Tentang Pancang-Pancang Perbaikan …

ms oreo

Dari sini: http://www.sahab.net/home/?p=1120

 

قال الشيخ محمد بن عمر بازمول حفظه الله:

 

  Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul –hafizhahullah– berkata:

 

التغيير سنة كونية: إن التغير سنة الله عز وجل في خلقه،وقد جاء في الحديث عن العرباض بن سارية قال “وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوماً بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل إن هذه موعظة مودع فماذا تعهد إلينا يا رسول الله قال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدٌ حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافاً كثيراً وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليه بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ”.

 

Perubahan keadaan pada makhluk merupakan sunnah Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadits dari al-‘Irbadh bin Sariyah:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pada suatu hari selepas shalat subuh memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang menyentuh sehingga mata kami menangis dan hati kami bergetar. Lalu berkatalah seseorang, “Sungguh ini merupakan nasihat orang yang hendak pergi. Lantas apa yang kau amanatkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun (pemimpin itu) seorang hamba dari bangsa Habsyi. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup (panjang sepeninggalku), niscaya kan dia lihat perselisihan yang banyak. Waspadalah kalian dari perkara-perkara muhdats! Sungguh perkara-perkara muhdats itu merupakan kesesatan. Maka siapa di antara kalian yang mendapati hal itu, hendaklah dia berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gerahammu!”  

 

وفي لفظ ابن ماجه قال: فقال رسول الله: ” قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً فعليكم ما عرفتم من سنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وعليكم بالطاعة وإن عبداً حبشياً فإنما المؤمنون كالجمل الأنف حيثما قيد انقاد”(١).

 

Dalam redaksi Ibn Majah, dia berkata:

Rasulullah bersabda, “Sungguh telah kutinggalkan kalian di atas jalan yang putih, jalan yang malamnya seumpama siangnya. Tak seorang pun yang berpaling dari jalan itu melainkan dia akan binasa. Siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya kan dia lihat perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari Sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan geraham kalian! Wajib bagi kalian untuk taat meskipun (pemimpin kalian itu) seorang hamba dari bangsa Habsyi. Hanyalah orang Mukmin itu seumpama unta berkendali kekang, ke mana pun dituntun, dia akan tunduk.” [1]

 

[1] Hadits hasan dari al-‘Irbadh bin Sariyah –radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ahmad di kitab al-Musnad (4/126-127), ad-Darimi di al-Muqaddimah, bab Ittiba’ as-Sunnah, at-Tirmidzi di kitab al-‘Ilm bab Ma Ja-a fi al-Akhdzi bi as-Sunnah wajtinabi al-Bida’ (2676), Abu Dawud di kitab as-Sunnah bab Fi Luzum as-Sunnah (4607), Ibn Majah di al-Muqaddimah bab Ittiba’ Sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin (42, 45); Syaikh al-Albani mensahihkan hadits ini di kitab Irwa’ al-Ghalil (8/107; 2455).

 

ومحل الشاهد قوله صلى الله عليه وسلم: “ومن يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيرا”، وهذا معناه حدوث تغير بعد وفاته صلى الله عليه وسلم .ويدل على صحة ما ذكرته لك ما جاء عن سَالِم قَالَ: سَمِعْتُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ تَقُولُ: دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَهُوَ مُغْضَبٌ فَقُلْتُ: مَا أَغْضَبَكَ؟ فَقَالَ: وَاللَّهِ مَا أَعْرِفُ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا إِلَّا أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ جَمِيعًا”(۲).

 

Dan mahallu asy-syahid (penekanan) adalah ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya kan dia lihat perselisihan yang banyak,” dan ucapan tersebut maksudnya yaitu terjadinya perubahan-perubahan setelah kepergian beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal yang menunjukkan akan kebenaran dari apa yang kusebutkan kepadamu, yaitu riwayat yang datang dari Salim yang mengatakan: Aku mendengar Ummu ad-Darda’ berkata: Abu ad-Darda’ masuk menemuiku dalam keadaan marah, lalu aku bertanya, “Apa yang membuatmu marah?” Abu ad-Darda’ pun berkata, “Demi Allah, tidak ada lagi sesuatu pun yang kukenali dari umat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kecuali bahwasanya mereka masih mengerjakan shalat jamaah.” [2]

 

[2] Dikeluarkan oleh al-Bukhari di kitab al-Adzan bab Fadl Shalah al-Fajr fi Jama’ah sub hadits (650).

