Tujuh Puluh Naga Keji di Keterasingan …

naga -

Berikut ini beberapa hadits yang tidak dapat dijadikan sandaran karena (1) lemah, (2) sangat lemah, dan (3) palsu …

 

*

**

 

Imam at-Tirmidzi –rahimahullah– berkata di kitab Jami’ (Sunan at-Tirmidzi):

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنُ مَدُّوَيْهِ التِّرْمِذِيُّ، حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ الْحَكَمِ الْعُرَنِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْوَصَّافِيُّ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ :دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُصَلاَّهُ فَرَأَى نَاساً كَأَنَّهُمْ يَكْتَشِرُونَ قَالَ :أَمَا إِنَّكُمْ لَوْ أَكْثَرْتُمْ ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ لَشَغَلَكُمْ عَمَّا أَرَى فَأَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتِ فَإِنَّهُ لَمْ يَأْتِ عَلَى الْقَبْرِ يَوْمٌ إِلاَّ تَكَلَّمَ فِيهِ فَيَقُولُ: أَنَا بَيْتُ الْغُرْبَةِ وَأَنَا بَيْتُ الْوَحْدَةِ وَأَنَا بَيْتُ التُّرَابِ وَأَنَا بَيْتُ الدُّودِ .فَإِذَا دُفِنَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ قَالَ لَهُ الْقَبْرُ مَرْحَباً وَأَهْلاً أَمَا إِنْ كُنْتَ لأَحَبَّ مَنْ يَمْشِى عَلَى ظَهْرِى إِلَىَّ فَإِذْ وُلِّيتُكَ الْيَوْمَ وَصِرْتَ إِلَىَّ فَسَتَرَى صَنِيعِي بِكَ .قَالَ: فَيَتَّسِعُ لَهُ مَدَّ بَصَرَهِ وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ. وَإِذَا دُفِنَ الْعَبْدُ الْفَاجِرُ أَوِ الْكَافِرُ قَالَ لَهُ الْقَبْرُ لاَ مَرْحَباً وَلاَ أَهْلاً أَمَا إِنْ كُنْتَ لأَبْغَضَ مَنْ يَمْشِى عَلَى ظَهْرِى إِلَىَّ فَإِذْ وُلِّيتُكَ الْيَوْمَ وَصِرْتَ إِلَىَّ فَسَتَرَى صَنِيعِى بِكَ. قَالَ فَيَلْتَئِمُ عَلَيْهِ حَتَّى تَلْتَقِىَ عَلَيْهِ وَتَخْتَلِفَ أَضْلاَعُهُ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِأَصَابِعِهِ فَأَدْخَلَ بَعْضَهَا فِى جَوْفِ بَعْضٍ قَالَ :وَيُقَيِّضُ اللَّهُ لَهُ سَبْعِينَ تِنِّيناً لَوْ أَنَّ وَاحِداً مِنْهَا نَفَخَ فِي الأَرْضِ مَا أَنْبَتَتْ شَيْئاً مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا فَيَنْهَشْنَهُ وَيَخْدِشْنَهُ حَتَّى يُفْضَى بِهِ إِلَى الْحِسَابِ .قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :إِنَّمَا الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Madduwaih at-Tirmidzi, telah menceritakan kepada kami al-Qasim bin al-Hakam al-‘Urani, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin al-Walid al-Washshafi, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id (al-Khudri), dia berkata:

(Pada suatu hari) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memasuki tempat shalatnya lalu melihat orang-orang (di sana) seakan-akan pada berseringai tawa. Beliau pun bersabda:

Ingatlah, sesungguhnya seandainya kalian banyak-banyak mengingat pemutus kelezatan, niscaya kalian akan dibuat sibuk dari hal yang kulihat. Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian! Karena sesungguhnya tidak ada satu hari pun berlalu kecuali kubur itu berbicara:

“Aku adalah rumah keterasingan, aku adalah rumah kesendirian, aku adalah rumah tanah, aku adalah rumah cacing-cacing.”

Apabila seorang mukmin dimakamkan, berkatalah kubur itu kepadanya:

“Marhaban wa ahlan! Ingatlah, dulu kau adalah orang yang paling kusukai yang berjalan di atas punggungku. Sekarang aku diberi kuasa untuk menanganimu, dan kau telah kembali kepangkuanku maka akan kau lihat apa yang akan kuperbuat kepadamu.”

