Tidak, Siapa pun yang Kaupergunjingkan …

bubur kacang

مائة فتوى للشيخ مشهور بن حسن آل سلمان حفظه الله

 

Ghibah, shaum sunnah, dan izin suami …

 

*

**

 

السؤال: ما حكم غيبة النصارى؟

 

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman –hafizhahullah– ditanya:

Apa hukumnya ghibah (mempergunjingkan) orang Nasrani?

 

الجواب: الأحكام الشرعية لا تتعلق بالذوات وإنما تتعلق بالأفعال، فالغيبة مذمومة في حق المسلم وفي حق النصراني، ولكن غيبة المسلم أشد لأن للمسلم على المسلم حقوقاً، لكن غيبة النصراني حرام، فالسرقة مثلاً حرام من  المسلم ومن النصراني، فكما لا تجوز سرقة النصراني كذلك لا تجوز غيبته، لأن الأحكام الشرعية كما قلنا، تتعلق بالأفعال لا بالذوات،

 

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman –hafizhahullah– menjawab:

Hukum-hukum syariat itu tidaklah terkait dengan pribadi-pribadi, namun hanyalah terkait dengan perbuatan. Oleh karena itu, ghibah merupakan perbuatan tercela, sama saja baik dalam hak seorang muslim atau dalam hak seorang Nasrani. Memang benar, berbuat ghibah terhadap seorang Muslim itu jauh lebih buruk karena seorang muslim atas muslim lainnya memiliki hak-hak (yang tak dimiliki oleh selain Muslim –pent). Meskipun demikian, berbuat ghibah terhadap orang Nasrani (tetaplah) merupakan perbuatan haram. Sama halnya –sebagai contoh, mencuri dari seorang Muslim itu haram, demikian juga mencuri dari seorang Nasrani. Maka sebagaimana mencuri dari seorang Nasrani itu tidak boleh, begitu pula berbuat ghibah terhadap seorang Nasrani tidaklah diperbolehkan. Hal itu dikarenakan hukum-hukum syariat itu –sebagaimana telah kami katakan- terkait dengan perbuatan-perbuatan, bukan terkait dengan pribadi-pribadi …

 

وقد سئل ابن وهب تلميذ الإمام مالك عن غيبة النصارى فقال: أوليسوا هم من الناس؟ قال السائل: بلى، قال: فإن الله تعالى يقول: (وقولوا للناس حسناً) فربنا قال: (قولوا للناس) ولم يقل للمسلمين والناس تشمل مسلمهم وكافرهم وكتابيهم،

 

Ibn Wahb, salah seorang murid Imam Malik, pernah ditanya mengenai ghibah terhadap orang Nasrani, lalu Ibn Wahb pun berkata, “Apakah mereka (orang Nasrani) bukan manusia?” Orang yang bertanya menjawab, “Tentu saja mereka manusia.” Ibn Wahb berkata (lagi), “Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman –QS. al-Baqarah ayat 83: (serta ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik), maka Rabb kita mengatakan: (ucapkanlah kepada manusia), dan tidak mengatakan: (kepada kaum Muslimin), sedangkan manusia itu mencakup orang Muslim, orang kafir, dan ahli kitab.”

 

ويجب أيضاً على المسلم أن يحفظ لسانه من الغيبة فإن طال لسانه في الكتابي والكافر فسيجره ذلك لأن يطول في المسلم فإن طال في المسلم البعيد فسينتقل ذلك للمسلم القريب، وقد ينتقل للرحم أيضاً،

 

Wajib bagi seorang Muslim untuk menjaga lisannya dari ghibah. Jika lisannya melampaui batas terhadap ahli kitab dan orang kafir, maka dia pun akan mengarahkan ghibah yang diperbuatnya kepada seorang Muslim. Jika dia berbuat ghibah terhadap Muslim yang jauh, dia akan memindahkan ghibah itu kepada Muslim yang dekat, bahkan bisa saja memindahkannya kepada kerabatnya juga … 

