Hari Kemarin Menyajikan Contoh …

contoh

Katamu, hari kemarin menyajikan contoh untuk kaubaca pada hari ini. Renungkan lagi kehadiranmu di majelis ilmu; juga mujalasah-mu di depan guru-gurumu. Betapa banyak orang berbangga dengan perbincangan bersama guru tanpa sedikit pun mendulang faidah darinya lantaran tenggelam dalam hasut untuk menyauk marah dan amarah … -kau lihatlah, mereka teperdaya bisikan hati lantas melemparkan para guru ke kancah fitnah-fitnah …

وقال حاتم بن أحمد بن محمود سمعت مسلم بن الحجاج، يقول: لما قدم مُحَمَّد بن إسماعيل نيسابور، ما رأيت واليا ولا عالما فعل به أهل نيسابور ما فعلوا بمُحَمَّد بن إسماعيل، استقبلوه مرحلتين من البلد أو ثلاث – هدي الساري …

Hatim bin Ahmad bin Mahmud berkata, aku mendengar Muslim bin al-Hajjaj berkata, “Tatkala Muhammad bin Isma’il datang ke negeri Naisabur, tak pernah kulihat penguasa dan ulama negeri Naisabur melakukan hal yang mereka lakukan terhadap Muhammad bin Isma’il. Mereka menyambut kedatangannya sejauh jarak dua marhalah atau tiga marhalah dari batas negeri Naisabur.”Hadyu as-Sari

وقال محمد بن يحيى الذهلي في مجلسه: من أراد أن يستقبل محمد بن إسماعيل غدا فليستقبله، فإني أستقبله، فاستقبله محمد بن يحيى، وعامة علماء نيسابور، فدخل البلد – هدي الساري …

Berkatalah Muhammad bin Yahya adz-Dzahli di majelisnya, “Siapa yang ingin menyambut Muhammad bin Isma’il esok pagi, datanglah untuk menyambutnya. Sungguh aku pun akan ikut menyambutnya.” Maka Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli pun menyambut al-Bukhari bersama para ulama negeri Naisabur (hingga) al-Bukhari masuk ke negeri Naisabur … –Hadyu as-Sari

Adz-Dzahli, imam negeri timur, ahli hadits negeri Naisabur- itu juga berkata kepada penduduk Naisabur:

اذهبوا إلى هذا الرجل الصالح العالم ، فاسمعوا منه -هدي الساري …

“Pergilah kepada lelaki shalih berilmu itu, simaklah riwayat darinya!” Hadyu as-Sari

Beliau juga berpesan:

لا تسألوه عن شيء من الكلام، فإنه إن أجاب بخلاف ما نحن عليه وقع بيننا وبينه، وشمت بنا كل ناصبي ورافضي، وكل جهمي ومرجئ بخراسان -هدي الساري …

“Janganlah kalian bertanya kepadanya tentang perkara al-Quran karena sungguh jika jawabannya berlainan dengan pendapat kami, niscaya akan terjadi suatu perselisihan di antara kami dan dirinya, dan itu akan membuat para nashibi dan rafidhah bergembira, juga kaum jahmiyah dan murji-ah di Khurasan.”Hadyu as-Sari

Akan tetapi fitnah tak mau diam sebelum menunjukkan taringnya di antara gigi para penghasut …

فلما كان اليوم الثاني أو الثالث من قدومه، قام إليه رجل، فسأله عن اللفظ بالقرآن … يا أبا عبد الله ما تقول في اللفظ بالقرآن، مخلوق هو أو غير مخلوق؟ فأعرض عنه البخاري، ولم يجبه ثلاثا، فالتفت إليه البخاري في الثالثة، فقال: القرآن كلام الله غير مخلوق، وأفعال العباد مخلوقة، والامتحان بدعة، فشغب الرجل، وشغب الناس -هدي الساري …

Pada hari kedua atau ketiga dari kedatangan al-Bukhari, berdirilah seorang lelaki (di majelis) al-Bukhari untuk bertanya tentang lafazh al-Quran …, “Wahai Abu ‘Abdullah, apa ucapanmu tentang lafazh al-Quran? Makhlukkah itu ataukah bukan makhluk?” Imam al-Bukhari pun berpaling dari orang itu dan tidak memberi jawaban sampai ditanya tiga kali. Pada kali ketiga, al-Bukhari pun berpaling kepada orang itu lalu mengatakan, “Al-Quran itu kalam Allah bukan makhluk, sedangkan perbuatan hamba adalah makhluk dan pertanyaan untuk menguji seperti ini adalah bid’ah.”  Maka orang itu dan yang lainnya pun terkacaukan oleh hasutan … –Hadyu as-Sari

