Biar Aku Memahaminya …

pemahaman

سُكَينة بنت محمد ناصر الدين الألبانية

Sukainah binti Muhammad Nashir ad-Din al-Albaniyyah

Dari sini: http://tamammennah.blogspot.com/2013/09/blog-post_15.html

 

الحمدُ للهِ وَحْدَه، والصَّلاةُ والسَّلامُ علىٰ مَن لا نبيَّ بعده، وعلىٰ آلِه وصحبه ومَن نهَجَ نهجَه.

أمّا بعد

بوّب العَلَّامةُ مقبل الوادعيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَىٰ: مَن أَشْكَلَتْ عَلَيْهِ الْمَسْأَلَةُ الْعِلْمِيَّةُ يَقُولُ:

اللّهُمَّ! فَهِّمْنِيْهَا

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah ta’ala– membuat bab, “Siapa yang menghadapi kesulitan (dalam memahami) suatu permasalahan ilmiah, hendaklah dia mengatakan: Allahumma, berikan kepadaku pemahaman tentangnya.”

 

ثم قال:

 

Kemudian beliau (Syaikh Muqbil) –rahimahullah– berkata:

 

قال ابن إسحاق كما في “السيرة” لابن هشام ج١ص٤٧٤:

فَحَدّثَنِي نَافِعٌ مَوْلَىٰ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ عُمَرَ بْنِ الْخَطّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ:

 

Ibn Ishaq berkata –sebagaimana terdapat di kitab as-Sirah karya Ibn Hisyam juz 1 halaman 474:

Telah menceritakan kepadaku Nafi’ Maula ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya, ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

 

اتَّعَدْتُ لَمّا أَرَدْنَا الْهِجْرَةَ إلَى الْمَدِينَةِ أَنَا وَعَيّاشُ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ، وَهِشَامُ بْنُ الْعَاصِي بْنِ وَائِلٍ السّهْمِيّ التَّناضُبَ مِنْ أَضَاةِ بَنِي غِفَارٍ، فَوْقَ سَرِفٍ، وَقُلْنَا: أَيُّنَا لَمْ يُصْبِحْ عِنْدَهَا؛ فَقَدْ حُبِسَ فَلْيَمْضِ صَاحِبَاهُ. قَالَ: فَأَصْبَحْت أَنَا وَعَيّاشُ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ عِنْدَ التّنَاضُبِ، وَحُبِسَ عَنّا هِشَامٌ، وَفُتِنَ فَافْتُتِنَ.

 

Tatkala kami hendak berhijrah ke Madinah, aku bersama ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi saling berjanji (untuk berkumpul) di rumpun perdu perairan Bani Ghifar. Kami berkata, “Siapa pun di antara kita yang tak sampai di sana pada keesokan harinya, berarti dia tertangkap, dan hendaklah yang lainnya tetap melanjutkan perjalanan.” ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Maka pada keesokan harinya aku dan ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah bertemu di rumpun perdu Bani Ghifar, sementara Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi tertangkap (hingga tak bisa berkumpul) bersama kami, dia mendapat cobaan hingga terfitnah (murtad kembali).”

 

قال ابن إسحاق كما في “السيرة” ج١ص٤٧٥: وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ عُمَرَ فِي حَدِيثِهِ قَالَ: فَكُنّا نَقُولُ: مَا اللهُ بِقَابِلٍ مِمَّنْ افْتُتِنَ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا وَلَا تَوْبَةً؛ قَوْمٌ عَرَفُوا اللهَ ثُمّ رَجَعُوا إلَى الْكُفْرِ لِبَلَاءٍ أَصَابَهُمْ! قَالَ: وَكَانُوا يَقُولُونَ ذٰلِكَ لِأَنْفُسِهِمْ. فَلَمّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ؛ أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِمْ وَفِي قَوْلِنَا وَقَوْلِهِمْ لِأَنْفُسِهِمْ:

 

Ibn Ishaq berkata –sebagaimana terdapat di kitab as-Sirah, juz 1 halaman 475: dan telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ‘Umar dalam haditsnya, dia berkata:

Dulu kami mengatakan, Tidaklah Allah akan menerima kembalinya orang yang terkena fitnah, tidak juga keadilan dan taubatnya, yaitu kaum yang mengenal Allah kemudian mereka kembali kafir karena ujian yang menimpa mereka.” Mereka mengatakan hal itu terhadap diri-diri mereka sendiri. Tatkala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tiba di Madinah, Allah ta’ala menurunkan ayat tentang mereka dan tentang perkataan kami mengenai mereka:

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥٣) وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ (٥٤) وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (٥٥) -(سورة الزُّمَر).