 

بل ينبغي للمسلم أن يحفظ لسانه من الإيذاء ومن الشتم، والسب حتى للحيوان، فقد كان تقي الدين السبكي يوماً يمشي مع ابنه فنبحهم كلب فقال الابن، وهو صغير: اخرس يا كلب يا ابن الكلب، فغضب الأب وقال: لا تقل هكذا، احفظ لسانك يا بني، فإنك إن عودت لسانك على هذا الكلام فإنه سيخرج منك دون إرادتك،

 

Selayaknya seorang Muslim itu menjaga lisannya dari ucapan yang menyakitkan, dari celaan, dan dari caci maki sekalipun itu terhadap binatang. Pernah pada suatu hari Taqiy ad-Din as-Subki berjalan bersama putranya, lalu seekor anjing menyalak kepada mereka. Putranya –yang masih kecil- lantas berkata, “Bisulah kau, wahai anjing anaknya anjing!” Mendengar itu, marahlah ayahnya (yakni Taqiy ad-Din as-Subki), dan dia berkata, “Jangan kau berkata seperti itu! Jagalah lisanmu, wahai anakku. Sungguh jika kau membiasakan lisanmu untuk berbicara seperti itu, niscaya kata-kata seperti itu akan keluar begitu saja dari mulutmu diluar kendalimu.”

 

فهذه تربية الإمام السبكي لابنه، والذي أصبح يوماً علماً من أعلام الشافعية وكبرائهم، فإن الإنسان لا يوضع له القبول في الأرض ولاينتفع الناس منه، لا سيما إن كان طالب علم، إلا إن عد أنفاسه، وقبل أن يتكلم بكلمة يتأنى فيها، وما ندم ساكت قط، والكلمة كما قال بعض السلف: كالنور يخرج من الجحر، فإن خرج لا يعود، فعلى المسلم أن يحفظ لسانه من الغيبة والنميمة والكذب والإيذاء على الكافر والكتابي لأن الشرع حرم ذلك، بغض النظر أنت تنم من أو تغتاب من ..

 

Demikianlah tarbiyah dari Imam as-Subki terhadap anaknya, seorang anak yang di kemudian hari menjadi salah seorang ulama kalangan asy-Syafi’iyah dan termasuk ulama besar mereka (yakni Taj ad-Din as-Subki –pent). Maka sesungguhnya manusia (yang senang berbuat ghibah) itu tidaklah akan diletakkan untuknya penerimaan penduduk bumi dan tidak pula manusia lain akan mengambil manfaat darinya, terutama jika (yang melakukannya) itu seorang penuntut ilmu, kecuali jika dia menghitung nafasnya dan sebelum berbicara dia mempertimbangkannya dengan matang. Tidaklah orang yang tenang itu akan menyesal. Dan beberapa Salaf telah membuat ibarat tentang kata-kata, (Kata-kata itu) seumpama cahaya yang keluar dari lubang. Sekalinya keluar, dia tidak akan kembali lagi.”

Maka wajib bagi seorang Muslim untuk menjaga lisannya dari ghibah (bergunjing), namimah (menghasut), dusta, dan ucapan yang menyakitkan terhadap orang kafir dan ahli kitab, dikarenakan syariat telah mengharamkan hal itu tanpa memandang siapa yang kauhasut, tanpa memandang siapa yang kaupergunjingkan …

 

*

**

 

السؤل: ما حكم رجل أتى زوجته وهو صائم صيام نافلة؟

 

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman –hafizhahullah– ditanya:

Bagaimana hukum seorang lelaki yang mendatangi istrinya (untuk melakukan hubungan suami istri), padahal lelaki itu sedang shaum sunnah?