Orang-orang yang hadir di majelis al-Bukhari pun menafsirkan hal yang berbeda-beda tentang ucapan al-Bukhari. Sebagian di antara mereka menganggap bahwa al-Bukhari mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. Hal itu sampai kepada Imam adz-Dzahli –rahimahullah– sehingga beliau pun berkata:

القرآن كلام الله غير مخلوق ومن زعم لفظي بالقرآن مخلوق فهو مبتدع ولا يجالس ولا يكلم ومن ذهب بعد هذا إلى محمد بن إسماعيل فاتهموه فإنه لا يحضر مجلسه إلا من كان على مذهبه -هدي الساري …

“Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Siapa yang beranggapan bahwa al-Quran adalah makhluk, maka dia ahli bid’ah yang tak boleh bermujalasah dan berbicara dengannya. Siapa yang pergi ke majelis Muhammad bin Isma’il setelah ini, maka curigailah dia karena tidaklah bermajelis dengannya kecuali orang yang berpendapat sama dengannya.” Hadyu as-Sari

Maka fitnah pun semakin merebak, orang-orang berpaling dari majelis Imam al-Bukhari. Tak ada lagi yang hadir selain Imam Muslim -pemilik kitab Shahih– dan Ahmad bin Salamah …

فأخذ مسلم رداءه فوق عمامته وقام على رؤوس الناس فبعث إلى الذهلي جميع ما كان كتبه عنه على ظهر جمال -هدي الساري …

“Imam Muslim pun mengambil selendangnya lalu meletakkannya di atas penutup kepalanya. Dia berdiri dan berjalan melewati kepala orang-orang untuk menyerahkan kepada Imam adz-Dzuhli semua riwayat yang telah dicatatnya (dari adz-Dzuhli) di atas punggung unta.”Hadyu as-Sari

أحمد بن سلمة النيسابوري يقول دخلت على البخاري فقلت يا أبا عبد الله إن هذا رجل مقبول بخراسان خصوصا في هذه المدينة وقد لج في هذا الأمر حتى لا يقدر أحد منا أن يكلمه فيه فما ترى قال فقبض على لحيته ثم قال وأفوض أمري إلى الله إن الله بصير بالعباد اللهم إنك تعلم أني لم أرد المقام بنيسابور أشرا ولا بطرا ولا طلبا للرياسة … ثم قال لي يا أحمد أني خارج غدا لتخلصوا من حديثه لأجلي -هدي الساري …

Ahmad bin Salamah an-Naisaburi berkata: Aku mendatangi Imam al-Bukhari lalu kukatakan kepadanya, “Wahai Abu ‘Abdullah, sesungguhnya orang itu (Imam adz-Dzuhli) sangat diterima di Khurasan, khususnya di negeri Naisabur ini. Dia berkeras hati dalam perkara ini sehingga tak ada seorang pun dari kami yang bisa mengajaknya berbicara mengenai masalah ini. Bagaimana pendapatmu?” Imam al-Bukhari pun menggenggam janggutnya lalu (membaca surah al-Mukmin ayat 44), Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” Beliau juga berdoa, “Allahumma, sesungguhnya Kau tahu bahwa aku tidaklah mencari kedudukan di negeri Naisabur untuk kesenangan dan kesombongan, tidak pula aku mencari kepemimpinan.”  Kemudian beliau berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, esok aku kan pergi  meninggalkan Naisabur untuk membebaskan penduduknya dari fitnah yang terjadi berkaitan denganku.” Hadyu as-Sari

Imam al-Bukhari juga mengatakan kepada Abu ‘Amr:

يا أبا عمرو احفظ عنى من زعم من أهل نيسابور وسمى غيرها من البلدان بلادا كثيرة أننى قلت لفظى بالقرآن مخلوق فهو كذاب فإني لم أقله إلا أني قلت أفعال العباد مخلوقة -هدي الساري …

“Wahai Abu Amr, hafalkanlah perkataanku! Siapa pun di antara penduduk negeri Naisabur dan negeri-negeri lain yang mengatakan bahwa aku menyatakan al-Quran yang kulafazhkan adalah makhluk, maka dia adalah pendusta. Sungguh aku tidak mengatakan hal itu melainkan aku mengatakan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk.” Hadyu as-Sari

Belajarlah, katamu … dan berpalinglah dari segala hasut. Jadikan ilmu sebagai sutrah di antaramu dengan fitnah-fitnah …

Bandung, 27 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Al-Muttafiq wa al-Muftariq …

 muttafiq

محمود بن محمد حمدان

http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=50966

 

الحمدُ لله، والصَّلاةُ والسَّلام على عبدهِ ومولاه، وعلى مَن تبع هداه إلى يوم لِقاه؛ أمَّا بعدُ:
لا غرو أنَّ العلم شَاعَ في زمانِ الرِّواية وكثُر حملته؛ رافق ذلك تشابهُ بعض أسماء الرُّواة مع غيرهم ممّن يحملُ نفس الاسم! مع اختلافِ الدرجة؛ فكان له أبلغ الأثر في تَباينِ أحكام العُلماء في الحُكم على الأسانيد ورجالها!

