Tersenyumlah Cinta, Ayah dan ibuku Menjadi Tebusan bagimu …

tafdiyah

Sukainah binti Muhammad Nashir ad-Din al-Albaniyyah –hafizhahallah

http://tamammennah.blogspot.com/2010/04/blog-post_20.html

 

حكم عبارة “فداكَ أبي وأمي يا رسول الله!”

 

 

بسم الله الرّحمٰن الرّحيم

الحمد لله، والصَّلاة والسَّلام علىٰ خاتم رسل الله

أما بعد

سئل أبي رحمه الله تعالىٰ:

ثَبَتَ عن بعضِ الصحابةِ أنهم خاطَبوا الرسولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بعد وفاته، كقول أبي بكر: “طبتَ حيًا وميتًا يا رسول الله!”[1]، وقول عبد الله بن عمر: “السَّلامُ عليكَ يا رسولَ الله!”[2]، وقول فاطمة: “يَا أَبَتَاهُ! أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ”[3]؛ فهل يصحّ أن يُخاطَب الرسولُ بقولِ بعضِ الناسِ أو الخطباء: “فداكَ أبي وأمي يا رسول الله!” بصيغةِ النداء، مع عدمِ اعتقادِ أنه يَسمع؟

 

Ayahku (Syaikh al-Albani) –rahimahullah– ditanya:

Telah kukuh kabar dari sebagian shahabat bahwasanya mereka menujukan pembicaraan kepada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– selepas kematian beliau sebagaimana ucapan Abu Bakr, “Sungguh baik keadaanmu ketika hidup dan ketika mati, wahai Rasulullah!” (1) Juga ucapan ‘Abdullah bin ‘Umar, “As-salamu ‘alaika, wahai Rasulullah!” (2) Juga ucapan Fathimah, “Wahai ayah, Rabb telah menjawab doamu.” (3) Maka apakah benar untuk menujukan pembicaraan kepada Rasul dengan ucapan sebagian manusia atau para khatib yang mengatakan, “Fidaka abi wa ummi (ayah ibuku menjadi tebusan bagimu), wahai Rasulullah,” dengan bentuk seruan tanpa disertai keyakinan bahwa beliau (yang diseru) itu bisa mendengar?

 

فأجاب:

“بلا شك؛ الروايات التي ذكرتَها هي ثابتة، ومِثل هـٰذا النّداء مِن حيثُ الأسلوبُ العربيُّ سائغٌ وجائز، فالعرب يُنادُون الأطلالَ مثلاً، والبلادَ و و إلخ، والليلَ والنهارَ والشمسَ والقمرَ.. إلخ، ولا يترتَّب مِن وراء ذٰلك شيء، لٰكنْ يختلف الأمرُ اليوم عن ذاك الوقت، [انقطاع] فضلاً عن عامتهم، ولا يَخفاكم أن هٰذا مِن الإشراك بالله عزّ وجَلّ في دعائه، فحينما نتساهل بمثل هـٰذا النداءِ الذي كان سابقًا قائمًا، لٰكنْ سابقًا كانت العقيدةُ -عقيدةُ التوحيد- سالِمةً مِن أوضار وأوساخِ الشِّركِ الأصغرِ فضلاً عن الشركِ الأكبر، وليس الأمرُ اليومَ كذٰلك، لِهـٰذا؛ لا يَحْسُنُ بالخطيبِ أن يَفْتح بابَ الإشكالِ هـٰذا علىٰ عامَّةِ الناس؛ لبُعْدِهم عن فَهْمِهم للتوحيدِ الصحيح.

