Air yang Sama dalam Satu Bejana …

wudu

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjidhafizhahullah

http://islamqa.info/ar/163409

 

السؤال:

في كتاب الوضوء من كتاب البخاري هناك حديث لعبد الله بن عمر أنه في عهد النبي صلى الله عليه وسلم كان الرجال والنساء يتوضئون سويّاً، وقد استغل أحد الناس هذا الحديث كدليل على أن المرأة من الممكن أن تكشف شعرها ووجهها وذراعيها وقدميها ( الأعضاء التي تغسل في الوضوء ) أمام الرجل ، أرجو أن تقوموا بالرد عليه .

 

Pertanyaan:

Di kitab al-Wudhu’ dalam Shahih al-Bukhari terdapat hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya pada zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– para lelaki dan perempuan mengambil wudu bersama-sama. Ada orang yang mengambil hadit sini sebagai dalil bahwa perempuan dimungkinkan untuk menyingkap rambut, wajah, kedua hasta tangan, dan kedua kakinya (yakni anggota-anggota tubuh yang dibasuh dalam wudu) di depan lelaki. Aku mengharapkan bantahan kalian terhadap pendapatnya.

 

الجواب :
الحمد لله

أولاً:
الحديث الذي أراد الأخ السائل الكلام في فقهه ومعناه هو ما رواه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ : كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيعاً. رواه البخاري (١٩۰)

وقد رواه أبو داود (٨۰) وابن ماجه (٣٨١) -عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – بلفظ ” كُنَّا نَتَوَضَّأُ نَحْنُ وَالنِّسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ نُدْلِي فِيهِ أَيْدِيَنَا “.

ثانياً:
اختلف أهل العلم في توجيه الحديث على ثلاثة أقوال:

الأول: أنه ليس الحديث في اجتماع الرجال والنساء في وقت واحد على الوضوء، بل فيه بيان أن مكان وضوئهم والماء الذي يتوضؤون منه هو مكان واحد وماء واحد، فإذا انتهى الرجال من الوضوء جاء النساء، وهو قول سحنون من المالكية، ومقصود ابن عمر من ذِكر هذا: بيان عدم تنجس الإناء من التناوب على الحوض بالوضوء منه حتى مع غمس الأيدي فيه، وأن توضأ النساء منه غير مؤثر على الماء.

الثاني: أن المراد بالنساء في الحديث الزوجات والمحارم، وهو قول ولي الدين العراقي، حيث قال – رحمه الله – : أطلق ابنُ عمر في حديثه وضوء النساء والرجال جميعاً، ولا شك أنه ليس المراد به الرجال مع النساء الأجانب، وإنما أراد الزوجات أو من يحل له أن يرى منها مواضع الوضوء، ولذلك بوب عليه البخاري “باب وضوء الرجل مع امرأته.”

“طرح التثريب ” (۲/٣٩).

الثالث: أن يكون الحديث في وصف حدث قبل تشريع الحجاب على النساء، وهو ترجيح الحافظ ابن حجر رحمه الله حيث قال: والأولى في الجواب أن يقال: لا مانع من الاجتماع قبل نزول الحجاب، وأما بعده: فيُختص بالزوجات والمحارم.

” فتح الباري ” (١/٣۰۰)، وتبعه الشوكاني في “نيل الأوطار” (١/٤٣).

 

Jawaban:

Alhamdulillah …

(Pertama): hadits yang penjelasan fiqh dan maknanya diinginkan oleh penanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar yang mengatakan:

“Dulu para lelaki dan perempuan di zaman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengambil wudu bersama-sama.” (HR. al-Bukhari: 190)

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (80) dan Ibn Majah (381), dari ‘Abdullah bin ‘Umar dengan redaksi:

“Dulu kami (kaum lelaki) dan perempuan mengambil wudu pada masa hidup Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari satu bejana yang sama.Kami memasukkan tangan-tangan kami ke dalamnya.”

