Salah Satunya adalah Sebaik-Baik Raja …

shahabat

الشيخ عبد المحسن بن حمد العباد البدر –حفظه الله-

Syaikh ‘Abd al-Muhsin bin Hammad al-‘Abbad al-Badr –hafizhahullah

Dari sini: http://www.al-abbaad.com/index.php/articles/82-1433-09-06

 

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد؛ فإن من المعلوم أن خير البشر الأنبياء والمرسلون صلوات الله وسلامه وبركاته عليهم، وخيرهم وسيدهم خاتمهم نبينا محمد عليه الصلاة والسلام، وأمته هي خير الأمم؛ كما قال الله عز وجل: (كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِالله)، وخير هذه الأمة أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وخيرهم الخلفاء الراشدون الهادون المهديون: أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي رضي الله عنهم أجمعين، فقد أكرمهم الله بالوجود في زمانه وشرفهم بصحبته والجهاد معه وتلقي الكتاب والسنة عنه صلى الله عليه وسلم وإبلاغهما إلى من بعدهم؛ ومن فضائلهم حديث:

 

Amma ba’d, sesungguhnya termasuk di antara hal yang telah diketahui bahwasanya sebaik-baik manusia adalah para nabi dan rasul –shalawatullahu wa salamuhu wa barakatuhu ‘alaihim, dan yang terbaik di antara mereka adalah pemimpin mereka yang menjadi penutup para nabi dan rasul, nabi kita Muhammad –‘alaihi ash-Shalah wa as-salam. Dan umat beliau (Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah umat terbaik sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِالله

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Dan yang terbaik dari umat ini adalah para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan yang terbaik di antara para shahabat adalah Khulafa’ ar-Rasyidin yang memberi bimbingan dan mendapat petunjuk, yaitu Abu Bakr kemudian ‘Umar kemudian ‘Utsman kemudian ‘Ali –radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Dan sungguh Allah telah memuliakan para shahabat dengan keberadaan mereka di zaman Nabi, meninggikan kedudukan mereka dengan persahabatan terhadap Nabi, berjihad bersama beliau, dan mengambil Kitab dan Sunnah dari beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (untuk selanjutnya) menyampaikan Kitab dan Sunnah itu kepada orang-orang setelah mereka … dan di antara keutamaan para shahabat (disebutkan dalam) hadits berikut:

 ((خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ))

رواه البخاري (٣٦٥١) ومسلم (٦٤۷۲) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه، ورواه البخاري (٣٦٥۰) ومسلم (٦٤۷٥) عن عمران بن حصين رضي الله عنه، ورواه مسلم (٦٤۷۸) عن عائشة رضي الله عنها، ورواه مسلم (٦٤۷٣) عن أبي هريرة رضي الله عنه

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang pada masaku kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka.”

-diriwayatkan oleh al-Bukhari (3651) dan Muslim (6472) dari ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan oleh al-Bukhari (3651) dan Muslim (6475) dari ‘Imran bin Hushain –radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan oleh Muslim (6478) dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha, dan diriwayatkan oleh Muslim (6473) dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu.

 

وقوله صلى الله عليه وسلم:

((يأتى على الناس زمان يغزو فئام من الناس فيقال لهم فيكم من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فيقولون. نعم فيفتح لهم ثم يغزو فئام من الناس فيقال لهم: هل فيكم من رأى من صحب رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فيقولون: نعم، فيفتح لهم، ثم يغزو فئام من الناسِ، فيقال لهم: هل فيكم من رأى من صحب من صحب رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فيقولون: نعم فيفتح لهم)) رواه البخاري (٣٦٤۹) ومسلم (٦٤٦۷) عن أبي سعيد رضي الله عنه،

 

Dan sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berikut:

Akan datang kepada manusia suatu zaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang hendak berperang, lalu ditanyakan kepada mereka, “Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, “Ya,” lalu mereka pun diberi kemenangan. Kemudian (akan datang zaman ketika) ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka, “Apakah di antara kalian ada  yang pernah melihat shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, “Ya,” lalu mereka pun diberi kemenangan. Kemudian (akan datang zaman ketika) ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka, “Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat orang yang melihat para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, “Ya,” lalu mereka pun diberi kemenangan.

-diriwayatkan oleh al-Bukhari (3649) dan Muslim (6467) dari Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu.

 

والقرون الثلاثة المفضلة: قرون الصحابة والتابعين وأتباع التابعين، فالصحابة رضي الله عنهم رأت عيونهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، والتابعون رحمهم الله رأوا العيون التي رأته صلى الله عليه وسلم، وأتباع التابعين رحمهم الله رأوا العيون التي رأت الصحابة رضي الله عنهم، وقد كان التابعون يفرحون فرحاً شديداً بلقاء الواحد من الصحابة ويعتبرون ذلك غنيمة؛

 

Dan tiga kurun terbaik itu adalah kurun shahabat, kurun tabi’in, dan kurun tabi’ut tabi’in. Para shahabat –radhiyallahu ‘anhum– melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan mata kepala mereka, para tabi’in –rahimahumullah– melihat dengan mata kepala mereka orang-orang yang melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan para tabi’ut tabi’in –rahimahumullah– melihat dengan mata kepala mereka orang-orang yang melihat para shahabat –radhiyallahu ‘anhum. Bahkan para tabi’in itu akan merasakan kegembiraan yang besar dengan pertemuan dengan satu orang saja dari para shahabat, dan mereka akan menganggap hal itu sebagai ghanimah (keuntungan yang besar).

 

ففي سنن أبي داود (۹٤۸) بإسناد صحيح عَنْ هِلالِ بْنِ يَسَافٍ، قَالَ: ((قَدِمْتُ الرَّقَّةَ، فَقَالَ لِي بَعْضُ أَصْحَابِي: هَلْ لَكَ فِي رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ، صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: قُلْتُ: غَنِيمَةٌ، فَدَفَعْنَا إِلَى وَابِصَةَ، قُلْتُ لِصَاحِبِي: نَبْدَأُ فَنَنْظُرُ إِلَى دَلِّهِ، فَإِذَا عَلَيْهِ قَلَنْسُوَةٌ لاطِئَةٌ ذَاتُ أُذُنَيْنِ، وَبُرْنُسُ خَزٍّ أَغْبَرُ، وَإِذَا هُوَ مُعْتَمِدٌ عَلَى عَصًا فِي صَلاتِهِ)) الحديث، ووابصة بن معبد رضي الله عنه من المعمرين كما في تقريب التهذيب لابن حجر،

 

Di dalam Sunan Abu Dawud (948) dengan sanad yang sahih, dari Hilal bin Yasaf, dia berkata:

Aku tiba di ar-Raqqah (salah satu wilayah di negeri di Syam –pent) lalu sebagian kawanku bertanya kepadaku, “Apakah kau ingin bertemu dengan salah seorang shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Aku menjawab, “(Tentu), itu merupakan ghanimah.” Lalu kami pun menuju ke kediaman Wabishah (yakni salah seorang shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallampent). Aku berkata kepada kawanku, “Kita mulai dengan memerhatikan penampilannya dulu, ya.” Ketika kami melihat Wabishah, ternyata dia memakai peci kecil dan mengenakan mantel bertudung warna kelabu. Saat itu dia sedang shalat sambil bersandar pada tongkatnya.

Dan Wabishah bin Ma’bad –radhiyallahu ‘anhu– itu termasuk di antara shahabat yang berumur panjang sebagaimana (disebutkan) di kitab Taqrib at-Tahdzib karya Ibn Hajar.

