Di Bawah Pohon Samurah …

samurah

عن كثير بن عباس بن عبدالمطلب، قال: قال عباس:

شهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم حنين. فلزمت أنا وأبو سفيان بن الحارث بن عبدالمطلب رسول الله صلى الله عليه وسلم. فلم نفارقه. ورسول الله صلى الله عليه وسلم على بغلة له، بيضاء. أهداها له فروة بن نفاثة الجذامى. فلما التقى المسلمون والكفار، ولى المسلمون مدبرين. فطفق رسول الله صلى الله عليه وسلم يركض على بغلته قبل الكفار. قال عباس: وأنا آخذ بلجام بغلة رسول الله صلى الله عليه وسلم. أكفها إرادة أن لا تسرع. وأبو سفيان آخذ بركاب رسول الله صلى الله عليه وسلم. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (أي عباس! ناد أصحاب السمرة). فقال عباس (وكان رجلا صيتا): فقلت بأعلى صوتي: أين أصحاب السمرة؟ قال: فوالله! لكأن عطفتهم، حين سمعوا صوتي، عطفة البقر على أولادها. فقالوا: يا لبيك! يا لبيك! قال: فاقتتلوا والكفار. والدعوة في الأنصار. يقولون: يا معشر الأنصار! يا معشر الأنصار! قال: ثم قصرت الدعوة على بني الحارث بن الخزرج. فقالوا: يا نبي الحارث بن الخزرج! يا بني الحارث بن الخزرج! فنظر رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على بغلته، كالمتطاول عليها، إلى قتالهم. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (هذا حين حمي الوطيس). قال: ثم أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم حصيات فرمى بهن وجوه الكفار. ثم قال (انهزموا. ورب محمد!) قال: فذهبت أنظر فإذا القتال على هيئته فيما أرى. قال: فوالله! ما هو إلا أن رماهم بحصياته. فما زلت أرى حدهم كليلا وأمرهم مدبرا. –رواه مسلم

 

Dari Katsir bin ‘Abbas bin ‘Abd al-Muthalib, dia berkata: ‘Abbas berkata:

Aku turut serta bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pada perang Hunain. Aku dan Abu Sufyan bin al-Harits bin ‘Abd al-Muthalib senantiasa berada di dekat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tanpa pernah meninggalkan beliau. Saat itu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengendarai baghl (peranakan kuda dengan keledai) putih miliknya pemberian dari Farwah bin Nufatsah al-Judzami. Tatkala pasukan kaum Muslimin bertemu dengan pasukan kafir, kaum Muslimin pun pada melarikan diri mundur dari pertempuran, sementara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tetap memacu baghl-nya ke arah pasukan kafir.

‘Abbas berkata:

Aku berpegangan pada (tali kekang) baghl Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan maksud menahannya agar tidak berlari terlaru kencang, sedangkan Abu Sufyan memegangi sanggurdi (pijakan kaki untuk penunggang kuda) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Wahai ‘Abbas, panggillah ash-hab as-samurah!”

Maka ‘Abbas pun –dan ‘Abbas itu memang lelaki yang bersuara lantang- berkata: Aku pun berseru dengan suara tinggi, “Di manakah (kalian wahai) ash-hab as-samurah?”

Maka pada saat ash-hab as-samurah mendengar seruanku, mereka pun pada berbalik (kepada seruanku) sebagaimana induk sapi yang berbalik karena merasa iba kepada anak-anaknya. Mereka pun menyahut, “Ya, kami datang, kami datang!” Lalu mereka pun ikut bertempur melawan kaum kafir seraya menyeru kaum al-Anshar, “Wahai sekalian kaum al-Anshar! Wahai sekalian kaum al-Anshar.” Kemudian seruan mereka pun beralih kepada Bani al-Harits bin al-Khazraj, “Wahai Bani al-Harits bin al-Khazraj! Wahai Bani al-Harits bin Khazraj!”

Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memandang jalannya pertempuran sambil duduk di atas baghl-nya, seakan-akan percaya diri memerangi mereka. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Seperti inilah jika api peperangan sedang berkobar.”

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memungut beberapa butir kerikil, lalu melemparkan kerikil-kerikil itu ke wajah-wajah kaum kafir. Kemudian beliau berkata, “Kalian akan dikalahkan, demi Rabb Muhammad!”

Maka aku pun beranjak untuk melihat jalannya pertempuran itu, maka demi Allah, tidaklah beliau melempari mereka kecuali hanya dengan beberapa butir kerikil saja, dan tidaklah aku berhenti menyaksikan keadaan mereka yang semakin lemah dan berlari tunggang langgang. (HR. Muslim)

 

*

**

 

*Perang Hunain: yaitu perang yang terjadi di suatu tempat yang bernama Hunain. Imam an-Nawawi –rahimahullah– berkata:

 

حنين واد بين مكة والطائف وراء عرفات بينه وبين مكة بضعة عشر ميلاً

 

Hunain adalah sebuah lembah yang berada di antara Mekah dan Tha-if, letaknya berada di belakang padang Arafah. Jarak dari Hunain ke Mekah ada belasan mil (kurang lebih tiga puluh kilometer –pent) … –Syarh an-Nawawi

 

