Tiada Jalan Menuju Keberuntungan Selain dengannya …

taubat

Tiada Jalan Menuju Keberuntungan Selain dengannya …

Sukainah binti Muhammad Nashir ad-Din al-Albani –semoga Allah menjaganya …

http://tamammennah.blogspot.com/2009/09/blog-post_06.html

 

نص الرسالة:
لا سبيل إلى الفلاح إلا بها
وكل مؤمن محتاج إليها
ما هي؟
النور: ٣١

 

Tiada jalan menuju keberuntungan selain dengannya,

dan setiap orang beriman membutuhkannya

Apakah gerangan itu?

(yaitu hal yang disebutkan dalam) surah an-Nur: 31

 

***

التوضيح:
الآية ٣١ من سورة النور:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Penjelasan:

Ayat ke-31 dari surah an-Nur …

Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

والدليل فيها للفائدة: خاتمتها.
قال العلامة السعدي -رحمه الله- في تفسيرها:
“ولَمّا أَمَرَ تعالى بهذه الأوامر الحسنة، ووصَّى بالوصايا المستحسنة، وكان لا بد مِن وقوع تقصيرٍ مِن المؤمن بذلك؛ أَمَرَ الله تعالى بالتوبة، فقال:
{وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ} لأن المؤمن يدعوه إيمانُه إلى التوبة، ثم علّق على ذلك الفلاح، فقال: لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. فلا سبيل إلى الفلاح إلا بالتوبة، وهي:
الرجوع مما يكرهه الله، ظاهرًا وباطنًا، إلى: ما يحبه ظاهرًا وباطنًا.
ودل هذا أن كل مؤمن محتاج إلى التوبة؛ لأن الله خاطب المؤمنين جميعًا.
وفيه الحث على الإخلاص بالتوبة في قوله: {وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ} أي: لا لمقصدٍ غير وجهه، مِن سلامةٍ مِن آفاتِ الدنيا، أو رياءٍ وسمعة، أو نحو ذلك مِن المقاصد الفاسدة”. ا.هـ “تيسير الكريم الرحمن” ص ٥٦٧

 

Petunjuknya pada bagian akhir dari ayat tersebut …

Berkata al-‘Allamah as-Sa’di –rahimahullah– di kitab tafsirnya:

Tatkala Allah ta’ala memerintahkan dan mewasiatkan perkara-perkara yang baik tersebut, tentunya di antara orang beriman ada yang terjatuh dalam kelalaian akan perkara-perkara tersebut, maka Allah ta’ala memerintahkan untuk bertaubat. Allah berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman,” lantaran seorang Mukmin itu keimanannya akan menyeru kepada taubat, kemudian Allah mengaitkan taubat itu dengan keberuntungan. Allah berfirman, “Supaya kamu beruntung,” maka tiada jalan menuju keberuntungan selain dengan taubat. Adapun yang dimaksud dengan taubat adalah kembali dari perkara yang dibenci Allah, baik lahir maupun batin, menuju perkara yang dicintai Allah, baik lahir maupun batin. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang beriman itu membutuhkan taubat, sebab –dalam hal ini- Allah menujukan pembicaraannya kepada semua orang beriman. Di dalam perintah tersebut terkandung pula anjuran untuk ikhlas dalam taubat, yaitu dalam perkataan Allah, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,” yaitu tidak meniatkan maksud kecuali wajah-Nya, seperti demi kesejahteraan dari kerugian duniawi, juga karena riya dan sum’ah, atau hal-hal semacam itu dari tujuan-tujuan yang rusak. –Taisir al-Karim ar-Rahman (567)

 

Bandung, 31 Oktober 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Katanya Ada Surat dari Ibn al-Mubarak …

IMG-20131029-00501

Berikut ini adalah sebuah riwayat yang sangat terkenal namun sanadnya sangatlah rapuh dan rusak. Riwayat ini menceritakan tentang surat berisi bait-bait syair dari Ibn al-Mubarak untuk al-Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahumallah

 

*

**

 

 

‘Abd al-Wahhab bin ‘Ali bin ‘Abd al-Kafi as-Subki berkata di kitab Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra (1/201):