 

قال الحافظ ابن حجر (ت۸٥۲هـ): “قوله: (يصلون جميعا) أي: مجتمعين، وحذف المفعول وتقديره الصلاة أو الصلوات، ومراد أبي الدرداء أن أعمال المذكورين حصل في جميعها النقص والتغيير إلا التجميع في الصلاة، وهو أمر نسبي لأن حال الناس في زمن النبوة كان أتم مما صار إليه بعدها، ثم كان في زمن الشيخين أتم مما صار إليه بعدهما وكأن ذلك صدر من أبي الدرداء في أواخر عمره وكان ذلك في أواخر خلافة عثمان، فيا ليت شعري إذا كان ذلك العصر الفاضل بالصفة المذكورة عند أبي الدرداء فكيف بمن جاء بعدهم من الطبقات إلى هذا الزمان ؟”(٣)،

 

Al-Hafizh Ibn Hajar (wafat 852 H) berkata:

Ucapan Abu ad-Darda’, “Yushalluna jami’an,” yaitu berjamaah, dan maf’ul-nya dibuang, sedangkan taqdir-nya adalah shalat atau shalat-shalat. Maksud Abu Darda’, bahwa pada semua amal-amal tersebut telah terjadi kekurangan dan perubahan, kecuali (bahwa mereka) berjamaah dalam shalat, dan perubahan itu merupakan perkara yang relatif karena keadaan manusia pada zaman nubuwwah itu lebih sempurna daripada zaman setelahnya. Begitu pula keadaan manusia pada masa Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim), keadaan mereka lebih baik daripada masa setelahnya. Dan seakan-akan yang demikian itu terjadi  di akhir usia Abu Darda’, yakni pada akhir-akhir masa kekhalifahan ‘Utsman. Aduhai, seandainya saja kutahu, jika pada masa yang utama saja seperti itu menurut Abu Darda’, lantas bagaimana pula perihalnya dengan masa-masa setelahnya hingga zaman ini? [3]

 

[3] Fath al-Bari (2/138); lihat pula Ighatsah al-Lahfan (1/205-207).

 

فالتغير حاصل في الأمة، ولذلك أخبر صلى الله عليه وسلم فيما جاء الخبر عن تجديد الدين.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا”(٤)، والْمُرَاد مِنْ التَّجْدِيد: إِحْيَاء مَا اِنْدَرَسَ مِنْ الْعَمَل بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّة وَالْأَمْر بِمُقْتَضَاهُمَا وَإِمَاتَة مَا ظَهَرَ مِنْ الْبِدَع وَالْمُحْدَثَات(٥)، فالتغير والاختلاف عما كان عليه الأمر الأول حاصل، وعلاجه بالرجوع إلى الدين، وهو الإصلاح.ضوابط الإصلاح عند أهل السنة والجماعة:منهج الإصلاح عند أتباع السلف الصالح : أهل السنة والجماعة مضبوط بخمسة ضوابط وهي التالية:

 

Maka perubahan memang terjadi di tubuh umat, dan terhadap hal yang demikian itulah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengabarkan tentang tajdid ad-din (pembaruan agama) dalam riwayat yang datang dari Abu Hurairah menurut hal yang diketahuinya dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang akan memperbarui agama mereka.” [4] Dan yang dimaksud dengan at-tajdid (pembaruan) adalah menghidupkan kembali hal yang telah lesap dari pengamalan al-Kitab dan as-Sunnah seraya memerintahkan untuk melaksanakan tuntunan al-Kitab dan as-Sunnah itu, serta mematikan perkara-perkara yang timbul berupa bid’ah-bid’ah dan muhdatsat. [5] Maka perubahan perkara dan keadaan yang berbeda dari perkara yang pertama adalah sesuatu yang memang terjadi, sedangkan obatnya adalah dengan kembali kepada agama, yaitu melakukan ishlah (perbaikan). Dhawabith Ishlah (patokan-patokan perbaikan) menurut Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, menurut para penempuh manhaj as-Salaf ash-Shalih, terdiri dari lima macam batasan sebagai berikut:

 

[4] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4291)

[5] Lihat Marqah al-Mafatih (2/169), ‘Aun al-Ma’bud (11/260)

 

الضابط الأول:

 

Dhabith Pertama:

 

أن موضوع الإصلاح الأول والأساس هو عبادة الله وتوحيده، وهذه هي دعوة الأنبياء؛ إذ كل نبي أرسله الله إلى قومه بهذا الموضوع، قال تعالى:

 

Sesungguhnya subjek perbaikan yang mula-mula dan asasi adalah ibadah kepada Allah dan mengesakan-Nya. Inilah seruan para nabi tatkala Allah mengutus mereka kepada kaum mereka masing-masing. Allah ta’ala berfirman:

 

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ) -النحل:٣٦

 

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu,” maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. an-Nahl: 36)

 

فهذا نوح عليه السلام يقول تعالى:

 

Inilah Nuh –‘alaihi as-salam– yang Allah ta’ala berkata:

 

(لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ) -الأعراف:٥۹

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tak ada ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS. al-A’raf: 59)

 

وهذا هود عليه الصلاة والسلام يقول تعالى:

 

Dan inilah Hud –‘alaihi ash-shalatu wa as-salam, Allah ta’ala berfirman:

 

(وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ) -الأعراف:٦٥

 

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata, Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? (QS. al-A’raf: 65)

 

وهذا صالح عليه الصلاة والسلام، يقول تعالى:

 

Dan inilah Shalih –‘alaihi ash-shalatu wa as-salam, Allah ta’ala berfirman:

 

(وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ) -الأعراف:۷٣

 

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Dia berkata, Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabb-mu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. al-A’raf: 73)

 

وهذا شعيب عليه الصلاة والسلام، يقول تعالى:

 

Dan inilah Syu’aib –‘alaihi ash-shalatu wa sa-salam, Allah ta’ala berfirman:

 

(وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْباً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ) -الأعراف:۸٥

 

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, Hai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabb-mu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Rabb-mu memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raf: 85)

 

وهذا إبراهيم عليه الصلاة والسلام، يقول تبارك وتعالى:

 

Dan inilah Ibrahim –‘alaihi ash-shalatu wa as-salam, Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

 

(وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ) -العنكبوت:١٦

 

Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaumnya, Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-‘Ankabut: 16)

 

وهذا ما فعله الرسول صلى الله عليه وسلم لما بعث معاذا إلى اليمن

 

Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tatkala mengutus Mu’adz ke negeri Yaman:

 

عن ابْنَ عَبَّاس يَقُولُ : “لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى نَحْوِ أَهْلِ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ: إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا صَلَّوْا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ”(٦)

 

Dari Ibn ‘Abbas, dia mengatakan: Tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengutus Mu’adz bin Jabal ke wilayah penduduk Yaman, beliau bersabda kepada Mu’adz, “Sesungguhnya kamu mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Lalu jika mereka telah memahami hal itu, kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan lima shalat kepada mereka dalam sehari semalam. Jika mereka telah melaksanakannya, kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk menunaikan zakat dari harta-harta mereka yang diambil dari orang kaya di kalangan mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka menyetujuinya, ambillah zakat itu dari mereka namun hindarilah harta-harta berharga yang mereka miliki.” [6]

 

[6] Dikeluarkan oleh al-Bukhari (7372) dan Muslim (19).

 

وهذا هو ما خلق الله تعالى الجن والإنس له، قال تعالى:

 

Untuk tujuan ibadah dan tauhid ini pulalah Allah ta’ala menciptakan jin dan manusia. Allah ta’ala berfirman:

 

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) -الذاريات:٥٦

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat: 56)

 

فالذين يدعون إلى الإصلاح ويجعلون دعوتهم الإصلاحية في القضايا السياسية أو في القضايا الاقتصادية، أو توزيع الثروة، أو نحو ذلك فهؤلاء عملوا عملاً ليس عليه أمر الرسول صلى الله عليه وسلم  فهو رد عليهم، فمن أراد الإصلاح ولم يجعل هذا هو موضوعه ومقصده، فقد خالف منهج الأنبياء، وترك ما عليه الإصلاح الشرعي عند أهل السنة والجماعة، وانظر في من يزعم الإصلاح ويتسمى باسمه هذه الأيام، تجده مخالفاً لهذا الضابط اشد المخالفة، فتوزيع الثروة هجيراه ليل نهار، ومنازعة الأمر أهله، ديدنه؛ فلا شأن له مع هذا الضابط أصلاً، إلا من باب ذر الرماد على العيون كما يقولون!