 

أنت قلتَ آنفًا كلمةَ حقٍّ، وهو أنّ هـٰذا الذي يُنادِي يَعتقِد أنّ المنادَىٰ لا يَسمع، لٰكنْ ما رأيُكَ اليومَ في خاصةِ المسلمين وعُلمائهم؛ ماذا يَعتقدون في الموتىٰ بصورةٍ عامّة، وبخاصَّةِ الموتىٰ بصورةٍ خاصَّة؛ هل يعتقدون أنهم لا يَسمعون، أم أنهم يَسمعون؟

الذي أنا أعرفه أنهم -وجادلْنا عشراتٍ منهم- يَعتقدون أنّ الموتىٰ يَسمعون، ولهم في ذٰلك شُبُهاتٌ كثيرة، ولسنا الآن في صَددِ بيانِ ذٰلك، لٰكن لعلكم رأيتُم كتابًا بعنوان: “الآيات البيِّناتْ في عدمِ سماعِ الأمواتْ عند الحنفيَّة الساداتْ”، فمُقدِّمتي لِهـٰذا الكتاب بنحوِ خمسين صفحة، فهناك أنا عالجتُ هـٰذه المسألة بالأدلة، وأثبتُّ أنّ الموتىٰ لا يَسمعون.

ولذٰلك؛ فأنتم تَعلمون أنّ مِن الحكمة أنْ يُكلّم المسلمُ الناسَ على قَدْر عقولهم، كما جاء في “صحيح البخاري”[4] مِن حديث عليّ موقوفًا عليه رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال: (كلِّموا الناسَ علىٰ قَدْرِ عقولهم، أتريدون أن يُكذَّبَ اللهُ ورسوله؟!).

فنحن إذا نادَينا وعقيدتُنا سالِمة، ونُنادِي كما نادَىٰ أبو بكر وغيرُه مِن الصحابة، لٰكنَّ الذين حولَنا ما يَفهمون أن هـٰذا النداء ليس مِن باب الاستغاثة، وليس مِن باب الاستعانة، فحينئذ؛ ينبغي أن نَدَع هـٰذا، وأن نعالِجَ عقيدةَ الناس حتىٰ تستقيمَ على الكتاب والسُّنّة، بعد ذٰلك يمكن استعمالُ هـٰذا الأمر الذي أحسنُ أحواله أنه يجوز، لٰكنْ ليس كلُّ ما يجوز يجوز فِعلُه في كلِّ مناسَبة.

 

Ayahku (Syaikh al-Albani) –rahimahullah– menjawab:

Tak ragu lagi, riwayat-riwayat yang kau kemukakan itu kukuh. Seruan semisal itu boleh dan diperkenankan dari sisi gaya bahasa Arab, makanya orang-orang Arab suka menyeru puing-puing rumah misalnya, menyeru kampung-kampung, menyeru malam dan siang, menyeru matahari dan bulan, dan menyeru hal-hal lainnya, padahal tiada respon apa pun yang muncul dari seruan itu. Akan tetapi keadaan hari ini berbeda dengan keadaan masa itu … (rekaman suara Syaikh al-Albani terputus) … terutama pada kalangan awam mereka, dan tidaklah tersembunyi dari kalian bahwa (keyakinan dalam seruan yang diucapkan oleh orang masa kini terhadap orang mati –pent) termasuk di antara perbuatan syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam doanya. Ketika kita bermudah-mudah dengan seruan semacam ini, seruan yang pada masa dulu biasa diucapkan –hanya saja pada masa dulu hal itu diucapkan dengan akidah tauhid yang selamat dari noda dan kekotoran syirik kecil, lebih-lebih syirik besar- padahal keadaan (pemahaman akidah) hari ini tidaklah seperti keadaan pada masa dulu. Oleh karena itu, tidak semestinya seorang khatib membuka pintu ketidakjelasan bagi manusia lantaran (pada kenyataannya) manusia masih jauh dari pemahaman tauhid yang benar.

Barusan kau mengatakan kalimat yang haq, yaitu, “Orang yang menyeru ini meyakini bahwa (orang mati) yang diseru itu tidak mendengar seruannya.” Akan tetapi, bagaimana pandanganmu tentang keadaan kaum muslimin dan ulama-ulama mereka pada hari ini? Seperti apa keyakinan mereka mengenai orang mati dari kalangan umum –dan terutama- orang mati dari kalangan khusus? Apakah mereka meyakini bahwa orang-orang mati itu tidak mendengar (seruan orang hidup) ataukah mereka malah meyakini bahwa orang-orang mati itu bisa mendengar?