 

وقد جاء في القرآن الكريم آيات دالة على فضل الصحابة رضي الله عنهم في سور الأنفال والتوبة والفتح والحديد والحشر بل جاء في آية سورة الفتح ذكرهم والثناء عليهم في التوارة والإنجيل قبل أن يوجدوا وقبل أن يأتي زمانهم؛ قال الله عز وجل:

 

Sungguh telah ada di dalam al-Quran al-Karim ayat-ayat yang menunjukkan keutamaan para shahabat –radhiyallahu ‘anhum, di surah al-Anfal, at-Taubah, al-Fath, al-Hadid, dan al-Hasyr. Bahkan terdapat dalam salah satu ayat di surah al-Fath tentang penyebutan para shahabat dan pujian kepada mereka di kitab Taurat dan Injil dari masa sebelum keberadaan mereka dan dari sebelum datangnya zaman mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

{مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا}،

 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

 

وفيها أن الكفار يغاظون بهم، وفي شرح السنة للبغوي (١/٢٢۹:( (وذكر بين يديه -أي الإمام مالك- رجل ينتقص أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقرأ مالك هذه الآية: {مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ}إلى قوله: {لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ}، ثم قال: من أصبح من الناس في قلبه غل على أحد من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فقد أصابته هذه الآية)،

 

Di dalam ayat tersebut terkandung penjelasan bahwa orang-orang kafir itu merasa jengkel (merasa marah dan berkesal hati) terhadap para shahabat. Di dalam kitab Syarh as-Sunnah karya al-Baghawi (1/229) disebutkan:

… dan disebutkan di hadapan Imam Malik seseorang yang mencela para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Imam Malik pun membacakan ayat ini, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir …, sampai firman berikut, “… karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir,” kemudian Imam Malik berkata, “Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap satu orang saja dari para shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia terkena dengan ayat ini.”

 

وفيها أن الصحابة جميعاً وعدوا بالمغفرة والأجر العظيم، وحرف (مِن) في قوله: (منهم) لبيان الجنس لا للتبعيض، والمراد أن هذا الوعد في هذه الآية لجميع الصحابة وليس لبعضهم،

 

Dan di dalam ayat tersebut (dijelaskan) bahwa para shahabat itu semuanya dijanjikan dengan ampunan dan pahala yang besar. Huruf (min) dalam firman Allah, “Minhum (di antara mereka),” adalah li bayan al-jinsi (untuk menerangkan jenis/menyatakan keseluruhan dari jenis yang sama) bukan sebagai li at-tab’idh (menunjukkan sebagian dari keseluruhan), dan maksudnya bahwa janji (ampunan dan pahala yang besar) dalam ayat tersebut adalah untuk seluruh shahabat, bukan untuk sebagian dari para shahabat saja …

 

وقد وصف ابن الأنباري الذين قالوا: إنها للتبعيض بالزندقة، قال ابن هشام في مغني اللبيب (٢/١٥): ((وفي كتاب المصاحف لابن الأنباري: أن بعض الزنادقة تمسك بقوله تعالى: {وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً}في الطعن على بعض الصحابة، والحق أن مِن فيها للتبيين لا للتبعيض أي الذين آمنوا هم هؤلاء))،

 

Dan Ibn al-Anbari telah menyifati orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya itu adalah li at-tab’idh,” sebagai orang-orang zindiq.

Ibn Hisyam berkata di kitab Mughni al-Labib (2/15):

… dan di kitab al-Mushahif karya Ibn al-Anbari (disebutkan) bahwa beberapa kalangan zindiq berpegang dengan firman Allah, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar,” untuk mencela sebagian shahabat. Padahal yang benar, huruf (min) di dalam ayat tersebut dimaksudkan sebagai keseluruhan bukan untuk menyatakan sebagian, yakni orang-orang yang beriman adalah mereka (para shahabat) semuanya …

 

وهذه الآية التي فيها كلمة {مِنْهُم} تعم الصحابة الأخيار مثلها آية المائدة التي فيها {مِنْهُم}وهي تعم الأشرار؛ قال الله عز وجل: (لقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)، فإن الوعد في آية الفتح للصحابة كلهم لا لبعضهم، والوعيد في آية المائدة لكل من قال: {إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ}لا لبعضهم، ومن أجلّ فضائل الصحابة الكرام رضي الله عنهم أنهم الواسطة بين الرسول صلى الله عليه وسلم وبين من جاء بعدهم، فما عرف الناس الكتاب والسنة ولا عرفوا حقاً ولا هدى إلا من طريقهم، وكل صحابي روى حديثاً عن النبي صلى الله عليه وسلم فله مثل أجور كل من عمل به إلى يوم القيامة؛ لقوله صلى الله عليه وسلم:

 

Dan ayat tersebut (surah al-Fath), yang di dalamnya terdapat kalimat (minhum), meliputkan seluruh shahabat sebagai orang-orang terpilih. Ayat semisal itu yang juga menunjukkan peliputan secara menyeluruh terdapat dalam surah al-Ma-idah yang di dalamnya juga terdapat kalimat (minhum), dan itu meliputkan keburukan secara menyeluruh. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

لقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada yang berhak disembah selain (Allah) Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. al-Maidah: 73)

Maka sesungguhnya janji yang terdapat dalam surah al-Fath itu adalah bagi seluruh shahabat, bukan hanya untuk sebagian di antara mereka, sedangkan ancaman dalam surah al-Ma-idah itu ditujukan bagi semua yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga,” bukan untuk sebagian saja dari mereka.

Dan di antara yang termasuk keutamaan-keutamaan terbesar dari para shahabat yang mulia –radhiyallahu ‘anhum– bahwasanya mereka itu menjadi perantara di antara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan orang-orang yang datang setelah mereka. Maka tidaklah al-Kitab dan as-Sunnah itu diketahui oleh manusia dan tidak pula manusia itu mengetahui kebenaran dan petunjuk kecuali melalui para shahabat. Dan setiap shahabat yang meriwayatkan hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– akan mendapatkan pahala semisal pahala setiap orang yang beramal dengan kabar yang disampaikan shahabat tersebut sampai hari kiamat. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berikut:

 

((مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ)) رواه مسلم (٤٨٩٩) عن أبي مسعود الأنصاري البدري رضي الله عنه،

 

“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala semisal pahala yang diterima oleh orang yang mengerjakan amal tersebut.”

-diriwayatkan oleh Muslim (4899) dari Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri –radhiyallahu ‘anhu.

 

وقوله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا)) رواه مسلم (٦٨٠٤) عن أبي هريرة رضي الله عنه،

 

Juga sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berikut, “Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala yang diterima oleh orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya itu sedikit pun. Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa semisal dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka yang mengikutinya itu sedikit pun.”

-diriwayatkan oleh Muslim (6804) dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu.

 

وكل ناصح لنفسه محب الخير لها عليه أن يمتلئ قلبه بحبهم وتعظيمهم التعظيم اللائق بهم، وأن يكون لسانه رطباً بذكرهم بالجميل اللائق بهم، فلا يذكرهم إلا بخير، وأن يحذر من ذكرهم بأي شيء لا يليق بهم مع نظافة قلبه من الغل لهم، وهذه طريقة سلف هذه الأمة من التابعين ومن جاء بعدهم، وهذه نماذج من كلامهم الجميل:

 

Dan setiap orang yang menasihati jiwanya dan mencintai kebaikan bagi dirinya, wajib baginya untuk mengisi hatinya dengan perasaan cinta terhadap para shahabat, wajib pula mengagungkan mereka dengan pengagungan yang tulus dan sesuai dengan kedudukan mereka. Hendaklah seseorang menjadikan lisannya basah dengan sebutan-sebutan yang baik kepada para shahabat sesuai dengan kedudukan mereka dan janganlah menyebut-nyebut para shahabat kecuali dengan kebaikan. Seyogianya pula seseorang itu menjauh dari penyebutan para shahabat dengan sesuatu yang tak sesuai dengan kedudukan mereka seraya membersihkan hatinya dari kedengkian terhadap mereka. Inilah jalan penempuhan Salaf (para pendahulu) umat ini dari kalangan tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka.

Dan berikut ini beberapa contoh ucapan yang baik (dari para salaf berkenaan dengan shahabat):

 

١- الإمام مالك بن أنس (١٧۹هـ) رحمه الله، قال البغوي في شرح السنة (١/٢٢٩): ((قال مالك: مَن يبغض أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان في قلبه عليه غِلٌّ فليس له حقٌّ في فَيءِ المسلمين، ثم قرأ قولَه سبحانه وتعالى: {ما أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى}، إلى قوله:{وَالَّذِينَ جَاؤُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ}الآية.

