Saya dan Sebuah Kisah yang Saya Baca …

hampai sayap burung

Saya selalu merasa senang jika mendapatkan cerita-cerita yang berasal dari hadits-hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu kisah mengenai para Nabi –shalawatullah ‘alaihim wa salamuhu– maupun tentang manusia pada umumnya. Tentu saja akan lebih senang lagi jika saya dapatkan pula penjelasan para ulama mengenai hikmah-hikmah dan pelajaran-pelajaran yang mereka petik dari cerita-cerita itu …

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Suatu hari saya membaca sebuah cerita yang menarik tentang kematian Nabi Dawud –‘alaihi as-salam- dan burung-burung yang menaunginya dengan sayap-sayap mereka atas perintah Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salam. Kisah itu saya dapati bersama kisah-kisah lainnya yang dikumpulkan oleh Syaikh ‘Umar bin Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah– di dalam kitabnya yang berfaidah Shahih al-Qashash an-Nabawi.

Sangat menarik, pikir saya. Akan tetapi saya sedikit ragu akan kesahihan kisah tersebut –dan keraguan inilah yang ingin saya utarakan. Adapun kisahnya adalah sebagai berikut sebagaimana yang dituliskan oleh Syaikh ‘Umar bin Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah:

 

روى الإمام أحمد عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كان داود النبي فيه غيرة شديدة، وكان إذا خرج أغلقت الأبواب، فلم يدخل على أهله أحد حتى يرجع.

قال فخرج ذات يوم، وغلقت الدار، فأقبلت امرأته تطلع إلى الدار، فإذا رجل قائم وسط الدار، فقالت لمن في البيت: من أين دخل هذا الرجل الدار، والدار مغلقة؟ والله لتفتضحن بداود.

فجاء داود فإذا الرجل قائم وسط الدار، فقال له داود: من أنت؟ قال: أنا الذي لا أهاب الملوك، ولا يمتنع مني شيء. فقال داود: أنت والله ملك الموت، فمرحبا بأمر الله، فرمل داود مكانه حيث قبضت روحه، حتى فرغ من شأنه، وطلعت عليه الشمس.

فقال سليمان للطير: أظلي على داود، فأظلت عليه الطير، حتى أظلمت عليهما الأرض. فقال لها سليمان: اقبضي جناحا جناحا، قال أبو هريرة يرينا رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف فعلت الطير وَقُبِضَ رسول الله صلى الله عليه وسلم، وغلبت عليه يومئذ المضرحية

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata:

Nabi Dawud itu memiliki kecemburuan yang besar. Apabila keluar rumah, dia pun mengunci pintu rumahnya sehingga tidak ada seorang pun yang dapat masuk menemui keluarganya sampai dia kembali.

Pada suatu hari Nabi Dawud keluar rumah dan (seperti biasa) mengunci pintu rumah. Lalu ketika istri Nabi Dawud memeriksa rumah (untuk memastikan pintu sudah dikunci), ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki yang sedang berdiri di tengah rumah. Berkatalah istri Nabi Dawud kepada orang rumah, “Bagaimana caranya lelaki ini masuk ke dalam rumah padahal rumah sudah dikunci? Demi Allah, kamu akan ketahuan oleh Dawud!”

Lalu datanglah Nabi Dawud, sedangkan lelaki itu masih berdiri di tengah rumah. Dawud pun berkata kepada lelaki itu, “Siapa kau?” Lelaki itu menjawab, “Aku orang yang tiada takut kepada raja, dan tiada sesuatu pun yang bisa mencegahku.” Dawud pun berkata, “Kau, demi Allah, adalah malaikat Maut! Maka selamat datang (kuucapkan) kepada perintah Allah.” Maka Dawud pun setengah berlari-lari di tempatnya ketika nyawanya dicabut hingga ketika perkaranya selesai, matahari pun terbit.

