Ibu dari Anak-Anak Air Langit …

anak-anak air langit

Tentang ibunda dari anak-anak air langit, saya takjub atas keyakinan dan kepasrahannya ketika berkata di lembah sahara yang gersang:

يا إيراهيم، أين تذهب وتتركنا بهذا الوادي، الذي ليس فيه إنس ولا شيء؟ فقالت له ذلك مرارا، وجعل لا يتلفت إليها، فقالت له: آلله الذي أمرك بهذا؟ قال: نعم، قالت: إذن لا يضيعنا -صحيح البخاري

“Wahai Ibrahim, akan pergi ke manakah kau? Kau tinggalkan kami di lembah yang tiada seorang manusia pun di sini, juga tiada sesuatu pun di dalamnya.” Berulang-ulang dia mengatakan itu kepada Ibrahim. (Dan ketika) Ibrahim tak lagi menoleh ke arahnya, dia berkata lagi, “Apakah Allah yang memerintahkanmu dengan hal ini?” Ibrahim pun menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Jika memang Allah yang memerintahkanmu, tidaklah Dia akan menelantarkan kami.” (Shahih al-Bukhari)

Namanya Hajar, Ummu Ismail … istri dari Khalilullah Ibrahim –‘alaihi ash-shalah wa as-salam. Kata Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, dia adalah ibunda dari anak-anak air langit …

تلك أمكم يا بني ماء السماء – صحيح البخاري

“Itulah ibunda kalian, wahai anak-anak air langit!” (Shahih al-Bukhari)

Barangkali saja yang dimaksud dengan air langit adalah hujan karena bangsa Arab berpenghidupan dengan mengandalkan air hujan, bahkan berpindah-pindah ke tempat yang bercurah hujan … -atau barangkali maksudnya adalah air zamzam sebagaimana ucapan Ibn Hibban di kitab Shahih-nya:

كل من كان من ولد إسماعيل يقال له ماء السماء، لأن إسماعيل ولد هاجر وقد ربي بماء زمزم وهي من ماء السماء

“Semua keturunan Ismail disebut air langit karena Ismail itu putra Hajar yang dibesarkan dengan air zamzam, dan air zamzam itu merupakan air langit.”

 

Bandung, 4 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tentang Melihat …

tentang melihat ...

Sepertinya nazhar itu bukan hanya untuk menikah saja –atau untuk menikah lagi- … tetapi juga untuk penerimaan kabar dan pengambilan ilmu agama; juga untuk hal-hal yang telah diperbuat …

حدّثنا حَسَنُ بْنُ الرّبِيعِ. حَدّثَنَا حَمّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيّوبَ وَهِشَامٍ، عَنْ مُحَمّدٍ. وَحَدّثَنَا فُضَيْلٌ. عَنْ هِشَامٍ. قَالَ وَحَدّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ حُسَيْنٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ مُحَمّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ: إِنّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ. فَانْظُرُوا عَمّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ -صحيح مسلم

Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu ini merupakan agama, maka seyogianyalah kalian melihat dari siapa mengambil agama kalian.” (Muslim dalam mukadimahnya)

حدّثنا أَبُو جَعْفَرٍ مُحمّدُ بْنِ الصّبّاحِ. حَدّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيّاءَ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ: لم يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ. فَلَمّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمّوا لَنَا رِجَالَكُمْ. فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السّنّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ – صحيح مسلم

Ibn Sirin berkata:

Dahulu mereka (para salaf) tidak pernah menanyakan tentang sanad, (namun) tatkala terjadi fitnah, mereka pun berkata, “Sebutkan kepada kami orang-orang kalian (para perawi yang meriwayatkan).” Maka jika dilihat bahwa para perawinya itu dari kalangan Ahl as-Sunnah, diambillah hadits mereka, namun jika dilihat bahwa para perawinya itu dari kalangan ahli bid’ah, tidaklah diambil hadits mereka itu. (Muslim dalam mukadimahnya)

Allah berfirman:

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“ … dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. al-Hasyr: 18)

 

Bandung, 3 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–