 

(1) Imam Malik bin Anas (179 H) –rahimahullah

Al-Baghawi berkata di kitab Syarh as-Sunnah (1/229):

Imam Malik berkata, “Barang siapa yang membenci salah seorang dari shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan di dalam hatinya terdapat perasaan dengki terhadapnya, maka dia tidak berhak untuk mendapatkan harta fai-i kaum Muslimin,” kemudian Imam Malik membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, hingga firman-Nya, Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami, yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” (QS. al-Hasyr: 7-10)

 

٢- الإمام أحمد بن حنبل (٢٤١هـ) رحمه الله، قال في كتابه السنة: ((ومن السنَّة ذكرُ محاسن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كلِّهم أجمعين، والكفّ عن الذي جرى بينهم، فمَن سبَّ أصحابَ رسول الله صلى الله عليه وسلم أو واحداً منهم فهو مبتدعٌ رافضيٌّ، حبُّهم سنَّةٌ والدعاءُ لهم قربةٌ والاقتداءُ بهم وسيلةٌ والأخذُ بآثارهم فضيلةٌ))، وقال: ((لا يجوز لأحدٍ أن يذكر شيئاً من مساوئهم ولا يطعن على أحدٍ منهم فمَن فعل ذلك فقد وجب على السلطان تأديبُه وعقوبتُه ليس له أن يعفوَ عنه بل يعاقبُه ثمَّ يستتيبُه فإن تاب قبِلَ منه وإن لَم يتب أعاد عليه العقوبة وخلَّده في الحبس حتى يتوب ويراجع.))

 

(2) Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) –rahimahullah

Imam Ahmad berkata di kitabnya as-Sunnah, “Dan termasuk dari Sunnah adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- semuanya (tanpa kecuali), juga wajib menahan diri dari (berkata-kata yang tak pantas) tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka. Maka barang siapa yang mencaci maki para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- atau salah seorang saja di antara mereka, maka dia adalah seorang ahli bid’ah, seorang Rafidhah. Mencintai para shahabat itu Sunnah dan mendoakan kebaikan bagi mereka itu merupakan qurbah (jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah), mengikuti mereka merupakan wasilah, dan mengambil jejak mereka merupakan keutamaan,” dan beliau juga berkata, “Dan tidak diperkenankan bagi seorang pun untuk menyebutkan kesalahan mereka, tidak pula diperbolehkan untuk mencela salah seorang dari mereka. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka wajib bagi penguasa untuk mendisiplinkannya dan menghukumnya, tidak boleh baginya diberikan maaf tetapi harus menghukumnya dan memintanya bertobat. Apabila dia betobat, maka penguasa harus menerimanya (memberikan pengampunan), namun jika dia tidak mau bertobat maka penguasa harus memberikan lagi hukuman dan memenjarakannya sampai dia bertobat dan kembali (kepada keyakinan yang benar).”

 

٣- الإمام أبو زرعة الرازي (264هـ) رحمه الله، روى الخطيبُ البغدادي في كتابه الكفاية (ص:٤۹) بإسناده إليه قال: ((إذا رأيت الرجلَ ينتقصُ أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعلم أنَّه زنديقٌ؛ وذلك أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم عندنا حقٌّ والقرآن حقٌّ، وإنَّما أدَّى إلينا هذا القرآنَ والسننَ أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنَّما يريدون أن يجرحوا شهودَنا ليُبطلوا الكتاب والسنة، والجرحُ بهم أولى وهم زنادقةٌ.))

 

(3) Imam Abu Zur’ah ar-Raziy (264 H) rahimahullah

Al-Khathib al-Bahdadi meriwayatkan di dalam kitabnya al-Kifayah (halaman 49) dengan sanad yang sampai kepada Abu Zur’ah. Abu Zur’ah berkata, “Jika kau melihat seseorang yang mencela salah seorang saja dari para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq. Hal itu (karena) di sisi kami Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu haq dan al-Quran itu haq, sementara para shahabatlah yang menyampaikan al-Quran dan Sunnah itu kepada kita. Orang-orang yang mencela para shahabat itu hanyalah ingin merusak persaksian kita (terhadap para shahabat) sehingga mereka dapat membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah (yang disampaikan oleh para shahabat). Padahal mereka (para pencela) itulah yang lebih layak untuk dicela karena mereka itu zindiq.”

 

٤- الإمام أبو جعفر الطحاوي (٣۲۲هـ) رحمه الله: قال في عقيدة أهل السنة والجماعة: ((ونحبُّ أصحابَ رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا نفرط في حبِّ أحدٍ منهم، ولا نتبرَّأ من أحدٍ منهم، ونبغض من يبغضهم وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلا بخيرٍ، وحبُّهم دينٌ وإيمانٌ وإحسانٌ، وبغضُهم كفرٌ ونفاقٌ وطغيانٌ.))

 

(4) Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (322 H) rahimahullah

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata di kitab Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, “Dan kami mencintai para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, tidak pula kami bersikap bara’ terhadap salah seorang dari mereka. Kami membenci orang yang membenci para shahabat (dan membenci) orang yang berkata tidak baik tentang mereka. Tidaklah kami menyebut para shahabat kecuali dengan kebaikan. Mencintai para shahabat adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci para shahabat adalah kekufuran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas.”

 

٥- الإمام ابن أبي زيد القيرواني (٣۸٦هـ) رحمه الله، قال في مقدَّمة رسالته: ((وأنَّ خيرَ القرون القرنُ الذين رأوا رسولَ الله صلى الله عليه وسلم وآمنوا به، ثمَّ الذين يلونهم، ثمَّ الذين يلونهم، وأفضل الصحابة الخلفاءُ الراشدون المهديّون: أبو بكر، ثم عمر، ثم عثمان،ثم علي رضي الله عنهم أجمعين، وأن لا يُذكر أحدٌ من صحابة الرسول صلى الله عليه وسلم إلا بأحسن ذكرٍ، والإمساك عمَّا شجر بينهم، وأنَّهم أحقُّ الناس أن يُلتمس لهم أحسن المخارج، ويُظنَّ بهم أحسنَ المذاهب))، وقد شرحت هذه المقدمة برسالة بعنوان: ((قطف الجنى الداني شرح مقدِّمة رسالة ابن أبي زيد القيرواني)) طبعت مفردة وطبعت ضمن مجموع كتبي ورسائلي (٤/۷-١۸۹).

 

(5) Imam Ibn Abi Zaid al-Qairuwani (386 H) rahimahullah

Imam Ibn Abi Zaid al-Qairuwani berkata dalam Muqaddimah ar-Risalah-nya, “Dan bahwasanya sebaik-baik kurun itu adalah kurun orang-orang yang melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan beriman kepada beliau, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Shahabat yang paling utama adalah al-Khulafa-u ar-Rasyidun al-Mahdiyyun, yakni Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali –radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Tidak boleh seorang pun dari para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu disebut-sebut kecuali dengan sebaik-baik penyebutan. Dan wajib untuk menahan diri dari (membicarakan) perselisihan di antara mereka -sesungguhnya para shahabat itu adalah orang-orang yang paling layak mendapatkan jalan keluar terbaik- dan wajib bersangka tentang mereka dengan sebaik-baik persangkaan.”

Dan aku (Syaikh ‘Abd al-Muhsin al-‘Abbad –pent) telah men-syarah (memberikan penjelasan) terhadap Muqaddimah ini dalam sebuah risalah berjudul Qathf al-Jana ad-Dani Syarh Muqaddimah Ibn Abi Zaid al-Qairuwani. Aku mencetaknya secara terpisah (menyendiri) dan juga mencetaknya dalam himpunan bunga rampai kitab-kitab dan risalah-risalahku (4/7-189).

 

٦- الإمام أبو عثمان الصابوني (٤٤۹هـ) رحمه الله، قال في كتابه عقيدة السلف وأصحاب الحديث: ((ويَرون الكفَّ عمَّا شجر بين أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وتطهير الألسنة عن ذكر ما يتضمَّن عيباً لهم أو نقصاً فيهم ويرون التَّرحُّم على جميعهم والموالاة لكافَّتهم.))