Maka diluaskanlah baginya kubur sejauh pandang matanya dan dibukakan baginya pintu-pintu menuju surga. Adapun jika seorang hamba yang keji atau kafir dimakamkan, berkatalah kubur itu kepadanya:

“La marhaban wa la ahlan! Ingatlah, dulu kau adalah orang yang paling kubenci yang berjalan di atas punggungku. Sekarang aku diberi kuasa untuk menanganimu, dan kau telah kembali kepangkuanku maka akan kau lihat apa yang akan kuperbuat kepadamu.”

Maka disempitkanlah kubur baginya hingga menghimpitnya dan membuat tidak karuan tulang-tulang rusuknya.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memerikan hal itu seraya memasukkan jari-jarinya ke celah-celah di antara jari-jari lainnya, lalu bersabda, “Lalu Allah mendatangkan baginya tujuh puluh ular naga yang apabila satu ekor saja dari ular-ular naga itu meniupkan nafas di bumi, niscaya takkan ada sesuatu pun yang tumbuh di bumi selama bumi itu ada. Lalu ular-ular naga itu menggigit dan mencabiknya sampai hari penghisaban.”

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga mengatakan, “Sesungguhnya kubur itu merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga atau salah satu lubang di antara lubang-lubang neraka.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadits di atas sangat lemah; di dalam sanadnya ada ‘Ubaidullah bin al-Walid al-Washshafi dan ‘Athiyyah bin Sa’d al-‘Aufi …

(1) ‘Ubaidullah bin al-Walid al-Washshafi: para ulama telah melemahkannya; Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, dan Abu Hatim menganggapnya lemah; Imam an-Nasa-i menyebutnya matruk; Ibn ‘Adi menyebutnya sangat lemah. Tak heran jika Syaikh al-Albani –rahimahullah– mengatakan:

 

والوصافي ضعيف جدا؛ وبه أعلّه المنذري فقال: وهو واهٍ – السلسلة الضعيفة (١٠/۷٤۹)

 

“Dan (‘Ubaidullah bin al-Walid) al-Washafi sangatlah lemah, dengan itu al-Mundziri melemahkannya seraya mengatakan: dan dia wahin (rapuh).”Silasilah adh-Dha’ifah (10/749) …

 

(2) ‘Athiyyah bin Sa’d al-‘Aufi: Imam Ahmad dan Ibn Hibban menjelaskan bahwa ‘Athiyyah melakukan tadlis syuyukh. Para ulama (seperti Imam Ahmad, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Abu Dawud, an-Nasa-i, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan banyak lagi) telah pula men-jarh-nya dari sisi lain selain tadlis suyukh, baik itu dengan sebutan dha’if, layyin, atau mudh-tharib; Adapun Ibn Hajar, beliau mengatakan:

 

صدوق يخطئ كثيراً، وكان شيعياً مدلساً -التقريب ۲/٤۲

 

“Dia seorang yang shaduq namun banyak melakukan kesalahan, dan dia seorang syi’ah lagi mudallis.”  -at-Taqrib (2/42) …

 Syaikh al-Albani –rahimahullah– mengatakan:

 

وعطية ضعيف مدلس -السلسلة الضعيفة (١٠/۷٤۹)

 

“Dan ‘Athiyyah itu lemah lagi mudallis.”Silasilah adh-Dha’ifah (10/749) …

 

*

**

 

Hadits senada diriwayatkan pula melalui jalan Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu. Imam ath-Thabarani berkata di kitab Mu’jam al-Ausath:

 

حَدَّثَنَا مَسْعُودُ بْنُ مُحَمَّدٍ الرَّمْلِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ بْنِ سُوَيْدٍ، نا أَبِي، نا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ، فَجَلَسَ إِلَى قَبْرٍ مِنْهَا، فَقَالَ :مَا يَأْتِي عَلَى هَذَا الْقَبْرِ مِنْ يَوْمٍ، إلا وَهُوَ يُنَادِي بِصَوْتٍ طَلْقٍ زَلِقٍ: يَا ابْنَ آدَمَ، كَيْفَ نَسِيتَنِي؟ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنِّي بَيْتُ الْوَحْدَةِ، وَبَيْتُ الْغُرْبَةِ، وَبَيْتُ الْوَحْشَةِ، وَبَيْتُ الدُّودِ، وَبَيْتُ الضِّيقِ، إلا مَنْ وَسَّعَنِي اللَّهُ عَلَيْهِ . ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :الْقَبْرُ إِمَّا رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ، لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، إلا أَيُّوبُ بْنُ سُوَيْدٍ، تَفَرَّدَ بِهِ: ابْنُهُ