Hal yang kuketahui, bahwasanya mereka itu meyakini bahwasanya orang yang mati itu mendengar (seruan/pembicaraan orang yang hidup) ­–dan aku telah membantah puluhan orang dari kalangan mereka. Mereka memiliki banyak syubhat dalam masalah tersebut, namun bukan sekarang saatnya bagi kami untuk menjelaskan hal itu. Hanya saja barangkali kalian telah mengetahui sebuah kitab yang berjudul AlAyat Al-Bayyinat fiAdami Simaal-Amwat ‘inda al-Hanafiyyah as-Sadat (Dalil-Dalil yang Jelas tentang Ketidakmampuan Orang-Orang Mati untuk Mendengar Menurut Ulama-Ulama al-Hanafiyyah). Mukadimahku terhadap kitab tersebut kira-kira mencapai lima puluh halaman, dan aku telah meneliti permasalahan dengan dalil-dalilnya seraya menegaskan bahwa orang mati tidaklah mendengar (seruan/pembicaraan orang yang hidup).

Untuk itu, telah sama kalian ketahui bahwa yang termasuk hikmah adalah seorang Muslim berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka. (Hal ini) sebagaimana yang terdapat di kitab Shahih al-Bukhari dari hadits ‘Ali (bin Abi Thalib) yang mauquf kepadanya –radhiyallahu ‘anhu, “Berbicaralah kalian kepada manusia menurut kadar akal mereka! Apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?” (4)

Maka ketika kita menyeru, akidah kita pun dalam keadaan selamat, kita menyeru sebagaimana Abu Bakr dan para shahabat lain menyeru, namun orang-orang di sekeliling kita tidaklah memahami bahwa seruan tersebut bukan termasuk istighatsah dan bukan pula termasuk isti’anah. Oleh karena itu, pada saat yang demikian seyogianya kita tinggalkan hal tersebut, dan hendaklah kita (terlebih dahulu) memperbaiki akidah manusia hingga selaras dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Setelah (perbaikan) itu, barulah mungkin untuk mengamalkan hal yang telah baik perihalnya tersebut. Tidaklah setiap hal yang boleh itu boleh dilakukan pada setiap kesempatan. –sampai di sini ucapan Syaikh al-Albani …

 

وبهٰذا القدْر كفاية، والحمدُ لله ربِّ العالمين” اﻫ مِن “سلسلة الهدىٰ والنور” (الشريط 87 / الدقيقة 00:27:46).

 

Cukup kiranya dengan penjelasan ini, dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam –dari kaset Silsilah al-Huda wa an-Nur; kaset nomor 87, menit 00;27;46 …

 

*

**

 

Fatwa Islamweb …

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=55352

 

السؤال: ياشيخنا الفاضل سؤالي هو أن أحد الإخوة هداه الله سمعته يقول لرجل صالح شيخ دين متأثر به كثيرا قال بأبي وأمي هو هذا الشيخ قلت له ما يجوز هذا الكلام إلا لرسول الله صلى الله عليه وسلم حتى لو كان هذا الرجل صالحا ما يجوز وقد أنكر علي قال هات دليلا شرعيا قلت: حديث أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سوهما؛ لم يقتنع فأنا مجرد عامي ؛لهذا أريد أن أتأكد من سماحتكم مع ذكر الأدلة حفظكم الله وحتى يبان الحق أتمنى ذكر أي شيء أنتم أدرى به المهم أتمنى الدليل.وجزاكم الله خيراً.