 

(6) Imam Abu ‘Utsman ash-Shabuni (449 H) rahimahullah

Imam Abu ‘Utsman ash-Shabuni berkata di dalam kitabnya ‘Aqidah as-Salaf wa Ash-hab al-Hadits, “Dan mereka (para salaf/ahli hadits) berpendirian untuk menahan diri (membicarakan) perselisihan yang terjadi di antara para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, membersihkan lisan-lisan mereka dari perkataan yang mengandung aib atau penghinaan terhadap para shahabat. Mereka juga memandang wajib untuk memohonkan rahmat (kepada Allah) bagi seluruh shahabat serta (wajib pula bagi mereka) untuk memberikan loyalitas kepada seluruh shahabat.”

 

۷- الإمام أبو المظفَّر السمعاني (٤۸۹هـ) رحمه الله، نقل الحافظ في الفتح (٤/٣٦٥) عنه أنَّه قال: ((التعرُّضُ إلى جانب الصحابة علامةٌ على خذلان فاعله، بل هو بدعةٌ وضلالةٌ.))

 

(7) Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani (489 H) rahimahullah

Al-Hafizh di kitab al-Fath (4/365) telah menukil ucapan dari Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani yang mengatakan, “Mencela shahabat merupakan tanda ketelantaran (kehinaan) pelakunya, bahkan hal itu merupakan bid’ah dan kesesatan.”

 

۸- شيخ الإسلام ابن تيمية (۷۲۸هـ) رحمه الله، قال في كتابه العقيدة الواسطية: ((ومن أصول أهل السنة والجماعة سلامة قلوبهم وألسنتهم لأصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كما وصفهم الله في قوله: {وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا للَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ}، وطاعة للنبيِّ صلى الله عليه وسلم في قوله: (لا تسبوا أصحابي، فوالذي نفسي بيده لو أنَّ أحدَكم أنفق مثلَ أُحُدٍ ذهباً ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه.))

 

(8) Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (728 H) rahimahullah

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah berkata di kitabnya al-‘Aqidah al-Wasithiyah:

Dan di antara ushul Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah adalah ketulusan hati dan lisan mereka terhadap para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana yang telah disifatkan oleh Allah di dalam firman-Nya (QS. al-Hasyr: 10), Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang,” serta sebagai ketaatan terhadap sabda  Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan mencaci shahabat-shahabatku. Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya itu tidak akan menyamai satu mudd salah seorang di antara mereka, tidak pula setengahnya.”

 

۹- الشيخ ابن أبي العزّ الحنفي (۷٩۲هـ) رحمه الله، قال في شرح الطحاوية (ص:٦٩٦): ((فمن أضلُّ مِمَّن يكون في قلبه غلٌّ على خيار المؤمنين وسادات أولياء الله تعالى بعد النبيِّين، بل قد فضَلهم اليهودُ والنصارى بخصلة، قيل لليهود مَن خيرُ أهل ملَّتكم؟ قالوا: أصحابُ موسى، وقيل للنصارى: من خير أهل ملَّتكم؟ فقالوا: أصحابُ عيسى، وقيل للرافضة:من شرُّ أهل ملَّتكم؟ فقالوا: أصحابُ محمد، ولم يستثنوا منهم إلا القليل، وفيمن سبّوهم من هو خير مِمَّن استثنوهم بأضعافٍ مضاعفةٍ.))

 

(9) Asy-Syaikh Ibn Abi al-‘Izz al-Hanafi (792 H) rahimahullah

Asy-Syaikh Ibn Abi al-‘Izz al-Hanafi berkata di kitab Syarh ath-Thahawiyah (halaman 696):

Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang di dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap orang-orang Mukmin terbaik dan pemimpin para wali Allah ta’ala setelah para nabi? Bahkan sungguh pekerti orang Yahudi dan Nasrani pun masih lebih baik daripada mereka. Ditanyakan kepada Yahudi, “Siapakah orang-orang terbaik dari kalangan penganut agama kalian?” Mereka pun menjawab, “Para shahabat Musa.” Dan ditanyakan kepada Nasrani, “Siapakah orang-orang terbaik di kalangan penganut agama kalian?” Mereka pun menjawab, “Para shahabat ‘Isa.” Dan ditanyakan kepada Rafidhah, “Siapakah orang-orang terburuk di kalangan penganut agama kalian?” Mereka pun menjawab, “Para shahabat Muhammad,” dan tidaklah Rafidhah itu mengecualikan dari para shahabat itu kecuali sedikit sekali, dan (bahkan) di antara yang mereka cela itu terdapat orang yang (kedudukannya) jauh lebih baik daripada yang mereka kecualikan.

 

وهذا المعنى جاء في شعر أحد علمائهم بين القرن الثاني عشر والثالث عشر الهجري، وهو كاظم الأزري، فقال:

 

Dan makna tersebut (yakni celaan Rafidhah terhadap shahabat seperti yang dinyatakan oleh Ibn Abi al-‘Izz) terdapat di dalam syair salah seorang ulama Rafidhah di antara kurun kedua belas dan ketiga belas hijriyah, dan ulama Rafidhah penulis syair tersebut adalah Kazhim al-Uzri yang mengatakan:

 

أهم خير أمة أخرجت للنا   **  س هيهات ذاك بل أشقاها!!!

 

Apakah mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia … sungguh jauh panggang itu dari api, bahkan merekalah sesial-sialnya umat …

 

وقفتُ عليه في نقد الأستاذ محمود الملاح لقصيدته الأزرية المطبوع بعنوان: ((الرزيّة في القصيدة الأزرية)) (ص:٥١).

 

Aku (Syaikh ‘Abd al-Muhsin al-‘Abbad –pent) mendapati syair tersebut dalam (sebuah kitab yang berisi) kritikan Ustadz Mahmud al-Mallah terhadap kasidah al-Uzriyah tersebut (halaman 51) dan tercetak dengan judul ar-Raziyah fi al-Qashidah al-Uzriyah (Musibah dalam Kasidah al-Uzriyah) …

 

وما جاء في هذا البيت غايةٌ في الجفاء والخبث، ومثله في الغلوِّ في أمير المؤمنين علي رضي الله عنه والجفاء في الصحابة قوله (ص:٤٥):

 

Dan apa yang terdapat dalam bait tersebut berpuncak pada kebatilan dan kekejian, juga yang semisal itu dalam hal berlebih-lebihan terhadap Amir al-Mu’minin ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– dan (dalam hal) menistakan para shahabat (yang lain), misalnya dalam bait pada halaman 45 berikut:

 

أَنَبِيٌّ بلا وَصِيٍّ؟!! تعالى اللـ  **  ـه عمَّا يقوله سفهاها!!!

 

Apakah seorang nabi tanpa wasiat? Sungguh Maha Tinggi Allah dari apa yang diucapkan oleh orang yang tolol …

 

ومن غلوِّه في علي رضي الله عنه قوله كما في (ص:٣٤):

 

Dan di antara perkataan Kazhim al-Uzri yang berlebih-lebihan terhadap ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– terdapat di halaman 34:

 

وهو الآيةُ المحيطة في الكو   **  ن ففي عين كل شيء تراها!!!

 

Dan dia (‘Ali) itu ayat yang meliputi di semesta … maka di dalam inti sari segala sesuatu kau melihatnya …

 

وقوله كما في (ص:٣٦):

 

Juga ucapan Kazhim al-Uzri pada halaman 36:

 

ورأت قسوراً لو اعترضته الـ   **  إنسُ والجنُّ في وغى أفناها!!!

 

Mulia perkasakalau pun jin dan manusia merintanginya dalam peperangan, dia membinasakannya …

والبيتان الأخيران يصدق عليهما الوصف المشهور: يُضحك النمل في قراها، والنحل في خلاياها!

 

Dan kedua bait terakhir itu sangatlah sesuai dengan ungkapan yang masyhur, “Ditertawakan oleh semut di sarangnya juga oleh lebah di rumahnya.”

