Adakah Dia Membakar Hadits-Hadits?

membakar hadits

Al-Hakim Abu ‘Abdillah an-Naisaburi berkata:

 حدثني بكر بن محمد الصيرفي بمرو أخبرنا محمد بن موسى البربري أخبرنا المفضل بن غسان، أخبرنا علي بن صالح، أخبرنا موسى بن عبد الله بن حسن بن حسن، عن إبراهيم بن عمر بن عبيد الله التيمي، حدثني القاسم بن محمد قالت عائشة: جمع أبي الحديث عن رسول الله وكانت خمسمائة حديث، فبات ليلته يتقلب كثيرًا، قالت فغمَّني، فقلت أتتقلب لشكوًى أو لشيءٍ بلغك؟ فلما أصبح قال أي بنية هلمي الأحاديث التي عندك فجئته بها فدعا بنار فحرقها، فقلت لما أحرقتها؟ قال خشيت أن أموت وهي عندي فيكون فيها أحاديث عن رجل قد ائتمنته ووثقت ولم يكن كما حدثني فأكون قد نقلت ذاك

Telah bercerita kepada kami Bakr bin Muhammad ash-Sharifi di Marwa, telah berkabar kepada kami Muhammad bin Musa al-Barbari, telah berkabar kepada kami al-Mufadhdhal bin Ghassan, telah berkabar kepada kami ‘Ali bin Shalih, telah berkabar kepada kami Musa bin ‘Abdillah bin Hasan bin Hasan, dari Ibrahim bin ‘Amr bin ‘Ubaidullah at-Taimi, telah bercerita kepada kami al-Qasim bin Muhammad, ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– berkata:

Ayahku (yakni Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu) mengumpulkan hadit-hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang jumlahnya mencapai lima ratus hadits. Suatu malam beliau tidur dengan gelisah sambil membalik-balikkan badan. Keadaan (ayahku) itu membuatku cemas lalu aku berkata, “Apa yang membuatmu tak tenang? Apakah karena sakit ataukah ada suatu kabar yang membebani (pikiranmu)?” Ketika hari telah mendusin, ayahku berkata, “Wahai putriku, ambilkan aku (catatan) hadits-hadits yang ada padamu!” Aku pun memberikan catatan hadits-hadits itu kepada ayahku. Ayahku meminta (agar kami) menyalakan api kemudian dia membakar catatan (berisi hadits-hadits) itu. Aku berkata, “Kenapa kau membakarnya?” Ayahku menjawab, “Aku takut jika aku mati catatan ini masih ada padaku, sementara di dalamnya terdapat hadits-hadits yang kuterima dari orang-orang yang kupercaya dan kuyakini (hafalan dan keadilannya), namun (aku khawatir) apa yang kucatat darinya tidak seperti yang diriwayatkannya kepadaku, sementara telah kasip kutuliskan di dalam catatan ini.”Tadzkirah al-Huffazh (1/5) …

Atsar tersebut tidaklah sahih. Imam adz-Dzahabi mengatakan:

 فهذا لا يصح والله أعلم

“Riwayat ini tidak sahih, wallahu a’lamu.”

Barangkali salah satu sisi kelemahannya adalah perawi ‘Ali bin Shalih. Al-Muttaqi al-Hindi menyebutkan riwayat tersebut di kitab Kanz al-‘Ummal (no. 29460), dan dia menukil ucapan Ibn Katsir sebagai berikut:

 هذا غريب من هذا الوجه جدا وعلي بن صالح لا يعرف

 

“Sangat gharib melalui sanad ini, dan ‘Ali bin Shalih tidak dikenal.”

 

Kelemahan lainnya adalah perawi Muhammad bin Musa al-Barbari. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar a’lam an-Nubala, juga Ibn Hajar dalam Lisan al-Mizan mengatakan bahwa Imam ad-Daraquthni berkata:

 

ليس بالقوى

 

“(Muhammad bin Musa al-Barbari) tidak kuat.”

 

Perawi lainnya adalah Musa bin ‘Abdillah bin hasan bin Hasan. Ibn Hajar al-Asqalani berkata di kitab Lisan al-Mizan:

 

موسى بن عبد الله بن حسن بن حسن العلوي قال البخاري فيه نظر

 

Musa bin ‘Abdillah bin Hasan bin Hasan al-‘Alawi dikatakan oleh al-Bukhari, “Fihi nazhar.”

 

Imam as-Suyuthi berkata di kitab Tadrib ar-Rawi sebagai berikut:

 

البخاري يطلق: فيه نظر، وسكتوا عنه فيمن تركوا حديثه

 

Ucapan al-Bukhari, “Fihi nazhar,dan,“Sakatu ‘anhu,” digunakan untuk perawi yang haditsnya ditinggalkan (matruk).”

 

Adapun beberapa perawi lainnya, dikatakan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullah– di kitab Hujjiyyah Khabar al-Ahad fi al-‘Aqa-id wa al-Ahkam (halaman 84) sebagai berikut:

 

هذه الرواية في إسنادها من لم أقف له على ترجمة بعد بحث في عدد من المصادر، ولم تذكرهم المصادر التي وقفت عليها في تراجم شيوخهم ولا تلاميذهم، شيخ المفضل بن غسان علي بن صالح وتلميذ موسى بن عبد الله بن حسن، لم أقف له على ترجمة، ومثله إبراهيم بن عمر بن عبيد الله التيمي فلم أقف له على ترجمة ولم يذكر في ترجمة شيخه القاسم بن محمد ولا في ترجمة موسى بن عبدالله بن حسن. فكل من المفضل بن غسان وعلي بن صالح وإبراهيم بن عمر بن عبيد الله، لم أقف لأحد منهم على ترجمة

 

“Riwayat ini pada sanadnya terdapat orang yang tak kutemukan tarjamah-nya setelah meneliti beberapa rujukan. Rujukan-rujukan itu tidak menyebutkan mereka dalam tarjamah guru-guru dan murid-murid mereka. Gurunya al-Mufadhdhal bin Ghassan sekaligus murid dari Musa bin ‘Abdillah bin Hasan, yakni ‘Ali bin Shalih, tidaklah kutemukan tarjamah-nya. Seperti itu pula Ibrahim bin ‘Umar bin ‘Ubaidillah at-Taimi yang tak kutemukan tarjamah-nya dan tidak pula disebutkan dalam tarjamah gurunya, yakni al-Qasim bin Muhammad, atau dalam tarjamah Musa bin ‘Abdillah bin Hasan. Maka semua (setelah) al-Mufadhdhal bin Ghassan, (yaitu) ‘Ali bin Shalih, Ibrahim bin ‘Umar bin ‘Ubaidillah, masing-masing tak kudapati tarjamah-nya.”

 

Bandung, 2 April 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Adakah Dia Membakar Hadits-Hadits?

  1. jampang says:

    belum sampai cerita kisah di atas ke telinga saya, kang 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s