(Kedua): para ulama berbeda pendapat dalam memahami pengertian hadits ini ke dalam tiga pendapat, yaitu:

(pendapat pertama): bahwasanya hadits tersebut bukanlah hadits tentang berkumpulnya kaum lelaki dan perempuan untuk berwudu pada waktu yang sama, melainkan hadits tersebut menjelaskan bahwa tempat wudu dan air yang digunakan untuk berwudu oleh mereka itu sama (yakni air yang sama dari dalam bejana yang sama –pent), yang apabila kaum lelaki telah selesai berwudu, barulah perempuan berwudu,  dan ini merupakan ucapan Suhnun, seorang ulama dari mazhab al-Malikiyyah. Adapun maksud Ibn ‘Umar dengan ucapannya itu adalah menjelaskan tentang tidak najisnya (air di dalam) bejana meskipun orang-orang silih berganti mengambil wudu seraya mencelupkan tangan-tangan mereka ke dalamnya, juga bahwasanya wudunya perempuan dari air itu tidak berpengaruh terhadap air (yakni tidak menjadikannya najis –pent).

(pendapat kedua): bahwasanya yang dimaksud dengan perempuan di dalam hadits tersebut adalah para istri atau mahram, dan ini merupakan ucapan Waliy ad-Din al-‘Iraqi –rahimahullah. Beliau mengatakan, “Ibn ‘Umar di dalam haditsnya memutlakkan (penyebutan) wudu para perempuan dan lelaki secara bersama-sama, dan tidak syak lagi bahwa maksud dari ucapan itu bukanlah para lelaki bersama perempuan yang bukan mahram melainkan maksudnya adalah para istri atau perempuan yang halal untuk dilihat darinya bagian-bagian tubuh yang terbasuh wudu. Oleh karena itulah al-Bukhari membuat bab bagi hadits ini dengan judul Bab Wudhu’ ar-Rajul ma’a Imra-atihi (Bab Wudu Lelaki Bersama Istrinya) … –Tharh at-Tatsrib (2/39).

(pendapat ketiga): hadits itu menggambarkan peristiwa sebelum disyariatkannya hijab bagi perempuan. Dan ini merupakan tarjih al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahullah– yang mengatakan,  “Jawaban yang paling baik adalah dengan mengatakan: tidak terhalang (bagi lelaki dan perempuan) untuk berkumpul (wudu bersama antara laki-laki dengan perempuan) sebelum turunnya ayat hijab. Adapun setelah ayat hijab turun, maka itu hanya dikhususkan untuk para istri dan kalangan mahram saja.”Fath al-Bari (1/300), dan pendapat ini diikuti pula oleh asy-Syaukani di kitab Nail al-Authar (1/43).

 

وسواء قيل بالوجه الأول أو الثاني أو الثالث: فإنه ليس معنى الحديث أن الشرع جاء ليبيح للمرأة أن تكشف ذراعيها وساقيها ورأسها أمام الرجال الأجانب! وهذا لا يقول به من عرف الشرع وأحكامه، والعلماء مجمعون على تحريم إظهار تلك الأعضاء أمام الرجال الأجانب، ولا يمكن للشرع المطهر أن يحرص في كل أحكامه على ستر المرأة والحرص على ابتعادها عن الرجال عموماً وفي أعظم العبادات وهي الصلاة خصوصاً، فيحثها على صلاتها في بيتها، ويحثَّها على الابتعاد عن الصف الأول، ويجعل لها باباً خاصّاً تدخل منه للمسجد، ويحثها على المبادرة بالخروج من المسجد سلام الإمام، ثم يأتي ليبيح لها كشف ساقيها وذراعيها ورأسها أمام الرجال الأجانب في الوضوء.!

