaman 19, cetakan pertama, Dar al-Wathan.

 

وقال ابن كثير في تفسير قوله تعلى (وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ) –الآية ١۲٦ من سورة النهل-: (وقال محمد بن إسحاق عن بعض أصحابه عن عطاء بن يسار قال: نزلت سورة النهل كلها بمكة، وهي مكية، إلاّ ثلاث آيات من آخرها نزلت بالمدينة بعد أحد حين قتل حمزة رضي الله عنه ومثل به، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لئن أظهرني الله عليهم لأمثلنّ بثلاثين رجلا منهم) فلما سمع المسلمون ذلك قالوا: والله لئن طهرنا عليهم لنمثلنّ بهم مثلة لم يمثلها أحد من العرب بأحد قطّ، فأنزل الله: (وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ) إلى آخر السورة. وهذا مرسل، وفيه رجل مبهم لم يسمّ). ثم قال: وقد روي هذا من وجه آخر متصل، فقال الحافظ أبو بكر البزار: … حدثنا صالح المري عن سليمان التيمي عن أبي عثمان عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وقف على حمزة بن عبد المطلب رضي الله عنه حين استشهد …). وذكر الرواية التي نقلها الهيثمي، ثم قال ابن كثير: هذا إسناد فيه ضعف؛ لأن صالحا هو ابن بشير المري ضعيف عند الأئمة، وقال البخاري: هو منكر الحديث ]١۸[.

 

Dan Ibn Katsir berkata dalam menafsirkan firman Allah ta’ala, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu,” – ayat ke-126 dari surah an-Nahl: dan Muhammad bin Ishaq berkata dari beberapa sahabatnya dari ‘Atha’ bin Yasar, dia berkata:

Surah an-Nahl seluruhnya turun di Mekah, dan dia merupakan surah al-Makiyyah, kecuali tiga ayat terakhir yang turun di Madinah setelah perang Uhud ketika Hamzah –radhiyallahu ‘anhu– terbunuh dan jasadnya dirusak. (Saat itu) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Kalau Allah memenangkanku atas mereka kelak, niscaya akan benar-benar kusiksa tiga puluh orang dari mereka.” Ketika kaum Muslimin mendengar ucapan beliau, mereka pun berkata, “Kalau Allah memenangkan kami atas mereka kelak, niscaya akan kami timpakan siksaan kepada mereka dengan siksaan yang belum pernah dirasakan oleh seorang Arab pun di Uhud.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu,” hingga akhir surah.

(Ibn Katsir berkata), “Dan riwayat ini mursal, di dalam sanadnya ada perawi yang mubham yang tidak disebutkan namanya.”

Kemudian Ibn Katsir berkata lagi: Dan diriwayatkan dari jalan lain secara muttashil (tersambung sanadnya), lalu berkata al-hafizh Abu Bakr al-Bazzar, “… telah menceritakan kepada kami Shalih al-Murri dari Sulaiman bin at-Taimi dari Abu ‘Utsman dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berhenti di depan jasad Hamzah bin ‘Abd al-Muthalib –radhiyallahu ‘anhu- yang gugur sebagai syahid …,” dan dia menyebutkan riwayat yang telah dinukil oleh al-Haitsami.

Kemudian Ibn Katsir berkata lagi: Sanad hadits ini mengandung kelemahan karena Shalih itu adalah Ibn Basyir al-Murri yang dilemahkan oleh para imam, dan Imam al-Bukhari berkata, “Dia munkar al-hadits.” [18]

 

[18] Tafsir Ibn Katsir (2/953)

 

وضعّف الحديث الألباني، وقال: (وقد ثبت بعضه مختصرا من طرق أخرى، فأخرج الحاكم (٣/١٩٦) والخطيب في التلخيص (٤٤/١) عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مرّ بحمزة يوم أحد وقد جدع، ومُثّل به فقال: (لولا أنّ صفية تجَِدُ لتركته حتى يحشره الله من بطون الطير والسباع) فكفّنه في نمرة. وقال الحاكم: (صحيح على شرط مسلم)، ووافقه الذهبي، وهو كما قالا.

ثم قال الشيخ الألباني: (وسبب نزول الآية السابقة في هذه الحادثة صحيح، فقد قال أبيّ بن كعب: (لما كان يوم أحد …) وذكر الحديث ]١٩[، وقد سبق.