 

الجواب: من أتى زوجته وهو صائم صيام نافلة، كمن صام نافلة، فأكل، وحكمه فيه خلاف بين الفقهاء، فذهب المالكية والحنفية إلى وجوب القضاء، قالوا من تلبس بطاعة فأفسدها فيجب عليه أن يقضيها، فيقضي يوماً مكانه، ودليلهم على ذلك قالوا: الأدلة كثيرة منها قوله تعالى: (ولا تبطلوا أعمالكم) فهذا أبطل عمله، ومنها قوله الأعرابي الذي جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يسأله عن الإسلام وذكر له صيام شهر رمضان، فقال: هل علي غيره؟ قال: (لا، إلا أن تطوع) فقالوا: إن إلا هنا موصولة وليست مقطوعة، فإن تطوعت، فأصبح التطوع في حقك واجباً.

 

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman –hafizhahullah– menjawab:

Suami yang mendatangi istrinya padahal dia (suami) itu sedang shaum sunnah adalah ibarat orang yang sedang mengerjakan shaum sunnah lalu makan. Para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai hukumnya, kalangan al-Malikiyah dan al-Hanabilah berpendapat (orang tersebut) wajib meng-qadha’ (mengganti)nya, dan mereka mengatakan, “Siapa yang telah mengikatkan diri dengan suatu (amal) ketaatan lalu merusaknya, maka wajib baginya untuk meng-qadha’-nya, yaitu dia melakukan amal yang (sama) pada suatu hari sebagai gantinya.”

Mereka mengemukakan dalil untuk pendapat mereka itu dengan mengatakan:

Dalil-dalilnya banyak, di antaranya firman Allah ta’ala (QS. Muhammad: 33), “Janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian,” sedangkan perbuatan si suami tersebut termasuk yang membatalkan amalnya. Di antara dalil lainnya lagi adalah ucapan seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan bertanya tentang Islam, (lalu ketika) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menyebutkan tentang shaum pada bulan Ramadhan, lelaki Badui itu bertanya, “Adakah kewajiban shaum lain bagiku selain itu?” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab:

 

لا، إلا أن تطوع

 

“Tidak ada, kecuali shaum sunnah saja.” [1]

 

kata mereka, kata illa (kecuali) dalam sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tersebut merupakan kata maushulah (terhubung) dan bukannya kata yang maqthu’ah (terpisah), dengan demikian (maknanya), “Jika kamu mengerjakan shaum sunnah, maka shaum sunnah itu terhadap dirimu menjadi sesuatu yang wajib kamu penuhi sampai selesai.”

 

والصواب في هذه المسألة مذهب أحمد والشافعي، ومذهبهم من أفسد صوماً تلبس به، وكان هذا الصوم نافلة، لا شيء عليه، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم الصحيح الذي جاء في المسند، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الصائم المتطوع أمير نفسه إن شاء أتم وإن شاء أفطر) فإن أفطر فلا شيء عليه وهي كذلك، إن كانت صائمة تفطر ولا شيء عليها.

 

(Akan tetapi), pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat Imam Ahmad, Imam asy-Syafi’i, dan mereka (yang mengatakan) bahwa siapa yang merusak shaum yang dia telah mengikatkan diri dengan amal shaumnya itu, sementara shaum yang dilakukannya itu adalah shaum sunnah, maka hal itu tidak apa-apa baginya berdasarkan ucapan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang melaksanakan shaum sunnah adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika dia mau (menyelesaikannya), dia menyempurnakannya, dan jika dia mau (membatalkannya), dia boleh berbuka.” [2]

Maka jika dia (si suami) berbuka, hal itu tidaklah mengapa baginya. Demikian pula dengan istrinya jika si istri sedang shaum sunnah lalu berbuka, maka hal itu tidak apa-apa baginya.