 

فألَّف العُلماء في ذلك وَزَبَرُوا، فكان: المُتَّفِقُ والمُفْتَرِق لحافظ المَشرق، الخطيب البَغدادي –رحمه الله-، وغيرهِ من المُصنَّفات في ذا الباب.

ومِن الرُّواة مَن اتفق اسمه واسم والده ونسبه مع آخر، ومنهم مَن اتفق في اسمه ونسبه، وغيرِ ذلك!

وقد وقعَ لبعض مُعاصرينا شيءٌ من هذا؛ فالتبسَ على بعض طلبة العلم أسماؤهم؛ لتشابهها واتفاقها؛ ولمّا التبسَ عليَّ بعض أسمائهم؛ دوَّنتُ ما وقفتُ عليه من ذلك؛ رجاء البيان والتَّبيُّن:

 

Tak heran bahwa ilmu tersiar luas pada zaman periwayatan disertai dengan banyaknya para pembawa riwayat itu. Bersamaan dengan itu, terdapat pula kemiripan sebagian nama pembawa riwayat dengan periwayat lain yang menyandang nama yang sama padahal derajatnya berbeda, dan hal itu menyampaikan ulama kepada penghukuman yang berbeda terhadap sanad dan periwayat-periwayatnya. Lantas ulama pun menulis dan menyusun perkara yang berkaitan dengan hal tersebut seperti al-Hafizh negeri timur, al-Khathib al-Baghdadi –rahimahullah– yang menyusun kitab al-Muttafiq wa al-Muftariq, juga ulama selainnya berupa karangan-karangan dalam permasalahan tersebut. Di antara para pembawa riwayat terdapat orang-orang yang memiliki nama diri, nama ayah, dan nasab yang sama dengan orang lainnya sesama pembawa riwayat, di antara mereka juga ada yang sama dalam nama diri, nasab, dan selainnya.

Perkara kesamaan nama tersebut terdapat pula pada sebagian ulama pada masa kita ini sehingga hal itu membuat bingung sebagian penuntut ilmu lantaran kemiripan dan kesamaan nama-nama mereka itu. Tatkala saya pun dibuat bingung dengan kesamaan dan kemiripan nama para ulama di zaman ini, maka kutuliskanlah apa yang kutemukan dalam hal kesamaan dan kemiripan nama mereka itu sebagai berikut –seraya mengharap penjelasan dan kejelasan:

 

 ١. العلامة الأديب، شيخ العربية الأستاذ محمود (بن محمَّد) شاكر –رحمه الله-، بخلاف المُؤرِّخ السُّوريّ محمود (بن شاكر( شاكر –حفظه الله- .

٢. فضيلة الشيخ المُحدِّث حمَّاد بن محمَّد الأنصاري –رحمه الله-، وفضيلة الشيخ إسماعيل بن محمَّد الأنصاري –رحمه الله- ؛ ليسا أخوين!

٣. العلامة المُفسِّر الشيخ محمد الأمين بن محمد المختار الجكني الشنقيطي –صاحب أضواء البيان –رحمه الله-، بخلاف الشيخ الفقيه الدكتور محمد بن محمد المختار الجكني الشنقيطي -حفظه الله- المدرس بالمسجد النبوي وعضو هيئة كبار العلماء-، ووالده -رحمه الله- هو الشيخ محمد المختار الجكني الشنقيطي -المدرس بالمسجد النبوي، وشارح سنن النسائي-. أمَّا فضيلة الشيخ عبدالله بن محمد الأمين الشنقيطي -مدرس التفسير بالمسجد النبوي –حفظه الله-، والشيخ الأُصولي محمد المختار بن محمد الأمين الشنقيطي –حفظه الله- هما أبناء الشيخ محمد الأمين (صاحب أضواء البيان)

٤. الشيخ صالح بن عبدالعزيز آل الشَّيخ –أحد مشايخ الإمام ابن باز-، بخلاف فضيلة الشيخ صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ –الوزير الحالي، صاحب الشُّروح العلمية الماتعة-!

٥. الشيخ عبدالعزيز آل الشيخ –والد الشيخ صالح-، بخلاف المُفتي الحالي فضيلة الشيخ عبدالعزيز آل الشيخ –وقدْ اختلطَ على البعضِ أنَّه والده-!! .

٦. فضيلة الشيَّخ العلامة صالح بن فوزان الفوزان –العالم المعروف- حفظه الله-، والشيخ الدكتور عبدالعزيز بن فوزان الفوزان –حفظه الله- ليسا أخوين! .

