Ketika Panasnya Menyengat Dampal Kaki Anak-Anak Unta …

dampal kaki unta

Hassanah binti Muhammad Nashir ad-Din al-Albani –hafizhahallah

http://alamralateeq.blogspot.com/2014/05/blog-post_11.html

 

بسمِ اللهِ الرَّحمَٰنِ الرَّحِيم…

ما هوَ أَفْضَلُ وَقْتٍ لصَلَاةِ الضُّحَى (صلاةِ الأوَّابينَ)؟..

 

Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang …

Kapankah waktu shalat dhuha (yakni shalat awwabin) yang paling utama?

 

• في “صحيح مسلم”:

عَنِ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِيِّ، أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ، رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى، فَقَالَ: أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ!

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:

((صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ))!

• وفي روايةٍ:

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَهْلِ قُبَاءَ وَهُمْ يُصَلُّونَ، فَقَالَ:

((صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ))!

[كتابُ صَلاةِ المسافِرينَ وقَصْرُها، ١٩ – بَابُ صَلَاةِ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ، ١٤٣ – (۷٤۸)، و ١٤٤ – (۷٤۸)].

 

Di dalam Shahih Muslim: dari al-Qasim asy-Syaibani, bahwasanya Zaid bin Arqam melihat orang-orang mengerjakan shalat dhuha, lalu dia berkata:

Apakah mereka tidak tahu bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama? Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Shalat al-awwabin (dhuha) itu pada saat anak-anak unta kepanasan.”

Pada suatu riwayat:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– keluar menemui penduduk Quba’ yang ketika itu sedang shalat, lalu beliau bersabda, “Shalat al-awwabin itu dikerjakan tatkala anak-anak unta kepanasan.”

[Kitab Shalah al-Musafirin wa Qashruha 19, Bab Shalah al-Awwabin hina Tarmadh al-Fishal 143 (748) dan 144 (748)]

 

• وفي بعضِ متونِ الحديث، وردتْ تلكَ الرّوايةِ تحتَ الأبوابِ التّالية:

– بَابُ اسْتِحْبَابِ تَأْخِيرِ صَلَاةِ الضُّحَى.

– بَابُ مَنِ اسْتَحَبَّ تَأْخِيرَهَا حَتَّى تَرْمَضَ الْفِصَالُ.

– بَابُ وَقْتِ صَلاةِ الضُّحَى.

– بَابُ صَلاةِ الأَوَّابِينَ.

– أَيُّ وَقْتٍ صَلَاةُ الضُّحَى؟

– ذِكْرُ الْبَيَانِ بِأَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى عِنْدَ تَرْمِيضِ الْفِصَالِ مِنْ صَلَاةِ الْأَوَّابِينَ.

– بَابُ التَّرْغِيبِ فِي الصَّلَاةِ بِالْهَاجِرَةِ وَعِنْدَ قُرْبِ الزَّوَالِ، وَالدَّلِيلِ عَلَى أَنَّهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الضُّحَى.

– بَابُ مَنِ اسْتَحَبَّ تَأْخِيرَهَا حَتَّى تَرْمَضَ الْفِصَالُ.

 

Dan pada sebagian matan-matan hadits, riwayat tersebut disebutkan di bawah bab-bab berikut:

  • – bab dianjurkannya mengakhirkan shalat dhuha …
  • – bab orang yang memandang baik mengakhirkan shalat dhuha hingga anak-anak unta kepanasan …
  • – bab waktu shalat dhuha …
  • – bab shalat al-awwabin …
  • – kapankah waktu shalat dhuha …
  • – bab penjelasan bahwa shalat dhuha pada saat anak-anak unta kepanasan termasuk shalat orang-orang yang taubat …
  • – bab targhib shalat pada saat yang panas dan dekat waktu zawal, juga dalil bahwa hal itu lebih utama daripada shalat (di saat) dhuha …
  • – bab orang yang memandang baik mengakhirkan shalat dhuha hingga anak-anak unta kepanasan …

 

• جاءَ في “شرح النُّوويِّ على مسلم”، (٦/٣٠):