 

Maka orang-orang yang menyerukan perbaikan namun menjadikan masalah-masalah politik atau masalah-masalah ekonomi atau pemerataan kesejahteraan dan yang semisal itu sebagai seruan perbaikan mereka, maka itu berarti mereka melakukan suatu perkara yang bukan merupakan perkara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu tertolak. Siapa pun yang bermaksud untuk melakukan ishlah namun tidak menjadikan ibadatullah dan tauhidullah sebagai yang utama sekaligus tujuannya, maka dia telah menyelisihi manhaj para nabi dan meninggalkan ishlah syar’iyah yang dijadikan pijakan oleh Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah. Kau lihatlah orang yang mengaku-aku berbuat ishlah -seraya menamai dirinya dengan penamaan ishlah pada hari ini, namun kau dapati dirinya menyelisihi adh-dhabit ini dengan sekeras-keras penyelisihan. Maka tak henti-hentinya siang malam dia berkata-kata tentang pemerataan kesejahteraan, dia juga melepaskan urusan dari ahlinya, dan itu menjadi kelazimannya. Maka pada dasarnya dia tak memiliki kepentingan terhadap adh-dhabit ini selain sebagai hal yang termasuk ke dalam bab dzarra ar-ramad ‘ala al-‘uyun (pengalih isu) sebagaimana yang mereka katakan.

 

الضابط الثاني:

 

Dhabith Kedua:

 

الإصلاح يبدأ من الفرد، لا من المجتمع، و لا من الحاكم، و لا من غيره، إنما كل إنسان يبدأ بنفسه، فيصلحها وأدناه فأدناه، والله سبحانه يقول:

 

Perbaikan itu dimulai dari diri sendiri, bukan dimulai dari masyarakat, penguasa, atau yang lainnya. Setiap insan memulai perbaikan dari dirinya sendiri, lalu orang yang dekat dengannya, lalu yang dekat dengannya. Allah –subhanahu– berfirman:

 

(إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ) -الرعد: ١١

 

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. ar-Ra’d: 11)

 

فالبدء بالنفس، ثم الأقرب فالأقرب، قال تعالى:

 

Maka mulailah dari diri pribadi, kemudian yang terdekat. Allah ta’ala berfirman:

 

(وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ) -الشعراء: ۲١٤

 

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. asy-Syu’ara: 214)

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تَصَدَّقُوا! فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي دِينَارٌ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ. قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ قَالَ: عِنْدِي آخَرُ قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ”(۷)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Bersedekahlah kalian!” Lalu seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki satu dinar.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk dirimu sendiri.” Orang itu berkata, “Aku masih punya yang lainnya.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah dengannya kepada istrimu.” Orang itu berkata lagi, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah dengannya kepada anakmu.” Orang itu berkata lagi, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah dengannya untuk pembantumu.” Orang itu berkata lagi, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Kau lebih tahu (penggunaannya).” [7]

 

[7] Dikeluarkan oleh an-Nasa-i (2535); Abu Dawud (1691).

 

فإذا كان هذا في باب الصدقة فما بالك في أمر الإصلاح؟! فطريق الإصلاح يبدأ بالفرد. وصلاح الفرد صلاح الأسرة، وصلاح الأسرة صلاح الحي، وصلاح الحي صلاح البلد، وصلاح البلد صلاح الدولة، وصلاح الدولة صلاح الأمة، وصلاح الأمة صالح الأرض جميعاً، فالبدء بالنفس هو الأساس، فابدأ بنفسك فانهها عن غيها فإن انتهت فأنت حكيم.