والحديث المذكور قال عنه النووي في الخلاصة: (رواه أبو داود بإسناد حسن، والترمذي وقال: حسن ]۲۰[). وأخرجه أيضاً الإمام أحمد في مسنده ]۲١[.

وتمثيل المشركين بشهداء المسلمين يوم أحد ثابت، كما في البخاري من قول أبي سفيان بعد نهاية المعركة –وكان زعيم المشركين يومها-: (وتجدون مثلة لم آمر بها ولم تسؤني ]۲۲[).

 

Asy-Syaikh al-Albani melemahkan hadits ini, dan beliau berkata:

Telah tetap sebagian (isinya)nya secara ringkas dari jalan-jalan lain, al-Hakim mengeluarkannya (3/196), al-Khathib di kitab at-Talkhis (44/1), dari Anas bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melewati jasad Hamzah pada hari Uhud dalam keadaan dipotong dan dirusak, lalu beliau bersabda, “Kalau saja bukan karena Shafiyah, niscaya kutinggalkan jasadnya di sini hingga kelak Allah mengumpulkan jasadnya dari perut burung dan binatang buas,” lalu beliau mengafaninya dengan sehelai kain namirah. Al-Hakim berkata, “Sahih berdasarkan syarat Muslim,” dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Dan keadaan hadits itu memang seperti yang dikatakan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi.

Kemudian asy-Syaikh al-Albani berkata, “Dan sebab turunnya ayat dalam hadits ini sahih, Ubay bin Ka’b berkata: pada peristiwa perang Uhud …,” lalu asy-Syaikh al-Albani menyebutkan haditsnya [19], dan telah disebutkan di atas …

Dan hadits yang disebutkan itu, dikatakan oleh Imam an-Nawawi di kitab al-Khulashah: diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan, juga at-Tirmidzi dan dia mengatakan, “Hasan,” [20]. Dikeluarkan juga oleh al-Imam Ahmad di kitab Musnad-nya [21].

Dan perusakan jasad yang dilakukan oleh pasukan kaum musyrikin terhadap para syuhada Muslimin adalah tsabit (tetap/kukuh), sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari ucapan Abu Sufyan seusai peperangan –dan pada hari perang Uhud itu Abu Sufyan memang pemimpin kaum musyrikin- dengan ucapan, “Dan kalian akan mendapati perusakan terhadap (jasad), dan itu tidak kuperintahkan namun tidak pula membuatku menyesal!” [22]

 

[19] Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (2/28) nomor (550), dan lihat pula Ahkam al-Jana-iz wa Bida’uha halaman (60).

[20] al-Khulashah (2/946), dikeluarkan oleh Abu Dawud di kitab al-Jana-iz bab asy-Syahid Yughassal (8/410 –‘Aun al-Ma’bud); dan at-Tirmidzi di kitab al-Jaza-iz bab Ma Ja-a fi Qatla Uhud wa Dzikr Hamzah (4/96 –Tuhfah al-Ahwadzi)

[21] al-Fath ar-Rabbani (18/192), dan as-Sa’ati berkata tentang hadits tersebut, “Hadits ini termasuk di antara az-Zawa-id (yang ditambahkan) oleh ‘Abdullah bin al-Imam Ahmad terhadap Musnad ayahnya –semoga Allah merahmati keduanya.”

[22] Bab Ghazwah Uhud (7/350 –Fath al-Bari)

 

وقال ابن عبد البر: (ورووا آثارا كثيرة أكثرها مراسيل أن النبي صلى الله عليه وسلم صلّى على حمزة وعلى سائر شهداء أحد) ]٢٣[. وقال ابن حجر: (إن طرق الحديث واهية) ]٢٤[. وذهب الألباني إلى تحسين حديث الصلاة على حمزة رضي الله عنه ]٢٥[. وقد أفاض الشيخ سعد الحميّد في تتبّع مرويات الصلاة على حمزة رضي الله عنه ]٢٦[.

 

Ibn ‘Abd al-Barr berkata, “Diriwayatkan banyak sekali hadits yang mayoritasnya mursal bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- shalat atas jenazah Hamzah dan atas seluruh syuhada Uhud [23].” Ibn Hajar berkata, “Sesungguhnya jalur-jalur hadits (mengenai shalat terhadap Hamzah dan para syuhada Uhud) lemah [24].” Dan asy-Syaikh al-Albani menghasankan hadits tentang shalat terhadap jenazah Hamzah –radhiyallahu ‘anhu– itu. Asy-Syaikh Sa’d al-Humayyid telah meluaskan penelitian mengenai riwayat-riwayat shalat terhadap jenazah Hamzah –radhiyallahu ‘anhu [26].