ولذا لمَّا كان اجتماع الرجال والنساء على مكان واحد للوضوء يمكن أن يحدث منه اطلاع الرجال على شيء من أعضاء النساء أثناء الوضوء، عاقب عمر بن الخطاب رضي الله عنه مَن اجتمع من النساء والرجال على مكان واحد ليتوضئوا جميعاً في وقت واحد، وأمر بجعل مكان خاص للرجال وآخر للنساء، فعن أبي سلامة الحبيبي قال: رأيتُ عمر بن الخطاب أتى حياضاً عليها الرجال والنساء يتوضؤون جميعاً، فضربهم بالدِّرة ثم قال لصاحب الحوض: اجعل للرجال حياضاً وللنساء حياضاً … ” .رواه عبد الرزاق في ” مصنفه ” (١/٧٥).

وينظر جواب السؤال رقم (١۲۷۲۷٦)

والله أعلم

 

Baik pendapat pertama maupun pendapat kedua dan ketiga, semuanya berpendapat bahwa hadits tersebut tidaklah mengartikan bahwa syariat membolehkan perempuan untuk menyingkap kedua hasta tangannya, kedua betisnya, atau kepalanya di depan lelaki-lelaki yang bukan mahram. Orang yang memahami syariat dan hukum-hukumnya tidaklah mengatakan tentang kebolehan hal tersebut. (Bahkan) para ulama telah bersepakat atas keharaman memperlihatkan anggota-anggota tubuh tersebut di depan para lelaki yang bukan mahram. Tidak mungkin bagi syariat yang suci ini, syariat yang pada setiap hukum-hukumnya benar-benar mewajibkan hijab bagi perempuan dan menjauhkannya dari para lelaki secara umum, juga yang secara khusus dalam ibadah teragung, yakni shalat, menganjurkan perempuan untuk shalat di rumahnya dan menganjurkan untuk menjauh dari shaf terdepan (apabila shalat di masjid), serta menjadikan pintu khusus bagi wanita untuk memasuki masjid dan menganjurkan untuk bersegera keluar dari masjid selepas salam imam, kemudian (syariat yang demikian itu) mendatangkan pembolehan bagi perempuan untuk menyingkap kedua betis, kedua hasta tangan, dan kepalanya di depan para lelaki yang bukan mahram pada saat wudu.

Lantaran berkumpulnya lelaki dan perempuan di tempat yang sama untuk berwudu memungkinkan bagi lelaki untuk melihat anggota-anggota tubuh perempuan pada saat wudu. ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– menghukum para lelaki dan perempuan yang berkumpul untuk berwudu bersama di satu tempat pada waktu yang sama. ‘Umar pun memerintahkan untuk membuat tempat khusus bagi lelaki dan tempat khusus bagi perempuan.

Dari Abu Salamah al-Habibi**, dia berkata: aku melihat ‘Umar bin al-Khaththab mendatangi tempat air yang digunakan oleh para lelaki dan perempuan untuk berwudu bersama. ‘Umar pun memukul mereka dengan cambuk kemudian berkata kepada si pemilik kolam, “Jadikan satu tempat air untuk lelaki dan satu tempat air untuk perempuan,” diriwayatkan oleh ‘Abd ar-Razaq di kitab Mushannaf (1/75).

Lihat pula jawaban soal no. 127276

Wallahu a’lamu …

 

*

**

 

** tambahan dari saya:

di dalam Mushannaf ‘Abd ar-Razaq, sanadnya adalah sebagai berikut:

 

عن إسرائيل بن يونس، عن سماك بن حرب، عن أبي سلامة الحبيبي

 

Dari Isra-il bin Yusuf, dari Simak bin Harb, dari Abu Salamah al-Habibi.

Di kitab al-Kuna wa al-Asma’ susunan ad-Daulabi, disebutkan bahwa Yahya bin Ma’in mengatakan:

 

لا أعرف الحبيبي

 “Saya tidak tahu al-Habibi.”

 Wallahu a’lamu …

 

Bandung, 6 Maret 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Air yang Sama dalam Satu Bejana …

  1. Mashaallah di zaman serba modern ini tidak terlintas di fikiran saya bagaimana zamannya mereka terimakasih atas masukan ini Mas hendra

  2. jampang says:

    kirain tadi mau ngebahas Rasulullah dan Aisyah yang mandi dari air di bejana yang sama 😀
    terima kasih, kang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s