 

أخبرنا أبو العباس الأشعري بقراءتي عليه، أخبرنا سليمان بن حمزة القاضي، والحسن بن علي بن ميمون النرسي الحافظ بالكوفة، أخبرنا أبو عبد الله محمد بن علي بن الحسن بن عبد الرحمن العلوي، أخبرنا أبو المفضل محمد بن عبد الله بن المطلب الشيباني قال: أملى علينا أبو محمد عبد الله بن سعيد بن يحيى الجزري القاضي بنصيبين، حفظا، في سنة سبع عشرة وثلاثمائة، قال: أملى عليَّ محمد بن إبراهيم بن أبي سكينة البهراني من كتابه بحلب سنة ست وثلاثين ومائتين، قال: أملى عليَّ عبد الله بن المبارك هذه الأبيات بطرسوس، وودعته بالخروج للحج، وأنفذها معي إلى الفضيل- يعني ابن عياض- وذلك سنة تسع وسبعين ومائة:

يا عابد الحرمين لو أبصرتنا ** لعلمت أنك في العبادة تلعبُ

من كان يخضب جيدَه بدموعه ** فنحورنا بدمائنا تتخضب

أو كان يُتْعِبُ خيله في باطل ** فخيولنا يوم الكريهة تتعبُ

ريح العبير لكم ونحن عبيرنا ** رهج السنابك والغبار الأطيب

ولقد أتانا عن مقال نبينا ** قول صحيح صادق لا يكذب

لا يستوي غبار خيل الله في ** أنف امرئ ودخان نار تلهب

هذا كتاب الله ينطق بَيننا ** ليس الشهيد بميت لا يكذب

 

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-‘Abbas al-Asy’ari dengan pembacaanku kepadanya, telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Hamzah al-Qadhi, juga al-Hasan bin ‘Ali bin Maimunan-Narsi al-Hafizh di Kufah, telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Ali bin al-Hasan bin ‘Abd ar-Rahman al-‘Alawi, telah mengabarkan kepada kami Abu al-Mufadhdhal Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Muththalib asy-Syaibani, dia berkata: Abu Muhammad ‘Abdullah bin Sa’id bin Yahya al-Jazari al-Qadhi telah mendiktekan kepada kami di Nashibin dari hafalannya pada tahun tiga ratus tujuh belas, dia berkata: Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sukainah al-Bahrani telah mendiktekan kepadaku dari kitabnya di Halab pada tahun dua ratus tiga puluh enam, dia berkata: ‘Abdullah bin al-Mubarak telah mendiktekan kepadaku bait-bait ini di Tharsus, lalu aku meninggalkannya untuk menunaikan ibadah haji dan membawa surat itu kepada al-Fudhail –yakni Ibn ‘Iyadh- pada tahun seratus tujuh puluh sembilan (yang isinya sebagai berikut):

 

Wahai ahli ibadah di dua tanah haram! Kalaulah kau melihat kami, niscaya kau mengetahui bahwa kau bermain-main dengan ibadahmu …

Seseorang mewarnai lehernya dengan air matanya, sementara kami mewarnai leher-leher kami dengan darah-darah kami …

Atau orang membuat lelah kudanya dalam kesia-siaan, sementara kuda-kuda kami berlelah-lelah di medan perang …

Semerbak aroma wewangian kalian, sementara wewangian kami adalah tanah-tanah yang dihentak kuku-kuku kuda kami beserta debu-debu yang mengepul …

Sungguh telah sampai kepada kami perkataan Nabi kami, ucapan yang benar lagi jujur tanpa kedustaan …

Tidaklah sama kepulan debu jihad di jalan Allah yang menempel pada hidung seseorang dengan asap neraka yang bergejolak …

Inilah kitab Allah yang berbicara di antara kita, bukanlah suatu kedustaan bahwa syuhada itu tidaklah mati …

 

*

**

 

Riwayat di atas sangat-sangat rapuh dan rusak sanadnya. Penyebab atas kerusakan sanad di atas adalah:

 

(Pertama) Abu al-Mufadhdhal Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Muththalib asy-Syaibani.