 

Telah menceritakan kepada kami Mas’ud bin Muhammad ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ayyub bin Suwaid, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami al-Auza-i, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata:

Kami keluar bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (untuk mengantarkan) jenazah. Beliau beliau duduk di atas kubur (jenazah itu), lalu berkata:

Tidak berlalu satu hari pun pada kubur ini kecuali dia berseru dengan suara yang fasih, “Wahai anak Adam, mengapa kau melupakanku? Tidakkah kau tahu bahwa aku rumah kesendirian, rumah keterasingan, rumah kemurungan, rumah cacing-cacing, dan rumah kesempitan? Kecuali bagi siapa yang Allah meluaskanku untuknya.”

Kemudian Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Kubur itu bisa jadi merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga, bisa jadi pula merupakan salah satu lubang di antara lubang-lubang neraka.”

(Kata ath-Thabarani), “Tidaklah meriwayatkan hadits ini dari al-Auza’i selain Ayyub bin Suwaid; anaknya telah meriwayatkannya secara menyendiri.”

Hadits tersebut palsu; pada sanad hadits tersebut ada Muhammad bin Ayyub bin Suwaid dan ayahnya, yakni Ayyub bin Suwaid …

(1) Muhammad bin Ayyub bin Suwaid; dia dilemahkan oleh Abu Hatim ar-Razi dan juga ad-Daruquthni. Ibn Hibban mengatakan tidak halal meriwayatkan darinya. Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata tentangnya:

 

قلت: وهو متهم بالوضع؛ قال الحاكم، وأبو نعيم: روى عن أبيه أحاديث موضوعة. وقال ابن حبان: كان يضع الحديث. وقال أبو زرعة: رأيته قد أدخل في كتب أبيه أشياء موضوعة -السلسلة الضعيفة (١٠/۷٤۸)

 

Aku katakan, dan dia (Muhammad bin Ayyub bin Suwaid) dituduh memalsukan hadits. Al-Hakim dan Abu Nu’aim mengatakan, “Meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits palsu,” dan Ibn Hibban mengatakan, “Dia memalsukan hadits,” sedangkan Abu Zur’ah mengatakan, “Aku melihat dia memasukkan riwayat-riwayat palsu ke dalam kitab-kitab ayahnya.”Silsilah adh-Dha’ifah (10/748) …

(2) Ayyub bin Suwaid; Imam Ahmad menyebutnya dha’if, Abu Hatim menyebutnya layyin al-hadits, bahkan Ibn al-Mubarak meninggalkan haditsnya dan juga mengatakan, “Irmi bihi.” Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata:

 

وأبوه أيوب؛ قريب منه في الضعف. وساق له ابن عدي جملة مناكير من غير رواية ابنه عنه -السلسلة الضعيفة (١٠/۷٤۸)

 

“Dan ayahnya Muhammad bin Ayyub, yaitu Ayyub (bin Suwaid), tidak beda jauh dari anaknya dalam hal kelemahan; Ibn ‘Adi telah menyebutkan sejumlah riwayat-riwayat mungkar dari selain yang diriwayatkan oleh anaknya darinya.”Silsilah adh-Dha’ifah (10/748) …

 

*

**

 

Imam ath-Thabarani juga berkata di kitab Mu’jam al-Kabir dari jalan Abu Bakr bin Abu Maryam sebagai berikut:

 

عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَائِذٍ الأَزْدِيِّ، عَنْ أَبِي الْحَجَّاجِ الثُّمَالِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :يَقُولُ الْقَبْرُ لِلْمَيِّتِ حِينَ يُوضَعُ فِيهِ: وَيْحَكَ ابْنَ آدَمَ، مَا غَرَّكَ بِي؟ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنِّي بَيْتُ الْفِتْنَةِ وَبَيْتُ الظُّلْمَةِ وَبَيْتُ الْوَحْدَةِ وَبَيْتُ الدُّودِ؟ مَا غَرَّكَ بِي إِذَا كُنْتَ تَمُرُّ بِي فَدَّادًا؟ فَإِنْ كَانَ مُصْلِحًا أَجَابَ عَنْهُ مُجِيبُ الْقَبْرِ ، فَيَقُولُ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ مِمَّنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ؟ فَيَقُولُ الْقَبْرُ: إِذَنْ أَعُودُ إِلَيْهِ خَضْرَاءَ وَيَعُودُ جَسَدُهُ نُورًا وَيَصْعَدُ رُوحُهُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ رَجُلٌ :يَا أَبَا الْحَجَّاجِ! وَمَا الْفَدَّادُ؟ قَالَ: الَّذِي يُقْدِمُ رَجُلا وَيُؤَخِّرُ أُخْرَى كَمِشْيَتِكَ يَا ابْنَ أَخِي أَحْيَانًا، وَهُوَ يَوْمَئِذٍ يَلْبَسُ وَيَتَهَيَّأُ “.

 

Dari Abu Bakr bin Abu Maryam, dari Haitsam bin Malik, dari ‘Abd ar-Rahman bin ‘A-idz al-Azdi, dari Abu al-Hajjaj ats-Tsumali, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

Kubur berkata kepada jenazah pada saat dia diletakkan di dalamnya, “Celaka kamu anak Adam! Apa yang telah melengahkanmu dariku? Tidakkah kau tahu bahwa aku rumah fitnah, rumah kegelapan, rumah kesendirian, dan rumah cacing-cacing? Apa yang memperdayakanmu dariku hingga dulu kau berjalan melewatiku dengan sikap sombong?” Seandainya jenazah itu adalah orang yang berbuat baik, maka penjawab kubur akan menjawabkannya seraya mengatakan, “Bagaimana pendapatmu jika dulunya dia termasuk orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran?” Kubur pun menjawab, “Aku akan menjadi indah baginya, jasadnya akan menjadi bercahaya, dan ruhnya akan naik menuju Rabb semesta alam.” Kemudian seorang lelaki berkata, “Wahai Abu al-Hajjaj! Apa yang dimaksud berjalan dengan sombong itu?” Abu al-Hajjaj menjawab, Yang mendahulukan satu kaki dan mengakhirkan kaki lainnya sebagaimana kadang-kadang cara berjalanmu, wahai anak saudaraku,” dan dia pada hari itu lantas bersiap-siap.

Hadits di atas juga dikeluarkan oleh ath-Thabarani di Musnad asy-Syamiyyin, Ibn Abi Dunya di kitab at-Tawadhu’ wa al-Khumul, Abu Ya’la al-Maushili dalam Musnad-nya, dan Abu Nu’aim di kitab al-Hilyah; semuanya dari jalan Abu Bakr bin Abu Maryam …

Hadits tersebut lemah; kelemahan hadits ini dari sisi Abu Bakr bin Abu Maryam. Imam Ahmad, Abu Hatim, an-Nasa-i, dan ad-Daruquthni melemahkannya,  Abu Zura’ah menganggapnya munkar al-hadits

Al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (3/164):

 

فيه أبو بكر بن أبى مريم، وفيه ضعف لاختلاطه

 

“Di dalam sanadnya ada Abu Bakr bin Abu Maryam, padanya ada kelemahan karena ikhthilath.”

 

Imam adz-Dzahabi berkata tentang hadits ini di kitab al-‘Uluw (29):

 

هذا حديث غريب، وابن أبي مريم ضعيف من قبل حفظه

 

“Hadits ini gharib, dan Ibn Abu Maryam dha’if dari sisi hafalannya.”

 

Bandung, 17 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

12 comments on “Tujuh Puluh Naga Keji di Keterasingan …

  1. jampang says:

    “Kubur itu bisa jadi merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga, bisa jadi pula merupakan salah satu lubang di antara lubang-lubang neraka.” —> bahasa arabnya sering denger dibaca dalam kalimat doa, kang

  2. jaraway says:

    maksud ikhthilathnya pada Abu Bakr bin Abu Maryam itu gimana, bang?

  3. nurme says:

    Bisa salah kaprah ya karena hadist-hadist seperti ini.

  4. Akhirnya udah sampai ke mari…..

  5. Wah.. Kita mohon sama Allah subhanaallah wa Ta ala ya mas dari siksa kubur dan azab neraka… Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s