 

Pertanyaan:

Wahai Syaikh, pertanyaanku adalah ada salah seorang ikhwah –semoga Allah memberinya petunjuk- yang kudengar dia berbicara terhadap seorang ahli agama yang shalih dan banyak berpengaruh terhadapnya dengan ucapan, “Bi abi wa ummi (ayah dan ibuku menjadi tebusan) bagi syaikh ini.” Aku pun mengatakan kepada ikhwah tersebut bahwa ucapan seperti itu tidaklah diperbolehkan kecuali kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja. Meskipun orang tersebut shalih tetaplah ucapan itu tidak boleh ditujukan kepadanya. Ikhwah tersebut mengingkariku seraya menanyakan dalil syariatnya kepadaku. Aku katakan kepadanya hadits tentang keharusan menjadikan Allah dan rasul-Nya untuk lebih dia cintai, namun dia tidak merasa cukup sementara aku hanyalah orang awam. Oleh karena itu aku ingin mendapat kepastian dari kalian –semoga Allah menjaga kalian- mengenai dalil-dalilnya hingga menjadi jelas kebenarannya, wa jazakumullah khairan …

 

الإجابة:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فقد ذهب جماهير العلماء إلى جواز التفدية بالأبوين وهو الصحيح، واحتجوا بأدلة منها حديث علي بن أبي طالب في الصحيحين قال: ما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يفدي بأبويه أحداً إلا سعداً فإني سمعته يقول يوم أحد: ارم سعد فداك أبي وأمي.

 

Jawaban:

Alhamdulillah, wa ash-Shalah wa as-salam ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi, amma ba’d:

Mayoritas ulama berpendapat tentang kebolehan tafdiyah (ucapan menebus) dengan kedua orang tua. Dan ini merupakan pendapat yang benar. Mereka (mayoritas ulama) berhujjah dengan dalil-dalil yang (salah satu) di antaranya adalah hadits ‘Ali bin Abi Thalib yang terdapat dalam ash-Shahihahin. ‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Tidaklah aku pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengucapkan tafdiyah dengan kedua orang tuanya kecuali kepada Sa’d. Sungguh aku mendengar beliau mengatakan: Lemparkanlah, wahai Sa’d. Fidaka abi wa ummi (ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu).”

 

وحديث عبد الله بن الزبير عن الزبير أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:من يأت بني قريظة فيأتيني بخبرهم، فانطلقت فلما رجعت جمع لي رسول الله صلى الله عليه وسلم أبويه فقال: فداك أبي وأمي. متفق عليه.

والمراد من (فداك أبي وأمي ) أن: أبي وأمي ينوبان منابك في دفع المكروه عنك وهي من الألفاظ الشائعة عند العرب.

 

Juga hadits ‘Abdullah bin az-Zubair dari az-Zubair, bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Siapa mau mendatangi Bani Quraizhah dan membawakanku kabar tentang mereka?” Maka aku (az-Zubair) pun pergi ke sana. Ketika aku kembali, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menggabungkan penyebutan kedua orang tuanya bagiku, beliau berkata, “Fidaka abi wa ummi (Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu).” (Muttafaq ‘alaih)

Dan yang dimaksud dengan ucapan, “Fidaka abi wa ummi,” yaitu ayah dan ibuku menggantikanmu dalam mempertahankanmu dari hal yang dibenci, dan ini termasuk ungkapan yang umum berlaku di kalangan Arab.

 

قال الإمام النووي:فيه جواز التفدية بالأبوين وبه قال جماهير العلماء، وكرهه عمر بن الخطاب والحسن البصري، وكرهه بعضهم في التفدية بالمسلم من أبويه والصحيح الجواز مطلقاً، لأنه ليس فيه حقيقة فداء، وإنما هو كلام وألطاف وإعلام بمحبته له ومنزلته، وقد وردت الأحاديث الصحيحة بالتفدية مطلقاً. اهـ

 

Imam an-Nawawi berkata, “Di dalam hadits ini terdapat kebolehan berucap tafdiyah dengan kedua orang tua, dan dengan ini pula mayoritas ulama berpendapat. (Akan tetapi) ‘Umar bin al-Khaththab dan al-Hasan al-Bashri tidak menyukai ungkapan seperti itu. Sebagian di antara mereka tidak menyukai berucap tafdiyah dengan (tebusan) seorang Muslim dari kedua orang tuanya. Pendapat yang benar adalah boleh secara mutlak karena ungkapan seperti itu tidaklah berarti menebus secara hakikat, melainkan hanyalah ungkapan kelemahlembutan dan penunjukkan rasa cinta kepada dirinya dan kedudukannya. Telah ada hadits-hadits shahih mengenai ungkapan tafdiyah secara mutlak.”