 

Jika dalam masalah sedekah saja seperti itu, apalagi dalam perkara ishlah. Oleh karena itu, jalan perbaikan dimulai dari perseorangan. Pribadi baik keluarga pun baik, keluarga baik lingkungan pun baik, lingkungan baik daerah pun baik, daerah baik negeri pun baik, negeri baik umat pun baik, umat baik baik pulalah bumi. Maka memulai dari diri sendiri merupakan hal yang asasi. Maka mulailah dari dirimu lalu cegahlah jiwamu itu dari kesesatan. Jika jiwamu terlepas darinya, kau itulah si bijaksana …

 

الضابط الثالث:

 

Adh-Dhabit Ketiga:

 

العلم قبل القول والعمل، وقد بوب البخاري في صحيحه في كتاب العلم: “بَاب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى:

 

 

Ilmu dulu sebelum ucapan dan amal. Imam al-Bukhari membuat bab di dalam Shahih-nya di kitab al-‘Ilmu: Bab ilmu sebelum ucapan dan perbuatan berdasarkan ucapan Allah ta’ala:

 

(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ) -محمد: ١۹

 

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

 

فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ، وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَرَّثُوا الْعِلْمَ مَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.وَقَالَ جَلَّ ذِكْرُهُ:

 

Maka ayat ini dimulai dengan ilmu, dan bahwasanya ulama itu pewaris para nabi, mereka mewarisi ilmu. Siapa yang mendapatkannya, sungguh dia mendapat keberuntungan yang melimpah. Siapa yang meniti jalan untuk memperoleh ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Allah –Jalla dzikruhu– berfirman:

 

(إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ) -فاطر: ۲۸

 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

 

وَقَالَ: (وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ) -العنكبوت: ٤٣

 

Allah juga berfirman, “… dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS. al-‘Ankabut: 43)

 

(وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ) -الملك: ١٠

 

Dan mereka berkata, Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Mulk: 10)

 

وَقَالَ: (هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ) -الزمر: ۹

 

Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (QS. az-Zumar: 9)

 

وَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: “مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ”. وَ “إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ”، وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ : لَوْ وَضَعْتُمْ الصَّمْصَامَةَ عَلَى هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ ظَنَنْتُ أَنِّي أُنْفِذُ كَلِمَةً سَمِعْتُهَا مِنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ أَنْ تُجِيزُوا عَلَيَّ لَأَنْفَذْتُهَا.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : ﴿كُونُوا رَبَّانِيِّينَ﴾: حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ. وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ : الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ”.اهـ.

 

Dan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya akan agama,” dan beliau bersabda, “Ilmu itu hanya diraih dengan belajar.” Abu Dzarr mengatakan, “Seandainya kalian meletakkan pedang di sini –seraya menunjuk tengkuknya- kemudian aku merasa yakin untuk menyampaikan kalimat yang kudengar dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum kalian mengizinkanku, niscaya akan tetap kusampaikan kalimat itu.” Ibn ‘Abbas berkata, “Jadilah kalian golongan rabbaniy! Orang-orang yang sabar lagi berpemahaman.” Dikatakan bahwa rabbaniy adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar … (sampai di sini ucapan al-Bukhari –pent).

 

والدين مبناه على أصلين:

 أن لا نعبد إلا الله.

وأن لا نعبد الله إلا بما شرع.

 

Dan agama itu dibangun di atas dua dasar, yaitu bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan bahwa kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkan.

 

ومعنى هذا الضابط: أن على داعية الإصلاح أن يحرص تمام الحرص فيما يقوله أو يفعله أن ليكون فيه على ثبت، فيبني ما يصدر منه على يقين من الدليل، فلا يسلك مسلكاً يزعم أنه طريق للإصلاح إلا وهو يعلم أنه مما شرعه الله تعـالى، فلا يخالف فيه السنة، فلا يقف على المنابر يتكلم على ولاة الأمور زاعماً أن هذا إصلاح؛ لأن هذا خلاف ما أمرنا به الرسول صلى الله عليه وسلم ؛ عن عياض بن غنم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من أراد أن ينصح لذي سلطان، فلا يبده علانية، ولكن يأخذ بيده، فبخلوا به، فإن قبل منه فذاك، وإلا كان قد أدى الذي عليه”(۸) ولا يستعمل في يسعى إليه من الإصلاح طريق المظاهرات، لأنه ليس من سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ولا من سنة السلف الصالح، وهكذا لا يقول و لا يعمل إلا بعلم، فالعلم قبل القول والعمل.