“((صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ)): هُوَ بِفَتْحِ التَّاءِ وَالْمِيمِ. يُقَالُ: رَمِضَ يَرْمَضُ؛ كَعَلِمَ يَعْلَمُ. وَ”الرَّمْضَاءُ”: الرَّمَلُ الَّذِي اشْتَدَّتْ حَرَارَتُهُ بِالشَّمْسِ! أَيْ حِينَ يَحْتَرِقُ أَخْفَافُ الْفِصَالِ؛ وَهِيَ الصِّغَارُ مِنْ أَوْلَادِ الْإِبِلِ؛ جَمْعُ فَصِيلٍ مِنْ شِدَّةِ حَرِّ الرَّمْلِ! وَ”الْأَوَّابُ”: الْمُطِيعُ! وَقِيلَ الرَّاجِعُ إِلَى الطَّاعَةِ! وَفِيهِ فَضِيلَةُ الصَّلَاةِ هَذَا الْوَقْتَ! قَالَ أَصْحَابُنَا: هُوَ أَفْضَلُ وَقْتِ صَلَاةِ الضُّحَى، وَإِنْ كَانَتْ تَجُوزُ مِنْ طُلُوعِ الشَّمْسِ إِلَى الزَّوَالِ” اهـ‍

 

Terdapat penjelasan dalam Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim (6/30), sebagai berikut:

“Shalat al-Awwabin (dikerjakan) pada saat anak-anak unta kepanasan, tarmadhu, dengan huruf Ta dan Mim yang berharakat fat-hah. Ada yang mengatakan, “Ramidha yarmadhu, seumpama bentuk ‘alima ya’lamu,” sedangkan ar-ramdha’ adalah permukaan pasir yang semakin panas karena sengatan panas terik mentari, yaitu tatkala dampal-dampal kaki al-fishal tersengat oleh panasnya permukaan pasir (yang diinjak kaki mereka). Al-fishal sendiri adalah anak-anak unta yang kecil, dan merupakan bentuk jamak dari fashil. Adapun al-Awwab adalah al-muthi’ (yang tunduk), dan dikatakan, “Yang kembali kepada ketaatan.”

Di dalam hadits ini terkandung keutamaan shalat pada waktu tersebut. Para sahabat kami (yakni ulama-ulama mazhab asy-Syafi’i –pent) mengatakan, “Saat tersebut merupakan waktu yang paling utama untuk shalat dhuha meskipun shalat dhuha itu boleh dilakukan dari semenjak terbit matahari hingga tiba waktu zawal.”

 

• وفي “كشف المشكل من حديث الصّحيحين”، (۲/۲۲۸):

“الأوَّابُ: الرَّجَّاعُ! كَأَنَّهُ أذْنب ثمَّ رَجَعَ بِالتَّوْبَةِ!

و”الفِصَالُ والفِصْلانُ: صِغَار الْإِبِل، وَالْوَاحِدُ فَصِيلٌ!

وَمعنى (تَرْمَضُ): يُصِيبهَا حَرُّ الرَّمْضَاءِ: وَهُوَ الرَّمْلُ يَحْمَى بَحر الشَّمْسِ، فتبرك الفِصَالُ مِنِ شِدَّةِ احْتراقِ أخْفَافِها!

وَالْمعْنَى: صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ عِنْد شدَّة ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ!

وَالْإِشَارَةُ إِلَى صَلَاة الضُّحَى، وَذَلِكَ أفْضَلُ وَقتهَا”!” اهـ‍

 

Di dalam kitab Kasyf al-Musykil min Hadits ash-Shahihain (2/228):

– Al-awwab adalah ar-rajja’ (dengan bentuk hiperbolis -pent), seakan-akan dia berbuat dosa kemudian kembali dengan taubat.

Al-fishal dan al-fishlan adalah unta-unta kecil, dan bentuk tunggalnya adalah fashil.

– Makna kalimat, “Tarmadhu,” (dampal-dampal kaki unta itu) disengat oleh panasnya ar-ramdha’, yaitu (tersengat) oleh permukaan pasir yang semakin panas karena panas terik mentari. (Pada saat itu), anak-anak unta pun menderum (di tempat teduh) lantaran sengatan (permukaan pasir) terhadap dampal-dampal kaki mereka.

– Dan pengertiannya, shalat al-awwabin itu (dikerjakan) pada saat matahari semakin meninggi, dan ini merupakan isyarat kepada shalat dhuha, yaitu isyarat terhadap waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat dhuha.