 

Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian sebelum datang azab kepada kalian dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya.” (Q.S Az-Zumar: 53-55)

 

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطّابِ: فَكَتَبْتُهَا بِيَدِي فِي صَحِيفَةٍ وَبَعَثْتُ بِهَا إلَىٰ هِشَامِ بْنِ الْعَاصِي. قَالَ: فَقَالَ هِشَامُ بْنُ الْعَاصِي: فَلَمّا أَتَتْنِي جَعَلْتُ أَقْرَؤُهَا بِذِي طُوًى، أُصَعِّدُ بِهَا فِيهِ وَأُصَوِّبُ، وَلَا أَفْهَمُهَا! حَتّىٰ قُلْتُ:

اللّهُمَّ! فَهِّمْنِيْهَا

‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Aku lantas menuliskan ayat tersebut dengan tanganku sendiri pada secarik kertas kemudian kukirimkan kepada Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi.” Selanjutnya Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi berkata, “Tatkala surat (dari ‘Umar) itu sampai kepadaku, aku pun membacanya di Dzu Thuwa. Kurenungi ayat tersebut namun tak mampu memahaminya sampai akhirnya aku berkata: Allahumma, berikanlah kepadaku pemahaman tentangnya.”

 

قَالَ: فَأَلْقَى اللهُ تَعَالَىٰ فِي قَلْبِي أَنّهَا إنّمَا أُنْزِلَتْ فِينَا، وَفِيمَا كُنَّا نَقُولُ فِي أَنْفُسِنَا وَيُقَالُ فِينَا. قَالَ: فَرَجَعْتُ إلَىٰ بَعِيرِي، فَجَلَسْتُ عَلَيْهِ، فَلَحِقْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالْمَدِينَةِ.

 

Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi berkata (lagi), “Maka Allah ta’ala pun memberikan pemahaman ke dalam hatiku bahwa ayat tersebut diturunkan tentang kami, berkaitan dengan ucapan yang kami katakan terhadap diri-diri kami. Maka aku pun beranjak menuju untaku, duduk mengendarainya, lalu menyusul Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang telah berada di Madinah.”

 

هٰذا حديثٌ حسن.

وقد أخرجه البزار كما في “كشف الأستار” (جـ ٢، ص ٣٠٢)، وأخرجه الحاكم (جـ ٢، ص ٤٣٥)، وقال: “صحيح علىٰ شرط مسلم”، كذا قال، ومسلمٌ إنما روىٰ لِابن إسحاق قدرَ خمسة أحاديث في الشواهد والمتابَعات” اﻫ مِن “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (٢/٤٢٦و٤٢٧، ط١، ١٤١٦ﻫ، مكتبة ابن تيمية).

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– berkata, “Hadits ini hasan. Dikeluarkan oleh al-Bazzar sebagaimana tercantum di kitab Kasyf al-Astar, juz 2 halaman 302. Juga dikeluarkan oleh al-Hakim, juz 2 halaman 435. Al-Hakim mengatakan hadits ini sahih berdasarkan syarat Muslim. Demikian yang dikatakannya, sedangkan Muslim sendiri hanya meriwayatkan dari Ibn Ishaq sekitar lima hadits sebagai syawahid dan mutabi’at saja.” –Dinukil dari kitab al-Jami’ ash-Shahih mima Laisa fi ash-Shahihain (2/426-427, cetakan pertama, 1416 Hijriyah, Maktabah Ibn Taimiyah).

 

قال الأمير الصنعاني رَحِمَهُ اللهُ: فَمَا الفَهْمُ إلَّا مِن عَطَايَاهُ لا سِوَىٰ * بَلِ الخَيرُ كُلُّ الخَيرِ مِنْهُ يُصَابُ

“ديوانه” (21، ط1، 1384ﻫ، مطبعة المدني).

 

Al-Amir ash-Shan’ani –rahimahullah– berkata, “Tiada kepahaman melainkan dari karunia –Nya, tiada lain itu. Bahkan semua kebaikan itu berasal dari-Nya.”Diwan al-Amir ash-Shan’ani, halaman 21, cetakan pertama, 1384 Hijriyah, Mathba’ah al-Madani …

 

Bandung, 17 September 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

8 comments on “Biar Aku Memahaminya …

  1. Novi Kurnia says:

    Jazakallahu khairan.

    Apakah ini berarti setiap kali hendak membaca kita dianjurkan untuk mengucapkan do’a tersebut?

  2. jampang says:

    Hhmmm… Jadi orang islam kemudian murtad, lalu nggak diampuni jika dirinya memeluk islam lagi?

    Naudzubillaahi min dzalik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s