 

Dan makna adh-Dhabit ini, seorang penyeru perbaikan seyogyanya bersemangat penuh untuk membuat kukuh hal yang diucapankan atau diperbuatnya, membangun apa yang muncul darinya di atas keyakinan berdasarkan dalil. Janganlah dia meniti jalan dengan persangkaan sebagai  jalan menuju perbaikan kecuali dia benar-benar mengetahui bahwa jalan itu merupakan hal yang disyariatkan Allah ta’ala. Jangan menyelisihi Sunnah, jangan berdiri di atas mimbar-mimbar seraya berorasi membicarakan para penguasa dengan persangkaan jalan perbaikan, karena sebenarnya hal tersebut menyelisihi apa yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– perintahkan kepada kita. Dari ‘Iyyadh bin Ghanam, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang bermaksud untuk menasihati penguasa, janganlah mengungkapkannya secara terang-terangan, namun hendaklah dia dia meraih tangan penguasa lalu menasihatinya dalam sepi. Jika penguasa itu menerima nasihatnya, maka demikianlah (yang diharapkan), namun jika tidak menerima, sungguh dia telah menyampaikan kewajibannya.” [8] Jangan pula mendatangi penguasa dengan jalan demonstrasi karena hal itu bukanlah berasal dari Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan bukan pula merupakan sunnah as-Salaf ash-Shalih. Demikianlah, jangan pernah berkata dan beramal kecuali berdasarkan ilmu. Maka ilmu itu sebelum ucapan dan amal.

 

[8] Dikeluarkan oleh Ahmad (3/403), Ibn Abi ‘Ashin di kitab as-Sunnah (2/737; sub nomor 1130); pen-tahqiq-nya berkata, “Sanadnya sahih.”

 

الضابط الرابع:

 

Adh-Dhabit Keempat:

 

أن يكون علمه على منهج السلف الصالح، وعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ فِينَا فَقَالَ: “أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَة”(٩)

 

Seyogianya seseorang melandaskan pemahamannya di atas manhaj as-Salaf ash-Shalih. Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya dia berdiri di hadapan kami seraya mengatakan:

Ketahuilah! Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah berdiri di hadapan kami, lalu beliau bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab terpecah menjadi tujuh puluh dua millah, dan bahwasanya millah (umat) ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga. Tujuh puluh dua di antaranya di neraka, sedangkan yang satu di surga. Yang satu itulah al-Jama’ah.” [9]

 

[9] Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam al-Musnad (4/102), Abu Dawud (4597), al-Ajurry di kitab asy-Syari’ah (1/132 sub 31). Dan ini merupakan hadits Shahih li gharihi, disahihkan oleh al-Albani di kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (204).

 

فلا سلامة في نهج إلا ما كان عليه الجماعة.وهذا سبيل المؤمنين: (وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيراً)[النساء:١١٥]، فمن أراد العلم فليلزم سبيل المؤمنين، حتى لا يسلك مسالك أصحاب الفرقة والاختلاف، من الفرق المخالفة لما كان عليه الرسول صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضوان الله عليهم.هذه هي ضوابط الإصلاح، التي إذا خالفها من ادعى الإصلاح إنما كان من المفسدين،

 

Maka tiada jalan yang selamat kecuali jalan yang ditapaki oleh al-Jama’ah. Itulah jalan kaum Mukminin (sebagaimana firman Allah dalam surah an-Nisa’: 115), Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Maka siapa yang menginginkan ilmu, hendaklah di melazimi jalan kaum Mukminin hingga tak menapaki jalan pengikut firqah dan perpecahan yang menyelisihi jalan yang ditapaki oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para shahabat –ridhwanullah ‘alaihim. Inilah dia tonggak-tonggak perbaikan, tonggak-tonggak yang apabila orang yang mengaku melakukan perbaikan menyelisihinya, maka dia sebenarnya hanyalah orang yang berbuat kerusakan. Allah berfirman:

 

(وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ) -البقرة: ١٣

 