*Abu Sufyan bin al-Harits bin ‘Abd al-Muthalib: beliau adalah mertua Rasulullah –sahllallahu ‘alaihi wasallam. Putrinya yang menjadi istri Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah Ummu Habibah –radhiyallahu ‘anha. Abu Sufyan –radhiyallahu ‘anhu– masuk Islam pada peristiwa Fath al-Makkah. Perang Hunain adalah salah satu peperangan yang diikuti oleh Abu Sufyan semenjak dia masuk Islam, dan ini merupakan peperangan pertamanya dalam Islam bersama kaum Muslimin …

 

*Ash-hab Samurah: yaitu orang-orang yang mengikuti bai’ah ar-ridhwan berkaitan dengan perjanjian al-Hudaibiyah, yakni mengikrarkan suatu janji setia kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut bai’ah ar-ridhwan karena Allah telah mengabarkan tentang keridaan-Nya terhadap mereka, sebagaimana firman-Nya:

 

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

 

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. al-Fath: 18)

 

Allah mengatakan, “…ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon,” karena memang mereka melakukan bai’at itu di bawah sebuah pohon, yakni di bawah pohon samurah. Hal ini bisa diketahui berdasarkan riwayat berikut:

 

عن جابر –رضي الله عنه، قال: كنا يوم الحديبية ألفا وأربعمائة. فبايعناه وعمر آخذ بيده تحت الشجرة. وهي سمرة. وقال: وبايعناه على أن لا نفر

 

Dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami pada hari al-Hudaibiyah berjumlah seribu empat ratus orang. Kami pun ber-bai’at kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar mengambil tangan beliau di bawah sebuah pohon dan itu adalah pohon samurah. Kami ber-bai’at kepada beliau untuk tidak lari dari peperangan.” (HR. Muslim)

 

Imam an-Nawawi –rahimahullah– berkata:

 

قوله صلى الله عليه وسلم: “أي عباس ناد أصحاب السمرة” هي الشجرة التي بايعوا تحتها بيعة الرضوان ومعناه ناد أهل بيعة الرضوان يوم الحديبية

 

Ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai ‘Abbas, panggillah ash-hab as-samurah!” (Samurah) yaitu pohon yang mereka telah ber-bai’at di bawahnya pada peristiwa bai’ah ar-ridhwan. Adapun makna ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah, “Panggillah orang-orang yang dulu mengikuti bai’ah ar-ridhwan pada hari al-Hudaibiyah.”

 

Menurut para ulama, pohon samurah tempat melakukan bai’ah ar-ridhwan itu telah ditebang oleh ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu a’nhu– dikarenakan banyak manusia yang mengeramatkan pohon itu. Akan tetapi –menurut Syaikh al-Albani, kisah tentang penebangan pohon oleh ‘Umar bin al-Khaththab itu merupakan riwayat yang mursal, dikarenakan Nafi’ (yang meriwayatkannya) tidaklah bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab. Ada kisah lain mengenai pohon samurah itu di Shahih al-Bukhari, sebagai berikut:

 

عن طارق بن عبد الرحمن قال: انطلقت حاجا، فمررت بقوم يصلون، قلت: ما هذا المسجد؟ قالوا: هذه الشجرة، حيث بايع رسول الله صلى الله عليه وسلم بيعة الرضوان، فأتيت سعيد بن المسيب فأخبرته، فقال سعيد: حدثني أبي: أنه كان فيمن بايع رسول الله صلى الله عليه وسلم تحت الشجرة، قال: فلما خرجنا من العام المقبل أنسيناها، فلم نقدر عليها. فقال سعيد: ان أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم لم يعلموها، وعلمتموها أنتم، فأنتم أعلم؟

 

Dari Thariq bin ‘Abd ar-Rahman, dia berkata:

Aku bertolak untuk melaksanakan ibadah haji, lalu aku melewati suatu kaum yang sedang shalat. Aku pun bertanya, “Masjid apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah pohon tempat dulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- di-bai’at (oleh para shahabat) pada peristiwa bai’ah ar-ridhwan.” Lalu aku pun mendatangi Sa’id bin al-Musayyab, lalu mengabarkan (kejadian itu) kepadanya. Sa’id bin al-Musayyab pun berkata:

Telah mengabarkan kepadaku ayahku -ayahku termasuk shahabat yang ikut ber-bai’at kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di bawah pohon itu. Ayahku berkata, “Tatkala kami keluar pada tahun berikutnya, kami telah lupa letak pohon tersebut dan kami pun tak dapat menemukannya.”

Lalu Sa’id berkata lagi, “Para shahabat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- saja tidak mengetahui (lagi) letak pohon itu, sedangkan kalian (menganggap) mengetahuinya. Memangnya kalian lebih tahu daripada para shahabat?” (HR. al-Bukhari)

 

Pohon Samurah: saya tidak tahu seperti apa rupa pohon samurah itu. Akan tetapi dari hasil penelusuran di internet, saya dapati gambar pohon samurah itu sebagai berikut:

 pohon samurah

Gambar saya ambil dari sini: http://www.thomala.com/vb/showthread.php?t=46988

Bandung, 4 Juli 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Di Bawah Pohon Samurah …

  1. Novi Kurnia says:

    Pohon yang rindang! Kisah yg menarik!

    • tipongtuktuk says:

      iya, kisah perjuangan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabat radhiyallahu ‘anhu …

      banyak pelajaran di dalamnya, ya …

  2. jampang says:

    terima kasih ilmunya, kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s