 

١٠- الحافظ ابن حجر العسقلاني (٨٥٢هـ) رحمه الله، قال في كتابه فتح الباري (٣٤/١٣): ((واتّفق أهلُ السنة على وجوب منع الطعن على أحد من الصحابة بسبب ما وقع لهم من حروبٍ ولو عُرف المحقُّ منهم؛ لأنَّهم لَم يقاتلوا في تلك الحروب إلا عن اجتهادٍ وقد عفا اللهُ تعالى عن المخطئ في الاجتهاد بل ثبت أنَّه يؤجر أجراً واحداً وأنَّ المصيبَ يؤجر أجرين)).

 

(10) Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (852 H)rahimahullah

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata di kitabnya Fath al-Bari (34/13), “Dan ahlu as-Sunnah telah bersepakat atas kewajiban untuk menghindari celaan terhadap satu orang pun dari para shahabat dengan sebab peperangan yang terjadi (di antara mereka) meskipun diketahui mana yang benar di antara mereka. Hal itu dikarenakan para shahabat tidaklah melakukan peperangan itu kecuali atas dasar ijtihad, dan Allah ta’ala memaafkan orang yang salah dalam ijtihadnya -bahkan telah tetap bahwa orang yang salah dalam ijtihadnya akan diberi satu pahala, sedangkan bagi yang benar dalam ijtihadnya akan diberi dua pahala.”

 

وكل ما جاء من أحاديث وآثار في فضل الصحابة عموماً فإن معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنهما داخل فيها، وقد جاء عن بعض السلف آثار مختصة به، وهذه نماذج منها:

 

Dan semua yang terdapat dalam hadits dan atsar mengenai keutamaan shahabat itu bersifat umum (meliputi semua shahabat), dengan demikian Mu’awiyah bin Abi Sufyan –radhiyallahu ‘anhuma– pun termasuk dalam keumuman tersebut. Malahan ada juga atsar dari beberapa salaf yang secara khusus menyebutkan keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan –radhiyallahu ‘anhuma, dan di antaranya adalah sebagai berikut:

 

١- الخليفة عمر بن عبد العزيز (١٠١هـ) رحمه الله، قال إبراهيم بن ميسرة: ((ما رأيت عمر بن عبد العزيز ضرب إنسانًا قط إلا إنسانًا شتم معاوية فإنه ضربه أسواطًا))، البداية والنهاية لابن كثير (١١/٤٥٠-٤٥١).

 

Pertama: Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz (101 H) –rahimahullah

Ibrahim bin Maisarah berkata, “Tidak pernah sama sekali aku melihat ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz memukul seseorang kecuali terhadap orang yang mencaci maki Mu’awiyah. Maka ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz memukulnya dengan cambuk.”al-Bidayah wa an-Nihayah li Ibn Katsir (11/450-451).

 

٢- الإمام عبد الله بن المبارك (١٨١هـ) رحمه الله، قال: ((معاوية عندنا مِحْنة، فمن رأيناه ينظر إليه شزَرًا اتهمناه على القوم)) يعني الصحابة)، وسئل عن معاوية، فقال: ((ما أقول في رجل قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (سمع الله لمن حمده)، فقال خلفه: ربنا ولك الحمد، فقيل: أيهما أفضل هو أم عمر بن عبد العزيز؟ فقال: لتراب في منخري معاوية مع رسول الله صلى الله عليه وسلم خير وأفضل من عمر بن عبد العزيز)) البداية والنهاية (١١/٤٤٩).

 

Kedua: Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak (181 H) –rahimahullah

Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Mu’awiyah di sisi kami itu merupakan ujian, maka barang siapa yang kami dapati memandang Mu’awiyah dengan permusuhan, tentu kami pun mencurigai pandangannya terhadap kaum –yakni terhadap para shahabat lainnya.”

Dan Imam Ibn al-Mubarak ditanya tentang Mu’awiyah, lalu beliau menjawab:

Apa yang harus kukatakan terhadap orang yang (apabila) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengucapkan, “Sami’allahu li man hamidah,” lalu dia berucap di belakang beliau, “Rabbana wa laka al-hamdu.”

Lalu (Ibn al-Mubarak) ditanya, “Siapa yang lebih utama, Mu’awiyah ataukah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz?” Maka Ibn al-Mubarak menjawab, “Betapa rugi diriku, Mu’awiyah dengan penyertaannya terhadap Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentu lebih baik -atau lebih utama- daripada ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz.”al-Bidayah wa an-Nihayah (11/449)

 

٣- المعافى بن عمران الموصلي (١۸٥هـ) رحمه الله، قال وقد سئل: أيهما أفضل معاوية أم عمر بن عبد العزيز؟ فغضب، وقال للسائل: ((تجعل رجلاً من الصحابة مثل رجل من التابعين؟! معاوية صاحبه وصهره وكاتبه وأمينه على وحي الله)) البداية والنهاية (١١/٤٥۰).

 

Ketiga: Al-Mu’afi bin ‘Imran al-Maushili (185 H) –rahimahullah

Al-Mu’afi bin ‘Imran al-Maushili ditanya, “Siapa yang lebih utama, Mu’awiyah ataukah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azizi?” (Mendengar itu) dia pun marah, lalu berkata kepada si penanya, “Kau hendak memperbandingkan seorang shahabat dengan seorang tabi’in? Mu’awiyah itu shahabat beliau, ipar beliau, juga kerani beliau yang dipercaya untuk menulis wahyu dari Allah.”al-Bidayah wa an-Nihayah (11/450).

 

٤- الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله، قال الفضل بن زياد: سمعت أبا عبد الله وسئل عن رجل انتقص معاوية وعمرو بن العاص، أيقال له رافضي؟ فقال: ((إنه لم يجترئ عليهما إلا وله خبيئة سوء، ما انتقص أحد أحدا من الصحابة إلا وله داخلة سوء)) البداية والنهاية (١١/٤٥۰).

 

Keempat: Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah

Al-Fadhl bin Ziyad berkata:

Aku mendengar Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) ditanya tentang seseorang yang mencela Mu’awiyah dan ‘Amr bin al-‘Ash, “Apakah dia boleh dikatakan pengikut Rafidhah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya tidak mungkin dia berani mencela keduanya kalau bukan karena di dalam dirinya terdapat isi batin yang buruk. Tidak mungkin seseorang itu mencela salah seorang dari kalangan shahabat kecuali jika orang itu memiliki isi batin yang buruk.”al-Bidayah wa an-Nihayah (11/450).

 

٥- أبو توبة الربيع بن نافع الحلبي (۲٤١هـ) رحمه الله، قال: ((معاوية ستر لأصحاب محمد صلى الله عليه وسلم فإذا كشف الرجل الستر اجترأ على ما وراءه)) البداية والنهاية (١١/٤٥۰).

 

Kelima: Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’ al-Halabi (241 H) –rahimahullah

Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’ al-Halabi berkata, “Mu’awiyah itu tabir bagi para shahabat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila seseorang menyingkap tabir itu, niscaya dia akan berani (mengusik) apa yang berada di belakang tabir tersebut.”al-Bidayah wa an-Nihayah (11/450).

 

٦- الإمام أبو زرعة الرازي رحمه الله، قال له رجل: إني أبغض معاوية، فقال له: ولِمَ، قال: لأنه قاتل علياً، فقال له أبو زرعة: (ويحك إن رب معاوية رب رحيم وخصم معاوية خصم كريم، فأيش دخولك أنت بينهما؟! رضي الله عنهما) البداية والنهاية (١١/٤۲۷).

 

Keenam: Imam Abu Zur’ah ar-Razi –rahimahullah

Seseorang berkata kepada Abu Zur’ah, “Sesungguhnya aku membenci Mu’awiyah.” Abu Zur’ah pun bertanya, “Kenapa?” Orang itu menjawab, “Karena dia telah memerangi ‘Ali.” Abu Zur’ah lantas berkata kepadanya, “Celaka kamu! Sesungguhnya Rabb-nya Mu’awiyah itu Rabb Yang Penyayang, sedangkan yang menjadi lawan Mu’awiyah adalah lawan yang mulia. Maka urusan apa yang membuatmu mencampuri urusan di antara mereka berdua? Semoga Allah meridai mereka merdua.”al-Bidayah wa an-Nihayah (11/427).