 

• في “مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح”، (٣/٩٧٩):

“…يَعْنِي: أَخْفَاهَا؛ مِنْ شِدَّةِ حَرِّ النَّهَارِ، وَقِيلَ ; لِأَنَّ هَذَا الْوَقْتَ زَمَانُ الِاسْتِرَاحَةِ، فَإِذَا تَرَكَهَا وَاشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ اسْتَحَقَّ الثَّنَاءَ الْجَمِيلَ وَالْجَزَاءَ الْجَزِيلَ! قَالَ ابْنُ الْمَلَكِ: الرَّمْضَاءُ شِدَّةُ وَقْعِ حَرِّ الشَّمْسِ عَلَى الرَّمْلِ وَغَيْرِهِ إِلَى حِينِ يَجِدُ الْفَصِيلُ حَرَّ الشَّمْسِ، فَيَبْرُكُ مِنْ حِدَّةِ حَرِّ الشَّمْسِ وَإِحْرَاقِهَا أَخْفَافَهَا، فَذَلِكَ حِينُ صَلَاةِ الضُّحَى، وَهِيَ عِنْدَ مُضِيِّ رُبُعِ النَّهَارِ! وَإِنَّمَا أَضَافَهَا إِلَى (الْأَوَّابِين)َ لِمَيْلِ النَّفْسِ فِيهِ إِلَى الدَّعَةِ وَالِاسْتِرَاحَةِ! فَالِاشْتِغَالُ فِيهِ بِالصَّلَاةِ أَوْبٌ مِنْ مُرَادِ النَّفْسِ إِلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ! وَالْحَاصِلُ أَنَّ أَوَّلَهُ: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ، وَآخِرُهُ قُرْبَ الِاسْتِوَاءِ، وَأَفْضَلُهُ أَوْسَطُهُ وَهُوَ رُبُعُ النَّهَارِ، لِئَلَّا يَخْلُو كُلُّ رُبُعٍ مِنَ النَّهَارِ عَنِ الصَّلَاةِ” اهـ مختصرًا.

 

Di dalam kitab Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih (3/979):

… yaitu dampal-dampal kaki anak-anak unta kecil karena sengatan panasnya siang. Ada yang mengatakan, “Lantaran waktu tersebut merupakan saat untuk beristirahat. Apabila seseorang meninggalkan saat istirahatnya dan menyibukkan diri dengan ibadah, maka dia berhak mendapatkan pujian yang baik dan balasan yang melimpah.”

Ibn al-Malak berkata, “Ar-Ramdha’ adalah memuncaknya terpaan panas mentari yang menimpa permukaan pasir dan selainnya sampai-sampai pada saat itu anak unta pun merasakan panasnya mentari, lalu dia menderum (di tempat teduh) karena ketajaman panas mentari dan sengatan (pasir panas) yang menimpa dampal-dampal kakinya. Maka itulah waktu shalat dhuha, yaitu selepas berlalunya seperempat siang. Disandarkannya shalat ini kepada al-awwabin lantaran pada saat itu jiwa cenderung untuk santai dan beristirahat, namun ternyata dia menyibukkan diri di saat itu dengan shalat, beranjak dari hal yang diinginkan oleh jiwanya menuju kerelaan Rabb … dengan demikian, bahwasanya awal waktu shalat dhuha adalah ketika matahari telah terbit, sedangkan akhir waktu bagi shalat dhuha adalah sebelum saat istiwa’ (saat matahari di atas kepala -pent). Waktu paling utama baginya adalah waktu pertengahan, yaitu pada seperempat hari dengan maksud agar pada tiap-tiap seperempat hari itu tidaklah kosong dari shalat.”

 

• وفي “التّيسير بشرح الجامع الصّغير”، (٢/٩٧):

“وَفِيهِ نَدْبُ تَأْخِيرِ الضُّحَى إِلَى شدَّة الْحَرِّ!” اهـ‍

 

Di dalam kitab at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir (2/97), dijelaskan:

Di dalamnya terkandung anjuran untuk mengakhirkan shalat dhuha hingga saat hari sangat panas …

 

• “نيل الأوطار”، (٣/٨١):

“وَالْحَدِيثُ يَدُلّ عَلَى أَنَّ (الْمُسْتَحَبَّ) فِعْلُ الضُّحَى فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ!