٧. فضيلة الشيخ عبدالعزيز بن (عبدالله) الرَّاجحي –العالم المعروف، شارح البُخاري-، بخلاف الشيخ عبدالعزيز بن (فيصل) الراجحي –صاحب كتاب: قمع الدجاجلة-.

٨. فضيلة الشيخ عبدالرحمن بن (عبدالعزيز) السديس –إمام الحرم المكي، ورئيس شؤون الحرمين-، بخلاف الشيخ عبدالرحمن بن (صالح) السديس –تلميذ العلامة عبدالرحمن البراك- وأحد المُعتنين بكتبه= (شرح التدمرية)، ومتون الإمام ابن عبدالوهاب .

۹. الشيخ الدكتور عبد العزيز بن محمد بن العبد اللطيف–رحمه الله-، -صاحب الكتاب الشَّهير: ضوابط الجرح والتعديل-، بخلاف الشيخ الدكتور عبد العزيز بن محمد آل عبد اللطيف –صاحب كتاب نواقض الإيمان!- .

١٠. فضيلة الشيخ د. عبدالله بن صالح العُبيد –وزير التربية والتعليم ، نائب مدير الجامعة الإسلامية سابقًا-، بخلاف فضيلة الشيخ د. عبدالله بن صالح العُبيد –المقرئ، والمُسند في علم الحديث- .

١١. فضيلة الشيخ الدكتور عبدالله بن (عبدالرحمن) الجبرين –العالم المعروف-، بخلاف فضيلة الشيخ الدكتور عبدالله بن (عبدالعزيز) الجبرين–الأستاذ بجامعة الإمام، وصاحب كتاب: تسهيل العقيدة- .

١٢. فضيلة الشيخ المُتفنن صالح بن (عبدالله) العُصيمي، بخلاف فضيلة الشيخ الدكتور صالح بن (مقبل) العُصيمي

١٣. الشيخ محمد علي الحلبي الأثري –مُحقق كتاب: عقد الجيد في أحكام الاجتهاد والتقليد-، بخلاف فضيلة الشيخ علي الحلبي الأثري –تلميذ الإمام الألباني، والعالم والمحقق المعروف- وليس ابنًا له!.

١٤. فضيلة الشيخ الدكتور سعيد بن علي القحطاني –مؤلف حصن المُسلم، والكتب النافعة الشهيرة-، بخلاف الشيخ الدكتور محمد سعيد القحطاني –مؤلف الولاء والبراء-، بخلاف الشيخ سعيد بن محمد القحطاني –مُختَصِر معارج القَبول- .

والحمدُ للِّهِ ربِّ العالمين .

 

(1) Sastrawan ‘alim, Syaikh Mahmud (bin Muhammad) Syakir –rahimahullah, dan beliau berbeda dengan ahli sejarah negeri Suriah, Mahmud (bin Syakir) Syakir –hafizhahullah.

(2) Syaikh ahli hadits Hammad bin Muhammad al-Anshari –rahimahullah– yang berbeda dengan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari –rahimahullah. Mereka berdua bukanlah saudara.

(3) ‘Alim ahli tafsir, Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi, penulis kitab Adhwa’ al-Bayan rahimahullah– yang berbeda dengan Syaikh al-Faqih Doktor Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi –hafizhahullah, yang merupakan pengajar di masjid an-Nabawi sekaligus anggota dari Hai-ah Kibar al-‘Ulama’, putra dari Syaikh Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi –rahimahullah, yang juga pengajar di masjid an-Nabawi dan penyusun Syarah Sunan an-Nasa-i. Adapun Syaikh ‘Abdullah bin Mukhtar al-Amin asy-Syinqithi –hafizhahullah, pengajar tafsir di masjid an-Nabawi, juga Syaikh Muhammad al-Mukhtar bin Muhammad al-Amin asy-Syinqithi –hafizhahullah, mereka berdua adalah putra dari Syaikh Muhammad al-Amin, pengarang kitab Adhwa’ al-Bayan.

(4) Syaikh Shalih bin ‘Abd al-‘Aziz Alu asy-Syaikh, salah seorang guru dari Imam Ibn Baz, berbeda dengan Syaikh Shalih bin ‘Abd al-‘Aziz Alu asy-Syaikh yang sekarang menjabat sebagai menteri sekaligus penyusun asy-Syuruh al-‘Ilmiyah al-Mati’ah.

(5) Syaikh ‘Abd al-‘Aziz Alu asy-Syaikh, ayah dari Syaikh Shalih, dan beliau berbeda dengan Mufti saat ini, Syaikh ‘Abd al-‘Aziz Alu asy-Syaikh –sebagian orang menyangka bahwa Syaikh ‘Abd al-‘Aziz Alu asy-Syaikh inilah yang merupakan ayah dari Syaikh Shalih.