Dia dikatakan oleh Imam al-Azhari:

 

كان أبو المفضل دجالاً كذابًا

“Abu al-Mufadhdhal seorang dajjal pendusta.” (Tarikh Baghdad -5/466)

 

Dikatakan oleh Ahmad bin Muhammad al-’Atiqi:

 

وكان كثير التخليط

 

“Banyak takhlith (campur aduk).”Tarikh Baghdad (5/466)

 

Ibn Hajar menetapkan ucapan al-Azhari dan al-‘Atiqi, juga ucapan ad-Daruquthni yang menganggapnya dusta. Kemudian Ibn Hajar menukilkan ucapan Hamzah bin Muhammad bin Thahir yang mengatakan:

 

كان يضع الحديث

“Dia memalsukan hadits.”Lisan al-Mizan (5/261)

 

Ibn ‘Iraq mengatakan:

 

دجال يضع الحديث

“Dajjal, memalsukan hadits.”Tanzih asy-Syari’ah (1/108)

 

(Kedua) Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sukainah atau –terkadang- dinamai Ahmad bin Ibrahim bin Abu Sukainah.

Dia dikatakan oleh Abu Hatim:

 

أحاديثه باطلة تدل على كذبه

 

“Hadits-haditsnya batil, menunjukkan atas kedustaannya.”Lisan al-Mizan (1/131/405)

 

 

Di kitab Jarh wa at-Ta’dil, Ibn Abi Hatim berkata:

 

سألت أبي عنه وعرضت عليه حديثه فقال: لا أعرفه وأحاديثه باطلة موضوعة كلها ليس لها أصول يدل حديثه على أنه كذاب

 

Aku bertanya kepada ayahku tentangnya seraya memperlihatkan haditsnya, lalu ayahku berkata, “Aku tak mengetahuinya, hadits-haditsnya batil dan palsu semua, tidak ada asalnya sehingga menunjukkan bahwa dia dusta.”Jarh wa at-Ta’dil (2/40)

 

*

**

 

Bahan bacaan:

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=95420

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=18379

 

Bandung, 29 Oktober 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Manzilah Puisi Manzilah Kata-Kata …

puisi

Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– bersyair:

 

كل امرئ مصبَّح في أهله *** والموت أدنى من شراك نعله –صحيح البخاري

 

Setiap orang bersambut ucap pagi di tengah keluarganya

Sementara kematian lebih dekat daripada tali sandalnya

(HR. al-Bukhari)

 

Bilal –radhiyallahu ‘anhu– bersyair:

 

ألا ليت شعري هل أبيتنّ ليلة *** بواد وحولي إذخر وجليل

وهل أردن يوما مياه مجنّة *** وهل يبدون لي شامة وطفيل –صحيح البخاري

 

Aduhai diri,

adakah mungkin kubersamai lagi malam

di lembah (Mekah) dengan idzkhir dan jalil di sekelilingku

Adakah mungkin kutemui lagi gemercik air Mijannah

Menampak lagi bukit Syamah dan Thufail yang menjulang

(HR. al-Bukhari)

 

Ibn al-Qayyim bersyair:

 

لسنا نشبه ربنا بصفاتنا *** إن المشبه عابد الأوثان

كلا ولا نخْليه من أوصافه *** إن المعطل عابد البهتان

 Tidaklah kami menyerupakan Rabb kami dengan sifat-sifat kami,
sungguh
Musyabbih itu hamba berhala …
Tidak sama sekali! Tidaklah kami meniadakan sifat-sifat-Nya,
sungguh Mu’aththil itu hamba kebohongan …

 

*

**

Manzilah puisi itu tiada beda dengan manzilah ucapan dan perkataan. Seseorang harus berhati-hati menuangkannya sebagaimana dia berhati-hati dalam berucap dan berkata-kata. Betapa banyak orang mencela waktu dengan puisi, bahkan menyerupakan Rabb semesta dengan makhluk seraya memerikan sifat yang tak layak bagi-Nya …

Al-Imam al-Bukhari –rahimahullah– berkata di kitab al-Adab al-Mufrad:

 

حدثنا محمد بن سلام  قال: حدثنا إسماعيل بن عياش، عن عبد الرحمن بن زياد بن أنعم، عن عبد الرحمن بن رافع، عن عبد الله بن عمرو،  قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الشعر بمنزلة الكلام، حسنه كحسن الكلام، وقبيحه كقبيح الكلام

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyas, dari ‘Abd ar-Rahman bin Ziyad bin An’am, dari ‘Abd ar-Rahman bin Rafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

“Puisi itu serupa halnya dengan perkataan; puisi yang baik seumpama perkataan yang baik, puisi yang buruk laksana perkataan yang buruk.”

Berkaitan dengan hadits di atas, Syaikh Muhammad Nashir ad-Din al-Albani berkata di kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (447):

 

أخرجه البخاري في الأدب المفرد (١٢٥)، والدارقطني (٤٩٠) عن إسماعيل بن عياش، عن عبد الرحمن بن زياد بن أنعم، عن عبد الرحمن بن رافع، عن عبد الله بن عمرو مرفعاً.

 

Dikeluarkan oleh al-Bukhari di kitab al-Adab al-Mufrad (125), juga oleh ad-Daraquthni (490) dari Isma’il bin ‘Ayyas, dari ‘Abd ar-Rahman bin Ziyad bin An’am, dari ‘Abd ar-Rahman bin Rafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Amr secara marfu’.

 

قلت: وهذا إسناد مسلسل بالضعفاء، وهم إسماعيل بن عياش ومن فوقه، ولذلك جزم الحافظ بضعفه، فقال في الفتح (١٠/٤٤٣) بعد ما عزاه لـ(الأدب المفرد): سنده ضعيف، وأخرجه الطبراني في الأوسط، وقال: لا يروى عن النبي صلى الله عليه وسلم إلا بهذا الإسناد

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, sanad ini berantaikan para perawi dha’if, mereka adalah Isma’il bin ‘Ayyas dan para perawi di atasnya. Oleh sebab itu al-Hafizh telah menetapkan kelemahannya. Al-Hafizh berkata di kitab al-Fath (10/443) setelah menisbatkannya ke kitab al-Adab al-Mufrad, “Sanadnya lemah, dikeluarkan pula oleh ath-Thabarani di kitab al-Ausath, dan dia mengatakan: tidak diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kecuali dengan sanad ini saja.”

 

وأما قول الهيثمي (٨/١٢٢) بعد ما عزاه لـ(الأوسط): وإسناده حسن؛ فليس بحسن. نعم؛ له شواهد يصل بها إلى رتبة الحسن. منها عن عائشة قالت: (سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الشعر؟ فقال: هو كلام؛ فحسنه حسن، وقبيحه قبيح). قال الهيثمي: (رواه أبو يعلى، وفيه عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان، وثّقه دحيم وجماعة، وضعّفه ابن معين وغيره، وبقيّة رجاله رجال الصحيح).

قلت: إذا لم يكن له علة غير ابن ثوبان هذا؛ فهو حسن الإسناد؛ لأن ابن ثوبان صدوق يخطىء كما في التقريب.

 

Adapun ucapan al-Haitsami (8/122) setelah menisbatkannya ke kitab al-Ausath, “Sanadnya hasan,” maka sebetulnya tidaklah hasan. Benar, hadits tersebut memang memiliki syawahid yang menyampaikannya ke martabat hasan, di antaranya dari ‘Aisyah yang mengatakan:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ditanya perihal puisi, lalu beliau menjawab, “Puisi itu kata-kata, maka puisi yang baik terbilang baik, puisi yang buruk terbilang buruk.”

Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, di dalam sanadnya ada ‘Abd ar-Rahman bin Tsabit bin Tsauban yang dianggap tsiqah oleh Duhaim dan Jama’ah, namun dilemahkan oleh Ibn Ma’in dan selainnya. Sementara para perawi lainnya merupakan para perawi ash-Shahih.”

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, jika tidak ada cacat lain bagi hadits ini selain Ibn Tsauban, maka hadits tersebut hasan sanadnya karena Ibn Tsauban itu perawi jujur yang suka keliru sebagaimana (disebutkan) di kitab at-Taqrib.