Lalu Nabi Sulaiman berkata kepada burung-burung, “Naungilah Dawud!” Lantas burung-burung pun menaungi Dawud hingga bumi menjadi gelap bagi Dawud dan Sulaiman. Lalu Sulaiman berkata kepada burung-burung itu, “Tariklah (naungan) sayap demi sayap kalian!”

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menunjukkan kepada kami bagaimana burung-burung itu menarik sayat-sayap mereka, dan (tangan) Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- pun ditarik. Dan pada hari itu burung elanglah yang paling lebar hampai sayapnya.”

—–

Demikianlah kisah tersebut. Selanjutnya Syaikh ‘Umar bin Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah– berkata (pada bagian takhrij):

 

هذا الحديث رواه الإمام أحمد فى مسنده (۲/٤١۹)، وقال ابن كثير بعد سياقه له: (انفرد بإخراجه أحمد، وإسناده جيد قوي، رجاله ثقات). البداية والنهاية (۲/١۷)

وأورده الهيثمي فى مجموع الزوائد (۸/۲۰۷) ثم قال في تخريجه: رواه أحمد، وفيه المطلب بن عبد الله بن حنطب، وثقه أبو زرعة وغيره، وبقية رجاله رجال الصحيح.

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (2/419), dan Ibn Katsir berkata setelah menyebutkan redaksi haditsnya, “Ahmad menyendiri mengeluarkan hadits ini, dan sanadnya baik lagi kuat, para perawinya tepercaya.”al-Bidayah wa an-Nihayah (2/17).

Dan al-Haitsami telah menyebutkannya di kitab Majmu az-Zawa-id (8/207), kemudian dia mengatakan dalam takhrij-nya, “Diriwayatkan oleh Ahmad, di dalam sanadnya ada al-Muthallib bin ‘Abdullah bin Hanthab. Abu Zur’ah dan selainnya menilai al-Muthallib itu tsiqah, sedangkan para perawi lainnya merupakan para perawi ash-Shahih.”

—–

Begitu yang dikatakan oleh Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah. Menurut anggapan saya, dengan dimasukkannya kisah tersebut ke dalam kitabnya, berarti beliau –rahimahullah– menganggap bahwa kisah tersebut sahih berasal dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Itulah yang saya dapati dan seperti itulah anggapan saya. Selanjutnya saya memeriksa kitab lain yang ditulis oleh Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– dengan judul yang sama, yaitu Shahih al-Qashash an-Nabawi. Saya berharap saya menemukan kisah tersebut di dalamnya. Ternyata Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– tidak memasukkan kisah tersebut ke dalamnya. Semakin besarlah keraguan saya mengenai validitas kisah tersebut –meskipun ketiadaan kisah tersebut di dalam kitab Syaikh al-Huwaini belum tentu mengartikan bahwa kisah tersebut lemah. Akan tetapi hal itu cukup mendorong saya untuk mencari penjelasan para ulama tentang perawi bernama al-Muthallib bin ‘Abdullah bin Hanthab. Walhasil, saya dapati beberapa penjelasan ulama tentang perawi al-Muthallib, di antaranya sebagai berikut:

(1) Ibn Hajar dalam at-Taqrib:

 

المطلب بن عبد الله بن المطلب بن حنطب بن الحارث المخزومي صدوق كثير التدليس والإرسال

 

“Al-Muthallib … shaduq, banyak melakukan tadlis dan mursal.”

 

(2) Imam al-Bukhari berkata dalam Tarikh ash-Shaghir:

 

ولا يعرف للمطلب سماع من أبي هريرة ولا لمحمد عن المطلب ولا تقوم به الحجة

 

“Tidak diketahui bahwa al-Muthallib itu mendengar dari Abu Hurairah, tidak juga diketahui Muhammad mendengar dari al-Muthallib, dan tidaklah ditegakkan hujjah dengannya.”

