Tentang Kau yang Berlari dari Hujan …

lari dari hujan

Suatu waktu kau berlari menghindari hujan ke bawah satu naungan, bereda menanti hujan teduh seteduh-teduhnya. Aku tahu kau bersyukur atas nikmat berupa hari yang berhujan; adapun larimu dari curahnya bukanlah suatu dosa selama tak kauiringi dengan celaan lewat lisan atau kata hati …

Konon para shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun pernah bergegas-gegas menghindari hujan ke tempat-tempat perteduhan … –dan itu membuat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tertawa …

 

عن عائشة قالت : شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه . قالت عائشة : فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر وحمد الله عزوجل ثم قال : ” إنكم شكوتم جدب دياركم واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عزوجل أن تدعوه ووعدكم أن يستجيب لكم ” . ثم قال : ” الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء . أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ” ثم رفع يديه فلم يترك الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال : ” أشهد أن الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله ” . رواه أبو داود وحسنه الألباني في مشكاة المصابيح (١٥٠٨)

 

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

Orang-orang mengadukan tentang kemarau panjang kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintahkan untuk memasang mimbar di tanah lapang seraya menjanjikan kepada orang-orang untuk keluar pada hari (yang ditentukan) ke tempat itu. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun keluar (ke tempat itu) tatkala sinar matahari mulai memancar, lalu duduk di atas mimbar seraya bertakbir dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya kalian telah mengajukan masalah tentang kegersangan negeri kalian dan keterlambatan hujan dari waktunya, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah  memerintahkan agar kalian memohon kepada-Nya dan menjanjikan pengabulan bagi kalian.”

Kemudian beliau mengucapkan:

 

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لَا إِلَهَ إِلَّا الله يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الله، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ، وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

 

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta raya, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Wahai Allah, Engkaulah Allah, tiada yang berhak untuk diibadahi selain Engkau. Engkau Maha Kaya sementara kami orang-orang yang butuh (kepada-Mu). Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Kau turunkan itu sebagai kekuatan bagi kami juga bekal untuk hari yang ditetapkan.”

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya tanpa menurunkannya sampai-sampai terlihat putih kedua ketiaknya. Beliau lalu berpaling dan memunggungi orang-orang, membalikkan selendangnya atau mengubah posisi selendangnya sambil tetap mengangkat kedua tangannya. Setelah itu beliau berbalik dan menghadap ke arah orang-orang, lalu turun dari mimbar dan mendirikan shalat dua rakaat. Maka Allah pun mendatangkan awan mendung yang disertai guruh dan petir, lalu turunlah hujan dengan izin Allah. Tidaklah beliau pergi mendatangi masjidnya (dari tanah lapang tempat shalatnya) kecuali setelah air menggenangi tempatnya itu. Tatkala melihat orang-orang bergegas-gegas pergi menuju tempat-tempat perteduhan, beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Beliau berkata, “Aku bersaksi bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan aku adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Abu Dawud; disahihkan oleh Syaikh al-Albani di kitab Misykah al-Mashabih 1508)

Syaikh ‘Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari –rahimahullah– berkata:

 

فلما رأى سرعتهم أي: سرعة مشيهم والتجائهم – انظر: مرقاة المفاتيح وعون المعبود

 

“Tatkala beliau melihat ketergesaan mereka, yakni mereka bergegas-gegas mempercepat langkah dan mencari tempat perlindungan.” –Lihat: Mirqah al-Mafatih dan ‘Aun al-Ma’bud

Imam Ath-Thibi –rahimahullah– berkata:

 

وكان ضحكه تعجبا من طلبهم المطر اضطرارا، ثم طلبهم الكن عنه فرارا، ومن عظيم قدرة الله تعالى، وإظهار قربة رسوله وصدقه بإجابة دعائه سريعا، ولصدقه أتى بالشهادتين – انظر: مرقاة المفاتيح وعون المعبود

 

Ketertawaan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu merupakan ketakjuban atas tuntutan mereka yang mendesak terhadap turunnya hujan namun kemudian (ketika hujan turun) mereka malah pada berlari mencari tempat perteduhan; juga merupakan ketakjuban atas besarnya kekuasaan Allah ta’ala, dan Allah menampakkan qurbah dan kebenaran rasul-Nya dengan segera mengabulkan permohonannya –dan terhadap kebenaran karasulannya itu, beliau mengucapkan dua kalimat syahadat. –Lihat: Mirqah al-Mafatih dan ‘Aun al-Ma’bud

 

Bandung, 6 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

10 comments on “Tentang Kau yang Berlari dari Hujan …

  1. jaraway says:

    ikutan nyengir =D
    qiqiqi

  2. jampang says:

    saya suka hujan-hujanan kang 😀

  3. semut berlari menuju tempat yg selamat kerna hujan nya lebattttt bangeeettt

  4. thetrueideas says:

    dulu pas kecil, main bola pas ujan2an itu paling nikmat….

  5. Amnesia says:

    HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA– << kurang panjang nich nama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s