(6) Syaikh al-‘Alim Shalih bin Fauzan al-Fauzan, ahli ilmu yang makruf –hafizhahullah, berbeda dengan Syaikh Doktor ‘Abd al-‘Aziz bin Fauzan al-Fauzan –hafizhahullah. Mereka berdua bukanlah saudara.

(7) Syaikh ‘Abd al-‘Aziz (bin ‘Abdullah) ar-Rajihi, ahli ilmu yang makruf, penyusun Syarah al-Bukhari. Beliau berbeda dengan Syaikh ‘Abd al-‘Aziz (bin Faishal) ar-Rajihi, penyusun kitab Qam’u ad-Dajjajalah.

(8) Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin (‘Abd al-‘Aziz) as-Sudais, Imam masjid al-Haram Mekah dan kepala urusan-urusan dua tanah haram yang berbeda dengan Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin (Shalih) as-Sudais, salah seorang murid dari Syaikh ‘alim ‘Abd ar-Rahman al-Barrak dan salah seorang yang mencurahkan perhatian terhadap kitab-kitab beliau Syarah at-Tadmuriyah dan matan-matan al-Imam ‘Abd al-Wahhab.

(9) Syaikh Doktor ‘Abd al-‘Aziz bin Muhammad bin al-‘Abd al-Lathif –rahimahullah, penulis kitab terkenal Dhawabith al-Jarh wa at-Ta’dil, dan beliau berbeda dengan Doktor ‘Abd al-‘Aziz bin Muhammad Alu ‘Abd al-Lathif, penyusun kitab Nawaqidh al-Iman.

(10) Syaikh Doktor ‘Abdullah bin Shalih al-‘Ubaid, Menteri Pendidikan, mantan wakil pimpinan Universitas Islam. Beliau berbeda dengan Syaikh Doktor ‘Abdullah bin Shalih al-‘Ubaid, ahli qiraah dan al-musnid dalam ilmu hadits.

(11) Syaikh Doktor ‘Abdullah bin (‘Abd ar-Rahman) al-Jibrin, seorang ahli ilmu yang makruf. Beliau berbeda dengan Syaikh Doktor ‘Abdullah bin (‘Abd al-‘Aziz) al-Jibrin yang merupakan ustadz di Universitas al-Imam juga penyusun kitab Tas-hil ‘Aqidah.

(12) Syaikh al-Mutafannin Shalih bin (‘Abdullah) al-‘Ushaimi. Beliau berbeda dengan Syaikh Doktor Shalih bin (Muqbil) al-‘Ushaimi.

(13) Syaikh Muhammad ‘Ali al-Halabi al-Atsari, pen-tahqiq kitab ‘Aqd al-Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid. Beliau berbeda dengan Syaikh ‘Ali al-Halabi al-Atsari, seorang ‘Alim dan Muhaqqiq yang makruf, salah seorang murid dari Imam al-Albani. Syaikh Muhammad ‘Ali al-Halabi al-Atsari bukanlah putra dari Syaikh ‘Ali al-Halabi al-Atsari.

(14) Syaikh Doktor Sa’id bin ‘ali al-Qahthani, penulis Hishn al-Muslim dan kitab-kitab terkenal lain yang bermanfaat. Beliau berbeda dengan Syaikh Doktor Muhammad Sa’id al-Qahthani, penulis kitab al-Wala’ wa al-Bara’. Juga berbeda dengan Syaikh Sa’id bin Muhammad al-Qahthani, peringkas kitab Ma’arij al-Qabul.

Walhamdulillah …

 

*

**

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah– menambahkan:

 

الشيخ عبد القادر الأرنؤوط-رحمه الله-ليس شقيق الشيخ شعيب الأرنؤوط-وفقه الله-

 

Syaikh ‘Abd al_Qadir al-Arna-uth –rahimahullah– bukanlah saudara dari Syaikh Syu’aib al-Arna-uth –semoga Allah memberinya hidayah taufiq …

 

Bandung, 23 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Sekeping Emas di Sahara …

keping

Berikut ini sebuah kisah batil yang bertutur tentang kedermawanan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu- di tengah keprihatian hidup yang dialaminya. Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan yang terdapat pada sanadnya …

 

*

**

 

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah

http://alheweny.org/aws/play.php?catsmktba=10026

 

(Ibn Syahin berkata di kitab Fadha-il Fathimahradhiyallahu ‘anha):

 

حدثنا أحمد بن محمد بن محمد بن سليمان بن الحارث الباغندي، ثنا محمد بن خلف الحدادي، ثنا حسين بن حسن الأشقر، ثنا قيس بن الربيع، عن أبي هارون، عن أبي سعيد؛ وعن عمرو بن قيس، عن عطية، عن أبي سعيد بنحوه والسياق لأبي هارون قال:

 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman bin al-Harits al-Baghindi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf al-Haddadi, telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan al-Asyqar, telah menceritakan kepada kami Qais bin ar-Rabi’, dari Abu Harun, dari Abu Sa’id (al-Khudri); juga dari ‘Amr bin Qais, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id (al-Khudri) seperti itu, sementara redaksi milik Abu Harun, dia berkata:

 

أصبح علي رضي الله عنه ذات يوم فقال: يا فاطمة هل عندك شيء تغدينيه؟ قالت: لا والذي أكرم أبي بالنبوة ما عندي شيء أغديكه ولا كان لنا بعدك شيء منذ يومين من طعمة إلا شيء أوثرك به على بطني وعلى ابني هذين قال: يا فاطمة ألا أعلمتني حتى أبغيكم شيئا؟ قالت: إنى أستحيي من الله أن أكلفك ما لا تقدر عليه. فخرج من عندها واثقا بالله وحسن الظن به واستقرض دينارا فبينا الدينار بيده أراد أن يبتاع لهم ما يصلح لهم إذ عرض له المقداد في يوم شديد الحر قد لوحته الشمس من فوقه وآذته من تحته فلما رآه أنكره قال: يا مقداد ما الذي أزعجك من رحلك هذه الساعة ؟ قال: يا أبا حسن خل سبيلي ولا تسألني عما ورائي فقال: يا ابن أخي إنه لا يحل لك أن تكتمني حالك. قال: أما إذ أبيت فوالذي أكرم محمدا بالنبوة ما أزعجني من رحلي إلا الجهد ولقد تركت أهلي يبكون جوعا فلما سمعت بكاء العيال لم تحملني الأرض فخرجت مغموما راكبا رأسي فهذه حالي وقصتي فهملت عينا علي رضي الله عنه بالبكاء حتى بلت دموعه لحيته قال: أحلف بالذي حلفت ما أزعجني غير الذي أزعجك ولقد اقترضت دينارا فهاك آثرتك به على نفسي فدفع إليه الدينار ورجع حتى دخل مسجد النبي صلى الله عليه وسلم فصلى فيه الظهر والعصر والمغرب فلما قضى النبي صلاة المغرب مر بعلي عليه السلام في الصف الأول فغمزه برجله فثار علي خلف النبي صلى الله عليه وسلم حتى لحقه عند باب المسجد فسلم عليه فرد السلام فقال: « يا أبا الحسن هل عندك شيء تعشينا فأنفتل إلى الرجل؟» فأطرق علي رضي الله عنه لا يحير جوابا حياء من النبي صلى الله عليه وسلم وقد عرف الحال التي خرج عليها فلما نظر إلى سكون علي قال: «يا أبا الحسن ما لك ؟ أو لا . . عنك أو تقول : نعم فأجيء معك؟». فقال له: حبا وكرامة بلى اذهب بنا وكان الله تعالى قد أوحى إلى نبيه صلى الله عليه وسلم أن تعشى عندهم فقال علي: بلى فأخذ النبي صلى الله عليه وسلم بيده فانطلقا حتى دخلا على فاطمة عليها السلام في مصلى لها وقد صلت وخلفها جفنة تفور دخانا فلما سمعت كلام النبي صلى الله عليه وسلم في رحلها خرجت من المصلى فسلمت عليه وكانت أعز الناس عليه فرد السلام ومسح بيده على رأسها وقال: «كيف أمسيت رحمك الله عشينا غفر الله لك وقد فعل» .فأخذت الجفنة فوضعتها بين يديه فلما نظر علي رضي الله عنه وشم ريحه رمى فاطمة عليها السلام ببصره رميا شحيحا فقالت له: ما أشح نظرك وأشده سبحان الله هل أذنبت فيما بيني وبينك ذنبا استوجبت به السخط؟ قال: وأي ذنب أعظم من ذنب أصبته اليوم؟ أليس عهدي بك اليوم وأنت تحلفين بالله مجتهدة ما طعمت طعاما من يومين؟ فنظرت إلى السماء فقالت: إلهي يعلم في سمائه ويعلم في أرضه أنى لم أقل إلا حقا قال: فأنى لك هذا الذي لم أر مثله قط ولم أشم مثل رائحته ولم آكل أطيب منه؟ فوضع النبي صلى الله عليه وسلم كفه المباركة بين كتفي علي رضي الله عنه ثم هزها وقال: «يا علي هذا ثواب دينارك هذا جزاء دينارك هذا من عند الله: إن الله يرزق من يشاء بغير حساب (آل عمران: ٣٧)، ثم استعبر النبي صلى الله عليه وسلم باكيا فقال: «الحمد لله الذي أبى لكما أن يخرجكما من الدنيا حتى يجريك في المجرى الذي أجرى فيه زكريا ويجريك فيه يا فاطمة بالمثال الذي جرت فيه مريم ( كلما دخل عليها زكريا المحراب وجد عندها رزقا ) (آل عمران: ٣٧)

 

Pada suatu pagi ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Wahai Fathimah, adakah kau memiliki sesuatu yang bisa kumakan?”