 

وقد استعمل هذا اللفظ الصحابة والتابعون فيما بينهم، فعن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: قال أبو بكر الصديق يوم أحد: كن طلحة فداك أبي وأمي.

 

Para shahabat dan tabi’in telah menggunakan ungkapan ini di antara sesama mereka. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– bahwasanya dia berkata: Abu Bakr ash-Shiddiq berkata pada hari Uhud, “Jadilah Thalhah! Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu!”

 

وعن علقمة قال: قرأت على عبد لله فقال: رتل فداك أبي وأمي، فإنه زين القرآن.

 

Dan dari ‘Alqamah, dia berkata: aku membacakan kepada ‘Abdullah, lalu dia berkata, “Bacalah dengan tartil, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu. Sungguh itu memperindah al-Quran.”

 

قال الحافظ في الفتح:وقد استوعب الأخبار الدالة على الجواز أبو بكر بن أبي عاصم وجزم بجواز ذلك، فقال: للمرء أن يقول ذلك لسلطانه ولكبيره ولذوي العلم، ولمن أحب من إخوانه غير محظور عليه ذلك، بل يثاب عليه إذا قصد توقيره واستعطافه ولو كان ذلك محظوراً لنهى النبي صلى الله عليه وسلم قائل ذلك، ولأعلمه أن ذلك غير جائز أن يقال لأحد غيره. اهـ

 

Al-Hafizh Ibn Hajar berkata di kitab al-Fath al-Bari:

Abu Bakr bin Abi ‘Ashim telah memuat kabar-kabar yang menunjukkan kebolehan (ungkapan tafdiyah), dan beliau pun telah menetapkan kebolehannya seraya mengatakan, “Seseorang mengatakan hal itu kepada pemimpinnya, kepada kalangan tua mereka, dan kepada orang-orang yang berilmu. Juga kepada orang yang yang dicintainya dari kalangan saudara-saudaranya, tiada larangan baginya, bahkan berpahala jika dia bermaksud menghormati dan berlemah lembut kepadanya. Seandainya ungkapan seperti itu terlarang, niscara Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan melarang mengatakannya dan memberitahukan bahwa ungkapan tersebut tidak boleh diucapkan kepada siapa pun selain beliau.”

 

وعليه، فيجوز استعمال لفظ (بأبي وأمي) ولا فرق بينه وبين (فداك أبي وأمي).

والله أعلم.

 

Dengan demikian, boleh mengungkapkan, “Bi abi wa ummi,” tanpa ada perbedaan dengan ucapan, “Fidaka abi wa ummi.”

 

Bandung, 6 Juni 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

6 comments on “Tersenyumlah Cinta, Ayah dan ibuku Menjadi Tebusan bagimu …

  1. Jika Bulan bisa gomong pasti dia akan menegur para maksiat malam agar bertaubat iya kan? !

  2. jampang says:

    saya jarang denger ungkapan seperti itu di kampung tempat tinggal, kang 😀

  3. jaraway says:

    orang mati mendengar seruan kita?

    • tipongtuktuk says:

      orang mati tidak mendengar seruan kita …
      orang mati tidak mendengar ucapan kita …
      Tidak benar keyakinan bahwa orang mati bisa mendengar ucapan dari orang yang hidup. Syaikh al-Albani -rahimahullah- memiliki penjelasan yang bagus mengenai hal itu, yakni bahwa orang mati tidak bisa mendengar ucapan/seruan dari orang yang hidup …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s