 

[23] at-Tamhid (24/244)

[24] Ajwibah al-Hafizh Ibn Hajar ‘ala As-ilah ba’dhi Talamidzihi (halaman 54)

[25] Ahkam al-Jana-iz  (halaman 60)

[26] Mukhtashar Istidrak adz-Dzahabi ‘ala Mustadrak al-Hakim li Ibn al-Mulaqqin (4/1768); dan beliau merajihkan bahwa hadits mengenai shalat terhadap jenazah Hamzah itu shahih li ghairaihi.

 

—————————————————————————

Tambahan dari saya:

*Syaikh ‘Utsman bin Muhammad bin al-Khumais –hafizhahullah– berkata ketika ditanya mengenai kisah bahwa Hindun binti ‘Utbah –radhiyallahu ‘anha– mengunyah hati Hamzah:

 

لم يثبت هذا أبدا وهند بنت عتبة لا شأن لها بحمزة … وإنما الذي أرسله هو جبير بن مطعم لأنه حمزة رضي الله عنه قتل طعيمة بن عدي في بدر، فجبير بن مطعم هو سيد وحشي أي هو الذي يملكه وكان وحشي عبدا عند جبير بن مطعم … فوحشي أرسله جبير ولم ترسله هند وبالتالي لم تأكل هند بنت عتبة كبد حمزة رضي الله عنه

 

“Itu sama sekali tidak benar. Hindun binti ‘Utbah tidak mempunyai urusan dengan Hamzah … yang mengutus Wahsyi (untuk membunuh Hamzah) adalah Jubair bin Muth’im karena Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin ‘Adi (paman dari Jubair bin Muth’im) dalam perang Badr. Maka Jubair bin Muth’im adalah tuan bagi Wahsyi, yaitu orang yang berkuasa atas Wahsyi dan Wahsyi adalah budak bagi Jubair bin Muth’im … maka Wahsyi diutus (untuk membunuh Hamzah) oleh Jubair bin Muth’im. Bukan Hindun yang menyuruhnya, dan tidak pula Hindun binti ‘Utbah itu memakan hati Hamzah –radhiyallahu ‘anhu.”

*Memang bukan Hindun yang menyuruh Wahsyi untuk membunuh Hamzah, tetapi Jubair bin Muth’im sebagaimana dalam hadits berikut:

 

قال وحشي: (فقال لي مولاي جبير بن مطعم: إن قتلت حمزة بعمي فأنت حرَ). –صحيح البخاري

 

Wahsyi berkata: Tuanku, Jubair bin Muth’im, berkata kepadaku, “Jika kamu berhasil membunuh Hamzah demi (membalas dendam kematian) pamanku, maka kamu bebas!”

Dan tidaklah –dalam riwayat-riwayat yang shahih- terdapat keterangan bahwa Hindun –radhiyallahu ‘anha– memakan hati Hamzah –radhiyallahu ‘anhu.

 

Bandung, 22 Februari 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

36 comments on “Katanya, Hindun Mengunyah Hati Hamzah di Padang Uhud …

  1. Selama ini cerita yg berkembang adalah Hindun mengunyah hati Hamzah.
    Mohon analisanya alasan pembuat kisah palsu dan sasaran apa yang ingin dicapainya dengan adanya kisah palsu ini.

    • tipongtuktuk says:

      kisah palsu bisa saja dibuat untuk menjatuhkan seseorang/kabilah/kelompok. Sebaliknya, kisah palsu bisa juga dibuat untuk meninggikan seseorang/kabilah/kelompok. Kebencian seseorang bisa mendorongnya berbuat zalim sehingga menyebarkan kisah palsu ttg hal yang dibencinya, atau sebaliknya fanatisme mendorong seseorang utk membuat kisah palsu ttg hal yang dicintainya …

      Kisah palsu bisa juga terjadi karena “kekacauan ingatan” yang parah. Dia menceritakan suatu kabar yang telah mengalami distorsi dalam ingatannya … wallahu a’lam …

      • omjek says:

        satuju kang, salah satu sebabnya u/menjatuhkan kredibilitas seseorang (sahabat), atau krn hasad pribadi/jama’ahnya. Seperti sebagian orang yg tdk suka dgn Abu Hurairah-radhiyallohu ‘anhu, dgn mengatakan ia-radhiyallohu ‘anhu, sahabat yg banyak makan & suka tiduran diberanda masjid. wallohu a’lam 😉

      • tipongtuktuk says:

        iya, Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- itu termasuk sahabat yang banyak dicela dan dihina oleh orang-orang yang memusuhi sunnah, padahal beliau itu termasuk shahabat yang mulia dan banyak ilmu …

      • owh.. begitu…

        *geleng2..