Fathimah –radhiyallahu ‘anha– berkata, “Tidak ada, demi Allah yang telah memuliakan ayahku dengan kenabian. Aku tak memiliki makanan apa pun untuk kaumakan. Bahkan semenjak dua hari yang lalu kita tak lagi memiliki makanan selain makanan yang telah kautumbuk untuk mengisi perutku dan perut kedua anakku ini.”

‘Ali berkata, “Wahai Fathimah, mengapa kau tak memberitahuku? (Kalau saja kau memberitahuku) tentu kucarikan makanan untukmu.”

Fathimah berkata, “Aku malu kepada Allah untuk membebanimu dengan sesuatu yang tak bisa kautanggung.”

Kemudian ‘Ali beranjak dari hadapan Fathimah, dia keluar rumah seraya berteguh hati dan berbaik sangka kepada Allah untuk mencari pinjaman uang sedinar. Setelah mendapatkan pinjaman sedinar, ‘Ali bermaksud membeli makanan untuk keluarganya. Tiba-tiba dijumpainya al-Miqdad yang tengah (gelisah) di bawah sengatan matahari yang panas di atas hamparan tanah (yang juga panas). Tatkala melihat Miqdad, ‘Ali pun mengingkari (hal yang dilakukan) Miqdad seraya berkata, “Wahai Miqdad, perkara apa yang menggelisahkanmu sehingga membuatmu keluar pada hari yang panas terik seperti ini?”

Al-Miqdad berkata, “Wahai Abu al-Hasan, menyingkirlah dari jalanku. Jangan pula kautanyakan alasan yang melatariku.”

‘Ali berkata, “Wahai anak saudaraku, janganlah kau menyembunyikan perkaramu dariku.”

Al-Miqdad berkata, “Baiklah jika kau bersikeras. Demi Allah yang telah memuliakan Muhammad dengan kenabian, tak ada yang menggelisahkanku sehingga membuatku keluar rumah  selain karena keadaanku yang papa. Kutinggalkan keluargaku di rumah dalam keadaan menangis karena lapar. Kala kudengar tangisan keluargaku, bumi pun tak lagi terasa geming bagiku. Maka aku pun keluar dengan membawa kesedihan hati. Demikianlah perihal diriku dan kisahku.”

(Mendengar penuturan al-Miqdad), berlinanglah air mata ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu– bersama tangisnya sampai-sampai membasahi janggutnya.

Berkatalah ‘Ali bin Abu Thalib, “Aku bersumpah dengan nama Allah sebagaimana kau bersumpah dengan nama-Nya. Tidak ada kegelisahan yang membuatku keluar selain hal yang juga menggelisahkanmu. Baru saja aku meminjam uang satu dinar, ambilah dinar ini. Aku lebih mengutamakanmu daripada diriku sendiri.”

‘Ali pun memberikan dinar itu kepada al-Miqdad, lalu berbalik arah (tidak jadi ke pasar). Dia masuk ke dalam masjid Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan mengerjakan shalat zuhur, asar, dan magrib di sana.

Seusai shalat magrib, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berjalan melewati ‘Ali –‘alaihi as-salam– yang berada di shaf pertama. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi isyarat kepada ‘Ali dengan kaki beliau. ‘Ali bin Abu Thalib pun bergerak di belakang Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– hingga menyusul beliau di pintu masjid. ‘Ali mengucap salam kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau membalasnya.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Wahai Abu al-Hasan, adakah kau memiliki sesuatu untuk makan malam bersama kami?”

‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– pun terdiam tak berjawab, dia merasa malu kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan menyadari keadaan yang dihadapinya.

Tatkala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melihat keterdiaman ‘Ali, beliau pun berkata, “Wahai Abu al-Hasan, kenapa kaudiam? Kalau kau katakan tidak ada, aku akan pergi. Kalau kau mengiyakan, aku akan ikut denganmu.”

Lalu beliau berkata lagi, “Bahkan dengan senang hati, pergilah bersama kami.” Dan Allah ta’ala telah mewahyukan kepada nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk makan malam bersama mereka, lalu ‘Ali berkata, “Baiklah.”