 

۷- الإمام أبو عبد الرحمن النسائي (٣۰٣هـ) رحمه الله، قال كما في ترجمته في تهذيب الكمال للمزي، وقد سئل عن معاوية فقال: ((إنما الإسلام كدارٍ لها بابٌ، فبابُ الإسلام الصحابة، فمن آذى الصحابةَ إنما أرادَ الإسلام، كمن نَقرَ البابَ إنما يريدُ دخولَ الدار؛ قال: فمن أراد معاويةَ فإنما أراد الصحابة.

 

Ketujuh: Imam Abu ‘Abd ar-Rahman an-Nasa-i (303 H) –rahimahullah

Imam an-Nasa-i -sebagaimana terdapat dalam riwayat hidupnya di kitab Tahdzib al-Kamal karya al-Mizi- ditanya mengenai Mu’awiyah, lalu dia berkata, “Sesungguhnya Islam itu seperti rumah yang mempunyai pintu, dan pintu Islam adalah para shahabat. Barang siapa yang menyakiti shahabat, sesungguhnya yang dikehendakinya hanyalah menyakiti Islam sebagaimana orang yang mendobrak pintu sebenarnya yang dikehendakinya adalah memasuki rumah.”

Beliau juga berkata, “Maka siapa yang menghendaki Mu’awiyah, sesungguhnya yang dia inginkan adalah para shahabat.”

 

۸- الإمام ابن قدامة المقدسي (٦۲۰هـ) رحمه الله، قال في كتابه لمعة الاعتقاد: ((ومعاوية خال المؤمنين وكاتب وحي الله وأحد خلفاء المسلمين رضي الله عنه.))

 

Kedelapan: Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi (620 H) –rahimahullah

Ibn Qudamah al-Maqdisi berkata di kitabnya Lum’ah al-I’tiqad, “Dan Mu’awiyah itu paman dari kaum Mukminin, kerani yang menulis wahyu Allah, dan salah seorang dari khalifah kaum Muslimin –radhiyallahu ‘anhu.”

 

٩- الإمام الحافظ الذهبي (۷٤۸هـ) رحمه الله، قال في كتابه سير أعلام النبلاء (٣/١۲۰): ((أمير المؤمنين ملك الإسلام.))

 

Kesembilan: Imam al-Hafizh adz-Dzahabi (748 H) –rahimahullah

Imam adz-Dzahabi berkata di kitabnya Sair A’lam an-Nubala’ (3/120), “Amir al-Mu’minin, Malik al-Islam.”

 

١٠- الشيخ ابن أبي العز الحنفي رحمه الله، قال في كتابه شرح العقيدة الطحاوية (ص۷۲۲): ((وأول ملوك المسلمين معاوية وهو خير ملوك المسلمين.))

 

Kesepuluh: Asy-Syaikh Ibn Abi al-‘Izz al-Hanafi –rahimahullah-

Ibn Abi al-‘Izz al-Hanafi berkata di kitabnya Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah (halaman 722), “Raja pertama kaum Muslimin adalah Mu’awiyah dan beliau adalah sebaik-baik raja kaum Muslimin.”

 

ولمعاوية رضي الله عنه في الكتب الستة كما في خلاصة تذهيب تهذيب الكمال للخزرجي مائة وثلاثون حديثاً اتفق البخاري ومسلم على أربعة وانفرد البخاري بأربعة ومسلم بخمسة.

 

Dan terdapat seratus tiga puluh hadits yang bersumber dari Mu’awiyah di Kutub as-Sittah sebagaimana (disebutkan) dalam Khulashah Tahdzibu Tahdzib al-Kamal karya al-Khazraji. Al-Bukhari dan Muslim menyepakati empat hadits di antaranya, empat hadits lainnya dikeluarkan oleh al-Bukhari secara menyendiri, sedangkan Muslim mengeluarkan (secara menyendiri pula) sebanyak lima hadits.

 

وقد ورد في صحيح مسلم (٦٦۲۸) أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في معاوية: ((لا أشبع الله بطنه))، فروى بسنده إلى ابن عباس قال: كنت ألعب مع الصبيان، فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم فتواريت خلف الباب، قال: فجاء فحطأني حطأة، وقال: ((اذهب وادع لي معاوية))، قال: فجئت فقلت: هو يأكل، ثم قال: ((اذهب فادع لي معاوية))، قال: فجئت فقلت: هو يأكل، فقال: ((لا أشبع الله بطنه))، ومعنى حطأني حطأة: ضرب بيده بين كتفي، وقد ختم مسلم رحمه الله بهذا الحديث الأحاديث الواردة في دعاء النبي صلى الله عليه وسلم أن يجعل ما صدر منه من سب ودعاء على أحد ليس هو أهلاً لذلك أن يجعله له زكاة، وأجراً، ورحمة، وذلك كقوله: ((تربت يمينك، وثكلتك أمك، وعقرى حلقى، ولا كبرت سنك))،

 

Terdapat hadits di Shahih Muslim (6628), bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata tentang Mu’awiyah, “Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya,” dan Muslim meriwayatkannya dengan sanadnya sampai kepada Ibn ‘Abbas. Ibn ‘Abbas berkata:

Ketika aku sedang bermain dengan anak-anak, tiba-tiba Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– datang, maka aku pun bersembunyi di belakang pintu. Beliau datang dan menampar tengkukku sekali tampar, dan beliau berkata, “Pergilah dan panggil Mu’awiyah kemari.” (Tak lama kemudian) aku kembali dan kukatakan, “Mu’awiyah sedang makan.” Beliau bersabda lagi, “Pergilah dan panggil Mu’awiyah kemari.” Ketika kembali lagi, aku berkata, “Mu’awiyah sedang makan.” Beliau pun bersabda, “Semoga Allah tak mengenyangkan perutnya.” (HR. Muslim)

Adapun makna, “Beliau datang dan menampar tengkukku sekali tampar,” yaitu menepuk bagian belakang pundak dengan tangan.

Dan dengan hadits inilah Imam Muslim –rahimahullah– menutup (bab yang berisi) hadits-hadits mengenai doa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (kepada Allah) tentang apa yang keluar dari diri beliau berupa cacian dan doa kepada seseorang yang orang tersebut bukan ahlinya (tidak pantas mendapatkannya), agar (Allah) menjadikan hal itu sebagai pembersih bagi orang tersebut.

 

فقد أورد في صحيحه عدّة أحاديث، أحدها هذا الحديث، وقبله حديث أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كانت عند أم سليم يتيمة، وأم سليم هي أم أنس، فرآها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ((آنت هي لقد كبرتِ لا كبر سنّك))، فرجعت اليتيمة إلى أم سليم تبكي، فقالت لها أم سليم: ما لك يا بنية؟ فقالت الجارية: دعا عليَّ النبي صلى الله عليه وسلم أن لا يكبر سنّي، فالآن لا يكبر سني أبداً، أو قالت قرني، فخرجت أم سليم مستعجلة تلوث خمارها، حتى لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال لها رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما لك يا أم سليم؟))، قالت: يا نبي الله، أدعوت على يتيمتي؟ قال: ((وما ذاك يا أم سليم؟))، قالت: زَعَمَتْ أنك دعوت عليها أن لا يكبر سنها ولا يكبر قرنها، قال: فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال: ((يا أم سليم، أما تعلمين أن شرطي على ربي أني اشترطت على ربي فقلت: إنما أنا بشر أرضى كما يرضى البشر، وأغضب كما يغضب البشر، فأيما أحد دعوت عليه من أمتي بدعوة ليس لها بأهل أن يجعلها له طهوراً وزكاة وقربة يقربه بها منه يوم القيامة))،

 