Apabila dikatakan kepada mereka, Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana telah beriman orang-orang yang bodoh itu? Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (QS. al-Baqarah: 13)

 

الضابط الخامس:

Adh-Dhabith Kelima:

 

أن يتحلى في دعوته بصفات، بينتها الآيات القرآنية والأحاديث النبوية والآثار السلفية، من ذلك: قول الله تبارك وتعالى:

 

Hendaklah seseorang itu menghiasi dakwahnya dengan sifat-sifat yang dijelaskan oleh ayat-ayat al-Quran, hadits-hadits Nabi, dan atsar Salaf, di antaranya adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala:

 

(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ) -يوسف: ١٠٨

 

Katakanlah, Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

 

وقوله تبارك وتعالى:

 

Juga firman Allah tabaraka wa ta’ala:

 

(ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ) -النحل: ١٢٥

 

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. an-Nahl: 125)

 

وقال تبارك وتعالى:

 

Juga firman Allah tabaraka wa ta’ala:

 

(يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ) -لقمان: ١٧

 

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman: 17) 

 

وعَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  قَالَ: “يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ” متفق عليه.

 

Dari ‘Aisyah, istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu lembut. Allah mencintai kelembutan dan memberikan kepada kelembutan itu apa yang tak diberikan kepada  sikap keras dan  tidak diberikan pula kepada sikap lainnya.” –Muttafaq ‘alaih.

 

وعَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ: “أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ مُعَاذًا وَأَبَا مُوسَى إِلَى الْيَمَنِ قَالَ يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا” متفق عليه.

 

Dan dari Sa’id bin Abi Burdah, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengutus Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Permudahlah dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira jangan membuat orang lari, bekerjasamalah jangan berselisih.” –Muttafaq ‘alaih.

 

 ويتحصل من النصوص أن الصفات الأساسية للداعية هي:

 

Kesimpulan yang diambil dari dalil-dalil tersebut, bahwasanya karakteristik mendasar bagi seorang penyeru adalah sebagai berikut:

 

الصفة الأولى: العلم والفقه لما يدعو إليه : يأمر به وينهى عنه!

 

 

Sifat pertama: Ilmu dan pemahaman tentang apa yang diserukannya. Dia memerintahkan dengan ilmu dan melarang dengan ilmu.

 

الصفة الثانية: الرفق أثناء دعوته، وأمره ونهيه! والله عز وجل يقول عن رسوله صلى الله عليه وسلم:

 

Sifat kedua: Bersikap lembut dalam penyampaian dakwahnya, baik dalam memerintahkan maupun dalam melarang. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

(فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ) -آل عمران: ١٥٩

 

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 159)

 

الصفة الثالثة: الحلم في دعوته، فلا يتعجل ولا يغضب، ويكظم الغيظ!

 

Sifat ketiga: Sadar dan Sabar dalam dakwahnya, jangan tergesa-gesa dan jangan pula lekas marah, (berusahalah) untuk menahan marah.

 

الصفة الرابعة :الصبر بعد الدعوة، فإن الدعاة يتعرضون للأذى بسبب الدعوة، فعليهم بالصبر!قال ابن تيمية رحمه الله: “الأمر بالسنة والنهي عن البدعة هو أمر بمعروف ونهي عن منكر وهو من أفضل الأعمال الصالحة فيجب أن يبتغي به وجه الله وإن يكون مطابقا للأمر، وفي الحديث: من أمر بالمعروف ونهى عن المنكر فينبغي أن يكون: عليما بما يأمر به. عليما بما ينهى عنه. رفيقا فيما يأمر به. رفيقا فيما نهى عنه. حليما فيما يأمر به. حليما فيما ينهى عنه. فالعلم قبل الأمر والرفق مع الأمر والحلم بعد الأمر؛ فإن لم يكن عالما لم يكن له أن يقفو ما ليس له به علم، وإن كان عالما ولم يكن رفيقا كان كالطبيب الذي لا رفق فيه فيغلظ على المريض فلا يقبل منه، وكالمؤدب الغليظ الذي لا يقبل منه الولد. وقد قال تعالى لموسى وهارون:

 