وَقَدْ تُوُهِّمَ أَنَّ قَوْلَ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ: إنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ -كَمَا فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ- يَدُلُّ عَلَى نَفْيِ الضُّحَى؛ وَلَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ، بَلْ مُرَادُهُ: أَنَّ تَأْخِيرَ الضُّحَى إلَى ذَلِكَ الْوَقْتِ أَفْضَلُ” اهـ‍

 

Di dalam kitab Nail al-Authar (3/81), dikatakan:

Hadits ini menunjukkan atas dianjurkannya mengerjakan shalat dhuha pada waktu tersebut. Ucapan Zaid bin Arqam -sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Muslim, “… bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama,” telah disalahartikan bahwa hal itu menunjukkan penafian terhadap shalat dhuha. Padahal perkaranya tidaklah sebagaimana anggapan tersebut karena maksud ucapan Zaid bin Arqam itu adalah, “Bahwa mengakhirkan shalat dhuha ke waktu tersebut lebih utama.”

 

• “مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح”، (٤/٣٥١):

“وإنَّمَا مَدَحَهُمْ بصَلاتِهِمْ في الوقْتِ الموصُوفِ؛ لأنَّهُ وقْتٌ تَرْكَنُ فيهِ النُّفُوسُ إلى الاسْترَاحَةِ، ويتهيَّأُ فيهِ أسبابُ الخَلْوَةِ، وصَرْفِ العنَايةِ إلى العبَادَةِ، فَيَرِدُ على قُلُوبِ الأوَّابينَ مِنَ الأُنْسِ بذِكْرِ اللهِ، وصَفَاءِ الوقْتِ، ولذَاذَةِ المناجَاةِ ما يقْطَعُهُمْ عَنْ كُلِّ مطلوبٍ سِوَاهُ” اهـ‍

 

Di dalam kitab Mir’ah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih (4/351), dikatakan:

Hanyalah pujian (Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam) terhadap penduduk Quba’ atas shalat yang mereka kerjakan saat itu dikarenakan memang waktu tersebut merupakan saat-saat kecenderungan bagi jiwa untuk beristirahat dan saat yang memungkinkan untuk berkhalwat seraya memalingkan perhatian terhadap ibadah sehingga mendatangkan kelembutan pada kalbu-kalbu orang yang bertaubat dengan zikir kepada Allah, kebahagiaan, dan kelezatan munajat yang menghentikan mereka dari segala yang dicari selain-Nya.

 

• “عارضة الأحوذيّ شرح سنن التّرمذيّ”، (٦/١٠):

“وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ الْإِشَارَةُ إلَى الِاقْتِدَاءِ بِدَاوُد فِي قَوْلِهِ {إِنَّهُ أَوَّابٌ} {إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإِشْرَاقِ}[سورة ص:١۷-١۸]؛ فَنَبَّهَ عَلَى أَنَّ صَلَاتَهُ كَانَتْ إذَا أَشْرَقَتْ الشَّمْسُ؛ فَأَثَّرَ حَرُّهَا فِي الْأَرْضِ حَتَّى تَجِدَهَا الْفِصَالُ حَارَّةً لَا تَبْرُكُ عَلَيْهَا؛ بِخِلَافِ مَا تَصْنَعُ الْغَفْلَةُ الْيَوْمَ؛ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّونَهَا عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ؛ بَلْ يَزِيدُ الْجَاهِلُونَ فَيُصَلُّونَهَا وَهِيَ لَمْ تَطْلُعْ قَيْدَ رُمْحٍ وَلَا رُمْحَيْنِ! يَعْتَمِدُونَ بِجَهْلِهِمْ وَقْتَ النَّهْيِ بِالْإِجْمَاعِ!” اهـ‍

 

Di dalam kitab ‘Aridhah al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi (6/10), dikatakan:

Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk mengambil teladan dari Nabi Dawud di dalam firman Allah:

 

إِنَّهُ أَوَّابٌ. إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإِشْرَاقِ}[سورة ص:١۷-١۸]

 

“Sesungguhnya dia (Dawud) amat taat. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.” (QS. Shad: 17-18)

 

Dan Allah memberitahukan bahwa shalat Nabi Dawud itu pada waktu matahari telah terbit bersinar, lalu panasnya menancap di permukaan bumi sampai-sampai anak-anak unta yang merasakan panasnya tak mau menderum di atasnya. Dan ini berbeda dengan perbuatan orang-orang lalai pada hari ini, mereka mengerjakan shalat dhuha ini pada saat matahari terbit, bahkan lebih keterlaluan lagi kalangan bodoh mereka yang mengerjakannya pada saat matahari belum lagi setinggi satu atau dua tombak. Bersandar kebodohan, mereka mengerjakannya pada waktu yang menurut ijma’ terlarang mengerjakan shalat.