Imam Muslim membawakan sejumlah hadits dalam kitab Shahih-nya, salah satunya adalah hadits (yang barusan) tersebut, dan sebelumnya adalah hadits Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Ummu Sulaim mengasuh seorang anak perempuan yatim -dan Ummu Sulaim itu adalah ibunya Anas. (Suatu hari) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melihat anak perempuan yatim tersebut, lalu berkata kepadanya, “Kamu rupanya, ya. Kamu sudah tambah besar, semoga usiamu tak bertambah.” (Mendengar itu), anak perempuan yatim itu kembali kepada Ummu Sulaim sambil menangis. Ummu Sulaim pun bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi denganmu, Nak?” Anak itu pun menjawab, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendoakan usiaku tak bertambah. Kini, usiaku takkan bertambah selamanya –atau dia mengatakan: waktuku?” Ummu Sulaim pun keluar dan bergegas mengenakan kerudungnya hingga bertemu dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya kepada Ummu Sulaim, “Ada apa denganmu, wahai Ummu Sulaim?” Ummu Sulaim berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kau mendoakan kejelekan kepada anak yatimku?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya, “Apa itu, wahai Ummu Sulaim?” Ummu Sulaim menjawab, “Dia menyangka kau telah mendoakannya supaya usianya tak bertambah dan tidak bertambah juga waktunya.” (Mendengar itu) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun tertawa, kemudian berkata, “Wahai Ummu Sulaim, apakah kau tak tahu perjanjianku dengan Rabb-ku? Sesungguhnya aku meminta syarat kepada Rabb-ku lalu aku mengatakan bahwa aku hanyalah manusia biasa, aku bisa rela sebagaimana manusia rela, dan aku pun bisa marah sebagaimana manusia marah. Oleh karena itu, siapa saja dari kalangan umatku yang aku doakan (kejelekan) padahal dia tidaklah pantas mendapatkannya, hendaklah Allah jadikan hal itu sebagai pembersih, penyuci, dan qurbah yang akan mendekatkan dirinya (kepada Allah) pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

وعقب هذا الحديث مباشرة أورد مسلم رحمه الله الحديث الذي قال فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم في معاوية: ((لا أشبع الله بطنه))، وهذا من حسن صنيع مسلم رحمه الله وجودة ترتيبه لصحيحه، وهو من دقيق فهمه، وحسن استنباطه رحمه الله، وقد قال النووي رحمه الله في شرحه (١٦/١٥٦): ((وقد فهم مسلم رحمه الله من هذا الحديث أن معاوية لم يكن مستحقاً للدعاء عليه، فلهذا أدخله في هذا الباب، وجعله غيره من مناقب معاوية))، يعني وجعله غير مسلم من مناقب معاوية؛ لأنه يصير في الحقيقة دعاءً له.

 

Dan datang sesudah hadits (anak perempuan yatim) tersebut secara langsung dibawakan oleh Imam Muslim –rahimahullah, yaitu hadits yang di dalamnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda tentang Mu’awiyah, “Semoga Allah tak mengenyangkan perutnya.” Dan ini merupakan bagian dari kemahiran Muslim –rahimahullah– dan keindahan penyusunan (tertib urutan hadits) terhadap kitab Shahih-nya, dan hal itu muncul dari kedalaman pemahaman dan keelokan istinbath beliau –rahimahullah. Imam an-Nawawi –rahimahullah– berkata di dalam Syarh-nya (16/156), “Imam Muslim –rahimahullah– mengambil pemahaman dari hadits ini bahwa Mu’awiyah bukan termasuk yang pantas mendapatkan doa yang ditujukan kepadanya, oleh karena itu beliau mengeluarkan hadits (tentang doa kepada Mu’awiyah) tersebut di dalam bab ini, dan yang selainnya telah menjadikan hadits ini termasuk dari manaqib (budi pekerti) Mu’awiyah.” Yakni, hadits ini telah dijadikan oleh selain Muslim termasuk dari manaqib (budi pekerti) Mu’awiyah, karena dikembalikan kepada hakikat doa terhadapnya itu.

 

وقد كتبت رسالة بعنوان: ((عقيدة أهل السنة والجماعة في الصحابة الكرام رضي الله عنهم وأرضاهم)) طبعت مفردة وطبعت ضمن مجموع كتبي ورسائلي (٤/١٩١-٢٠٥)، ورسالة بعنوان: ((من أقوال المنصفين في الصحابي الخليفة معاوية رضي الله عنه)) طبعت مفردة وطبعت ضمن مجموع كتبي ورسائلي (٦/٣۹٧_٤٢٤).

 

Aku (Syaikh ‘Abd al-Muhsin al-‘Abbad –pent) telah menulis sebuah risalah dengan judul ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah fi ash-Shahabah al-Kiram Radhiyallahu ‘Anhum wa Ardhahum, yang kucetak secara terpisah (menyendiri) dan juga mencetaknya dalam himpunan bunga rampai kitab-kitab dan risalah-risalahku (4/191-250), juga menulis risalah (lainnya) berjudul Min Aqwal al-Munshifin fi ash-Shahabi al-Khalifah Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, yang juga kucetak secara terpisah (menyendiri) dan juga mencetaknya dalam himpunan bunga rampai kitab-kitab dan risalah-risalahku (6/397-424).

 

ومن الذين ولغوا في أعراض الصحابة الكرام رضي الله عنهم وأرضاهم زنديق من الرافضة يقال له: ياسر الحبيب، وهو في الحقيقة عاسر بغيض، وزنديق ينتسب إلى أهل السنة كذباً وزوراً وهو: حسن فرحان المالكي، وقد كتبت رسالة في الرد على العاسر البغيض بعنوان: ((أغلوٌّ في بعض القرابة وجفاء في الأنبياء والصحابة؟!)) طبعت مفردة وطبعت ضمن مجموع كتبي ورسائلي (٧/٧-٣١)، وهي رد على كلام له في غاية الخبث والسوء والقبح، زعم فيه أن أبا بكر وعمر رضي الله عنهما هما أسوأ مخلوقين في الكون منذ بدء الخليقة، وأنهما يعذبان في جهنم أشد من عذاب إبليس فيها، وزعم أن إبراهيم الخليل ومن دونه من الأنبياء في الفضل أنزل درجة من الأئمة الإثني عشر عندهم،

 

Dan di antara orang yang menistakan kehormatan para shahabat mulia –radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum– adalah seorang zindiq dari kalangan Rafidhah yang bernama Yasir al-Habib –padahal pada hakikatnya dia adalah ‘Asir al-Baghidh (yang sangat membenci dan tukang menindas), juga seorang zindiq yang secara dusta dan palsu menisbatkan diri kepada Ahl as-Sunnah, yaitu Hassan Furhan al-Maliki. Aku (Syaikh ‘Abd al-Muhsin al-‘Abbad –pent) telah menulis sebuah risalah yang berisi bantahan terhadap al-‘Asir al-Baghidh dengan judul Aghuluwwun fi Ba‘dhi al-Qarabah wa Jufa-un fi al-Anbiya-i wa ash-Shahabah? Aku mencetaknya secara terpisah (menyendiri) dan juga terhimpun dalam bunga rampai kitab-kitab dan risalah-risalahku (7/7-31), dan risalah itu merupakan bantahan terhadap ucapannya yang buruk, jahat, dan keji. Dia meyakini bahwa Abu Bakr dan ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– merupakan dua makhluk yang paling buruk di semesta semenjak permulaan kekhalifahan, dan bahwasanya keduanya akan diazab di neraka dengan azab yang lebih keras daripada azab yang dirasakan oleh Iblis. Dia juga meyakini bahwa Ibrahim al-Khalil dan selainnya dari kalangan para nabi berkedudukan lebih rendah dibandingkan dengan kedua belas imam mereka.

 

 وكتبت رسالتين في الرد على حسن فرحان المالكي: إحداهما بعنوان: ((الانتصار للصحابة الأخيار في ردِّ أباطيل حسن المالكي))، والثانية بعنوان: ((الانتصار لأهل السنَّة والحديث في ردِّ أباطيل حسن المالكي)) طبعتا مفردتين وطبعتا ضمن مجموع كتبي ورسائلي (۷/٣٣-٣٩٣)،

 

Dan aku telah menulis dua buah risalah yang berisi bantahan terhadap Hasan Furhan al-Maliki, salah satunya berjudul  al-Intishar li ash-Shahabah al-Akhyar fi Radd Abathil Hassan al-Maliki, sedangkan yang kedua berjudul al-Intishar li Ahl as-Sunnah wa al-hadits fi Radd Abathil Hassan al-Maliki. Aku telah mencetak masing-masing dari keduanya secara terpisah selain juga memasukkan keduanya ke dalam bunga rampai titab-kitab dan risalah-risalahku (7/22-393).