Sifat keempat: Sabar selepas menyampaikan dakwah karena sesungguhnya penyeru itu menghadapi tekanan bahaya lantaran dakwah yang disampaikan. Oleh karena itu wajib untuk bersabar. Ibn Taimiyah –rahimahullah– berkata, “Memerintahkan kepada as-Sunnah dan mencegah dari bid’ah merupakan ‘amar makruf nahi mungkar, juga merupakan seutama-utama amal salih. Maka wajib untuk mencari wajah Allah dalam ‘amar makruf nahi mungkar itu dan hendaklah bersesuaian dengan perintah. Di dalam hadits dijelaskan bahwa barang siapa yang memerintahkan kepada kebaikan serta mencegah dari kemungkaran, wajib baginya memiliki ilmu tentang apa yang diperintahkannya dan memiliki ilmu pula tentang apa yang dicegahnya itu, bersikap lembut dalam hal memerintahkan begitu pula dalam hal mencegah, bersabar dalam hal memerintahkan dan sabar pula dalam mencegah. Maka ilmu itu harus ada sebelum memerintahkan, sikap lembut itu harus menyertai perintah, dan kesabaran itu harus senantiasa ada selepas perintah. Barang siapa yang tak berilmu tidak boleh dia mengerjakan hal yang tak diketahui perihalnya. Seandainya dia berilmu namun tak memiliki sikap lembut, maka dia tak ubahnya seorang tabib yang tak memiliki sisi kelembutan melainkan kasar terhadap si sakit sehingga tak diterima (saran-sarannya), atau seumpama pendidik yang kasar yang arahannya tak diterima oleh anak muridnya. Allah ta’ala berkata kepada Musa dan Harun:

 

(فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى) -سورة طه: ٤٤

 

“Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

 

ثم إذا أمر ونهى فلا بد أن يؤذى في العادة فعليه أن يصبر ويحلم كما قال تعالى:

 

Pada galibnya, seseorang yang melakukan amar makruf nahi mungkar pastilah menghadapi bahaya (disakiti), maka wajib baginya untuk bersabar dan teguh sebagaimana ucapan Allah ta’ala:

 

(وأمر بالمعروف وأنه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور) -سورة لقمان: ١٧

 

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

 

وقد أمر الله نبيه بالصبر على أذى المشركين في غير موضع وهو إمام الآمرين بالمعروف الناهين عن المنكر”اهـ (١٠)

 

Allah telah memerintahkan nabi-Nya untuk bersabar terhadap gangguan kaum musyrikin di banyak tempat, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– merupakan imam dalam amar makruf nahi mungkar … [10]

 

[10] Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah (5/254-255).

 

وقال رحمه الله: “والرفق سبيل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولهذا قيل: ليكن أمرك بالمعروف بالمعروف ونهيك عن المنكر غير منكر”اهـ (١١)

 

Dan Ibn Taimiyah –rahimahullah– berkata: Dan sikap lembut itu merupakan jalan amar makruf nahi mungkar, dan mengenai hal ini dikatakan, “Hendaklah perintahmu kepada kebaikan itu dengan cara yang baik, dan seyogianya pula cegahanmu terhadap kemungkaran itu bukan dengan cara yang mungkar.” [11]

 

[11] al-Istiqamah (2/210-211); Majmu’ al-Fatawa (28/216).

 

تمت والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات.

 

Selesai, dan segala puji milik Allah yang dengan nikmat-Nya menjadi sempurnalah kebaikan-kebaikan …

 

Bandung, 8 Mei 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

9 comments on “Tentang Pancang-Pancang Perbaikan …

  1. kuekucantik says:

    Assalamu’alaikum..*clingak clinguk* tumben nih blum ada tamu *slurup…….habis deh ms-oreonya..xixixi

  2. thetrueideas says:

    dan ini ceramah terkait nasihat perpisahan itu (by ust Yazid Jawwas) : http://www.islamhouse.com/313432/id/id/audios/Nasehat_Perpisahan

  3. Novi Kurnia says:

    Jazakallahu khairan wa baarakallahu fiik. Terjemah yg sangat bermanfaat dan bernas. Semoga Allah merahmati Syaikh Muhammad bin Umar.

    *picnya minuman apa?

  4. jampang says:

    puanjaaang…. sepanjang pancangan di minuman itu…. xixixixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s