      • tipongtuktuk says:

        iya, seperti itu … -dan banyak sekali contohnya …

  2. thetrueideas says:

    nah khan…ternyata tak benar…

  3. ayanapunya says:

    kalau nggak salah yang di serial omar itu juga Hindun yang meminta Wahsyi untuk membunuh Hamzah.

  4. Novi Kurnia says:

    lagi-lagi kisah masa kecil yg pernah kubaca. Banyak betul riwayat tidak shahih yg tersebar luas, ya. *ngeri dengan dosa akibat penyebaran riwayat yang tidak shahih*

  5. salam mas Hendra……wah kacau nie…..sakan banyaknya hadist yg dulu kita terus percaya….ternyata harus di selidik dulu ya…sumbernya…….kalau saja dulu orang orang(sedikit para sahabat boleh silaf….) Bagaimana kita hari ini dalam mengumpulkan informasi yg kita dengar atau baca atau lihat sendiri ya?.saya jadi binggung terkadangnya bila baca hadist yg seakan akan berulang ulang..dari sumber yg berlainan………untung ada mas hendra tukang research….hadist hadist sama sumbernya……wah saya bisa berguru nie sama mas hadist eh salah mas hendra…….bisa kan? mau dong…..

  6. wohhh.. jadi ga bener yak.. *makin parno ono ama kisah2 dramatis.. heu…
    owh.. ga ada ‘dendam personal’ antara Hindun dgn Hamzah ya..

  7. trus musti baca shirah apa dong bang, yang sumbernya ga lemah? *puyeng

    • tipongtuktuk says:

      coba dicari buku dengan tajuk atau keterangan pada judulnya “kisah shahih” misalnya …
      salah satu yang saya tahu, ada buku berjudul “Kisah Shahih Para Nabi” …

  8. kalo tombak Wahsyi itu buat ngebunuh siapa bang, setelah dia masuk Islam? *lupaaa

    • tipongtuktuk says:

      untuk membunuh Musailimah al-Kadzdzab …
      ada hadits di Shahih al-Bukhari sebagai berikut:

      قال وحشي: فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ قُلْتُ لَأَخْرُجَنَّ إِلَى مُسَيْلِمَةَ لَعَلِّي أَقْتُلُهُ فَأُكَافِئَ بِهِ حَمْزَةَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ … فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي ثَلْمَةِ جِدَارٍ كَأَنَّهُ جَمَلٌ أَوْرَقُ ثَائِرُ الرَّأْسِ قَالَ فَرَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ قَالَ وَوَثَبَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَضَرَبَهُ بِالسَّيْفِ عَلَى هَامَتِهِ –صحيح البخاري

      Wahsyi berkata:
      Setelah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- wafat, keluarlah Musailimah al-Kadzdzab. Aku pun berkata, “Aku benar-benar akan keluar (mencarinya), semoga aku bisa membunuhnya untuk menyamai perbuatanku membunuh Hamzah.” Maka aku pun keluar bersama-sama (pasukan) Muslimin … tiba-tiba kulihat seorang lelaki yang sedang berdiri di dinding yang retak seakan-akan dia itu seekor unta yang kelabu yang beruban. Aku pun melemparkan tombakku tepat mengenai dadanya hingga menembus keluar di antara kedua tulang pundaknya. Kemudian meloncatlah seorang lelaki Anshar ke arahnya, lalu menebas kepalanya dengan pedang … -Shahih al-Bukhari

  9. heu.. peristiwa sebesar Uhud ternyata banyak hadits2 mursal yang bertebaran yak..
    sebesar uhud ya mustinya sanad nyampe ke para shahabat *sok tau.. =D

  10. Novi Kurnia says:

    Setelah masuk Islam, Hindun diubah menjadi apa, ya?

  11. Etika Sari says:

    baru tau sekarang kalau ternyata cerita itu ndak bener -_-
    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s