 

• في “شرح رياض الصّالحين للعلّامةِ العثيمين”، (۲/١٥۷)*:

“…ولهذا قالَ العلماءُ: إنَّ (تأخِيرَ) ركْعَتيِ الضُّحَى إلى آخِرِ الوقْتِ أَفْضَلُ مِنْ تقْدِيمِها، كمَا كانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ يَسْتَحِبُّ أنْ تُؤَخَّرَ صَلاةُ العِشَاءِ إلى آخِرِ الوقْتِ؛ إلَّا معَ المشقَّةِ” اهـ‍

* بترقيم المكتبة المقروءة.

 

Al-‘Allamah al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (2/157), mengatakan:

… oleh karena itu para ulama mengatakan, “Sesungguhnya mengakhirkan dua rakaat shalat dhuha ke akhir waktu itu lebih utama daripada mengerjakannya di awal waktu sebagaimana dulu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memandang baik untuk mengakhirkan shalat isya ke akhir waktu, kecuali jika ada kesukaran.”

 

• “شرح سنن أبي داود للعلّامةِ العباد”: (١٤١/۲٥)*:

“وصلاةُ الضُّحَى أفْضَلُ ما تكُونُ إذَا اشْتَدَّتِ الشَّمْسِ، واشْتَدَتِ الحَرَارَةُ كمَا جَاءَ في الحَديثُ: ((صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ))؛ يعْني: وقْتُ شِدَّةِ الحَرَارَةِ” اهـ‍

وقالَ في موضعٍ آخرَ (۲٤۲/١٤)*:

والفِصَالُ هيَ أولادُ الإبلِ، ومعْنَاهُ: شِدَّةُ الضُّحَى؛ يعْني: أنَّ خَيرَ أوقَاتِ صَلاةِ الضُّحَى، وأفضَلَ أوقَاتِها في وقْتِ شِدَّةِ الحَرَارَةِ و شِدَّةِ الرَّمْضَاءِ، ومعْلُومٌ أنَّ وقْتَها منِ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ إلى الزَّوَالِ، ولَكِنْ أَوْلَاهُ وأفضَلُهُ هوَ هَذَا الوْقْتُ.. ” اهـ‍

** بترقيم المكتبة المقروءة.

 

Al-‘Allamah ‘Abd al-Muhsin al-‘Abbad dalam Syarh Sunan Abi Dawud (141/25), mengatakan:

Dan pengerjaan shalat dhuha yang paling utama jika matahari semakin tinggi dan semakin panas sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Shalat al-awwabin (dhuha) itu pada saat anak-anak unta kepanasan, yakni pada saat memuncak panasnya …

Di halaman lain, beliau mengatakan:

Al-fishal adalah anak-anak unta, dan pengertiannya adalah pada saat matahari semakin tinggi, yaitu bahwa sebaik-baik dan seutama-utama waktu bagi shalat dhuha adalah pada saat matahari semakin tinggi dan memuncak panasnya. Telah sama diketahui bahwa waktu bagi shalat dhuha itu dari semenjak terbit matahari hingga saat zawal, namun sebaik-baik dan seutama-utama waktunya adalah pada saat tersebut …

 

أسألُهُ تباركَ وتعالى أن يجعلنا من الأوّابين، ويعيننا على عبادتِهِ، إنه سميعٌ عليم

 

Aku memohon kepada Allah tabaraka wa ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan al-awwabin dan menolong kita untuk beribadah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha mengetahui …

 

Bandung, 19 Mei 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

8 comments on “Ketika Panasnya Menyengat Dampal Kaki Anak-Anak Unta …

  1. jaraway says:

    batas akhir waktu shalat dhuha itu kapan, bang?

  2. Solat sunat dhuha membawa rezeki ya Mas –

  3. jampang says:

    ternyata lebih siang lebih bagus ya kang?

    baru tahu saya. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s