Putri Kecil dan Dering Telepon dari Seorang Muhaddits …

dering telepon

http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=57826


قال فضيلة أخينا ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ ﺑﻦ ﻃﻪ ﺃﺑﻮ إﺳﻼ‌ﻡ –ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ– ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ الماتع الجميل: ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺃﻭﻻ‌ً ﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ (١/١٦-١٧):

… ﻭﺍﺗﺼﻞ ﺑﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ (ﺃﻱ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻷ‌ﻟﺒﺎﻧﻲ) ﻳﻮﻣﺎً ﺑﺎﻟﻬﺎﺗﻒ ﻭﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍً فردَّت ﺍﺑﻨﺘﻲ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﺎﺋﻠﺔً ﻋﻨﺪ ﺭﻓﻊ سمَّاﻋﺔ ﺍﻟﻬﺎﺗﻒ: ﺍﻟﺴﻼ‌ﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺴﺄﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻨﻲ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻟﻬﺎ: ﺃﺧﺒﺮﻱ ﺃﺑﺎﻙ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﻧﺎﺻﺮ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻷ‌ﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﺗﺼﻞ. (ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ “ﺍﻟﺸﻴﺦ” … ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺗﻮﺍﺿﻌﻪ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﺭﺟﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ). ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺪﺕُ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺃﺧﺒﺮﺗﻨﻲ ﺍﺑﻨﺘﻲ ﺃﻧﻪ ﺍﺗﺼﻞ ﺑﻚ ﺭﺟﻞ ﺍﺳﻤﻪ: ﻣﺤﻤﺪ ﻧﺎﺻﺮ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻷ‌ﻟﺒﺎﻧﻲ، ﻓﺎﺗﺼﻠﺖ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻮﺭ ﻭﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻃﻠﺐ ﻣﻨﻲ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﻳﺪﻩ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ: ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺇﺳﻼ‌ﻡ، ﻋﻨﺪﻣﺎ ﺍﺗﺼﻠﺖ ﺑﻚ ردّت عليَّ ﺍﺑﻨﺘﻚ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ ﻭﻗﺎﻟﺖ:ﺍﻟﺴﻼ‌ﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﻬﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺼﺮﻑ ﻋﻦ ﻋﻠﻢ؟ ﺃﻡ ﻫﻮ تصرُّف شخصيُّ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ؟ ﻧﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻧﺴﺘﻔﻴﺪ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺇﺳﻼ‌ﻡ (ﻭﻫﺬﺍ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﺗﻮﺍﺿﻌﻪ ﻭﺣﻜﻤﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ) ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ: ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺗﺼﺮﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ ﻭﻟﻠﻤﺮﺓ ﺍﻷ‌ﻭﻟﻰ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﻌﻠﻤﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻷ‌ﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻹ‌ﻧﺴﺎﻥ سمَّاﻋﺔ ﺍﻟﻬﺎﺗﻒ ﻗﺎﺋﻼ: ﻧﻌﻢ،فيُسلم ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻳﻄﻠﺒﻪ، ﻓﻴﺮﺩ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻼ‌ﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ‌ ﺃﻥ ﻳﺒﺪﺃﻩ ﺑﺎﻟﺴﻼ‌ﻡ،ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ: ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﻌﻠﻤﻪ ﻷ‌ﻥ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻬﺎﺗﻒ ﻛﺎﻟﻄﺎﺭﻕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻻ‌ ﻓﺮﻕ بينهما.”

 

Saudara kami, Syaikh Shalih bin Thaha Abu Islam –hafizhahullah– berkata di dalam kitabnya yang indah lagi elok, dengan tajuk al-‘Aqidah Awwalan lau Kanu Ya’lamun (1/16-17) sebagai berikut:

 

… suatu hari Syaikh al-Albani –rahimahullah– menghubungiku melalui pesawat telepon saat aku tak berada di rumah. Putri kecilkulah yang waktu itu menerima telepon seraya mengucapkan salam setelah mengangkat telepon, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah.” Syaikh al-Albani pun menanyakanku kepada putri kecilku, lalu berkata kepadanya, “Kabarkan kepada ayahmu bahwa Muhammad Nashir ad-Din al-Albani meneleponnya,” beliau tidak mengatakan kepada putriku, Syaikh Muhammad Nashir ad-Din al-Albani,” dan ini merupakan sikap beliau yang tawadhu’ –semoga Allah meninggikan derajat beliau di surga. Tatkala aku pulang ke rumah, putri kecilku mengabarkan bahwa seseorang telah menghubungiku lewat telepon, namanya Muhammad Nashir ad-Din al-Albani. (Mendengar itu), aku segera menghubungi beliau (lewat telepon). Setelah beliau menjelaskan tentang keperluannya kepadaku, beliau berkata kepadaku, “Wahai Abu Islam, waktu itu saat aku meneleponmu, putri kecilmu mengangkat telepon seraya mengucapkan, ‘assalamu ‘alaikum wa rahmatullah.’ Apakah tindakannya itu didasari oleh pengetahuan (akan hal itu) ataukah hanya sekadar perbuatan yang timbul dari anak kecil semata? Kami menunggu faidah dari (jawaban)mu akan hal itu, wahai Abu Islam,” dan (ucapan serta pertanyaan beliau) ini juga termasuk dari sikap tawadhu’ dan hikmah beliau –rahimahullah– dalam berdakwah. Maka aku pun berkata kepada beliau, “Itu hanyalah perbuatan yang timbul dari anak kecil semata, dan untuk kali pertama pula dia melakukannya. Adapun yang (sama) kita ketahui dalam perkara tersebut, bahwa seseorang yang mengangkat telepon, dia mengatakan, ‘Na’am (ya).’ sedangkan yang mengucapkan salam adalah orang yang menelepon. Si penerima telepon menjawab salamnya, bukan memulai salam.” Lalu beliau –rahimahullah– berkata, “Inilah hal yang benar yang (sama) kita ketahui, lantaran orang yang menelepon itu seumpama orang yang mengetuk pintu, tiada beda di antara keduanya.”

 

Bandung, 11 April 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

10 comments on “Putri Kecil dan Dering Telepon dari Seorang Muhaddits …

  1. jampang says:

    jadi sebaiknya yang nelpon yah yang ngucapin salam, kang 😀

  2. jaraway says:

    woaaaaaaaaaaaaaaa.. kebaaaliiiik..
    baru tauu

  3. PaperMoon says:

    Kebanyakan orang sih yang mengangkat yang ngucapin salam.. hahaha
    Intinya sih menurut pendapat gw sendiri, gak penting juga sih dalam urusan telfon menelfon siapa yang ngasih salam duluan. Yang jelas ngucapin adalah sunnah mu’akad dan ngejawab salam itu wajib. Dalam kondisi apa pun, toh hukum nya bakalan sama.

    • tipongtuktuk says:

      iya, kita tidak menganggap penting masalah seperti itu karena ilmu kita sangat sangat ketinggalan jauh dari ulama …
      ulama itu pandai sedangkan kita bodoh kalau dibandingkan dengan ulama … he he he …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s