 

(3) Ibn Abi Hatim di kitab Jarh wa Ta’dil:

 

المطلب بن عبد الله بن المطلب بن عبد الله بن حنطب روى عن ابن عباس مرسل وابن عمر مرسل وأبي موسى مرسل وأم سلمة مرسل وعائشة مرسل ولم يدركها، وأبي قتادة مرسل وأبي هريرة مرسل وأبي رافع مرسل …

 

“Al-Muthallib bin ‘Abdullah … meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas mursal, dari Abu Hurairah mursal, dari Ibn ‘Umar mursal, dari Abu Musa mursal, dari Ummu Salamah mursal, dari ‘Aisyah mursal dan tak mendapatinya, dari Abu Qatadah mursal, dari Abu Hurairah mursal, dari Abu Rafi’ mursal ….”

 

Terjawablah sudah keraguan saya akan validitas kisah tersebut. Ternyata al-Muthallib bin ‘Abdullah bin Hanthab tidaklah pernah mendengar dari Abu Hurairah dan para shahabat lainnya –radhiyallahu ‘anhum. Apalagi di atas telah disebutkan bahwa Ibn Katsir mengatakan, “Ahmad menyendiri mengeluarkan hadits ini, dan ini berarti tidak ada imam lain yang meriwayatkan kisah ini. Selain itu, Imam Ahmad pun tidak mengemukakan jalan periwayatan lain bagi kisah ini. Dengan demikian jelaslah bahwa kisah tersebut munqathi’ karena adanya keterputusan di antara al-Muthallib bin ‘Abdullah bin Hanthab dengan Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, sementara hadits munqathi’ itu termasuk ke dalam kelompok hadits dha’ifwallahu a’lamu

Sebelum saya mem-posting tulisan ini, saya memandang perlu untuk bertanya –karena saya bukanlah orang yang mengerti ilmu hadits- kepada orang-orang yang giat menelaah hadits di salah satu grup facebook yang saya ikuti. Saya tanyakan keraguan saya tentang validitas kisah tersebut, yakni tentang keberadaan al-Muthallib di dalam sanadnya. Tak lama kemudian saya mendapatkan jawaban dari seorang ustadz yang bernama Anshari Taslim –jazahullah khairan– yang membenarkan penilaian saya akan keterputusan sanad riwayat tersebut …

Lebih lanjut saya dapati juga penilaian lemah Syaikh Syu’aib al-Arna-uth –hafizhahullah– dalam tahqiq beliau terhadap Musnad al-Imam Ahmad. Syaikh Syu’aib al-Arna-uth –hafizhahullah– berkata:

 

إسناده ضعيف لانقطاعه، فإن المطلب –وهو ابن عبد الله بن حنطب- لم يسمع من أبي هريرة كما قال البخاري في التاريخ الأوساط (١/١٨)، وأبو حاتم في المراسيل لابنه (ص٢٠٩)، وبقي رجاله ثقات رجال الشيخين.

 

“Sanad hadits ini dha’if karena keterputusan. Perawi al-Muthallib, yaitu Ibn ‘Abdullah bin Hanthab, tidaklah mendengar dari Abu Hurairah sebagaimana dinyatakan oleh al-Bukhari di kitab at-Tarikh al-Ausath (1/18). Abu Hatim juga (mengatakan demikian) di kitab al-Marasil karya putranya (halaman 209). Adapun para perawi lainnya merupakan perawi-perawi yang tsiqah dan merupakan para perawi al-Bukhari dan Muslim.”

Kini semakin yakinlah saya bahwa riwayat yang memuat kisah tersebut merupakan riwayat yang lemah, walhamdulillah

 

Bandung, 3 Juli 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

10 comments on “Saya dan Sebuah Kisah yang Saya Baca …

  1. jampang says:

    kayanya dulu waktu masih kecil pernah denger cerita nabi daud yang ketinggalan terompahnya di surga.pernah denger, kang?

  2. Novi Kurnia says:

    Wah wah wah, rajin sekali membongkar tumpukan buku dan mencari. Ck ck ck…

    Yahh, jadi sebuah kisah harus dikroscek lg status keshahihannya ya.

  3. jaraway says:

    ini penampakan ustadz anshari taslim..

  4. jaraway says:

    eh youtubenya langsung muncul di mari ternyata.. ohoho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s