Kemudian Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memegang tangan ‘Ali, lalu berjalan menemui Fathimah –‘alaiha as-salam– yang saat sedang shalat di tempat shalatnya sementara di belakangnya ada satu wadah besar yang (isinya) masih berasap. Ketika mendengar suara Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di rumahnya, Fathimah pun keluar dari tempat shalatnya. Fathimah mengucapkan salam –dan Fathimah adalah orang yang paling dimuliakan oleh Rasulullah- lalu Rasulullah menjawab salamnya seraya mengusapkan tangan ke kepala Fathimah.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Bagaimana keadaanmu malam ini? Semoga Allah merahmatimu. Jamulah kami makan malam, semoga Allah mengampunimu, dan sungguh Dia telah mengampunimu.”

Fathimah pun mengambil mangkuk besar itu lalu meletakkannya di hadapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– melihat dan mencium aroma (makanan) itu, dia pun memandang tajam kepada Fathimah –‘alaiha as-salam.

Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Betapa tajam pandanganmu. Subhanallah, apakah aku telah berbuat salah kepadamu sehingga layak mendapatkan kemarahan?”

‘Ali berkata, “Adakah kesalahan yang lebih besar dari kesalahanmu hari ini? Bukankah aku mendapatimu hari ini, dan kau bersumpah dengan nama Allah, bahwa kau telah dua hari tidak mendapatkan makanan?”

Fathimah pun memandang ke atas seraya berkata, “Tuhanku mengetahui apa yang di langit dan di bumi, dan Dia tahu bahwa aku tidak mengatakan kecuali hal yang benar.”

‘Ali berkata, “Kalau begitu, dari mana kaudapatkan makanan yang tak pernah kulihat sebelumnya, aroma makanan yang tak pernah kucium seperti ini sebelumnya, juga tak pernah kumakan sebelumnya yang sebaik ini?”

Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– meletakkan telapak tangannya yang penuh berkah di antara kedua pundak ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– seraya menggerak-gerakkannya. Beliau berkata, “Wahai ‘Ali, makanan ini adalah ganjaran atas uang satu dinarmu itu, Allah memberi balasan atas dinar yang kau berikan; makanan ini dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (QS. Ali ‘Imran: 37).”

Kemudian Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menangis berlinang air mata seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang enggan mengeluarkan bagi kalian berdua sesuatu dari dunia sampai berlaku padamu apa yang berlaku pada diri Nabi Zakaria, dan berlaku padamu, wahai Fatimah, semisal hal yang berlaku pada diri Maryam. Setiap kali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia dapati makanan di sisinya (QS. Ali ‘Imran: 37).”

 

*

**

 

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– berkata mengenai derajat hadits ini:

 

باطل. وحسين الأشقر فيه ضعف، وكذا قيس بن الربيع، وأبو هارون هو عمارة بن جوين. وهو واه جدا، كذّبه حماد بن زيد والجوزجاني، وقال شعبة: (لئن أقدّم فتضرب عنقي أحبّ إليّ من أن أحدث عن أبي هارون)، والتركه النسائى وغيره وضعفه ابن معين وأحمد وغيرهما.

وكذا عطية بن سعد العوفي ضعيف لا يحتج يحديثه، ويظهر جليا أثر الإفتعال على هذه القصة، وهي من أحاديث القصاص التي يذكرونها في محافل الناس ومجتمعاتهم رجاء أخذ المال منهم، فلا بارك الله في واضعها. أما عليّ وفاطمة رضي الله عنهما من المناقب الصحيحة ما يغني عن هذه البواطيل والمناكرات والحمد لله.

 

Hadits tersebut batil. Pada diri Husain al-Asyqar itu ada kelemahan. Demikian juga dengan Qais bin ar-Rabi’. Adapun Abu Harun, dia adalah ‘Umarah bin Juwain, seorang yang sangat rapuh. Abu Harun ini didustakan oleh Hammad bin Zaid dan al-Jauzajani. Syu’bah berkata tentang Abu Harun ini, “Seandainya aku diajukan lalu dipenggal leherku, maka itu lebih aku sukai daripada meriwayatkan hadits dari Abu Harun.” Imam an-Nasa-i dan selainnya meninggalkan hadits Abu Harun, sedangkan Ibn Ma’in, Imam Ahmad, dan selain keduanya telah melemahkannya.

Seperti itu pula ‘Athiyyah bin Sa’d al-‘Aufi, dia lemah dan haditsnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Jelas sekali bahwa kisah ini dibuat-buat dan hasil rekayasa, hadits-hadits para tukang cerita yang disebutkan pada kumpulan dan pertemuan manusia dengan harapan bisa mengambil harta mereka. Semoga Allah tidak memberkahi pembuat kisah-kisah ini. Adapun tentang ‘Ali dan Fathimah –radhiyallahu ‘anhuma– terdapat manakib yang sahih yang tidak membutuhkan kisah-kisah batil dan mungkar seperti ini, walhamdulillah

 

Bandung, 20 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–