 

ومن يطلع على هاتين الرسالتين يعرف زندقة حسن المالكي بل يكفي في ذلك الاطلاع على المقدمة والفهارس لهما، ومن أباطيله: زعمه أن العباس وابنه عبد الله وخالد بن الوليد ومعاوية وعمرو بن العاص وأمثالهم من أسلم بعد الحديبية رضي الله عنهم ليسوا من الصحابة الصحبة الشرعية وأن صحبتهم لغوية كصحبة المنافقين والكفار، وقد ألحق بهم المغيرة بن شعبة رضي الله عنه لحقده عليه، وهو ممن شهد الحديبية؛ بل هو القائم على رأس الرسول صلى الله عليه وسلم ومعه السيف يحرسه، وهو داخل تحت قوله تعالى: {لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ}، وقصر الصحبة على الذين أسلموا قبل الحديبية من محدثات القرن الخامس عشر، وكتبت عنه أيضاً كلمة بعنوان: ((أفعى تعود إلى رفع رأسها من جديد لنفث سمومها)) نشرت في ١٤٣١/١/١٥ هـ.

 

Dan siapa yang membaca kedua risalahku tersebut, dia akan mengetahui ke-zindiq-an Hassan Furhan al-Maliki, bahkan cukuplah untuk mengetahui ke-zindiqan-nya itu melalui mukadimah dan daftar isi kedua risalahku tersebut. Dan di antara kebatilan Hassan Furhan al-Maliki, dia meyakini bahwa al-’Abbas dan putranya ‘Abdullan (bin ‘Abbas), juga Khalid bin al-Walid, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin al-‘Ash serta yang semisal mereka yang masuk Islam setelah al-Hudaibiyah –radhiyallahu ‘anhum– bukanlah termasuk sebagai shahabah asy-syar’iyah (shahabat secara syar’i), dan bahwasanya persahabatan mereka itu hanyalah secara bahasa saja sebagaimana sahabat dari kalangan munafik dan sahabat dari kalangan kafir. (Menurutnya) termasuk di antara mereka juga adalah al-Mughirah bin Syu’bah –radhiyallahu ‘anhu– karena dendam kepada Rasulullah, padahal al-Mughirah bin Syu’bah itu termasuk peserta perjanjian al-Hudaibiyah, bahkan (sebelumnya) dia itu berdiri di dekat kepala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– seraya menghunus pedang untuk melindungi beliau. Tentu saja al-Mughirah bin Syu’bah ini termasuk ke dalam firman Allah ta’ala (QS. al-Fath: 18), Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” Dan Hassan Furhan al-Maliki telah membatasi shahabat itu hanya mencakup orang-orang yang masuk Islam sebelum perjanjian al-Hudaibiyah saja –dan (keyakinan) ini termasuk di antara perkara-perkara baru (bid’ah) yang muncul pada abad kelima belas hijriyah. Aku juga membuat tulisan yang berkaitan dengan Hassan Furhan al-Maliki ini dengan judul Af’a Ta’udu ila Raf’i Ra’siha min Jadid li nafatsi Sumumuha, yang kusebarkan pada 15/1/1431 H.

 

وإن مما يؤسف له أن بعض القنوات والصحف تبث وتنشر كلاماً ساقطاً لبعض المتكلفين في النيل من أمير المؤمنين وأول ملوك المسلمين وخير ملوكهم معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنهما؛ لذا رأيت كتابة هذه الكلمة ذباً عن الصحابة عموماً ومعاوية خصوصاً ونصحاً لهؤلاء ولمن تسول له نفسه النيل من أي واحد من الصحابة رضي الله عنهم أجمعين، وأن يكون كل مسلم لنفسه عنده قيمة من الذين جمعوا لهم بين سلامة القلب واللسان الذين قال الله فيهم:

 

Dan di antara hal yang sangat disayangkan bahwa sebagian saluran televisi dan koran-koran menyiarkan dan menyebarluaskan perkataan-perkataan hina dari sebagian orang yang mengada-ada dalam mencaci maki Amir al-Mu’minin, raja pertama dan sebaik-baik raja kaum muslimin, Mu’awiyah bin Abi Sufyan –radhiyallahu ‘anhuma. Oleh karena itu aku memandang tulisan ini sebagai pembelaan terhadap para shahabat secara umum dan terhadap Mu’awiyah secara khusus, juga sebagai nasihat kepada semuanya dan kepada orang yang terbujuk oleh nafsunya dalam mencaci maki seseorang di antara para shahabat –radhiyallahu ‘anhum ajma’in, dan hendaklah setiap muslim menjadikan bagi dirinya suatu nilai (yang menjadi ciri) dari orang-orang yang memadukan antara kebersihan hati dan lisannya, yaitu orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka:

 

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا للَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

 

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

 

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّاب

 

(Mereka berdo’a), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8)

 

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

 

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

 

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

 

Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dan semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, serta keberkahan kepada hamba dan rasul-Nya, nabi kami Muhammad, juga kepada keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir …

 

Bandung, 3 Maret 2013

-HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

14 comments on “Salah Satunya adalah Sebaik-Baik Raja …

  1. thetrueideas says:

    ya…menyedihkan manakala mendapati sebagian orang, menyeru atas didirikannya khilafah di muka bumi ini, akan tetapi…saat bersamaan mereka menista sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan yang masuk dalam golongan sahabat Rasulillah….

  2. Novi Kurnia says:

    “… dan disebutkan di hadapan Imam Malik seseorang yang mencela para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Imam Malik pun membacakan ayat ini, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir …,” sampai firman berikut, “… karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir,” kemudian Imam Malik berkata, “Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap satu orang saja dari para shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia terkena dengan ayat ini.””

    Ngeri betul isi ucapan Imam Malik bagian ini.

    Apa maksud dari; “mengenai doa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- (kepada Allah) tentang apa yang keluar dari diri beliau berupa cacian dan doa kepada seseorang yang orang tersebut bukan ahlinya (tidak pantas mendapatkannya), agar (Allah) menjadikan hal itu sebagai pembersih bagi orang tersebut.”

    Apakah doa tersebut dikabulkan oleh Allah kemudian orang yg didoakan mendapat pahala dari sebab kesabarannya menerima takdirnya ataukah doa tersebut tidak dikabulkan Allah?

    • tipongtuktuk says:

      ya ngeri karena memang mencela shahabat itu berarti mencela agama …
      Orang yang mencela shahabat berarti mencela agama karena al-kitab dan sunnah itu sampai kepada kita melalui mereka. Jika mereka berhasil menjatuhkan shahabat, maka riwayat yang datang darinya pun tidak akan diakui … demikian pulalah yang terjadi dengan syi’ah. Syi’ah tidak mempercayai hadits-hadits karena periwayatannya berasal dari shahabat. Syi’ah juga tidak mempercayai validitas al-Quran karena kata mereka al-Quran itu datang dari periwayatan shahabat …
      Demikian juga zindiq-zindiq lainnya yg meragukan al-Quran dan Sunnah. Para zindiq itu pastilah mencela para shahabat -seperti para penganut yang menamakan diri mereka “liberal” … wal ‘iyadzu billah …

      *doa itu menjadi pembersih bagi Mu’awiyah … Insya Allah, Ar-Rahman akan membersihkannya dan tidak membuatnya “tidak kenyang” … seperti itu pula anak yatim itu, Allah akan membersihkannya … wallahu a’lamu …

  3. subhanallaah kenapa fajar susah banget ngecerna tulisan ini ya, *parah

    *baca ulang lagi..

    iya nih wp masih erur.. heuuu…

  4. “Ditertawakan oleh semut di sarangnya juga oleh lebah di rumahnya.”
    eh ….ada semut di sebut sebut………

  5. jampang says:

    terima kasih sharingnya, kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s