 

وقد رواه البخاري في الأدب (١٢٥) موقوفاً عليها: ثنا سعيد بن تليد قال: ثنا ابن وهب قال: ثني جابر بن إسماعيل وغيره عن عقيل عن ابن شهاب عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: الشعر منه حسن، ومنه قبيح؛ فخذ بالحسن ودع القبيح، ولقد رويت من شعر كعب بن مالك أشعاراً، منها القصيدة فيها أربعون بيتاً، ودون ذلك.

قال الحافظ: وسنده حسن. وأخرج أبو يعلى أوله من حديثها من وجه آخر مرفوعا

 

Imam al-Bukhari telah meriwayatkannya di kitab al-Adab (125) secara mauquf kepada ‘Aisyah: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Talid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibn Wahb, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Jabir bin Isma’il dan selainnya dari ‘Aqil dari Ibn Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– bahwasanya dia mengatakan:

Puisi itu ada yang baik dan ada pula yang buruk, maka ambillah yang baik dan tinggalkanlah yang buruk. Sungguh aku telah meriwayatkan beberapa puisi dari syair-syair Ka’ab bin Malik, di antaranya terdapat qashidah yang terdiri dari empat puluh bait, juga yang selain itu.”

Al-Hafizh mengatakan, “Sanadnya hasan, dan Abu Ya’la mengeluarkan bagian awalnya dari hadits ‘Aisyah melalui jalur yang lain secara marfu’.”

 

قلت: ورجال البخاري ثقات رجال الصحيح البخاري؛ غير جابر بن إسماعيل؛ فمن رجال مسلم؛ غير أنه تفرّد عنه ابن وهب، ووثقه ابن حبان كما في الخلاصة، وقد تابعه غيره كما صرح به ابن وهب، وإن كنا نجهله؛ فالإسناد حسن كما قال الحافظ إن شاء الله تعالى.

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, para perawi al-Bukhari tsiqah, yaitu para perawi ash-Shahih al-Bukhari kecuali Jabir bin Isma’il yang merupakan perawi Muslim -hanya saja Ibn Wahb menyendiri dalam meriwayatkannya dari Jabir bin Isma’il. Ibn Hibban menganggapnya tsiqah sebagaimana terdapat di kitab al-Khulashah. Jabir bin Isma’il diikuti oleh selainnya sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Wahb meskipun kami tidak mengetahuinya. Maka sanad hadits tersebut hasan sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh, insya Allah.

 

ثمّ وقفت على إسناد أبي يعلى والحمد لله، فوجدته حسناً؛ قال في مسنده (٨/٢٠٠/٤٧٦٠): حدثنا عباد بن موسى الختّلى: نا عبد الرحمن بن ثابت عن هشام عن أبيه عنها.

وهذا إسناد حسن، رجاله ثقات رجال الشيخين؛ غير عبد الرحمن بن ثابت، وهو ابن ثوبان العنسى الدمشقي، وقد عرفت حاله من كلام الحافظ المتقدم، وقد حسّن له الترمذي.

فالحديث بمجموع الطريقين صحيح. والله أعلم.

 

Kemudian kuketahui sanad hadits Abu Ya’la, walhamdulillah, lalu kudapati bahwa sanadnya hasan. Abu Ya’la berkata di kitab Musnad-nya (8/200/4760): telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Musa al-Khuttali, telah mengabarkan kepada kami ‘Abd ar-Rahman bin Tsabit, dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah.

Sanad hadits ini hasan, para perawinya tsiqah, yaitu para perawi asy-Syaikhain kecuali ‘Abd ar-Rahman bin Tsabit, dia adalah Ibn Tsauban al-‘Ansi ad-Dimasyqi. Aku mengetahui perihalnya dari ucapan al-Hafizh yang terdahulu, dan dia dihasankan oleh at-Tirmidzi.

Dengan demikian, hadits ini sahih dengan gabungan kedua jalannya. Wallahu a’lamu …

 

Bandung, 9 Oktober 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–