——————————————-

Catatan dari saya:

[1] al-Bukhari dan Muslim

[2] Haditsnya sebagai berikut:

 

عن أمّ هانئ رضي الله عنها أن رسول الله صلى اللهُ عليه وسلم دخل عليها، فدعا بشراب فشرب، ثمَّ ناولها فشربت، فقالت: يا رسول الله أما إني كنت صائمة، فقال رسول الله صلى اللهُ عليه وسلم: الصّائم المتطوع أمير نفسه، إن شاء صام، وإن شاء أفطر. -صحيح الجامع (٣۸٥٤)

 

Dari Ummu Hani’ –radhiyallahu ‘anha– bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menemuinya dan meminta minum. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun minum kemudian memberikan (sisa) minuman itu kepada Ummu Hani’ sehingga Ummu Hani’ pun meminumnya. Berkatalah Ummu Hani’, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini sedang shaum.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Orang yang melaksanakan shaum sunnah adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika dia mau (menyelesaikannya), dia akan menyempurnakannya, dan jika dia mau (membatalkannya), dia boleh berbuka.” –Shahih al-Jami’ (3854)

 

*

**

 

السؤال: استأذنت زوجي، وهو في أمريكا، على الهاتف، في صيام نافلة فلم يأذن لي، فهل لي ان أصوم؟

 

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman –hafizhahullah– ditanya:

Aku meminta izin –melalui telepon- kepada suamiku yang sedang berada di Amerika untuk mengerjakan shaum sunnah, namun suamiku tak mengizinkanku. Apakah boleh aku tetap melaksanakan shaum sunnah?

 

الجواب : نعم، يجوز للمرأة أن تصوم صيام النفل، وزوجها غير حاضر وإن لم يأذن وقد صح في البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لا تصوم امرأة وبعلها شاهد إلا بإذنه) فإن لم يأذن الزوج وهو غير حاضر وغير شاهد فلا عبرة بإذنه فهذه المرأة استأذنت زوجها وهو غائب، ليس شاهد وهو لم يأذن لأن الإذن لحقه ولحضوره وجوده فإن كان موجوداً فلا تصوم النفل إلا بإذنه، فإن كان حاضراً وعلى المرأة صيام واجب، كالقضاء وكفارة اليمين والنذر، فلا عبرة بإذن الزوج في الصيام الواجب.

 

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman –hafizhahullah– menjawab:

Iya, boleh bagi seorang istri untuk mengerjakan shaum sunnah pada saat suaminya tidak hadir (tidak ada di rumah), dan meskipun suaminya itu tidak mengizinkannya untuk shaum sunnah. Sungguh telah sahih di kitab Shahih al-Bukhari bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata:

 

لا تصوم امرأة وبعلها شاهد إلا بإذنه

 

“Janganlah seorang istri mengerjakan shaum sunnah sementara suaminya ada kecuali dengan izinnya.”

 

Meskipun suami tidak memberi izin, sementara suami itu sedang tidak ada di rumah dan sedang tidak di situ, maka izin suami itu tidaklah teranggap. Maka si istri ini, dia meminta izin kepada suaminya padahal suaminya itu sedang ghaib (sedang pergi), sedang tidak berada di rumah, dan suaminya tidak mengizinkannya untuk shaum sunnah. Izin itu diminta dalam keberadaan dan kehadiran suami, oleh karena itu jika suami ada, janganlah istri mengerjakan shaum sunnah kecuali setelah mendapat izin suami. Kalau suami ada, sedangkan istri  hendak melaksanakan shaum wajib seperti shaum qadha’, shaum kafarat sumpah dan shaum nadzar, maka tidaklah diperlukan izin suami untuk melaksanakan shaum wajib …

 

Bandung, 9 Juni 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

12 comments on “Tidak, Siapa pun yang Kaupergunjingkan …

  1. hanadoank says:

    gambarnya kok … 😀

    btw perna nulis tentang nadzar dan shaum nadzar kah? ga ada widget search nya disini 😀

  2. Novi Kurnia says:

    ooo jadi begitu, ya tentang masalah izin. Kesimpulannya, kalau mau puasa dan suami ga ada di rumah, tak usah bilang-bilang. heheheee

  3. jampang says:

    Lagian nggak ngaruh juga kalau suami nggak di rumah 😀

  4. thetrueideas says:

    dalamnya ilmu para ulama itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s